Minggu, 26 Mei 2019
Just another WordPress site
  • Chateu
  • Bareng Pak Anies Baswedan
  • Sabang
  • India
  • NUS, Singapore
  • Merapi, Jogja, Indonesia
  • Kamboja
  • Nusa Dua, Bali, Indonesia
  • Thailand
  • Turki
  • Singapura
  • Puncak, Jawa Barat, Indonesia
  • Korea Selatan
  • Wisuda si Bungsu
HUKUMAN BAGI PEMBANGKANG ADALAH DIPERANGI

Saya tidak tahu mengapa ada beberapa ulama, ustadz, cendekiawan muslim, professor, yang tidak paham bahwa hukum dari membangkang pada ulil amrinya adalah diperangi. Itu sudah jelas. Hal ini bisa kita lihat pada kisah Khalifah Abu Bakar ketika memerangi umat Islam yang membangkang dan memberontak hanya karena tidak mau membayar zakat. Padahal mereka bukan karena mau menggulingkan kekuasaan Khalifah Abu Bakar tapi hanya karena tidak mau membayar zakat. Toh mereka diperangi oleh Khalifah Abu Bakar.

Segera setelah Abu Bakar menjadi khalifah, muncul beberapa masalah yang mengancam persatuan dan stabilitas komunitas dan negara Islam saat itu. Beberapa suku Arab yang berasal dari daerah Hijaz dan Nejed mulai menunjukkan sikap membangkang kepada Abu Bakar dan sistem yang ada. Beberapa di antara kelompok ini menyatakan menolak membayar zakat walaupun tidak menolak agama Islam secara utuh. Beberapa yang lain kembali memeluk agama dan tradisi lamanya yakni menyembah berhala. Suku-suku tersebut mengklaim bahwa mereka hanya memiliki komitmen dengan Nabi Muhammad dan dengan wafatnya Nabi Muhammad maka komitmennya tidak berlaku lagi.

Khalifah Abu Bakar RA bertindak sesuai prosedur yang telah disepakati sebagai kepala negara, pertama-tama dikirimkanlah surat kepada setiap gubernur yang membawahi daerah-daerah kekuasaan Islam untuk menyiapkan perangkat-perangkat penarik zakat. Mulai dari personil, perlengkapan hingga payung hukum yang dapat membantu pelaksanaan penarikan zakat tersebut. Dalam surat tersebut, Abu Bakar menyatakan bahwa zakat adalah ibadah wajib (fardhu) yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW kepada kaum muslimin yang telah memenuhi kualifikasi. Selain itu disebutkan bahwa zakat harus diberikan menurut kadar kebutuhan seseorang. Abu Bakar melarang keras untuk memberikan zakat melebihi ketentuan semestinya. Ia melarang setiap amil zakat untuk memberikan jatah zakat diluar ketentuan, meskipun mereka memintta lebih. (HR. Ahmad, Nasa’i, Abu Daud, Al-Bukhari dan ad-Daraquthni).
Selanjutnya…

BAHKAN MUSA TIDAK MEMBERONTAK PADA FIRAUN

Saya terlibat dalam diskusi dengan seorang teman yang ustad di FB. Saya sampaikan bahwa hendaklah ia bisa menerima kenyataan bahwa Prabowo kalah dan Jokowi yang bakal menang dalam pilpres ini. Saya sampaikan bahwa itu semua adalah kehendak Tuhan. Sama dengan kalahnya Ahok oleh Anies Baswedan. Sebagai muslim kita hendaknya melihat ini sebagai sebuah ketentuan Tuhan. Kita telah berusaha tapi pada akhirnya ketentuan Tuhan jugalah yang akan berlaku. Kalau Tuhan mau memenangkan Prabowo maka securang apa pun orang terhadapnya maka Prabowo akan tetap menang. Apa pun rekayasa dan tipu daya yang dilakukan orang padanya maka rekayasa Allah jauh lebih hebat. Allah adalah pembuat rekayasa terbaik. ‘Wallahu khairul maakiriin’(Surat Ali Imran (3: 54). Begitu juga dengan Jokowi. Sehebat apa pun fitnah dan goyangan yang ditujukan kepadanya tapi jika Tuhan ingin memenangkannya maka Jokowi akan menang juga. Itu adalah ketentuan Tuhan yang terserah Anda mau menerimanya atau tidak.

Rupanya teman saya tadi tidak terima dan ia membalas bahwa Firaun, Hitler, dan para diktator dunia lainnya juga berkuasa karena kehendak Tuhan. Intinya dia tidak mau menerima dan mungkin mau menyatakan bahwa Jokowi adalah diktator dan diktator harus digulingkan, meski pun ia berkuasa karena ketentuan Tuhan. Selanjutnya…

ARABISASI DI MALAYSIA VERSUS MARINA MAHATHIR
Daughter of former prime minister Mahathir Mohamad, Datin Paduka Marina Mahathir. Sources: www.asiaone.com

Daughter of former prime minister Mahathir Mohamad, Datin Paduka Marina Mahathir. Sources: www.asiaone.com

Pada tahun 2015 Putri Perdana Menteri Mahathir Mohamad, Datin Paduka Marina Mahathir menyampaikan kegeramannya dengan meningkatnyanya gejala “Arabisasi” Islam di Malaysia. Sama dengan di Indonesia, konservatisme agama juga meningkat di negara itu. Dan eksesnya adalah tergerusnya budaya dan tradisi lokal. Aktivis gerakan wanita di Malaysia ini kemudian angkat bicara untuk melawan gejala “Arabisasi”tersebut.

Sebagai bukti Arabisasi Islam di Malaysia, Marina mencatat bahwa sekarang lebih umum untuk melihat wanita mengenakan pakaian Arab, seperti gamis, daripada “baju Melayu” selama Hari Raya Aidilfitri. Menurutnya apa yang terjadi sekarang di Malaysia adalah kolonialisme Arab. (Saya sendiri sampai terbelalak ketika melihat Kapitra Ampera muncul di Kompas TV memakai gamis kaftan biru lengkap dengan surban. Gak salah kostum tah arek iki…?!) 😳😂

“Itu adalah Arabisasi … Ini adalah kolonialisme, kolonialisme Arab,” katanya. “Gamis memang lebih mudah dipakai. Tapi apa yang terjadi dengan tradisi, budaya, semuanya? Hilang…!” Wanita berusia di bawah 50 tahun di Malaysia kini sudah tidak bisa lagi menggunakan tali pada baju kurung mereka. Tradisi ini sudah hilang. Sekarang ada upaya untuk menggiring opini bahwa semakin mirip Arab Anda maka semakin muslim Anda. Itu adalah tanda penghancuran budaya.” 🙁
Selanjutnya…

MENGAPA YAHUDI BEGITU HEBAT?

MENGAPA YAHUDI BEGITU HEBAT?
(DAN UMAT ISLAM BEGITU LEMAH)

By: Dr Farrukh Saleem
Kolumnis Independen di Islamabad

Hanya ada 14 juta orang Yahudi di dunia; tujuh juta di Amerika, lima juta di Asia, dua juta di Eropa dan 100.000 di Afrika. Untuk setiap orang Yahudi di dunia ada 100 Muslim. Namun, orang-orang Yahudi lebih dari seratus kali lebih kuat daripada semua Muslim.

Pernah bertanya-tanya mengapa?

Yesus dari Nazaret adalah orang Yahudi. Albert Einstein, ilmuwan paling berpengaruh sepanjang masa dan majalah ‘Person of the Century’ TIME, adalah seorang Yahudi. Sigmund Freud – id, ego, dan superego – bapak psikoanalisis adalah seorang Yahudi. Begitu pula Karl Marx, Paul Samuelson, dan Milton Friedman. Selanjutnya…

JURNAL PHD MAMA (Bagian 2)

Saya baru menyelesaikan membaca buku “Jurnal PhD Mama” pagi ini dan kembali merasa kagum pada para penulisnya. Alangkah berat perjuangan mereka untuk bisa bersekolah di luar negeri dengan tetap melaksanakan perannya sebagai seorang ibu. Saya sampai harus menahan napas berkali-kali membaca betapa sulitnya situasi yang mereka hadapi. Tapi itu tidak membuat mereka menyerah. Bayangkan jika Anda harus berkorban berangkat ke luar negeri dalam keadaan hamil tujuh bulan dengan berbagai resikonya demi untuk menuntut ilmu dan meraih gelar PhD. Karena keterbatasan finansial maka Anda harus melahirkan homebirth di rumah karena biaya rumah sakit tak terjangkau tanpa ditemani oleh keluarga. Jadi sambil membaca beberapa buku kuliah sekaligus Anda juga harus menyusui bayi Anda dan mengurusi dapur. Multitasking adalah keharusan bagi para ibu yang berani ambil resiko untuk melakukan studi ke luar negeri. Tak perlu nonton sirkus untuk mengagumi juggling apa yang bisa dilakukan oleh seorang ibu yang sedang mengambil PhD-nya di luar negeri. Cukup baca buku ini. Jelas saya tidak mungkin bisa melakukan apa yang mereka lakukan. Membayangkannya saja saya sudah merinding dan ndlahom. Lha wong menyelesaikan kuliah S-2 di dua tempat yang nyaman dan tentram tanpa diganggu oleh urusan domestik saja saya malas kok. Pantes saja kalau dua anak lanang saya lantas nurun kelakuan bapaknya. Tak satu pun di antara mereka yang menyelesaikan perkuliahan S1-nya. Mrotholi kabeh dan lebih memilih dodolan sego kuning ngemper ketimbang disuruh kuliah. Yungalah…! Karma kok ya cepat sekali turunnya pada saya.
Selanjutnya…

ULIL AMRI

Siapakah yang Disebut dengan Ulil Amri?

Para ulama sepakat bahwa hukum taat kepada ulil amri adalah wajib. Umat Islam (apalagi yang selama ini mengaku bertakwa dan merasa lebih soleh daripada yang lain) tidak diperbolehkan memberontak pada ulil amri meskipun dalam kepemerintahannya sering berlaku zalim. Prinsip ini menjadi pegangan yang lahir dari salah satu pokok aqidah ahlus sunnah wal jamaah.

Allah ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An Nisa’: 59)

Ibnu Abi ‘Izz dalam Syarah Aqidah Thahawiyah, berkata, “Hukum mentaati ulil amri adalah wajib walaupun mereka berbuat dzalim. karena kalau keluar dari ketaatan kepada mereka akan menimbulkan kerusakan yang berlipat ganda dibanding dengan kezaliman penguasa itu sendiri.” (Syarh Aqidah Ath Thahawiyah, hal. 381)

Ibnu Katsir, setelah mengutip beberapa pandangan ulama tentang ulil amri, beliau menyimpulkan bahwa ulil amri itu adalah penguasa dan ulama. Lalu beliau mengatakan, “Ayat ini merupakan perintah untuk menaati para ulama dan penguasa.”
Selanjutnya…

JURNAL PHD MAMA


Hari ini adalah Hari Kartini dan saya sungguh beruntung mendapat dua buah buku yang luar biasa dari para Kartini masa kini. Judulnya “Jurnal PhD Mama”. Buku ini bercerita tentang perjuangan para ibu yang berhasil menyelesaikan gelar PhD-nya di luar negeri dengan segala kesulitan, hambatan, dan tantangannya. Ada lebih dari dua puluh ibu yang menulis di buku ini dan beberapa suami ikut bercerita. Dua buku ini saya peroleh dari dua orang PhD Mama yang menjadi teman baik saya, yaitu Ika Asmorowati Lugin, dosen Unair, dan Pratiwi Retnaningdyah, Kajur Bahasa Inggris UNESA. Sungguh senang dan bangga punya teman yang luar biasa seperti mereka. 🙏😊

Begitu membaca buku ini saya langsung ikut larut dalam kisah mereka. I was so absorbed. Mereka adalah sosok-sosok luar biasa dengan perjuangan yang luar biasa untuk menggapai cita-cita dan mimpi mereka untuk menjadi PhD. Saya sungguh tercengang dan kagum membaca keteguhan hati dan kegigihan mereka dalam upaya mencapai gelar akademik tertinggi di luar negeri tersebut. Ingin rasanya saya memberi setiap dari mereka plakat penghargaan dan medali atas keberhasilan mereka melewati semua kesulitan dan penderitaan dalam upaya mereka mencapai gelar akademik tertinggi tersebut. Bukan hanya karena beratnya untuk mencapai gelar tersebut tetapi bisa mencapai gelar tersebut sambil tetap mengasuh anak, ngopeni bapaknya, hamil, melahirkan, punya tambahan anak kembar selain tiga anak sebelumnya (Ika Lugin), operasi kanker yang menyakitkan dan menguras stamina (Tiwik), cari tambahan penghasilan untuk menutupi biaya studi, dan berbagai kesulitan adalah luar biasa bagi saya. Saya sungguh merasa kecil di hadapan para PhD Mama ini. They are all giants in their struggle. 🙏
Selanjutnya…

BANGUNLAH JENDRAL…!

Bangunlah Jendral…!

Tahun 2014 saya memilih Anda dan kalah. Tapi saya tidak menyesal. Saya bahkan bersyukur bahwa ternyata pilihan saya salah dan kita kalah. Ternyata Jokowi memang pemimpin yang luar biasa. Bertahun-tahun saya mengamati presiden yang luar biasa sederhana namun bernyali besar ini. Kekaguman saya semakin hari semakin bertambah. Jadi kini saya memilih Jokowi. Kalau saya memilih Anda lagi tahun ini maka saya akan menyesal dan malu sekaligus, Jendral. Bagaimana tidak…?! Apa yang Anda lakukan saat ini benar-benar memalukan menurut saya. 🙁

Tahun 2014 yang lalu Anda masih bisa menerima fakta yang menyakitkan bahwa Anda kalah dalam pemilihan meski sempat dipermalukan dengan hasil survey abal-abal dari kelompok internal Anda. Anda sampai sujud syukur karena percaya pada survey internal dari kubu Anda sendiri dan tidak percaya pada lembaga survey independen yang menyatakan sebaliknya. Ketidakpercayaan Anda pada semua lembaga survey independen yang ada pada saat itu sebetulnya menunjukkan bahwa Anda punya masalah dengan kemampuan mempercayai orang lain. Sedikitnya Anda memiliki halusinasi bahwa Anda selalu dimusuhi dan bakal dibohongi dan dikhianati oleh lingkungan sekitar. Jadi Anda hanya akan percaya pada lingkaran terdekat yang benar-benar Anda yakini tidak akan mengkhianati Anda. Anda akan menjalankan tangan besi untuk menegakkan kesetiaan orang-orang terdekat tentu saja. Jadi tidak heran kalau Anda meninju meja di depan para ulama 212 yang coba-coba mempertanyakan keislaman Anda. Tapi resikonya akhirnya lingkatan terdekat Anda akan bersikap ABS dan tidak akan berani menyampaikan kebenaran yang mungkin akan menyakitkan hati pimpinannya, sang mantan Danjen Kopassus yang tersohor itu. Akhirnya boleh dikata orang seperti Anda ini akan dikagumi, disegani, sekaligus ditakuti, tapi tidak akan pernah dicintai dengan tulus. People may admire you but they will never love you truly. 😢
Selanjutnya…

DOA ULAMA VS DOA BENCES

Cak Nanang Ahmad Rizali dalam postingnya di FB kemarin memperbandingkan mana doa yang lebih diterima oleh Tuhan, apakah doa para ulama yang komat kamit atau doa para bences? Saya pegang bences. Maksud saya, saya yakin doanya para bences lebih manjur. Lho kok bisa…?! Nah, ini…!

Kalau Anda hanya mengandalkan penglihatan ragawi semata maka memang agak sulit memahami mengapa doa para bences lebih mangkus dan sangkil ketimbang ulama, apalagi ulama abal-abal yang sekarang ini banyak bertebaran di dunia permedsosan. Penglihatan lahir itu banyak menipu. Itulah pentingnya penglihatan bathin. Anda butuh menengok ke dalam untuk memahami hal ini. Lengkapnya adalah “Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih. Suci lahir dan di dalam batin. Tengoklah ke dalam sebelum bicara. Singkirkan debu yang masih melekat.. Uhuhuhu… Adalah Dia di atas segalanya..” Wis… ojok diterusno nyanyine…

Mari saya jelaskan mengapa doa bences bisa jauh lebih maqbul ketimbang doa ulama top sekali pun. Untuk memahami penjelasan saya Anda tidak perlu telanjang. Tolong pakai lagi baju Anda. Baca saja penjelasan saya pelan-pelan. Selanjutnya…

ULAMA KOK JADI UMARO’…?! (Part 2)

Apakah umat Islam Indonesia yang soleh-soleh itu tidak ingin punya pemimpin alias imam negara yang benar-benar alim dan menjalankan syariat agama dengan sungguh-sungguh? Tentu saja mereka ingin. Mosok wong soleh golek pemimpin sing gak soleh. Kan yo ra mungkin toh… Emoji

Tapi bagaimana ceritanya kok para ulama 212 malah mendukung Prabowo sebagai calon presiden Indonesia? Bukankah Prabowo itu, menurut mereka sendiri, bukanlah umat Islam yang taat? Mengapa partai Islam macam PKS yang katanya mau menegakkan syariat Islam di Indonesia juga ikut mendukung Prabowo. Bukankah mereka sendiri mengatakan bahwa Prabowo itu bukan muslim yang taat dan seorang muslim abangan?

Itu memang ada ceritanya…

Mau saya ceritain nggak…?! Cepek dulu dong…!

Jadi ceritanya begini…

Dulu itu kubu oposisi yang akhirnya menjadi Kubu 02 sebenarnya ingin mengajukan beberapa nama ulama untuk menjadi umaro’. Calon terkuat mereka adalah Habib Riziq Shihab yang mereka anggap sebagai Imam Besar mereka. Tapi HRS menolak (dan bahkan merat ke Arab Saudi gak kembali-kembali sampai sekarang). Akhirnya HRS mengusulkan Prabowo. Kenapa HRS malah menyorongkan nama Prabowo yang bukan ulama itu? Itu masuk dalam status wallahu a’lam bis showab. Semua di Kubu 02 sepakat tapi tetap berusaha untuk mencari ulama untuk mendampinginya sebagai Cawapres. Jadi sebetulnya sama dengan Kubu 01. Dua kubu tersebut berupaya untuk mendudukkan seorang ulama sebagai cawapres masing-masing. Tujuannya ya jelas untuk menarik hati umat Islam yang soleh-soleh itu tadi. Jelas semua kubu itu berupaya keras untuk menarik hati para muslimin wal muslimat, mukminin wal mukminat. Bukankah umat Islam Indonesia semakin hari semakin soleh dan antrian umrohnya masya Allah panjangnya. Kalau perlu kita berumroh dengan duit utangan. Mosok umat Islam segitu banyaknya gak bisa cari calon pemimpin yang ulama. Kan ya aneh…
Selanjutnya…