Selasa, 15 Oktober 2019
Just another WordPress site
GERAKAN LITERASI SEKOLAH DI SMPN 1 MADIUN

Meski program GLS ini telah dicanangkan sejak tahun 2015 yang lalu tapi ternyata tidak semua sekolah memiliki pemahaman yang sama tentang apa, mengapa, dan bagaimana program ini dilaksanakan di sekolah. Hampir semua sekolah berupaya memahami dengan persepsinya masing-masing dan melaksanakan dengan apa yang mereka pahami tersebut. Banyak sekolah yang belum begitu paham sehingga memasukkan berbagai kegiatan ke dalam program GLS ini sehingga inti dari GLS untuk menanamkan kebiasaan siswa untuk membaca SETIAP HARI justru kehilangan esensinya. Itulah sebenarnya nilai strategis dari Surat Edaran dari Dirjen Dikdasmen tentang perlunya setiap propinsi, kota dan kabupaten untuk membentuk Tim Satgas Literasi di daerah masing-masing. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa program penanaman kebiasaan membaca di sekolah ini bisa terlaksana dengan efektif dan mampu membentuk anak-anak yang memiliki kebiasaan dan kemampuan baca yang tinggi. Sayang sekali bahwa belum ada satu pun daerah yang saya ketahui yang membentuk Tim Satgas Literasi ini. Bahkan Dirjendikdasmen juga tidak peduli apakah Surat Edarannya ini dilaksanakan atau tidak. So sad…! 😞

Kemarin saya mengisi workshop literasi di SMPN 1 Kota Madiun dan ternyata sekolah ini hanya melaksanakan Sustained Silent Reading atau Membaca Senyap sekali dalam seminggu dan mereka bahkan tidak punya pojok baca di kelas masing-masing. Ini Kota Madiun lho, bukan Wamena…! 😊

Alhamdulillah bahwa Pak Sujitno, Kasek SMPN 1 Kota Madiun ini, bertekad untuk menjadikan sekolahnya menjadi Sekolah Literasi yang artinya menjalankan program GLS yang benar-benar efektif dengan dua program literasi sekolah, yaitu Membaca dan Menulis. Jadi saya tawarkan pada sekolah tersebut untuk saya bantu sepenuhnya kalau mau. Mumpung saya senang-senangnya makan pecel Madiun. 😎 Untuk program Membaca maka sekolah harus mampu membangun minat, kebiasaan, dan kemampuan membaca siswanya dan untuk itu sekolah harus menjalankan program membaca 15 menit dengan rutin, intensif dan ekstensif, serta membangun fasilitas baca yang bermutu di kelas masing-masing. Saya minta mereka untuk menjalankan kegiatan “Membaca 15 Menit di Kelas” (Sustained Silent Reading) lebih sering. Kalau bisa ya setiap hari seperti yang diharapkan oleh program GLS ini. Mosok cuma sekali seminggu. Itu sama artinya dengan ingin membuat anak disiplin salat tapi hanya mengajaknya salat pas Maghrib saja dan membiarkannya pada waktu salat lainnya. 😊

Baca juga:  JALAN-JALAN KE VIETNAM DAN KAMBOJA

Mumpung Pak Sujitno bersemangat maka saya ajak beliau untuk mengadakan Festival Literasi SMPN 1 Kota Madiun pada akhir bulan Mei 2020 nanti. Festival Literasi SMPN 1 Kota Madiun 2020 ini adalah sebuah program literasi lanjutan dari program Membaca 15 Setiap Hari’’ yang bukan hanya berfokus pada kegiatan Membaca dan Menulis tapi juga menggabungkan program entrepreneurship atau kewirausahaan.

Untuk program membaca ada program “1,000 Page Reading Challenge” sebagai program Tantangan Membaca 1000 Halaman yang sangat menarik bagi siswa. Tantangan Membaca 1000 halaman (1000 Page Reading Challenge) adalah program Gerakan Literasi Sekolah bagi GURU DAN SISWA. Tujuan dari program ini adalah untuk menumbuhkan kebiasaan dan minat baca dari SETIAP SISWA DAN GURU di sekolah dalam program yang menarik dan menantang sebagai bagian dari penumbuhan minat dan kebiasaan membaca guru dan siswa. Selain itu program ini dirancang untuk menciptakan Rekor Membaca Sekolah yang belum pernah ada sebelumnya.

Untuk program Menulis ada program “One Class One Book” yang akan mendorong siswa setiap kelas untuk menghasilkan satu buku setiap tahun. Festival Literasi SMPN 1 Kota Madiun 2020 ini direncanakan akan dimulai awal Oktober nanti dan akan berakhir pada akhir bulan Mei 2020 dengan puncak sebuah perayaan atau festival tentang literasi dengan menampilkan buku hasil karya para siswa klas 7 dan 8. Pada Festival ini akan diadakan berbagai acara seni selain menampilkan dan menjual buku hasil karya siswa. Festival ini akan mengacu pada apa yang telah dilakukan oleh SMAN 5 Surabaya pada tahun 2017 yang lalu yang mampu menghasilkan 20 buku kumpulan karya hasil siswa setiap kelas (kecuali kelas 12 yang fokus pada persiapan ujian mereka).

Baca juga:  TEACH LIKE FINLAND

Karena SMPN 1 Kota Madiun ini adalah sekolah favorit yang sudah berdiri sejak sebelum kemerdekaan (dulunya bekas sekolah MULO) maka jelas para alumninya sudah puluhan ribu dan banyak yang menjadi orang-orang penting di berbagai bidang.. Para alumni ini perlu untuk diajak bekerjasama menjalankan Festival Literasi SMPN 1 Kota Madiun 2020 ini nanti. Kami sudah sepakat untuk menyampaikan hal ini pada komite Sekolah pada acara Parenting dan juga pada perwakilan alumni yang akan diatur nantinya. 🙏

Kalau sudah begini maka jelas saya harus mengempos lwekang saya 7/11 bagian. 😎 Inilah kesempatan saya untuk ‘berdemo’ sebagaimana para mahasiswa turun di berbagai daerah berdemo untuk menuntut agenda mereka masing-masing. Saya mau mengajak semua civitas akademika SMPN 1 Kota Madiun untuk menghajar dan meruntuhkan Tragedi Nol Bukunya Taufik Ismail.

“Merdeka, Bung…!” 🙏😀

Surabaya, 25 September 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *