Rabu, 21 Maret 2019
Just another WordPress site
  • Chateu
  • Bareng Pak Anies Baswedan
  • Sabang
  • India
  • NUS, Singapore
  • Merapi, Jogja, Indonesia
  • Kamboja
  • Nusa Dua, Bali, Indonesia
  • Thailand
  • Turki
  • Singapura
  • Puncak, Jawa Barat, Indonesia
  • Korea Selatan
  • Wisuda si Bungsu
HOAX LEE KUAN YEW
Lee Kuan Yew. Sumber: http://alicesg.blogspot.com

Lee Kuan Yew. Sumber: http://alicesg.blogspot.com

Pak Mohon maaf mengganggu. Saya hanya ingin tahu gambar yang di atas itu hoax atau bukan. Maklum…lagi mau klarifikasi sama teman. Panjenengan kan ahlinya mirsani hoax atau bukan. Matur nuwun…!

Seorang teman yang sangat jarang menghubungi saya tiba-tiba mengirim sebuah gambar Lee Kuan Yew dengan narasi, “Kalian tak mungkin MELAWAN PRIBUMI dengan SENJATA tapi kalian bisa MENGALAHKAN mereka dengan STRATEGI ADU DOMBA seperti itulah kami MENGUASAI Singapura.” Lee Kuan Yew. Kemudian ada tambahan di bawahnya : “Carilah orang-orang munafik karena mereka yang dapat engkau bayar.

Begitu saya baca langsung saya jawab, “HOAX…!

Caranya ngecek hoax apa nggak pripun nggih?” tanyanya. Tentu saja dia penasaran kok saya begitu baca langsung bisa memutuskan bahwa itu hoax atau bukan. Soalnya dia kan harus menjelaskan pada temannya yang mengirimi itu. (Percaya tidak bahwa hoax dan fitnah semacam ini justru banyak disebarkan pada WAG Pengajian…!)

Jelas sekali bahwa pernyataan demikian yang tidak jelas sumbernya adalah hoax. Siapa saja bisa membuat tulisan dan gambar seperti itu dengan sangat mudah dan jelas tidak mungkin seorang seperti Lee Kuan Yew akan membuat pernyataan seperti itu. Sebetulnya hal yang segamblang begini tidak perlu ditanyakan. Tapi faktanya teman saya yang sebenarnya berpendidikan tinggi itu pun gamang menentukan apakah WA yang diterimanya itu hoax atau bukan dan perlu bertanya pada saya yang ‘ahlinya ahli, core of the core’ ini. 😀
Selanjutnya…

CATATAN HAJI NANANG
Buku Catatan Haji Nanang. Sumber: dok. pribadi

Buku Catatan Haji Nanang. Sumber: dok. pribadi

Campuran doa keras, rintihan doa dan zikir merdu, sayup-sayup terdengar dari perempuan-perempuan berkerudung hitam. Dalam desakan dan tarikan istri saya, ditengah kepungan hawa pengap panas, saya berpikir,”Buat apa saya melaksanakan hal ini jika bukan karena perintah-Nya.”

Ya, buat apa kita bersusah payah melaksanakan ibadah haji (dan umrah) dengan segala kesulitan dan penderitaannya jika bukan karena perintah Tuhan? Faktanya setiap musim haji jutaan manusia bersedia bersusah payah datang ke Tanah Suci dan melaksanakan segala ritual haji yang berat, dan bahkan bisa membuat jiwa mereka melayang, karena adanya keimanan di dada mereka untuk melaksanakan perintahNya. Banyak orang yang hidup pas-pasan bahkan bersedia menabungkan penghasilan mereka serupiah demi serupiah selama belasan bahkan puluhan tahun. Mereka bahkan mengabaikan kebutuhan hidup mereka yang lain demi bisa menikmati berat dan sulitnya ibadah haji tersebut. Iman adalah alasan di balik tindakan ‘irasional’ tersebut. Itulah salah satu catatan kesan yang dituliskan oleh Ahmad ‘Nanang’ Rizali dalam memoar catatan hajinya yang berjudul “Sampaikan Salamku kepada Rasulullah SAW”.

Buku kecil setebal 166 halaman ini sungguh menarik dan membuat saya tidak bisa melepaskannya membaca sampai tuntas. Saya sendiri dua kali berhaji, sekali ketika masih bujangan dan sekali bersama istri, dan saya juga menuliskan diary pada kali pertama saya datang ke Tanah Suci. Tapi apa yang dituliskan oleh Haji Nanang ini sungguh memikat. Saya jelas tak akan sanggup menulis serinci dan semenarik ini. Ia menuliskan segala hal dengan rinci dan kesan-kesannya ia tuliskan dengan ekspresif, termasuk ketika ia ‘mengomel’ pada hal-hal yang menurutnya tidak benar. Oh ya, ada banyak hal-hal yang menjengkelkan yang akan kita alami dan lihat ketika melaksanakan ibadah haji dan kita akan selalu diminta untuk bersabar menyikapinya.
Selanjutnya…

KEMENANGAN UMAT ISLAM

Nahdlatul Ulama mengadakan Munas dan Konbes NU 2019 di Banjar Patroman, Jawa Barat, pada tanggal 27 Pebruari 2019. Ada beberapa isu penting yang dibahas tapi yang paling menyengat publik adalah hasil bahasan Bahtsul Masâil Maudlū’iyah dalam di tema “Negara, Kewarganegaraan, Hukum Negara, dan Perdamaian.” Pada tema ini NU mengusulkan warga non-Muslim tidak disebut kafir.

Saya gembira sekali membaca ini. Luar biasa…! Inilah senyatanya kemenangan umat Islam dalam upaya membangun agamanya yang rahmatan lil alamin. Keputusan terhebat yang pernah kita lakukan. Dengan demikian kita melangkah ke dunia yang lebih toleran dan beradab terhadap umat lain. Ini sungguh patut kita syukuri..

Tapi anehnya justru banyak umat Islam dan bahkan daí dan ulama yang mengecam keputusan ini meski tidak melakukan tabayyun lebih dahulu. Mereka langsung mengecam dan menganggap bahwa keputusan tersebut adalah propaganda kaum sekuler liberal yang terus berusaha menyamakan semua agama dan keyakinan,” Seorang kyai dari Malang mengatakan bahwa hasil Munas NU itu sudah parah. Itu seolah hendak mengamandemen Alquran sebagai wahyu ilahi. Astagfirullah hal adzim…!

Di sini saya merasa sedih… Selanjutnya…

HOW STUPID CAN YOU GO ?

Berprasangka buruk pada orang lain bisa membuat kita bodoh dan kehilangan akal sehat. Kita akan menciptakan berbagai alasan dan skenario bodoh untuk mendukung prasangka buruk kita yang sama sekali tidak masuk akal. Kecerdasan dan akal sehat kita akan hilang karena prasangka buruk yang kita perturutkan.

Seorang teman tidak henti-hentinya menyebarkan provokasi prasangka buruk tentang pilpres. Dan itu dimulainya dengan isu KTP untuk TKA. Dia menyebarkan prasangka bahwa telah ditemukan adanya TKA yang memiliki KTP. Dia heran dan kaget bahwa ada TKA yang memiliki KTP (kemane aja lu selama ini kok lu baru tahu?). Ia lalu menggunakan nama rakyat dan bilang bahwa rakyat cemas dan gelisah bahwa ditemukan ada TKA yang memiliki KTP. Ada urusan apa kok rakyat cemas dan gelisah kalau ada WNA yang punya KTP? Katanya itu bisa digunakan oleh WNA tersebut untuk mencoblos pada pilpres nanti. Jadi dia berprasangka buruk bahwa ada konspirasi untuk membekali WNA (terutama TKA China) dengan KTP agar bisa nyoblos di pilpres nanti. Tentu saja yang dicurigainya adalah capres 01 lha wong dia pendukung 02. Dia mungkin kurang membaca sehingga tidak tahu bahwa sejak lama sudah ada ketentuan tentang KTP untuk WNA. Kewajiban bagi WNA untuk memiliki e-KTP diatur Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Administrasi Kependudukan. Jadi ketentuan ini sudah berlaku sejak lima tahun yang lalu. Baca disini.

Meski sudah diberitahu bahwa WNA ber-KTP itu sudah sejak lama tapi prasangka buruk tetap jalan… Katanya KTP tersebut akan bisa dipakai untuk nyoblos capres 01 karena katanya sekarang orang bisa nyoblos cukup dengan menunjukkan KTP saja. Tentu saja ini alasan yang stupid punya karena KTP untuk orang asing tersebut tidak bisa dipakai untuk nyoblos. Hal itu sudah dijelaskan oleh Kemendagri. Lagipula KTP untuk WNA tersebut jelas sekali perbedaannya karena ada tertulis WARGA NEGARA ASING di KTP tersebut. Tapi prasangka buruk jalan terus…
Selanjutnya…

AKAL SEHAT DAN BAJU BARU KAISAR

Apakah benar bahwa Anda menggunakan akal sehat Anda…?!

Jika kita benar-benar menggunakan akal sehat maka yang keluar dari pikiran kita tentulah kebaikan, kebenaran, sesuatu yang mencerahkan, membahagiakan, mencerdaskan, menginspirasi, dan memberi optimisme pada orang lain. Tapi jika yang keluar dari mulut dan posting-posting kita di media sosial adalah caci-maki, provokasi, kebencian, permusuhan, berita bohong, fitnah, pengkafiran, dan kata-kata keji, maka apakah mungkin itu keluar dari akal yang sehat? Mikiiiir…! Kata Cak Lontong.

Masih ingat kisah ‘The Emperor’s New Suit’ karya Hans Christian Andersen tentang seorang raja yang dibodohi oleh penipu? Penipu ini mengaku penenun paling hebat dan mampu membuat pakaian mewah yang hanya bisa dilihat oleh orang yang baik, jujur, dan sesuai dengan jabatan yang dimilikinya serta setia pada kerajaan. Saking hebatnya penipu ini meyakinkan orang sehingga dipercaya dan diberi order bikin baju baru bagi Kaisar. Lalu penipu ini membuat baju kebesaran khayalan yang sama sekali tidak ada. Tapi karena pintarnya orang ini menipu dan mempengaruhi orang sehingga tak ada seorang pun yang berani mengatakan bahwa mereka tidak melihat apa-apa. Sebaliknya mereka semua memuji-muji baju khayalan tersebut karena mereka tidak mau disebut bodoh, tidak jujur, dan tidak memiliki akal sehat. Mereka akhirnya bersama-sama mengaku bisa melihat baju khayalan tersebut untuk membuktikan betapa sehatnya akal mereka. Selanjutnya…

MUSUH-MUSUH ISLAM

“Umat Islam itu sejak dulu selalu terpecah belah dan saling berperang satu sama lain. Oleh sebab itu perlu diciptakan musuh bersama untuk mempersatukannya.” Demikian kata seorang teman dalam sebuah diskusi. “Jadi jangan heran kalau ada yang membangunkan hantu PKI untuk menakut-nakuti umat Islam. Itu strategi kuno dari Tiongkok, yaitu Strategi ke14 yang disebut ‘Pinjam mayat orang lain untuk menghidupkan kembali jiwanya. (Menghidupkan kembali orang mati.)’ Hidupkan kembali sesuatu dari masa lalu dengan memberinya tujuan baru atau terjemahkan kembali, dan bawa ide-ide lama, kebiasaan, dan tradisi ke kehidupan sehari-hari. Sedangkan strategi yang pernah disampaikan Prabowo dalam ceramahnya, yaitu ‘Rampoklah rumah yang sedang terbakar (Loot a burning house)’ adalah Strategi ke 5. Saat sebuah negara mengalami konflik internal, ketika terjangkit penyakit dan kelaparan, ketika korupsi dan kejahatan merajalela, maka ia tidak akan bisa menghadapi ancaman dari luar. Inilah waktunya untuk menyerang. Jadi ini memang strategi perang kuno. Semua itu bisa dibaca di https://id.wikipedia.org/wiki/36_Strategi.” sambungnya.

“Umat Islam itu susah bersatu kalau bicara soal kekuasaan, semua pada ingin berkuasa sendiri-sendiri. Lha wong di zaman khilafah aja mereka bisa saling bunuh dan bantai sesama keluarga kok. Coba lihat di Indonesia ada berapa partai berbasis Islam. Mengapa mereka tidak jadi satu saja dalam sebuah partai Islam?” tanyanya.

Selanjutnya…

THE DEATH OF HIZBUT TAHRIR INDONESIA

MA TOLAK KASASI HTI

Alhamdulillah, Mahkamah Agung (MA) resmi menolak kasasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan resmi menetapkannya sebagai organisasi terlarang. Ini sebuah hook keras yang menghantam HTI sehingga tidak bisa bangun lagi.

Amar putusan MA dilansir di laman resmi Kepaniteraan MA pada Kamis (14/2/2019). Perkara dengan nomor registrasi 27K/TUN/2019 itu diajukan dari Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta pada 2 Januari 2019. HTI sebagai pemohon menggugat Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia atas pembubaran organisasi tersebut. Kuasa Hukum HTI Yusril Ihza Mahendra mendaftarkan kasasi ke MA pada 19 Oktober 2018. Permohonan ini kemudian ditolak MA. Dengan putusan tersebut, maka pembubaran HTI telah memiliki kekuatan hukum tetap atau inkrah. Ini adalah kemenangan dari bangsa Indonesia melawan sebuah upaya pengkhianatan terhadap negara NKRI yang berbasiskan Pancasila melalui sistem demokrasi ini.

MENGAPA RINDU KHILAFAH?

Mengapa ada banyak umat Islam di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, yang menginginkan kembalinya era khilafah? Faktor utamanya, saya rasa, adalah karena mereka merasa bahwa umat Islam saat ini kalah dari umat lain. Mereka merasa terpinggirkan, termarjinalisasi, ketinggalan kereta, miskin, tak memiliki kekuasaan, dikuyo-kuyo, dlsb. Faktanya negara-negara Islam saat ini memang kalah maju dan makmur dibandingkan dengan negara-negara sekuler atau bahkan dengan negara komunis. Apalagi dengan negara Israel yang Yahudi tersebut. Kalah total. Selanjutnya…

BERSAMA IGI MENUJU PROFESIONALISME GURU

“Organisasi profesi guru ini harus mandiri, independen dan mesti digunakan oleh guru untuk memajukan profesinya, meningkatkan kompetensinya, kariernya, wawasan kependidikannya, perlindungan profesinya, meningkatkan kesejahteraan dan pengabdian kepada masyarakat. Bendera kebangkitan guru telah kukibarkan,” Satria Dharma, Pendiri dan Ketua Ikatan Guru Indonesia.

Ikatan Guru Indonesia atau IGI pada awalnya terbentuk melalui diskusi di milis The Center for The Betterment of Education (CBE): cfbe@yahoogroups.com. Dua begawan pendidikan muda kala itu, Satria Dharma dan Achmad Rizali, resah dengan kondisi mutu guru di Indonesia. Melalui CBE, keduanya beberapa kali melakukan dialog pendidikan secara nasional. Hasilnya, guru dianggap menjadi persoalan pendidikan yang serius.

Di sisi lain, kinerja pemerintah dalam meningkatkan profesionalitas guru juga memprihatinkan. Organisasi guru yang diharapkan bisa menjadi bidan yang ikut melahirkan guru-guru profesional kurang optimal. Keresahan ini membuncah. Reformasi pendidikan perlu segera dilakukan.

Selanjutnya…

MUSTAFA KEMAL PASHA: PAHLAWAN TURKI YANG DIBENCI PENDUKUNG KHILAFAH
The Sultan's (left) order assigning Mustafa Kemal Pasha (right) to start the war of independence in Samsun, published on the official gazette

The Sultan’s (left) order assigning Mustafa Kemal Pasha (right) to start the war of independence in Samsun, published on the official gazette

Siapa orang yang paling dibenci dan difitnah oleh para pengusung khilafah? Namanya Mustafa Kemal Pasha yang mendapat gelar Ataturk. Ya, dia adalah Bapaknya orang Turki (Attaturk). Dia dianggap sebagai Bapaknya Orang Turki karena dialah pendiri dan sekaligus presiden pertama Republik Turki. Dia adalah pahlawan yang memerdekakan Turki dari penjajahan.

Lalu mengapa ia dibenci oleh para pendukung khilafah?

Karena ialah yang dianggap mengakhiri riwayat sistem kekhilafahan Islam terakhir pada tahun 1921 dan menjadikan Turki sebagai negara sekuler sampai hari ini. Bagi para pendukung khilafah Kemal Pasha ini adalah orang yang paling bersalah yang mengakhiri zaman kekhilafahan Islam.

Bagaimana ceritanya?

Selanjutnya…

MENGAPA SAYA MEMILIH IGI (Bagian 2)

Education is the passport to the future,

for tomorrow belongs to those who prepare for it today.

– Malcolm X

Hampir setiap saat para guru IGI ditanya apa beda IGI dan PGRI. Saya selalu menjawab, “ Mau yang singkat atau yang panjang? Kalau yang singkat bedanya adalah PGRI hanya punya satu ‘I’ sedangkan IGI punya dua ‘I’. Tapi kalau mau yang panjang ada beberapa versi.

Salah satu perbedaan yang saya sampaikan adalah bahwa IGI itu sama dengan IDI (Ikatan Dokter Indonesia). IDI itu organisasi profesi yang tentu saja para anggota dan pengurusnya adalah dokter semua. IDI tentu saja tidak menerima bidan dan perawat untuk menjadi anggotanya. Lagipula bidan dan perawat tentu punya organisasi profesinya sendiri. Begitu juga dengan IGI. Di IGI semua anggota dan pengurusnya adalah para guru. PGRI justru pengurusnya mayoritas bukanlah para guru itu sendiri. Pengurus PGRI hampir semuanya adalah para pejabat di lingkup dinas pendidikan, dosen, dan bahkan ada yang tidak sama sekali berhubungan dengan pendidikan dan sekedar pejabat di pemda.

Karena di IGI semua pengurus dan anggotanya adalah guru maka mereka tahu benar apa yang mereka butuhkan dan harus lakukan untuk menjadikan mereka sebagai guru-guru professional. Mereka adalah tuan di rumah mereka sendiri. Pengurus di organisasi mereka sendiri. Selanjutnya…