Rabu, 15 Juli 2020
Just another WordPress site
  • Chateu
  • Bareng Pak Anies Baswedan
  • Sabang
  • India
  • NUS, Singapore
  • Merapi, Jogja, Indonesia
  • Kamboja
  • Nusa Dua, Bali, Indonesia
  • Thailand
  • Turki
  • Singapura
  • Puncak, Jawa Barat, Indonesia
  • Korea Selatan
  • Wisuda si Bungsu
SUNNI DAN SYIAH: SIAPA YANG BENAR?

Dulu saya naif banget soal permazhaban.
Seorang teman bule pernah bertanya pada saya, “Are you muslim?”. “Yes,” jawab saya spontan. “Are you Sunni or Syiah?” tanyanya lebih lanjut. Saya kaget dan tidak menduga akan mendapat pertanyaan seperti itu.

“Whaat…?! I’m just muslim, neither Sunni nor Syiah,” jawab saya.

Bagi saya dulu yang naif seorang muslim ya muslim dan tidak perlu dikategorikan Sunni atau Syiah. Tentu saja saya salah. Teman bule saya itu ternyata lebih tahu banyak tentang sejarah Islam ketimbang saya. 😱 Kalau kamu mengaku muslim maka itu tidak cukup. Kamu harus masuk salah satu kategori, entah Sunni, Syiah, Ahmadiah, atau apa lagi gitu. Itu ‘world class category’. Kalau di Indonesia pengkategoriannya lebih beragam . Kamu boleh pilih NU, Muhammadiyah, Persis, NW, FPI, DDI, HTI, dan banyak lagi. Tapi yang ini bukan madzhab tapi organisasi massa atau jamaah. Jadi secara internasional kita itu masuk dalam kategori mazhab besar, yaitu Sunni, dan setelah itu baru ditanya organisasi Islamnya mau masuk mana, NU, Muhammadiyah, Nahdlatul Wathan, FPI, atau apa. Kalau tidak ikut salah satunya berarti Anda ‘Muslim Ronin’. Tapi tolong jangan cari istilah ini di kamus. 😄

Pertanyaan, “Are you Sunni or Syiah?” sebenarnya pertanyaan yang gawat surawat. Soalnya dua madzhab ini tidak akur dan bahkan terjadi peperangan antar madzhab ini sejak dulu sampai sekarang. Jika Anda tinggal di negara-negara muslim yang sedang berperang karena perbedaan mazhab Sunni dan Syiah maka pertanyaan tersebut bisa menentukan nasibmu dan bahkan hidup dan matimu. Suriah yang makmur dan indah sekarang hancur berantakan karena perang yang didasarkan pada perbedaan mazhab ini.
Selanjutnya…

PARA KHALIFAH: SIAPA BERI MANDAT…?!


Ada yang bilang bahwa ajaran Islam itu begitu lengkapnya sehingga urusan kencing, tidur, makan-minum, masuk rumah, utang piutang, nikah-cerai, waris, bahkan bersendawa pun diatur…

Pertanyaannya, lantas mengapa urusan siapa PENGGANTI Rasul sebagai pemimpin, yang begitu penting dan menyangkut nasib umat setelah beliau wafat justru TIDAK PERNAH DIBAHAS? 🤔

Mengapa tidak ada satu pun wasiat atau pun amanat dari Rasulullah tentang siapa khalifah yang ditunjuk untuk menggantikan beliau setelah wafat?

Karena tidak ada wasiat, amanat, atau pun mandat soal ini maka para sahabat benar-benar tidak siap ditinggalkan oleh Nabi dan tidak tahu siapa yang harus menjadi pemimpin umat sebagai pengganti Nabi (khalifah). Bahkan pada saat beliau sakit dan merasa akan meninggal pun beliau tidak beramanat atau pun berwasiat soal pengganti beliau.
Selanjutnya…

APA PERAN AGAMA BAGI BANGSA DAN NEGARA?


Sampai saat ini saya masih bertanya-tanya dan berharap agar ada teman, khususnya yang selama ini belajar khusus di bidang agama sampai mendapatkan gelar sarjana, master, dan apalagi doktor di bidang agama, untuk bersedia menjawabnya.

Jadi menurut Anda apa peran agama bagi bangsa dan negara? Apakah agama MEMPERKUAT rasa kebangsaan dari rakyat Indonesia atau justru sebaliknya MEMPERLEMAH rasa kebangsaannya?

Menurut teori dan cita-cita bangsa kita, agama dan negara harus berjalan beriringan dan saling memperkukuh, bukan untuk saling dipertentangkan. Anda sepakat…?! Para pendiri republik ini sudah sepakat sejak dahulu, meski ada upaya untuk menjadikan Indonesia menjadi sebuah negara Islam sejak awal. Seandainya dulu mereka tidak sepakat maka Indonesia tidak akan berdiri. Tapi sampai hari ini masih saja ada orang-orang yang masih terus memperjuangkan agendanya untuk menjadikan Indonesia sebagai negara Islam. Salah satunya adalah agenda untuk mengubahnya menjadi negara khilafah. Ide menjadikan Indonesia sebagai negara Islam adalah virus yang laten dalam benak umat Islam. Umat Islam Indonesia tak henti-hentinya mendambakan lahirnya negara Islam dan masyarakat Islam ideal di Indonesia.

Jika kita melihat sejarah, upaya mendirikan negara Islam selalu timbul tenggelam di Indonesia. Ada yang berbentuk kekhalifahan dunia atau internasionalisme seperti Hizbut Tahrir dan ada yang lingkupnya hanya Indonesia, seperti yang dilakukan oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. Selanjutnya…

INDONESIA TANPA INVESTOR ASING

Ya jelas kita tidak akan semakmur sekarang…😊

Kita akan tetap menjadi negara terkebelakang dan tidak akan mampu bersaing dengan negara-negara lain. Dengan wilayahnya yang begitu luas, terlebih lagi dengan kontur negaranya yang berbentuk kepulauan, maka Indonesia jelas sangat membutuhkan banyak modal agar seluruh pelosok mendapatkan pembangunan yang memadai. Tanpa infrastruktur yang memadai maka pembangunan jelas akan terhambat karena alasan akses dan mobilitas.

Jangankan Indonesia, semua negara besar di dunia ini tumbuh dan besar karena investasi asing. Peran investasi asing sangat besar untuk mendukung percepatan pembangunan ekonomi suatu negara. Tanpa investasi asing, mustahil negara seperti China dapat menikmati kemajuan ekonomi dan teknologi yang fenomenal seperti saat ini. Sekedar informasi, China merupakan negara penerima investasi asing terbesar kedua dunia setelah Amerika Serikat. Jadi negara-negara besar itu tumbuh membesar karena peran investasi asing dan mereka akan tetap membutuhkan investasi asing untuk terus meningkatkan perekonomiannya.

Investasi asing memang sangat diperlukan untuk pembiayaan program percepatan pembangunan nasional. Aliran modal asing yang masuk dapat menggerakkan roda perekonomian dan meningkatkan pendapatan negara. Tanpa itu maka kita tidak akan bisa membangun sebagaimana negara-negara miskin yang tidak dilirik dan diminati oleh investor asing.

Ada tokoh-tokoh tertentu yang selalu menghembus-hembuskan bahwa apa yang kita lakukan pada kekayaan alam kita itu salah. Semestinya kekayaan alam seperti minyak, gas, emas, dan berbagai mineral lainnya jangan sampai dikerjakan oleh pihak asing. Biarkan saja ia di dalam bumi sampai anak cucu kita sendiri suatu saat nanti dengan kemampuan dan modalnya sendiri yang akan menggali dan memanfaatkannya kelak. Pemikiran semacam ini tentu saja sangat naif. Hal ini sama dengan menyatakan, “Seandainya Engkong lu kagak jual tanahnya di Sudirman itu maka kita yang akan punya gedung berlantai 30 itu.”
Selanjutnya…

MENGHUJAT ISLAM

Seringkali saya menemukan orang-orang yang disebut ulama, ustad, da’i, dosen, dan bahkan professor perguruan tinggi Islam yang katanya membela Islam tapi dalam sikap, perkataan, dan tindakannya sebenarnya justru merendahkan Islam dan menganggap Islam itu inferior dan tidak berdaya. Orang-orang seperti ini sebenarnya menghujat agamanya sendiri. Aneh sekali orang-orang ini. Katanya berdakwah tapi sebenarnya mereka menghujat, menghina, dan meremehkan agamanya sendiri.

Coba perhatikan bagaimana mereka berceramah atau menulis artikel. Mereka-mereka ini akan menggambarkan Islam sedang dirundung nestapa, sedang kritis, sedang gawat, para ulamanya sedang diujung tanduk karena dikriminalisasi, dan segala macam situasi buruk karena dipepet, dikepung, diancam, mau dihancurkan, digerus, diapalah-apalah, oleh komunisme, kapitalisme, fasisme, liberalisme, hedonisme, dan segala macam ancaman isme yang ada di dunia ini. Mereka-mereka ini akan menggambarkan betapa umat Kristen dan Yahudi tidak pernah rela bertetangga dengan umat Islam dan kebencian mereka sudah nyata jadi jangan pernah sedikit pun percaya para mereka (untungnya agama lain tidak disebut kejahatannya di Alquran). Mereka itu cuma manis dibibir tapi hatinya berulat. Orang-orang keturunan Cina itu apalagi. Ekonomi mereka kuasai, perdagangan ada di tangan mereka, uang ada di tangan mereka, emas dan rajabrana mereka tumpuk untuk bersenang-senang, pejabat, tentara, dan polisi dalam kekuasaan mereka, sementara umat Islam terpuruk, ndlosor, dan megap-megap di bawah mereka. Selanjutnya…

ANDA MUSLIM…?!


Seorang teman pernah mengeluh tentang semakin tidak bermutunya pemahaman agama umat Islam. Ia menunjukkan poster pelatihan “Cara Cepat Dapat Istri Empat” menyusul suksesnya “Kelas Poligami Nasional” tahun sebelumnya. Bukan hanya muslim awam yang dikeluhkannya tapi juga munculnya ustadz-ustadz yang semakin ngawur ajarannya. Kapan hari ada ustadz yang menyatakan bahwa lagu “Balonku” dan lagu “Naik ke Puncak Gunung”sebagai propaganda anti-islam dan mengagungkan agama lain. Ada apa sebenarnya yang terjadi dengan para ustadz semacam ini? 😞

Sebenarnya sudah lama saya memprihatinkan masalah ini. Problem besar umat Islam masa kini adalah karena mereka tidak dididik untuk berpikir. Mereka hanya diajari untuk patuh pada ustadz mereka baik di sekolah mau pun di masjid tapi mereka tidak pernah diajari untuk berpikir, apalagi untuk bersikap kritis. Bersikap kritis, apalagi mempertanyakan pendapat ustadz mereka seolah dianggap sebagai sebuah kejahatan yang sangat tercela dan haram untuk dilakukan. Di sekolah dan di pesantren mereka hanya diajari untuk menghapal ayat dan hadist dan tidak diajari untuk mengaplikasikannya. Apa yang mereka pelajari hanya menjadi ilmu tanpa laku sehingga budaya dan tradisi keislaman menjadi mandek dan jumud. Selanjutnya…

KARENA KAMI PUNYA ORANG TUA YANG HEBAT

… Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua orang tuamu. KepadaKulah kamu kembali” (Luqman 21-14)

Sungguh kami bersaudara bersyukur bahwa kami memiliki dua orang tua yang benar-benar dapat dijadikan contoh dan panutan. Sebagai manusia tentu saja mereka tidak sempurna. Tetapi sebagai orang tua mereka adalah dua orang tua yang didambakan oleh semua anak di dunia ini.

Mereka adalah orang tua yang penuh kasih. Tidaklah mudah untuk menjadi orang tua dari 11 anak. Sebagai orang tua dari 3 orang anak dengan begitu banyak kemudahan pun ternyata tidaklah mudah bagi saya untuk tetap bersikap sebagai seorang ayah atau orang tua yang ideal. You will lose your temper temporarily. Saya tidak bisa membayangkan diri saya memiliki 11 orang anak dengan kondisi ekonomi yang begitu sulit pada jaman itu. Saya mungkin akan menyerah sebagai orang tua. Tapi mereka tidak.

Salah satu kelebihan mereka berdua yang menjadi sumber kekaguman kami sampai saat ini adalah ketabahan mereka menghadapi kesulitan hidup menanggung 11 orang anak dengan kondisi ekonomi yang benar-benar tidak masuk di akal kalau dipikirkan. Selanjutnya…

NEW NORMAL UNTUK PENSIUNAN…?!

Bagi pensiunan seperti saya diminta untuk menerima situasi ‘new normal’ saat ini sama artinya dengan diminta untuk pensiun untuk yang kedua kalinya. Dulu bekerja from 9 to 5 lalu disuruh berhenti bekerja agar bisa menikmati waktu sepenuhnya untuk diri sendiri. Okelah…! Bagi pensiunan everyday is a holiday dan saya harus bikin sendiri jadwal rutin agar tak merasa useless dan kehilangan semangat hidup. Jadi saya bikin kegiatan ‘new normal’ supaya hidup terasa normal kembali.

Jam 3 pagi saya sudah mulai kegiatan ritual saya bersyukur pada Tuhan. Kalau ada waktu saya juga buka HP yang sejak semalam tidak saya sentuh. Begitu adzan Subuh terdengar saya bangunkan anak-anak untuk salat Subuh berjamaah. Sejak adanya Covid 19 ini kami selalu salat berjamaah di rumah tepat waktu. Ini termasuk ‘new normal’ karena biasanya saya ke masjid dan anak-anak salat sendiri. Bagi saya ini luar biasa. Bisa salat berjamaah lima kali sehari tepat waktu bersama anak dan istri selama lebih dari dua bulan adalah prestasi yang luar biasa bagi kami. Kami juga salat tarawih dan Iedul Fitri di rumah. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya jadi Imam dan Khatib salat Iedul Fitri meski jamaah saya hanya sekitar sepuluh orang.

Selesai salat Subuh saya baca Alquran dan untuk ‘new normal’ ini saya tambahi dengan baca tafsirnya Al-Misbah. Dulu sudah pernah saya baca tapi tidak pernah selesai. Lha wong ada 12 volume. Sekarang saya hanya tambahi waktu dan intensitasnya saja. Jam 7:30 waktunya olahraga pagi bersama istri jalan kaki keliling kompleks. Biasanya sih cukup setengah jam kecuali kalau kami gunakan jalur ke pasar. Kalau jalurnya ke pasar kami biasanya sekalian belanja. Tapi belakangan ini ada info beberapa penjual kena Covid 19 dan diisolasi. Jadi untuk sementara waktu kami tidak olahraga ke arah pasar dulu. Ngeri juga kalau ketemu penjual yang tertular tapi tidak ketahuan. Pulang olahraga saya leyeh-leyeh sebentar baca koran Jawa Pos dan Surya. Istri langsung masuk dapur untuk mempersiapkan sarapan. Setelah selesai mandi biasanya sarapan telah tersedia dan saya turun untuk sarapan.
Selanjutnya…

HATI-HATI ULAMA PALSU

Umat Islam Indonesia harus benar-benar berhati-hati karena sekarang ini semakin banyak bermunculan ulama-ulama dan ustadz-ustadz palsu. Ulama-ulama dan ustadz-ustadz palsu ini bukannya membuat umat menjadi semakin damai, cerdas, patuh pada aturan, ikhlas menerima cobaan, ramah, dan menjadi rahmatan lil alamin tapi sebaliknya justru mengajak umat Islam untuk menjadi pemberontak, garang, intoleran, membenci, mengumbar kemarahan, dan memusuhi pemerintah dan orang-orang yang tidak seide dengannya.

Berhati-hatilah dengan ulama semacam ini….

Yang namanya ulama dan ustadz itu semestinya mendasarkan semua sikap dan tindakannya pada ajaran agama dan bukan pada nafsunya. Sedangkan ajaran agama Islam soal bagaimana seharusnya umat Islam bersikap pada pimpinannya SANGAT JELAS dan tertera dalam Alquran dan hadist.

“Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya) dan ulil amri di antara kalian.” [An-Nisaa: 59]

“Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah meskipun kaliau dipimpin oleh hamba sahaya dari habasyi, dengar dan taatilah dia selama memimpin kalian dengan kitabullah.” (HR. Tirmidzi, no. 1706, Nasa’i, 7/154, Ibnu Majah, no. 2328, Ahmad, 6/402 dan Al-Hakim, 4/206, ia berkata hadis shahih dan dishahihkan juga oleh Al-Albani)

“Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku (dalam ilmu, pen) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal, pen). Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia.”

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?”
Selanjutnya…

DUNIA PENDIDIKAN KITA DI TENGAH PANDEMI COVID-19

Jelas sekali bahwa kita tidak tahu kapan pandemi Covid 19 ini akan berlalu. Jangankan kita, bahkan seluruh dunia juga tidak tahu kapan pandemi ini akan berlalu. Meski seluruh ahli medis dan pakar terbaik di seluruh dunia telah mengerahkan segala kemampuannya untuk mencari cara untuk menghentikan pandemi ini toh mereka pada akhirnya tidak mampu memberikan kepastian kapan mereka bisa menghentikan. Semula memang ada beberapa peramalan tentang kapan dan bagaimana virus ini bisa dihentikan tapi ternyata perkiraan para ahli tersebut buyar semua karena ternyata virus ini tidak bisa diperkirakan mutasinya. Wuhan yang semula sudah merayakan kemenangannya melawan virus ini ternyata sekarang kembali cemas karena virus ini kembali muncul dan ada warganya yang kembali positif. Dunia menyebutnya sebagai serangan Covid 19 Gelombang Kedua. Tapi siapa yang bisa menduga apakah tidak akan ada gelombang serangan ketiga atau keempat setelahnya?

Kita juga tidak bisa menunggu sampai obat atau vaksin virus ini ditemukan. Tak ada kepastian kapan obat atau vaksinnya bisa ditemukan. Paling cepat vaksinnya baru akan ditemukan 1 atau 1 ½ tahun yang akan datang. WHO menyatakan tidak akan pernah ada vaksin sebelum akhir 2021. Bahkan Dr. David Nabarro seorang profesor dari Global Health di Imperial College London dan sekarang sebagai Special Envoy (PBB-red) pada WHO untuk Covid-19, mengatakan bahwa kemungkinan besar tidak akan pernah ada vaksin yang efektif untuk Corona. Selanjutnya…