“Jika kita ingin tetap benar-benar menjadi manusia, kita harus bangkit dan menyebut para Zionis sebagaimana adanya mereka: Penjahat Nazi!” 😬
Kalimat tajam ini bukan datang dari seorang komentator politik biasa. Kutipan kontroversial tersebut lahir dari refleksi mendalam Dr. Hajo Meyer (1924–2014), seorang fisikawan terkemuka asal Belanda kelahiran Jerman yang berhasil bertahan hidup dari kengerian kamp konsentrasi Auschwitz milik Nazi. Bagi Meyer, kebebasan yang ia dapatkan setelah Holocaust bukan sekadar keberuntungan untuk dinikmati sendiri, melainkan sebuah amanah moral untuk membela kemanusiaan yang tertindas—bahkan jika ia harus melawan narasi negaranya sendiri.
HOLOCAUST SEBAGAI TAMENG POLITIK
Sebagai seorang penyintas Holocaust, Meyer menyimpan kemarahan besar terhadap apa yang ia sebut sebagai industrialisasi ingatan Holocaust. Ia melihat sebuah ironi besar ketika Pemerintah Israel memanipulasi trauma pembantaian Yahudi oleh Nazi untuk melegitimasi agresi militer dan penindasan sistematis terhadap bangsa Palestina. Bagi Meyer, arah politik Zionisme modern telah melenceng jauh dari nilai-nilai luhur kemanusiaan. Ia pernah menulis dengan lugas: “Sejak tahun 1967, menjadi sangat jelas bahwa Zionisme politik memiliki satu tujuan monolitik: Lahan maksimum di Palestina dengan jumlah minimum orang Palestina di atasnya. Tujuan ini dikejar dengan kekejaman yang tidak dapat dibenarkan seperti yang ditunjukkan selama serangan terhadap Gaza. Kekejaman tersebut dirumuskan secara eksplisit dalam doktrin Dahiya militer dan didukung secara moral oleh agama Holocaust.”
PESAN PADA PEJUANG PALESTINA
Dalam wawancara sebelumnya dengan The Electronic Intifada, Hajo berkata, “Selama saya mampu, saya akan terus menyampaikan kritik terhadap perilaku zionis yang tidak manusiawi.”Pesan saya kepada warga Palestina adalah agar mereka tidak menyerah dalam perjuangan,” jawabnya. “Jika mereka menyerah, mereka bisa kehilangan harga diri akibat penghinaan yang terus dilakukan oleh pihak Israel.
Berjuanglah dengan cara yang manusiawi. Adalah hal yang benar untuk menunjukkan kepada zionis Israel bahwa kalian adalah kekuatan yang patut diperhitungkan. Berjuanglah dengan batu, dengan senjata. Ya, juga dengan senjata. Jika kalian tidak melawan, kalian akan kehilangan harga diri dan tidak akan dihormati oleh orang Israel.”
MENOLAK BUNGKAM
Pandangan radikal Dr. Hajo Meyer bukanlah suara tunggal yang terisolasi. Pada tahun 2014, menyusul eskalasi konflik berdarah di Gaza, sebuah gerakan moral berskala besar pecah di panggung internasional.
Sebanyak 40 penyintas Holocaust bersama 287 keturunan langsung mereka mengambil langkah berani dengan menandatangani surat terbuka yang diterbitkan sebagai iklan satu halaman penuh di surat kabar bergengsi Amerika Serikat, The New York Times.
Aksi kolektif ini membawa pesan-pesan kunci yang mengguncang narasi utama:
Menolak Senjata Label “Antisemit”: Mereka mengecam keras penggunaan istilah “antisemit” sebagai alat politik untuk membungkam, mengintimidasi, dan menyensor siapa pun yang mengkritik kebijakan militer Israel.
Kecaman Unilateral: Dalam surat tersebut, mereka menulis: “Sebagai penyintas Yahudi dan keturunan dari korban genosida Nazi, kami secara sepihak mengutuk pembantaian warga Palestina di Gaza serta pendudukan dan kolonisasi yang terus berlanjut atas tanah bersejarah Palestina.”
Kritik Terhadap Sesama Penyintas: Mereka secara terbuka mengkritik tokoh-tokoh penyintas Holocaust lain—seperti Elie Wiesel—yang mereka anggap menyalahgunakan sejarah kesengsaraan masa lalu untuk menjustifikasi kekerasan militer Israel saat ini.
Jika para penyintas Holocaust saja menentang dengan sangat keras kekejaman Israel kok masih ada orang Indonesia yang merasa lebih yahudi daripada mereka dengan membela kejahatan Israel. 🤔
Balikpapan, 14 Septermber 2026
Satria Dharma