Di bawah kilatan lampu MetLife Stadium yang megah, di hadapan puluhan ribu pasang mata yang memadati konser Ed Sheeran, sebuah suara memecah riuh malam. Macklemore, sang rapper yang malam itu menjadi penampil pembuka, tidak sekadar bernyanyi. Di tengah panggung yang gemerlap, ia menggenggam mikrofon dan meneriakkan dua kata yang ringkas namun menggetarkan: “Free Palestine.” Dua kata saja. Dua kata yang lahir dari rasa pilu melihat anak-anak di Gaza tertimbun reruntuhan, menuntut agar sebuah bangsa yang tertindas akhirnya bisa bernapas merdeka.
Namun di panggung industri hiburan yang penuh kepura-puraan, kata “merdeka” ternyata menjadi sesuatu yang mengerikan.
Tak lama setelah gema lagu protes “Hind’s Hall” mereda, sebuah reaksi datang dari tempat yang jauh dari desing peluru—dari kenyamanan sebuah rumah mewah di Amerika. Penyanyi pop dunia, Pink, mengekspresikan kekhawatirannya di media sosial. Sebagai seorang ibu keturunan Yahudi, ia mengaku merasa terancam dan ketakutan oleh retorika semacam itu.
Seketika, narasi pun bergeser. Fokus dunia yang seharusnya tertuju pada genosida di Gaza, mendadak dipaksa berputar demi meredam kecemasan emosional seorang wanita kulit putih yang kaya raya.
Inilah wajah asli dari apa yang disebut sebagai white feminism. White feminism adalah istilah kritis untuk menggambarkan bentuk feminisme yang hanya berfokus pada perjuangan dan kecemasan perempuan kulit putih kelas menengah/atas, sembari mengabaikan atau menutup mata terhadap penindasan sistemik yang dihadapi oleh kelompok ras, etnis, dan minoritas lain (interseksionalitas). White Feminism Pink ini dituding sebagai sebuah gerakan yang bertahun-tahun membungkus diri dengan bahasa progresif, hak asasi manusia, dan keberpihakan pada kaum tertindas, namun mendadak menderita amnesia moral ketika dihadapkan pada penderitaan nyata bangsa Palestina.
Sungguh sebuah ironi yang menyayat hati. Ini adalah bentuk white feminism yang paling egois. Di satu belahan bumi, seorang wanita menuntut agar dunianya tetap nyaman dan bebas dari rasa takut yang abstrak. Sementara ribuan mil dari sana, para ibu di Palestina memeluk tubuh dingin anak-anak mereka, didera ketakutan nyata yang konkret: ketakutan bahwa bom yang didanai oleh uang pajak warga AS akan menghancurkan atap rumah mereka malam ini. Anak-anak Gaza tidak sedang mengkhawatirkan kata-kata di panggung konser; mereka gemetar di bawah reruntuhan, memunguti sisa-sisa anggota tubuh orang yang mereka cintai di tengah kelaparan yang mencekik.
Meski Macklemore telah menegaskan dengan lantang bahwa mengkritik Israel bukanlah bentuk kebencian terhadap kaum Yahudi, mesin kekuasaan kapitalis tidak mau peduli. Hanya dalam hitungan hari, kekuatan institusional yang mengerikan langsung bergerak secepat kilat. Robert Kraft, seorang miliarder pemilik Gillette Stadium, memberikan ultimatum tegas: larang Macklemore tampil, atau seluruh rangkaian tur Ed Sheeran dibatalkan. Ancaman finansial itu berujung pada pendepakan Macklemore dari sisa tur.
Sistem ini menunjukkan kebobrokannya secara telanjang. Mengapa para elite penguasa bisa memobilisasi kekuasaan dan uang secepat ini hanya untuk membungkam seorang seniman yang membela Palestina, sementara mereka berdiam diri melihat ruang kelas dan rumah sakit di Gaza luluh lantak di depan mata seluruh dunia? Mereka—para pesohor dan miliarder yang saling terkoneksi—telah mengambil hak tuhan untuk menentukan pidato siapa yang berbahaya, ketakutan siapa yang wajib dilindungi, dan penderitaan siapa yang boleh dianggap sebagai kerugian sampingan yang bisa diterima.
Macklemore memilih tidak tunduk. Sebagai bentuk perlawanan terakhir, ia mendonasikan seluruh keuntungan bersih senilai US$1 juta dari tur tersebut untuk bantuan kemanusiaan di Gaza. Sebuah tamparan keras bagi industri yang mencoba mematikan hati nuraninya.
Kisah ini bukan sekadar tentang sensor di panggung musik. Ini adalah cermin retak dari moralitas kita. Jika kata “Free Palestine” terasa lebih menakutkan bagimu daripada pemandangan anak-anak yang kelaparan dan terbunuh, maka yang perlu diperiksa bukanlah kata-kata itu. Yang perlu dipertanyakan adalah mengapa kebebasan manusia lain terasa begitu mengancam bagimu sejak awal? Berhentilah menggunakan ketakutan sebagai perisai dari rasa bersalah. Berhentilah menuntut penderitaan Palestina menjadi lebih senyap hanya agar hidupmu yang nyaman tidak terusik. Anak-anak yang hidup dalam mimpi buruk itu sedang ketakutan setengah mati. 🥴
Sudah saatnya kita mengacuhkan air mata palsu para selebriti. Mari kita menjadikan jiwa-jiwa yang tak berdosa di Gaza—sebagai pusat dari kemanusiaan kita. Di bawah langit Gaza yang pekat oleh debu dan mesiu, tangisan anak-anak yang ketakutan tidak butuh izin dari para miliarder atau air mata palsu dari panggung Hollywood untuk dianggap nyata. Mereka hanya butuh kita—manusia yang masih memiliki detak nurani—untuk tidak memalingkan wajah. Sebab jika kita memilih diam hanya demi menjaga kenyamanan emosional kita sendiri, maka sejatinya, yang mati di tengah reruntuhan itu bukan hanya mereka, melainkan kemanusiaan kita sendiri. 🙏
Surabaya, 20 September 2026
Satria Dharma