Selasa, 25 Februari 2020
Just another WordPress site
Ketiban Sampur Friendship Force Ribeirao Preto Brazil

Siang ini saya ‘ketiban sampur’ mesti ngajak jalan-jalan empat cewek bule asal Brazilia. Mereka adalah ambassador dari program Friendship Force Brazilia. Friendship Force adalah organisasi non profit yang berkantor pusat di Atlanta. Organisasi ini berdiri pada tahun 1977 dan disponsori oleh mantan Presiden Amerika Serikat, Jimmy Carter. Friendship Force terus berkembang dan kini berada di lebih dari 65 negara diantaranya adalah: Jerman, Belgia, Perancis, Belanda, New Zealand, United Kingdom, Australia, Hongkong, Vancouver, Macau, SanFransisco, USA, termasuk Indonesia. Itu negaranya lho! Tapi di tiap negara bisa berkembang menjadi klub-klub. Di Indonesia sendiri telah berdiri beberapa klub yaitu di Surabaya, Malang, Bandung, Jogya, dan entah di mana lagi. Bahkan katanya di Bandung malah telah jadi 2 klub. Tamu yg saya terima adalah utk Klub Surabaya yg menerima Ambassador Friendship Force dr Klub Ribeirao Preto di Brazil. Saya sendiri baru mendengar nama kota ini. Berdasarkan Wikipedia Ribeirão Preto dalam bahasa Portugis artinya Black Brook or Black Stream. Ribeirao Preto ini adalah ibu kota di negara bagian São Paulo di Brazil. Ribeirao Preto disebut ‘Brazilian California’, karena merupakan kota ekonomi berbasis agrobisnis plus high technology yg memiliki cuaca hangat sepanjang tahun. Berdasarkan sensus th 2010 Ribeirão Preto ‘is the eighth largest municipality in the state, and in 2012 it’s estimated to be 619,746 inhabitants’. Letaknya 313 km (194 mi) dari kota São Paulo dan 706 km (439 mi) dari Brasília, ibukota negara Brazil.

Misi dari lembaga Friendship Force ini adalah membangun dan memupuk persahabatan dunia melalui pertukaran warga dan budaya. Karena itu programnya adalah saling berkunjung antar warga dari negara yang satu untuk mengunjungi warga di negara lain yang tergabung dalam Friendship Force. Anggota Friendship Force dari berbagai negara saling mengunjungi pada setiap tahun. Karena itulah budaya antar negara bisa saling terkomunikasi dengan sangat efektif. Selama ini kita (maksudnya, saya) hanya tahu pertukaran pelajar. Padahal ada program pertukaran warga dunia seperti ini.

Friendship Force Klub Surabaya mendapatkan giliran utk menerima 10 ambassador (yang kebetulan wanita semua) dari Ribeirao Preto Brazilia tahun ini. Selain ke Surabaya mereka juga akan datang ke Bandung dan Bali yg tentunya akan disambut oleh host FF di kota tersebut.
Saya sendiri secara tidak sengaja ‘ketiban sampur’ untuk menerima seorang ambassador.

Baca juga:  FRIENDSHIP FORCE (Bagian 2) : Dasar Katrok...!

Beberapa waktu yg lalu saya ditelpon seorang teman, Pak Wawang Hutawarman, kasek SMAN Jombang yg ada pertemuan di Sby dan ingin bertemu dg saya. Kami pun janjian utk bertemu di acara yg diikutinya yg ternyata adalah pertemuan Friendship Force. Pak Wawang sendiri pernah menjadi ambassador Indonesia ke Amerika Serikat beberapa tahun yg lalu.
Di tempat pertemuan itulah saya akhirnya bertemu dengan dedengkot FF Surabaya seperti Bu Anny Subagyo, Bu Lia Ario Djatmiko, Mas Rendy, Mbak Riris, dan Mas Adi Putranto. Kebetulan mereka membahas acara FF di mana Surabaya akan menjadi tuan rumah. Karena butuh satu host atau tuan rumah untuk menerima setiap tamu sedangkan anggota yg bisa menerima terbatas maka saya dimintai bantuan utk menjadi salah satu host. Pak Wawang sendiri tidak bisa menerima ambassador krn ia tinggal di Jombang.
Tawaran tersebut saya terima karena di rumah memang ada kamar kosong dan hanya terisi kalau ada tamu. Musim liburan sdh lewat dan anak sulung saya lebih banyak tinggal di apartemen teman-temannya.

Jadi begitulah…
Saya pun menjadi host dan tentu saja saya berupaya untuk menjadi host sebaik-baiknya.

Tentu saja acara kunjungan ini sudah dirancang dg sangat baik karena FF Surabaya sudah berkali-kali menerima kunjungan.
Agenda ambassador ini di Surabaya antara lain adalah : belajar membatik, berkunjung ke rumah pelukis wanita Nana Tomi Masdjedi di Rungkut Asri, ke Gunung Bromo, ke House of Sampoerna Museum, Mirota, pertunjukan budaya di Kowloon, culture night, Puri Sanggar Agung, dan nantinya akan diterima oleh Bu Risma, Walikota Surabaya, di rumah dinasnya.
Tugas saya adalah menemani mereka ‘wira-wiri’ dari satu tempat ke tempat lainnya. Untungnya kok saya ini sudah jadi pensiunan bahagia sehingga punya banyak waktu. Sayangnya istri saya kok ya pas lagi banyak kesibukan di kantornya sehingga saya terpaksa sering menemani mereka sendirian.

Baca juga:  APA TANDA BAHWA SEJUMLAH BESAR MUSLIM TELAH BERKUMPUL?

Meski sudah ada jadwal kegiatan, tapi juga ada waktu luang utk bersama host. Kok ya kebetulan beberapa host juga sibuk dan tidak bisa menemani sehingga beberapa ambassador ‘dititipkan’ ke saya utk ajak kemana terserah saya.
Saya semula bingung karena tidak tahu mau saya ajak kemana mereka. Mau saya ajak nonton ludruk atau wayang orang di THR kok ya pas siang-siang…!
Setelah putar otak gak ketemu jawaban akhirnya saya putuskan utk mengajak mereka melihat Surabaya yg asli. Maksud saya adalah mengajak mereka masuk ke kampung-kampung dan pasar tradisional.
Kalau mau lihat kampung ya gampang saja. Tinggal saya ajak masuk kampung saya tinggal dulu di Darmokali.

Jadi begitulah…
Mereka pun saya ajak blusukan ke gang-gang kampung di Darmorejo sambil diikuti oleh anak-anak kecil yg tertarik melihat ada bule masuk ke gang kampung mereka. Mereka tentu saja tertarik dg semua hal yg mereka lihat. Everything new for us must be interesting. Mereka sibuk memfoto segala hal baru bagi mereka. Masjid kampung saja mendatangkan banyak pertanyaan dari mereka. Apalagi pas adzan Ashar. 🙂

Setelah blusukan ke kampung mereka minta ke pasar tradisional. Maka saya ajaklah mereka ke pasar DTC (Darmo Trade Center) di Wonokromo. Meski dekat rumah saya di Darmokali saya sendiri belum pernah masuk ke DTC. Jadi itu juga my first visit ke DTC (bukan twenty nine my age lho ya…!). 😀
Saya bawa mereka ke lantai bawah tempat pasar jual segala macam bumbu dan sayuran. Tentu saja suasana pasarnya ‘rungsep’ dan pengap as usually pasar tradisional (terutama di lantai bawah yg tanpa AC). Nah, disitulah mereka tak tahan dan salah seorang merasa kehabisan napas dan minta balik.
Kunjungan ke pasar tradisional pun selesai.

Baca juga:  PROF. BUDI DARMA

Kemana setelah itu…?!

Saya ceritakan pada bagian 2 ya. Saya mesti siap-siap ikut ke Bromo nih…!
Brrrr…..! (belum berangkat kok ya sudah dingin toh!)

Surabaya, 3 Oktober 2013

Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

2 tanggapan untuk “Ketiban Sampur Friendship Force Ribeirao Preto Brazil”

  1. Arifin Mochtar berkata:

    Salam kenal pak Satria. Senang sekali membaca tulisan anda yang sersan- serius tapi santai- ini. Selamat datang; walau terlambat, dalam keluarga besar Perhimpunan FF Indonesia. Mudah2an anda tidak menyesal dan bahkan menikmatinya. Yang Bapak alami baru permukaan gunugn es nya saja. Nanti akan ketemu yang leibh seru2. Suwun. Arifin Mochtar, Chairman, PFFI.

  2. Satria Dharma berkata:

    Yes, Pak Arifin. Where have I been? Why didn’t I know about FF before? I should’ve joined it long time ago. :-D.
    Tapi tidak apa. Saya punya banyak harapan pada visi dan misi FF. I see my vision in FF and hope I could do much to make it true. Kita harus bertemu utk mendiskusikannya Pak Arifin. 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *