Selasa, 26 Oktober 2021
Satria Dharma's Weblog
  • Chateu
  • Bareng Pak Anies Baswedan
  • Sabang
  • India
  • NUS, Singapore
  • Merapi, Jogja, Indonesia
  • Kamboja
  • Nusa Dua, Bali, Indonesia
  • Thailand
  • Turki
  • Singapura
  • Puncak, Jawa Barat, Indonesia
  • Korea Selatan
  • Wisuda si Bungsu
PETUALANGAN SEORANG DOSEN

Ini adalah buku otobiografi yang ditulis oleh Prof E. Sadtono, seorang mantan dosen sekaligus mantan rektor IKIP Malang yang telah mengajar puluhan tahun bukan hanya di Indonesia tapi juga di beberapa negara lain. Kisah yang beliau tulis ini sangat menarik dan membuat saya berpikir bahwa semestinya setiap dosen perlu menulis juga kisah-kisahnya yang nantinya dapat mereka terbitkan setelah pensiun. Tapi tentu sajaa kan lebih baik jika mereka bisa menerbitkan buku mereka ketika masih aktif mengajar.

Sebagai seorang mantan guru bahasa Inggris, saya sering mendengar nama Prof Sadtono ini disebut meski pun saya sama sekali belum pernah diajar oleh beliau. Mungkin karena beberapa teman kolega saya pernah dibimbing oleh beliau dan mestinya Prof Sadtono adalah kolega para dosen saya di IKIP Surabaya. Yang jelas Prof Sadtono menyebutkan nama almarhumah Ibu Thea Kusumo sebagai salah satu koleganya mengajar di zaman dulu. Ibu The Kusumo adalah salah satu dosen saya dulu di IKIP Surabaya.

Pengalaman yang ditulis dalam buku otobiografinya ini sangat menarik karena beliau memang seorang penulis yang trampil, sangat humoris, dengan daya ingat yang tinggi. Tapi utamanya adalah karena beliau memang sempat mengajar di beberapa negara, di antaranya di Singapura, Jepang, New Zealand, Malaysia, Australia, Swedia, Amerika, sehingga segala pengalamannya ketika mengajar dan bergaul dengan para dosen di berbagai negara itu menjadi unik dan menarik untuk diketahui. Beliau sendiri memperoleh gelar doktornya dari University of Texas, Austin. Beliau juga berkeliling keberbagai negara lain dalam kapasitasnya sebagai visiting professor dan mengisi atau mengikuti seminar internasional di London, Kanada, Swiss, Paris, Bangkok, yang kemudian pengalamannya yang menarik dituliskannya dengan sangat menarik dan lucu. Boleh dikata beliau itu adalah seorang guru besar dalam tataran global. Pengalaman mengajar bersama dengan berbagai dosen dari berbagai negara membuat beliau terbiasa dengan bahasa Inggris cengkok India, Singapura, Filipina, Malaysia, Vietnam, Thailand, Australia, Amerika, British, Jepang, dan bahkan dialek lokal Amerika seperti cengkok Boston dan cengkok Arkansas. Kalau selama kuliah bahasa Inggris kalian terbiasa dengan cengkok jawanya dosen kalian maka saya jamin kalian akan kesulitan memahami ucapan penutur asli. Apalagi memahami bahasa Inggris dalam berbagai cengkok atau logat tersebut.
Selanjutnya…

MAKAN IKAN YOK…! 😁

Kalau ke Jimbaran jangan lupa makan ikan dan berbagai jenis seafood lainnya. Agar acara makannya lebih eksotik dengan biaya yang lebih murah maka datanglah ke Pasar Ikan Kedonganan. Katanya sih ini salah satu pasar ikan terbaik di Bali. Ikannya segar dan murah. Waktu terbaik berkunjung adalah pada pagi hari karena kita akan mendapat ikan yang baru datang dari nelayan dan pastinya ikannya segar. Tapi kalau masuk pasar tentunya ikannya juga masih segar dan kita bisa milih sendiri apa jenis ikan dan seafood yang kita inginkan. Enaknya adalah kita bisa beli sendiri ikannya dan kemudian bawa ke warung di sekitar pasar untuk minta dibakarkan. Biaya bakarnya 20 ribu/kilo. Kalau minta digorengkan biayanya 40 ribu/kilo. Kurang dari sekilo dianggap sekilo.

Kami belanja ikan Kerapu 3 ekor seberat dua kilo dengan harga 110 ribu dan udang Tiger setengah kilo seharga 100 ribu. Masih belum puas, Yubi beli seekor ikan Kakaktua seberat 8 ons seharga 30 ribu. Ikannya kemudian kami bakar dan goreng. Udangnya kami goreng.

Pagi ini kami benar-benar puas makan ikan dan udang. 😁
Selanjutnya…

BALI IS WAITING FOR YOU. 🙏😁

Jika Anda sering ke Bali maka Anda akan tahu bahwa Bali adalah satu-satunya propinsi di Indonesia yang sudah ‘dikuasai’ oleh investor dan pendatang asing. Hampir semua sektor bisnis yang berhubungan dengan turisme besar di sini dimiliki atau dikuasai oleh investor asing. Penduduk asing juga luar biasa banyak di Bali dan bisa Anda temui di gang-gang kecil sekali pun. Penduduk asing yang resmi ada ribuan tapi yang illegal jauh lebih besar. Warga asing terbesar di Indonesia ya adanya di Bali, bukan di DKI sebagai ibukota negara. Meski demikian tampaknya warga Bali menganggap warga asing adalah rejeki dan mereka sama sekali tidak pernah memusuhinya. Tidak pernah ada sentimen atau isu permusuhan pada warga asing atau TKA. Jadi berbeda dengan daerah-daerah yang memusuhi datangnya warga asing ke daerah mereka, warga Bali malah menyambut mereka dengan sukacita. Investor asing masuk berarti pekerjaan dan uang masuk. Dan itu adalah rejeki yang harus disyukuri. 🙏😁

CANGGU

Jalan ke Canggu, Bali Selatan, di mana kami akan menginap sempit dan berliku-liku. Masih seperti dulu. Yah, di Bali ini mana ada jalan yang lebar. 😁 Tapi sekarang Canggu benar-benar sudah berkembang dan sawah-sawahnya sudah hampir habis dikuasai investor lalu dibangun hotel, villa, cottage, resto, toko, dlsbnya. Terakhir kali saya ke sini beberapa tahun yang lalu persawahan masih menghampar luas daerah ini tapi kini sudah habis dan ada ratusan tempat penginapan, hotel, villa, dan cottage ditawarkan bagi turis lokal mau pun asing. Masuk ke Canggu rasanya kayak masuk di daerah asing. Bule-bule bersliweran dan hampir semua pengumuman ditulis dalam bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Sekarang Bali Selatan, mulai dari Kuta, Seminyak, Jimbaran, Canggu, Sanur, Nusa Dua benar-benar diisi oleh ribuan akomodasi bagi turis. Kalau cari hotel untuk rekreasi di Bali tentukan di mana Anda akan menginap karena setiap lokasi menjanjikan ratusan akomodasi mulai yang sangat murah, seratus ribuan, sampai yang sangat mahal, sampai belasan juta semalam. Saya sendiri suka browsing hotel dan villa yang menawarkan harga promosi di Traveloka atau di Agoda dan itu cukup banyak. Kita bisa dapat hotel bintang lima dengan harga di bawah 500 ribu. Sungguh tawaran yang ciamik. 😁
Selanjutnya…

TOUR SUSULAN

Baru saja sehari kami sampai dari Trans Sulawesi Tour kami selama 13 hari dan menikmati istirahat tidur lebih panjang seharian tiba-tiba datang WA dari Bali yang meminta saya dan istri untuk datang ke Bali. Senin ini ada RUPS dan juga penandatangan kredit yang harus kami hadiri. Ngutang maneh, bro…! 🥺

Sebetulnya penandatanganan akta kredit itu sudah saya wakilkan via notaris agar saya tidak perlu datang. Sebelumnya saya juga ditanya apakah saya bersedia untuk datang menghadiri akad kredit tersebut meski tidak perlu ikut tandatangan di Bandung. Kebetulan bank yang mau memberi kredit itu bank di Bandung. Jadi akadnya juga di Bandung. Tapi karena saya pikir bisa diwakilkan ya saya tidak mengiyakan. Tapi ternyata pihak bank punya kebijakan lain dan mengharuskan semua pemegang saham hadir dan tandatangan. Mungkin karena kami ngutang cukup besar. 😁 Dan satu lagi, akadnya dilakukan di Bali dan di Bandung. Jadi harus datang ke dua kota tersebut. Hari Senin, 27/9/21 lusa harus datang ke Bali dulu.

Jadi kami harus datang ke Bali Senin ini… 🤔

Tiba-tiba muncul ide untuk melanjutkan tour kami kemarin ke Bali dengan membawa mobil sendiri. Jelas lebih nyaman karena bawa mobil sendiri dan jalanannya sangat mulus dibandingkan dengan jalanan Trans Sulawesi. Lagipula ada tol Surabaya sampai Ptobolinggo.
Selanjutnya…

TRANS SULAWESI TOUR : MANADO DAN BITUNG

Kami berangkat pagi dari Kotamobagu dan masuk Kota Manado sekitar jam 1 siang. Kami langsung mencari tempat tes PCR di Lion Air agar bisa pulang naik pesawat ke Surabaya. Lion Air memang menyediakan fasilitas tes PCR dengan harga lebih murah daripada di labkes umum. Tapi tentu saja hanya untuk mereka yang beli tiket Lion. Hujan turun dengan deras dan kami basah kuyup karena tidak siap payung. Antrian untuk tes PCR sudah ratusan dan kami dapat nomor 200-an lebih. Padahal Lion Air hanya salah satu tempat tes PCR. Ternyata syarat harus tes PCR yang mahal pun tidak mengurangi keinginan orang untuk bepergian naik pesawat. Orang Indonesia ini memang WOW…! 😁

Karena antrian kami masih lama kami lalu menuju ke Aston untuk check in dan ganti baju dulu. Kami juga beli sandal jepit karena sepatu kami basah kuyup. Ketika sampai di tempat tes kok ya pas nomor antrian kami dipanggil. Yo iki sing jenenge bejo. 😁

Selesai tes PCR kami lalu meluncur ke salah satu rumah makan di tepi pantai untuk menikmati ikan bakar Manado yang sangat kondang tersebut. Surprisingly kami dapat ikan Kakaktua besar yang di tempat lain sudah tidak boleh dikonsumsi karena mestinya sudah dilindungi. Tampaknya di Manado masih banyak ditemukan dan dikonsumsi. Ikan ini favoritnya istri saya dan selalu ia promosikan. Bagaimana rasa ikan bakar Kakaktua ini? Tidak usah saya jelaskanlah. Marai awakmu pingin ae. 😁
Selanjutnya…

TRANS SULAWESI TOUR : KOTAMOBAGU

Kami sampai di Kotamobagu sekitar jam 18:30. Padahal kami berharap bahwa kami akan tiba sore hari sebelum matahari terbenam. Jarak dari Gorontalo ke Kotamobagu sebenarnya hanya kurang dari 6 jam karena hanya 238 km. Jadi kalau kami berangkat pagi jam 8 maka semestinya jam 2 siang atau paling lambat jam 3 kami sudah akan sampai. Semula kami memang ingin lewat jalur selatan menyusuri pantai-pantai di bagian selatan Gorontalo. Kami bahkan sempat mampir di Pantai Ikan Paus untuk berfoto-foto karena kami tidak mungkin menghabiskan waktu kami untuk sekedar menunggu ikan paus datang yang jadwal nongolnya suka-suka tersebut. Begitu kami hendak meneruskan perjalanan ternyata jalanan ditutup total karena sedang dalam perbaikan. Rupanya longsor di ruas jalan ini sudah rutin terjadi sehingga perbaikan jalan juga terus dilakukan. Akibatnya ya mengganggu semua kendaraan yang lewat. Katanya jalan baru akan dibuka jam 12 nanti. Itu berarti kami harus menunggu antrian kendaraan lewat selama 2 jam. Itu pun sistemnya ‘buka tutup’ artinya bergantian dari sisi yang keluar Gorontalo dan yang mau masuk. Jika antriannya sangat panjang ya waktunya akan lama seperti yang kami alami kemarin di jalur Kebun kopi Trans Sulawesi waktu menuju ke Palu. Kami harus menunggu selama 3 jam untuk bisa lanjut ke Palu dari Tentena.

Daripada manyun menunggu dua jam kami akhirnya putuskan untuk balik ke Gorontalo dan naik ke Utara melalui jalur Trans Sulawesi ke Manado. Nanti baru ambil jalur ke selatan masuk ke Kotamobagu.
Selanjutnya…

TRANS SULAWESI TOUR : WISATA IKAN PAUS

Salah satu destinasi wisata di Gorontalo adalah wisata ikan paus. Disarankan untuk singgah ke sini jika berlibur ke Gorontalo karena katanya ini adalah satu tempat wisata terbaik di Gorontalo. Kami juga kesini paling tidak untuk foto-foto dalam perjalanan kami ke Kotamobagu. 😁 Lokasinya di perairan Teluk Tomini di Desa Botubarani, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango. Aksesnya sangat mudah, dari Kota Gorontalo hanya 15-30 menit dengan kendaraan bermotor.

Dari Pantai kita sewa kapal cuma 75rb sudah termasuk umpan buat ikan pausnya.

Wisata hiu paus di Indonesia hanya tiga, di Berau Kalimantan, teluk Cendrawasih Papua, dan di Gorontalo. Tapi ada yang sudah dua kali ke Berau tidak ketemu hiu paus sedangkan Teluk Cenderawasih lokasinya jauh. Yang ini sangat dekat dan kalau kita beruntung bisa melihat empat ekor hiu paus mengitari perahu kita. Kita bisa melihat dan memberi makan hiu paus dari atas perahu tanpa harus snorkeling atau menyelam. Tapi kalau tidak beruntung ya zonk alias cuma duduk-duduk di perahu berjam-jam. 😁 Perahu-perahu yang kami lihat itu sedang menunggu itu sudah berada di perahu sejak jam 7 pagi dan hiunya masih malas mendekat. Mungkin kurang sajen. 😁
Selanjutnya…

TRANS SULAWESI TOUR : GORONTALO

Salah satu bukti bahwa kita pernah datang ke Goronto adalah dengan mengunjungi Benteng Otanaha. Benteng Otanaha adalah sebuah benteng yang terletak di atas bukit di Kelurahan Dembe 1, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo. Benteng ini dibangun sekitar tahun 1522. Ada empat tempat persinggahan dengan jumlah keseluruhan anak tangga yaitu 348. Lumayan gempor lutut Anda kalau Anda tidak terbiasa berjalan turun naik. 😁

Portugis merupakan salah satu negara yang pernah menduduki Indonesia. Benteng Otanaha adalah artefak kehadiran Portugis di Sulawesi dan sekarang menjadi salah satu destinasi wisata di Gorontalo. Pemandangan sekitarnya sangat indah.

Benteng Otanaha katanya berasal dari dua kata ota dan naha. Ota berarti benteng dan naha adalah nama orang yang menemukan. Seandainya yang menemukan dulu adalah Slamet maka namanya akan menjadi Otaslamet. 😁

Portugis dulu datang ke Nusantara untuk mencari rempah-rempah (Gila amat…! Cari rempah-rempah aja sejauh itu 😳). Mula-mula mereka merebut pelabuhan strategis di Malaka (kelakuan buruk. Jangan ditiru). Portugis kemudian melanjutkan pelayaran untuk menemukan kepulauan rempah-rempah. Sebagian sampai ke wilayah Ternate. Sebagian lagi tersesat tapi menemukan jalur perdagangan rempah di kawasan timur antara Maluku dan Sulawesi. Kisah selanjutnya baca saja sendiri di buku-buku sejarah.
Selanjutnya…

TUGU KHATULISTIWA SULAWESI TENGAH

Ini adalah Tugu Khatulistiwa yang terletak di jalan Trans Sulawesi, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Sebenarnya ini adalah situs cagar budaya yang berada dalam kepengurusan Kemendikbud. Tapi entah mengapa tugu ini tampak tak beraroma cagar budaya sama sekali dan juga tidak seberapa terjaga dan terawat. Bahkan papan namanya tergeletak begitu saja di halaman masjid dekat tugu tersebut. 😔

Desa Khatulistiwa Kecamatan Tinombo Selatan Kabupaten Parigi Moutong Propinsi Sulawesi Tengah, berada di tepi jalan poros Trans Sulawesi sebelah Utara yang merupakan akses utama transportasi menuju Propinsi Gorontalo dan Sulawesi Utara.

Berdasarkan informasi tugu ini dibangun pada tahun 1992 sebagai tanda bahwa desa tersebut berada tepat pada garis khatulistiwa. Pembangunan tugu ini dalam rangka kegiatan Latihan Integrasi Taruna Dewasa (LATSITARDA) Nusantara XIII (1991-1992) dan ditandatangani oleh Try Sutrisno. Namun katanya koordinat tugu khatulistiwa ini sebenarnya melenceng sejauh 60 m lebih ke utara dari lokasi garis khatulistiwa yang sebenarnya (berdasarkan datum WGS-84). (Disbupdar Sulteng).
Selanjutnya…

TRANS SULAWESI TOUR (Part 3): TORAJA

Jika ada ungkapan ‘Jangan mati sebelum datang ke Bali.’ maka mungkin perlu ditambahi ‘Jangan pensiun sebelum datang ke Toraja’. Tapi kalau kalian sudah terlanjur pensiun ya tetaplah datang ke Toraja. Lha udah pensiun mau ngapain lagi kalau gak rekreasi. 😁

Toraja sungguh indah. Saya sudah pernah kemari pada tahun 90-an. Tapi setelah puluhan tahun berlalu Toraja menjadi semakin menawan. Saya baru tahu bahwa Toraja sekarang sudah dimekarkan menjadi dua Kabupaten, Tanah Toraja dan Toraja Utara. Saya rasa tidak perlu saya berpromosi lebih lanjut. Cukup lihat foto-foto kami ini agar Anda benar-benar termotivasi untuk datang kemari suatu saat nanti. Kami sangat beruntung karena datang di saat pandemi karena sangat sedikit wisatawan yang datang and mostly youth locals from Makassar. Di beberapa tempat hanya kami sendirian sehingga begitu private and it feels like the whole place and view is just for us to enjoy. 😁
Selanjutnya…