Senin, 14 Juli 2020
Just another WordPress site
SAFARI LITERASI DI JAWA BARAT

Dua hari ini saya safari literasi ke dua kabupaten di Jabar, yaitu di Kab. Bandung Barat dan Cimahi. Safari ini terlaksana atas upaya Pak Cucu Sukmana, Ketua IGI Jabar, yg juga menjabat sebagai anggota Dewan Pendidikan Prop. Jabar. Sejak IGI Jabar berada di tangan Pak Cucu program-program pengembangan pendidikan IGI di Jabar langsung bergairah kembali. Ini karena Pak Cucu memang orang yang punya banyak ide dalam pendidikan dan mau bekerja keras untuk mewujudkannya. Bertemu dengannya seolah saya menemukan oasis baru. Seandainya saja setiap ketua IGI memiliki ‘ghirah’ seperti beliau maka semua cabang IGI akan hidup dan bergerak dinamis.

Presentasi Gerakan Literasi Sekolah di Kab. Bandung Barat dilaksanakan di Pondok Pesantren Pembangunan Sumur Bandung (P3SB) yang terletak di Cililin, Batujajar, sekitar dua jam perjalanan dari Bandung menembus jalan-jalan macet dan rusak. Presentasi ini istimewa bagi saya karena saya akan berbicara pada guru-guru di daerah yg berbasis pesantren. Mestinya mereka lebih agamis dan kalau saya berbicara menggunakan terminologi agama tentunya akan lebih mudah mereka pahami.

Peserta seminar yg hadir sekitar 150-an guru dan beberapa siswa panitia yang ikut mendengarkan pemaparan saya. Presentasi saya mereka ikuti dengan penuh antusiasme. Materi saya kali ini sebetulnya panjangnya sekitar 60 slides tapi saya tidak sempat menyelesaikan semua karena terbatasnya waktu. Hari ini hari yg pendek karena Jum’at dan ada dua pembicara lain setelah saya. Selama 1,5 jam mereka mengikuti setiap pemaparan saya dengan serius dan konsentrasi penuh. Saya salut dengan kemampuan mereka utk tetap berkonsentrasi mendengarkan paparan presentasi selama itu tanpa mengantuk atau gelisah. 🙂

Karena waktu terbatas maka sesi tanya jawab ditiadakan dan waktu saya serahkan ke dua pembicara selanjutnya, yaitu Ardianto MHum, dari Badan Bahasa, dan Erlan Primansyah, CEO BUQU, perusahaan platform dan ecosystem digital publishing.

Baca juga:  SEKOLAH TAK PUNYA BUKU…?! KOK REPOT…!

Presentasi berikutnya, Sabtu, 7 Maret 2015, di Cimahi, tepatnya di Sekolah Penabur Cimahi. Saya tidak berpresentasi pada guru atau siswa Sekolah Penabur tapi hanya menggunakan indoor sport hall mereka. Tepatnya kami hanya pinjam tempat dan fasilitas lain.
Presentasi kali ini lebih sedikit pesertanya dibandingkan kemarin. Tapi kali ini acara dihadiri oleh guru-guru dan siswa dari beberapa sekolah tapi mayoritas dari SMAN 2 Cimahi. Saya selalu senang berhadapan dengan siswa karena merekalah sebenarnya target dari misi saya. Budaya membaca harus dimulai dari para siswa kita agar membaca menjadi daily habit dan pada akhirnya mereka akan menjadi a reader for life. Jauh lebih mudah mempengaruhi siswa ketimbang para guru mereka.

Ketika sesi Tanya Jawab seorang guru menyatakan bahwa keadaan di Cimahi tidak seburuk gambaran yg saya tunjukkan pada presentasi saya. Ia kemudian menjelaskan bagaimana program literasi berjalan di sekolahnya (SD Hikmah Teladan). Ia juga menjelaskan bahwa Ibu Walikota Cimahi sangat peduli thdp literasi dan sering menganjurkan warga dan siswa di Cimahi utk membaca.

Selalu ada orang yg menganggap apa yang dilakukan di sekolahnya merupakan representasi dari kegiatan dari semua sekolah. Tentu saja tidak. Ketika saya tanyakan apakah sekolah lain juga melakukan hal yang sama seperti di SD Hikmah Teladan ia tidak tahu.

Ini bedanya antara INISIATIF dan KEBIJAKAN. Apa yang dilakukan SD Hikmah Teladan baru pada tahapan inisiatif pengelola sekolah dan belum menjadi kebijakan kota. Alangkah baiknya jika Walikota Cimahi tidak SEKEDAR MENGANJURKAN warga atau siswa di kota Cimahi tapi langsung membuat kebijakan WAJIB BACA bagi semua siswa di semua sekolah di Cimahi. Jika membaca hanya dianjurkan itu artinya kita belum paham bahwa MEMBACA ITU WAJIB hukumnya dan bukan sunnah. Jadi semestinya kurikulum membaca itu menjadi wajib dan dilaksanakan setiap hari di setiap sekolah. Sungguh ironis melihat fakta bahwa sementara kita mengaku sebagai umat Islam (dan menyelenggarakan pendidikan berbasis Islam) tapi tidak mewajibkan siswa kita untuk membaca setiap hari sebagai wujud dari ketaan kita kepada Allah yang telah MEWAJIBKANNYA.

Baca juga:  LITERASI DAN KEMBALI KE ALMAMATER

Bandung, 7 Maret 2015

Salam
Satria
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *