Selasa, 18 Januari 2022
Satria Dharma's Weblog
  • Chateu
  • Bareng Pak Anies Baswedan
  • Sabang
  • India
  • NUS, Singapore
  • Merapi, Jogja, Indonesia
  • Kamboja
  • Nusa Dua, Bali, Indonesia
  • Thailand
  • Turki
  • Singapura
  • Puncak, Jawa Barat, Indonesia
  • Korea Selatan
  • Wisuda si Bungsu
ULAMA KOK MELANGGAR SYARIAT AGAMA…?!

Ilustrasi

Ilustrasi


Agama Islam sangat menekankan pentingnya penegakan hukum yang berkeadilan. Ini adalah syariat agama yang harus ditegakkan. Tidak boleh ada orang yang dianggap kebal hukum. Itu sebabnya Nabi Muhammad sendiri sampai berpesan dengan keras. “Sesungguhnya yang telah membinasakan umat sebelum kalian adalah jika ada orang terhormat dan mulia di antara mereka mencuri, mereka tidak menghukumnya. Sebaliknya jika orang rendahan yang mencuri, mereka tegakkan hukuman terhadapnya. Demi Allah, bahkan seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya!”. Jadi semua sama di hadapan hukum.

Nah, bagaimana jika justru orang yang dianggap ulama yang justru melanggar syariat agama yang sangat penting ini? Ada beberapa contoh.

Pertama adalah kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh seorang anak kyai di Ponpes Shiddiqiyah Jombang pada santriwatinya. Kasusnya sudah diusut oleh kepolisian dan tersangka akan diproses tapi justru dilindungi oleh pondoknya sendiri. Ribuan santrinya membela dan menghalangi pemanggilan paksa oleh polisi karena sudah dua kali dipanggil tidak datang. Jelas sekali bahwa para ustad dan kyainya sendiri yang membiarkan pelanggaran penegakan hukum ini. Ini sungguh memalukan dan sangat tidak layak dilakukan oleh ustad dan kyai yang dianggap sebagai ulama penegak syariat agama. Semestinya si Kyai sendirilah yang mengantar anaknya yang tersangkut kasus itu agar polisi dapat memproses kasusnya dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya. Ini kok malah anaknya dilindungi dan penegak hukum dihalang-halangi untuk menjalankan tugasnya menegakkan hukum. Di mana martabat ajaran Islam diletakkan jika ulamanya sendiri tidak mampu berlaku adil dan bersedia menegakkan syariat agama yang diajarkannya di pesantrennya?
Selanjutnya…

FELIX SIAUW JANGAN OFFSIDE TERUS

Saya dulu bisa memaklumi kalau Felix Siauw MENGIRA bahwa sistem khilafah itu adalah ajaran Islam. Kan dia baru masuk Islam dan baru belajar. Jadi maklum saja kalau salah paham dan tidak bisa membedakan antara AJARAN Islam dan SEJARAH Islam. Lha wong ulama yang belajar sampai ndekek saja bisa salah paham kok! Tapi kadang saya curiga juga mosok sih orang sepintar Felix Siauw yang katanya sudah mempelajari soal khilafah tidak paham apa bedanya AJARAN Islam dengan SEJARAH Islam. Jangan-jangan Felix ini memang sengaja mau membodohi umat Islam dengan status kemuallafannya tersebut. Tidai tahu bahwa itu termasuk offside atau memang sengaja melakukan offside?

Salah satu masalah besar kita sebagai umat Islam dalam memahami agama adalah ketidakmampuan kita untuk MEMBEDAKAN mana yang AJARAN agama, mana yang BUDAYA, mana yang SEJARAH, mana yang IJTIHAD, mana yang PENDAPAT ulama, dll.
Masih banyak di antara kita yang MENGIRA bahwa semua yang dilakukan oleh nabi Muhammad (atau yang dilakukan oleh para nabi yang tertulis dalam Alquran) adalah ajaran agama. Padahal TIDAK. Tidak semua yang dilakukan oleh Nabi HARUS atau PERLU kita ikuti. Malah ada yang dilakukan oleh Nabi TIDAK BOLEH atau kita DILARANG mengikutinya. Masih banyak di antara kita yang mengira bahwa semua yang dilakukan oleh para khalifah Islam adalah ajaran agama yang perlu kita ikuti. Tentu saja TIDAK. Masih banyak di antara kita yang mengira bahwa pendapat para ulama pastilah merupakan ajaran agama semua. Tentu saja TIDAK. Sebagian besar dari apa yang mereka sampaikan jelas hanyalah HASIL PEMIKIRAN mereka. Meski pun mereka telah berusaha keras untuk mendasarkannya pada Alquran dan hadist paling shahih. Jadi tidak perlu kita anggap sebagai AJARAN agama.

Para nabi itu punya beberapa istri. Tapi ada juga yang tidak beristri. Nabi Muhammad bahkan punya sebelas istri. Nabi Daud bahkan sampai didatangi oleh malaikat perkara berlebih-lebihannya dalam soal memiliki istri. Nabi Sulaiman katanya juga istrinya puluhan orang. Tapi jelas punya banyak istri itu BUKAN ajaran agama. Itu hanya kebiasaan dan adat istiadat orang-orang zaman dahulu di mana para nabi termasuk di dalamnya. Nabi Muhammad itu punya 11 istri tapi umat Islam DILARANG punya istri sebanyak itu. Mentok ya empat sajalah. Jadi walau pun nabi punya istri 11 orang tapi punya istri sebanyak itu jelas BUKAN ajaran yang harus diikuti oleh umat Islam. Paham nggak…?!
Selanjutnya…

MANUSIA ITU PADA DASARNYA JAHAT ATAU BAIK SIH…?!

Bagaimana menurut Anda? Apakah manusia itu pada dasarnya jahat (dan berbuat baik karena ada kepentingan pribadi dibaliknya) atau pada dasarnya baik (dan berprilaku buruk dan jahat karena situasi dan kondisi yang menyebabkannya)?

Jika menurut Anda manusia itu pada dasarnya baik dan situasilah yang menyebabkannya menjadi jahat maka Anda PERLU membaca buku “Humankind” yang ditulis oleh Rutger Bregman ini. Tapi jika Anda menganggap bahwa pada dasarnya manusia itu jahat dan ada kepentingan pribadi yang membuatnya berbuat baik di lingkungannya maka Anda HARUS membaca buku ini.

Saya baru saja menyelesaikan buku brilian Rutger Bregman tentang umat manusia, yang berprilaku baik dan yang jahat, buku tentang bagaimana kita mendeskripsikan diri kita sendiri dan bagaimana kita bisa –seharusnya – memandang diri kita sendiri.

Selama ini hampir semua orang sepakat, baik itu psikolog dan filsuf, pemikir kuno dan modern, dengan asumsi bahwa manusia itu pada dasarnya jahat. Asumsi dan gagasan ini memenuhi berita utama surat kabar dan membentuk hukum yang mengatur kehidupan kita. Itu sebabnya media kita dipenuhi dengan kisah-kisah kejahatan manusia dan hal-hal baik tidak menarik perhatian kita. Dari Machiavelli hingga Hobbes, Freud hingga Pinker, akar kepercayaan ini masuk jauh ke dalam pemikiran Barat. Kita diajarkan bahwa pada dasarnya manusia itu egois dan manusia bertindak didorong oleh kepentingan dirinya sendiri.
Selanjutnya…

SALAH KAPRAH PENGGUNAAN AYAT LAKUM DINUKUM WALIYADIN

Ayat ke 6 dari surah Al-Kafirun ini sangat populer dan sangat sering digunakan dalam berbagai situasi oleh umat Islam. Sayangnya penggunaan ayat ini sering salah kaprah dan tidak tepat karena ketidakpahaman akan asbabun nuzul atau riwayat turunnya surah Al-Kafirun, yang juga disebut surah Al-Ibadah dan surah Ad-Din ini.

Surah ini turun di Mekkah sebelum Nabi hijrah ke Madinah. Tema utamanya adalah tentang penolakan Nabi atas usul kaum musyrikin untuk MENYATUKAN AJARAN AGAMA dalam rangka mencari kompromi.

Jadi ceritanya adalah karena kesulitan untuk membendung dan melarang penyebaran agama Islam di Mekkah meski berbagai cara telah diupayakan, beberapa tokoh musyrikin seperti Al-Qalid bin Mughirah, Aswad Ibn Abdul Muthalib, Umayyah Ibn Khalaf datang ke pada Nabi untuk mengajak kompromi. Komprominya menyangkut pelaksanaan tuntunan agama atau kepercayaan. Mereka berkata, “Kami menyembah tuhanmu, wahai Muhammad, setahun dan kamu juga menyembah tuhan kami setahun. Kalau agamamu benar kami mendapatkan keuntungan karena kami juga menyembah tuhanmu dan jika agama kami benar kamu juga memeroleh keuntungan.”
Selanjutnya…

BERSABAR DAN BERSYUKUR

Seorang teman sesama pensiunan sambil bergurau mengatakan bahwa para pensiunan itu dibagi dalam dua kategori: yang BERSABAR dan yang BERSYUKUR.

Jika pensiunan tersebut mengisi masa pensiunannya dengan menyibukkan diri sepanjang waktu di masjid atau di gereja maka dia termasuk yang BERSABAR. Orang semacam ini merasa hidupnya akan segera berakhir tidak lama lagi oleh sebab itu dia harus mengisi sisa hidupnya dengan bertobat. Dia takut kalau-kalau akhir hidupnya dia malah tergelincir pada dosa dan kemaksiatan. Makanya dia memilih untuk BERSABAR menunggu ajalnya tiba dengan beribadah sebanyak-banyaknya agar nantinya dia tidak dijebloskan ke neraka.

Para pensiunan golongan ini biasanya kalau di WAG akan selalu mengirim tausiyah, sebar ayat-ayat, one day one hadist, doa-doa manjur harian, petuah populer, saran-saran untuk bertobat kepada sesama pensiunan, bahayanya melakukan kemaksiatan di usia tua, anjuran untuk berhati-hati dalam meniti kehidupan yang penuh dengan jebakan dosa dan kemaksiatan, perhatikan apa yang kau masukkan dalam mulutmu jangan sampai terikut yang haram dan riba meski hanya sesuap kecil, dan sejenisnya. Pokoknya teman di WAG-nya akan diingatkan terus dengan malaikat maut yang katanya sudah mengintai para pensiunan dari setiap sudut kalau-kalau mereka melakukan kemaksiatan KAPAN PUN.
Selanjutnya…

HUMANKIND

Sebagai satu species di dalam sejarah kehidupan di bumi kita ini baru bayi. Jika sejarah kehidupan adalah satu tahun kalender, bukan empat miliar tahun, manusia itu baru datang pada 31 Desember. Itu pun kira-kira pukul 23:00, menjelang tengah malam.

Kita berkeliaran sebagai pemburu-pengumpul, baru menciptakan pertanian pada pukul 23:58 malam. Segala yang kita sebut “sejarah” itu terjadi dalam enam puluh detik terakhir sebelum tengah malam: semua pyramid dan puri, ksatria dan putri, mesin uap dan roket. Dalam sekejap mata Homo Sapiens memenuhi seluruh dunia, dari tundra terdingin sampai guru terpanas. Kita ada di mana-mana memenuhi bumi ini. Kita bahkan menjadi species pertama yang meninggalkan planet ini dan menginjak bulan. 😳

Mengapa kita? Mengapa astronaut pertama bukan pisang? Atau sapi? Atau simpanse?
Selanjutnya…

OMICRON…?! EMANG SIAPA SIH DIA…?! 😎

“Jalanan Jogya macet parah. Malioboro jangan ditanya.” Kata seorang teman di FB.

“Solo sama saja. Jalanan dipenuhi oleh mobil-mobil berbagai plat nomor luar kota.” Kata yang lain

“Jangan ke Bandung dulu deh…! Entar ente gak bisa ke mana-mana malah stress.” Yang lain menimpali.

“Gila nih orang-orang…! Protokol kesehatan udah gak digubris. Semua tempat hiburan kayak cendol. ” Keluh yang lain yang memang suka sekali mengingatkan soal protokol kesehatan.

Apakah kita sudah kembali ke masa ketika tidak ada pandemi? Tanya saya dalam hati. 🤔

“Pandemi? Udah lupa tuh…!” Mungkin begitu jawab mereka. 😁

Tapi….
Selanjutnya…

TOLERANSI KOK GITU…


Ada orang-orang atau ustad-ustad tertentu yang mengaku dirinya sebagai umat Islam yang toleran tapi kemudian menunjukkan sikap yang sebaliknya. Orang-orang seperti ini lain di hati lain di bibir. Dalam terminologi agama disebut…. Ah tak usahlah. Nanti semakin bertengkar kita. 😁

Apa contohnya? Yaitu para ustad yang sembari menepuk dadanya sebagai umat yang toleran tapi sekaligus melarang umat Islam lain mengucapkan selamat natal. Mereka percaya bahwa mengucapkan selamat natal kepada saudara umat Nasrani akan membuat umat Islam ambrol akidahnya dan auto-kafir. Oleh sebab itu mereka dengan gagah dan garang melarang umat Islam untuk melakukan hal tersebut. Padahal mereka juga tentunya tahu bahwa pendapat mereka itu BERBEDA dan bahkan BERTENTANGAN dengan pandangan para ulama lain yang membolehkan dan bahkan mengucapkan selamat natal kepada umat Nasrani. Sangat banyak ulama-ulama baik yang berskala lokal mau pun internasional yang MEMBOLEHKAN dan bahkan melakukannya sekaligus. Di antara para ulama yang melakukannya adalah : Prof. Quraish Shihab, Buya Hamka, Prof Syafii Maarif, Prof Din Syamsudin, Imam Besar Al- Azhar Mesir Sheikh Ali Jumuah, ahli tafsir pendiri Minhaj Alquran International Pakistan Sheikh Dr. Muhammad Tahir Ul Qadri, ulama besar Prof. Dr. Yusuf Qardhawi, dll.

Sedangkan yang melarang diantaranya : Ustad Abdul Shomad, Aa Gym, Syekh Al-‘Utsaimin, Rizieq Shihab, Adi Hidayat, Buya Yahya, dll.
Selanjutnya…

DUNIA BUTUH KEBAIKANMU


Teman saya Hotben Situmorang menanggapi posting saya yang berjudul “MANA YANG LEBIH PENTING? beragama Islam (menjadi muslim) atau berakhlak atau berprilaku islami?” dengan kisahnya.

Dia bercerita pengalamannya ketika mendampingi rombongan kasek asal Papua ke Sun shine Coast. Mereka tinggal di rumah penduduk bernama Edy yang seorang ateis dan beristrikan penganut Buddha. Edy yang ateis menganggap ritual agama yang dilakukan istrinya adalah sampah. “To me it’s rubbish”, katanya. 😎

Menurut Eddy orang beragama melakukan hal ritual dan kebaikan karena mau meraih sorga, imbalan, bukan karena dari dirinya yg memang harus melakukan itu walau sorga tdk ada. Menurutnya lagi, apa yg dilakukannya semata-mata sebagai nilai dirinya yg berbeda dgn mahluk lain, bukan karena sorga atau apapun itu. Nilai diri yg dihidupinya harus berbuat baik utk alam ini dan untuk sesama supaya kehidupan semakin baik. Kehidupan yg lebih baik tentu hanya diharapkan dari mahluk yg disebut manusia.

Saya senang membaca kisah tersebut dan setuju dengan Eddy. 👍😁
Selanjutnya…

YANG BERIMAN VS TAK BERIMAN
Ilustrasi. kaskus.co.id

Ilustrasi. kaskus.co.id

Pada awalnya manusia itu satu umat lalu mereka berselisih. Itu menurut Surat Al-Baqarah Ayat 213. Lalu ada yang beriman dan ada yang tidak beriman. Mengapa ada yang beriman dan ada yang tidak beriman? Karena itu kehendak Tuhan juga. “Kalau Tuhan menghendaki tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Tuhan” (Yunus 99-100). Bagaimana kalau menurut versi orang tidak beriman? Mengapa mereka tidak beriman? Ada banyak alasan mereka untuk itu. Tapi intinya adalah mereka tidak percaya pada adanya Tuhan Yang Maha Kuasa, Sang Pencipta, dan segala firmanNya itu. Dan itu adalah hak mereka untuk tidak percaya.

Jadi bagaimana dong…?!

Bagaimana apanya…?! Ya silakan saja pilih opsi beriman atau tidak. Bebas aja kok…! Tuhan aja gak memaksa dan tidak menginginkan semua orang beriman padaNya. Jadi orang beriman tidak perlu memaksa siapa pun untuk ikut dengannya sama-sama beriman. “Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya.” (Ar- Raad 31). “Dia menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya, maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka.” (Fathir ayat 8) Ngapain ente sedih karena ada orang yang tidak beriman? Jangankan kita, bahkan nabi Muhammad pun diwanti-wanti oleh Allah agar tidak memaksa siapa pun untuk beriman. Beriman atau tidak itu bukan urusan para nabi, termasuk bukan urusan Nabi Muhammad. Selanjutnya…