Senin, 10 Desember 2018
Just another WordPress site
  • Chateu
  • Bareng Pak Anies Baswedan
  • Sabang
  • India
  • NUS, Singapore
  • Merapi, Jogja, Indonesia
  • Kamboja
  • Nusa Dua, Bali, Indonesia
  • Thailand
  • Turki
  • Singapura
  • Puncak, Jawa Barat, Indonesia
  • Korea Selatan
  • Wisuda si Bungsu
SUAMI TAKUT ISTRI?
Wow Viral!

Wow Viral!

Status saya yang berjudul EVERYTHING IS YOURS BUT YOU ARE MINE yang saya posting kemarin tiba-tiba menjadi viral. Sampai saat saya menulis ini status saya itu sudah mendapat like sebanyak 3.500 kali, dikomentari ratusan kali, dan telah disebarkan sebanyak 1.300 kali lebih (and still counting). Dan sebagian besar dari mereka adalah para wanita. Ya, Allah Puangngataala…! Ada apa ini…?! Saya sungguh tidak mengira bahwa status begitu saja bisa mendapatkan perhatian begitu besar dari para wanita padahal saya nulis itu sekedar untuk menumpahkan sedikit nostalgia dan romantisme saya pada istri karena kebetulan kami merayakan wedding anniversary kami yang ke 26. Tentu saja ini pencitraan seperti kata Mas Nanang. Kera Ngalam satu ini tahu betul bagaimana saya nggedabrus karena satu guru satu ilmu dengan saya (podo-podo muride Kho Ping Ho). Meski semua status sebenarnya adalah pencitraan (yang artinya our writings are the image how we want to be pictured or seen) tapi tulisan status saya tersebut sebenarnya bisa dilihat dari perspektif lain. Selanjutnya…

PENGAKUAN SUAMI
Keluarga saya. Foto: dok. pribadi

Keluarga saya. Foto: dok. pribadi

Seandainya saya tidak punya istri yang ada saat ini maka saya tidak akan punya rumah yang cantik dan megah seperti sekarang ini. Saya tidak akan punya mobil baru seperti sekarang ini. Saya tidak akan punya anak-anak yang membanggakan seperti sekarang ini. Saya jelas tidak akan sebahagia seperti sekarang ini. I owe everything to my wife. Karena istri sayalah maka hidup saya begitu indah kini. Tolong gak usah suit-suit…Iki temenan, rek! 😍

Seandainya saya masih bujang atau berpikir untuk terus membujang maka jelas saya tidak akan pernah berpikir punya rumah sendiri. Olaopo…! La wong awak mek siji ae lho…! 😀Saya mungkin akan tinggal di rumah dinas saja sampai pensiun dan setelah itu mungkin sewa apartemen sak mblengernya. Seorang istrilah yang mendorong saya untuk punya rumah.

Sejak masih bujang punya rumah sendiri sudah menjadi cita-cita saya nomor satu setelah menikah : kalau punya istri saya harus punya rumah sendiri. Titik. Saya tidak mungkin tinggal di rumah orang tua. Sudah sak ketapruk orang tinggal di sana. 🙄
Selanjutnya…

EVERYTHING IS YOURS BUT YOU ARE MINE

Teman istri saya heran ketika diberitahu bahwa semua surat-surat kepemilikan harta benda kami adalah atas nama istri saya. Jadi semua surat rumah, mobil, asuransi, motor, perabotan, kasur, baju tidur dan sempak adalah atas nama istri saya. 😀 Pokoknya kalau ada harta benda yang perlu ada suratnya saya atas namakan istri saya. Jangankan itu. Lha wong pin semua ATM dan M-Banking di HP saya itu diketahui oleh istri saya sehingga kalau saya perlu mengirim uang sedangkan saya sedang menyetir maka istri saya yang akan mengirimnya dengan menggunakan pin tersebut. Jadi kalau mau istri saya bisa mengirimi dirinya sendiri uang seberapa pun dengan menggunakan ATM atau pun HP saya. 😊

Dan ini membuat teman istri saya heran. Bojomu kok loman? Katanya. Soalnya semua harta benda suaminya tak satu pun yang diatasnamakan dirinya. Jangankan lagi rumah, lha wong kendaraan bermotor empat aja gak satu pun yang atas namanya. 🙁 Dia agak kuatir kalau-kalau terjadi sesuatu dan mereka harus berpisah maka ia tidak bakal bisa membawa apa pun. Lha wong semua harta atas nama suaminya. 😭
Selanjutnya…

TUKANG PLINTIR CAP KAPAK

Sebuah artikel masuk ke WA grup kami dan menjadi diskusi. Judulnya “Bunuh Diri Massal Pers Indonesia” dan ditulis oleh : Hersubeno Arief. Karena judulnya bombastis maka saya baca. Saya terus terang terkejut membaca tulisannya. Tulisan Hersubeno ini tampak seperti orang kalap sehingga seperti meracau. Mari saya tunjukkan kata-katanya yang menuduh kesana kemari tapi kemudian bertabrakan sendiri.

Situasi media dan dunia kewartawanan saat ini katanya bahkan lebih buruk dibandingkan dengan era Orde Baru. Dia menuduh pers melakukan bunuh diri secara massal. Pers Indonesia memasuki masa gawat darurat. Salah satunya adalah karena “Kooptasi dan tekanan hukum oleh penguasa”. Dan dia menunjukkan contoh kasus perlakuan pers terhadap Prabowo (dan Sandi). Pertanyaannya, apakah Hersubeno Arief bisa menunjukkan bukti tekanan hukum oleh penguasa dalam kasus-kasus liputan pers yang ia tunjukkan?

Jelas ia sekedar nggedabrus saja karena kemudian ia berkata “Pada era Orde Baru media melakukan dengan TERPAKSA karena tekanan rezim. Kendati begitu dengan berbagai cara, media tetap melakukan perlawanan, tetap menjaga idealismenya. Saat ini banyak yang melakukan secara SUKARELA.” Lalu setelah itu disambungnya “Para wartawan, redaktur, maupun pimpinan media yang masih berakal sehat, bersikap kritis harus mengalah kepada para pemilik media. Ini KONSEKUENSI dari media di era industri.” Jadi sebenarnya pers itu melakukan tugasnya karena TEKANAN HUKUM oleh penguasa atau karena mereka melakukannya secara SUKARELA atau karena “Ini KONSEKUENSI dari media di era industri.” sih? Ngomong kok mencla-mencle begitu sih? Baru ngomong dua paragraf sudah kacau logikanya. 😀 Selanjutnya…

SKAK MAT

Saya diskak-mat oleh anak sulung saya pagi ini.

Ketika saya dan istri sedang ngobrol di kamar anak sulung saya, Yubi, mengetuk pintu dan masuk. Kami lalu ngobrol bertiga. Kami menanyainya soal bisnisnya yang sedang ia rintis. Ia bersama teman-temannya sedang berupaya untuk membuka semacam warung makan khas anak muda. Saat ini renovasi tempat yang mereka kontrak tersebut sudah hampir selesai dan Yubi mengundang kami untuk hadir pada acara pembukaannya. Ia berencana untuk mengadakan sedikit tumpengan pada soft opening pada tanggal 7 Desember nanti. Sayang sekali kami sama-sama sedang ada acara lain. Istri saya ada acara reuni SMK di Madiun sedangkan saya ada wisuda di STTB Bandung. Sayang sekali bahwa kami tidak bisa menghadiri soft launching usaha anak kami tersebut. 🙁 Selanjutnya…

PENASARAN

“Sungguh mati aku penasaran…” demikian Rhoma Irama memulai sebuah lagunya “Penasaran” yang dirilis pada tahun 1974. Pada tahun itu sebagian besar kalian tentulah masih kecebong. Kalau sekarang ada di antara kalian yang jadi kampret maka itu tentulah karena salah pergaulan. J Tapi lagu inilah yang membuat Ahmad Rizali, salah seorang konco kay pang saya, tergila-gila pada Ani (yang sebetulnya adalah nama samaran dari Enny Arrow). Selanjutnya…

ANEH BIN AJAIB…!

Saya benar-benar tidak habis pikir kenapa Habib Rizieq bisa ditangkap dan diperiksa oleh aparat keamanan Arab Saudi GARA-GARA BENDERA TAUHID…! Emoji

Apakah aparat keamanan Arab Saudi TIDAK PAHAM bahwa bendera hitam tersebut adalah BENDERA TAUHID sehingga sebenarnya justru harus DIBELA DAN DIJAGA keberadaannya sebagaimana orang Indonesia di tanah air?
Kok aneh sekali para aparat keamanan Arab Saudi sampai TIDAK PAHAM apa itu BENDERA TAUHID yang sangat diagung-agungkan dan bahkan dibela mati-matian oleh orang-orang Indonesia?

Apakah kita perlu mengirimkan Felix Siauw kepada mereka untuk mengajarkan bagaimana memahami dan menghormati BENDERA TAUHID? Tapi rasanya kok ya gak mungkin aparat keamanan Arab Saudi sampai TIDAK TAHU apa itu BENDERA TAUHID lha wong bendera itu kan katanya benderanya Rasulullah yang asalnya dari Arab Saudi dan pakai huruf Arab.

Bagi saya ini aneh bin ajaib…! Maksud saya BENDERA TAUHID ini sebetulnya APA BENAR merupakan BENDERA TAUHID kok sampai aparat keamanan Arab Saudi bukan hanya TIDAK MENGAKUINYA dan bahkan tampak MELARANGNYA. 🙁 Selanjutnya…

TUHAN MEMBUKA KEDOK KITA
DEMO: Puluhan ribu warga Boyolali turun ke jalan mendesak agar Prabowo Subianto meminta maaf terkait pidatonya baru-baru ini yang tengah viral di medsos, Minggu (4/11). (Ari Purnomo/JawaPos.com)

DEMO: Puluhan ribu warga Boyolali turun ke jalan mendesak agar Prabowo Subianto meminta maaf terkait pidatonya baru-baru ini yang tengah viral di medsos, Minggu (4/11).(Ari Purnomo/ JawaPos.com)

Saya sangat sedih bahwa pidato Prabowo yang dimaksudkan sebagai guyonan untuk mendekatkan diri pada PENDUKUNGNYA di Boyolali bisa diplintir dengan dahsyat sebagai penghinaan bagi orang Boyolali. Tidak…! Prabowo SAMA SEKALI TIDAK BERMAKSUD untuk menghina orang-orang Boyolali. Dia hanya ingin bergurau dan menyampaikan pesan lain. Dia memang tidak pandai bergurau tapi dia jelas sekali ingin bergurau saja. Lagipula dia kan berbicara KHUSUS pada pendukungnya yang ia tahu tidak bakalan marah kalau ia sedikit melontarkan jokes yang garing seperti itu.

Kata-kata atau lelucon itu ditujukan pada khalayak yang ia yakin tidak akan marah. Sama dengan teman-teman kita yang kalau guyon bisa lebih nylekit seperti, “Raimu asu…!”, “Potonganmu mlarat kabeh ae ojok nggaya ngopi nang Excelso. Kon kabeh asu, cok…!” tapi justru akan membuat kita tertawa ngakak terguling-guling. Ada konteks yang rupanya sengaja diplintir oleh orang-orang tertentu yang melihat ini sebagai sebuah kesempatan untuk mendapatkan keuntungan politis dengan mendorongnya sebagai sebuah penghinaan dan penistaan secara umum pada orang-orang Boyolali.

Terus terang saya marah dan sedih melihat ini. Emoji Kita tidak semestinya bersikap seburuk ini.
Selanjutnya…

UMAT YANG TIDAK BELAJAR DARI SEJARAH

Umat Islam memang tidak pernah mau belajar dari sejarah, meski pun itu dari sejarahnya sendiri. Mereka terus menerus terjebak dalam kesalahan yang sama dan dengan bebalnya mengira mereka sedang memperjuangkan kebenaran agama mereka. Sungguh menyedihkan. 🙁

Kasus pembakaran bendera HTI oleh Banser kemarin jelas-jelas menunjukkan betapa mudahnya umat Islam, tidak terkecuali beberapa ulama di MUI, terjebak dalam politisasi simbol-simbol agama. Mereka dengan penuh kemarahan mengutuk Banser yang membakar bendera HTI yang mereka bela sebagai Bendera Rasulullah, Bendera Tauhid, Bendera Umat Islam. Padahal kalau mereka tidak terbawa emosi dan mau membaca sedikit penjelasan dari banyak ulama yang benar-benar paham maka mereka akan sadar bahwa mereka memang sedang dikecoh dengan politisasi simbol agama. Selanjutnya…

MERUSAK MORAL BANGSA DEMI KEKUASAAN


Bagaimana cara merusak moral dan mental bangsa yang terbukti terbukti efektif? Sebuah hasil studi dari riset psikologi yang dilakukan oleh Universitas Nebraska pada para tahanan perang Korea mengungkapkannya.

Perang Korea ternyata adalah perang yang paling banyak membunuh tahanan tentara AS meski pun ditahan di kamp-kamp yang tidak dianggap kejam. Salah satu taktik untuk membunuh tahanan yang paling efektif meski pun tidak tampak kejam adalah dengan menghancurkan kejiwaan para tahanan.

Caranya adalah dengan menghancurkan motivasi mereka untuk bertahan hidup. Jadi mereka tidak disiksa tapi justru dibikin putus asa dan kehilangan gairah hidup. Nama penyakitnya adalah ‘mirasmus’ atau ‘kurangnya pertahanan, kepasifan’. Angka kematian perang kamp Korea Utara mencapai angka 38% – angka kematian tertinggi sepanjang sejarah militer Amerika Serikat.

Bagaimana cara menghancurkan mental para tahanan? Ada empat taktik utama yang digunakan. Pertama, menjadikan para tahanan saling bermusuhan. Dengan demikian tidak ada rasa kesetiakawanan lagi antara mereka karena hubungan mereka dihancurkan satu sama lain. Selanjutnya…