Jumat, 24 Januari 2020
Just another WordPress site
  • Chateu
  • Bareng Pak Anies Baswedan
  • Sabang
  • India
  • NUS, Singapore
  • Merapi, Jogja, Indonesia
  • Kamboja
  • Nusa Dua, Bali, Indonesia
  • Thailand
  • Turki
  • Singapura
  • Puncak, Jawa Barat, Indonesia
  • Korea Selatan
  • Wisuda si Bungsu
PRODUK MUBAZIR

Pabrik apa pun di dunia ini yang menghasilkan produk secanggih apa pun kalau tidak bisa menjual produknya atau memenuhi kebutuhan konsumennya maka pasti akan tumbang. Jangankan produknya tidak sesuai dengan keinginan konsumen, sedangkan kalah bersaing dengan produk lain yang lebih menarik dan sesuai dengan keinginan konsumen saja sebuah pabrik yang sangat besar juga akan tumbang. Ada beberapa perusahaan raksasa yang dulunya luar biasa hebatnya produknya karena dipakai di seluruh dunia tapi kemudian tumbang tanpa terduga. Perusahaan Nokia adalah contohnya.

Nokia sebenarnya tidak melakukan kesalahan apa-apa. Ia hanya terlambat dalam persaingan inovasi dengan perusahaan pesaingnya. Keterlambatan Nokia dalam mengeluarkan inovasi akhirnya membuat pabrikan ponsel ‘sejuta umat’ ini tertinggal jauh dibandingkan dengan para pesaing seperti Samsung dengan Android serta iPhone dengan iOS miliknya. Sementara Nokia masih tidak mengembangkan sistem operasinya dan tetap bertahan dengan Symbian. Dan Nokia ambruk begitu saja. Ngeri…! 😳
Selanjutnya…

ELITE ILLUSION

Apakah sekolah top dan favorit benar-benar mampu memberikan bekal prestasi akademis (dan masa depan yang lebih cerah) bagi siswanya ketimbang sekolah-sekolah lain yang tidak favorit?

Mari kita lihat…

Stuyvesant High School adalah sebuah sekolah negeri di New York City yang paling favorit dan merupakan dambaan bagi hampir semua anak-anak paling cerdas di New York. Sekolah di gedung berlantai sepuluh yang terletak beberapa blok dari World Trade Centre ini sangat selektif dan hanya anak-anak yang sangat cemerlang saja yang bisa masuk. Saking ketatnya sehingga hanya sejumlah kecil siswa kulit hitam yang bisa masuk ke sekolah ini. Di Stuyvesant High School, dari 27.000 siswa yang ikut tes masuk hanya 895 siswa baru yang diterima. Dan dari jumlah ini hanya tujuh siswa kulit hitam yang bisa tembus. Jumlah ini menyusut dibandingkan tahun sebelumnya. Tahun lalu ada 10 siswa kulit hitam diterima di Stuyvesant dan 13 siswa tahun sebelumnya lagi.

Sekolah khusus selektif lainnya, yang sedikit di bawah Stuy, Bronx High School of Science, juga hanya memberikan 12 kursi kepada siswa kulit hitam tahun ini, turun dari 25 siswa tahun lalu. Pokoknya sangat sulit deh masuk ke sekolah top dan favorit ini. Seperempat lulusan Stuy diterima di universitas-universitas Ivy League atau perti bergengsi serupa. Banyak orang top yang lulusan sekolah ini. 😯

Pertanyaannya apakah sekolah top dan favorit ini benar-benar mampu memberikan bekal prestasi akademis dan masa depan yang lebih cerah kepada siswa-siswa cemerlang tersebut dibandingkan dengan sekolah-sekolah yang kurang top dan favorit?

Ternyata tidak… Selanjutnya…

PILIH YANG MANA (2)

Masih ada juga guru yang tidak memahami bahwa jawaban mereka pada pertanyaan berikut ini adalah salah.

“Seandainya siswa diminta untuk membaca buku, kira-kira mereka akan memilih buku yang tipis atau yang tebal?” Ketika mereka menjawab, “Yang tipis…” tentu saja ini jawaban yang salah. Jawaban yang benar adalah ‘Yang menarik…’

Ada beberapa orang yang protes dan bilang bahwa pertanyaannya menjebak karena pilihannya adalah antara ‘tipis’atau ‘tebal’ tapi ternyata jawabannya adalah ‘yang menarik’ yang bukan merupakan opsi jawaban. Mereka menyalahkan saya karena telah menjebak mereka. Mereka tidak sadar bahwa sebenarnya mereka sudah terjebak dalam jawaban tersebut sejak lama, dan bahkan seumur hidup mereka. 😞

Hal ini menunjukkan bahwa para guru kita ini memang sudah terjebak dalam pola pembelajaran yang dikotomis ‘benar dan salah’, ‘jika tidak a maka b’, ‘jika tidak putih maka itu hitam’, ‘hanya ada satu jawaban yang benar’, ‘pilihlah jawaban yang sudah tersedia’, dst.

Coba pikir… Selanjutnya…

PILIH YANG MANA?

“Seandainya siswa diminta untuk membaca buku, kira-kira mereka akan memilih buku yang tipis atau yang tebal?” 😎

Ini adalah pertanyaan yang sering saya lontarkan pada presentasi saya pada para guru dan kepala sekolah. Tebak kira-kira mereka akan memilih jawaban apa. Tentu saja mereka akan menjawab, “Yang tipis…”

Tentu saja ini jawaban yang salah. Jawaban yang benar adalah ‘Yang menarik…’ 😀
Selanjutnya…

MENJADI KONSULTAN PENDIDIKAN DI GROBOGAN

Ketika saya menulis status di FB berjudul “Seandainya saya bupati..” rupanya pendapat saya menarik perhatian banyak orang dan muncul berbagai komentar yang positif.
Tapi ada satu komentar yang menarik dan berbunyi begini: “Opo berkenan tah sampean kami jadikan konsultan Disdik Grobogan. Kira2 aku kuat bayar gak ya, Cak.”

Yang berkomentar ini Mas Amin Hidayat, Kadisdik Kab. Grobogan. Apa yang saya tulis ini tampaknya menarik perhatiannya dan beliau merasa pandangan-pandangan saya menarik. Ia lalu menawari saya untuk menjadi konsultan pendidikan di Kab. Grobogan. Saya dan Mas Amin Hidayat sudah berteman dan bekerjasama sekitar empat tahunan. Beliau ini memang sangat peduli dengan program Gerakan Literasi Sekolah. Saya bahkan pernah diundang dua kali datang ke Purwodadi, Grobogan dalam rangka mengisi acara Deklarasi Grobogan sebagai Kabupaten Literasi pada tahun 2016 dan yang kedua mengisi acara yang digagas beliau pada 23-25 Februari 2018 yang bertema “Implementasi Gerakan Literasi Sekolah untuk Mewujudkan Grobogan sebagai Kabupaten Literasi “. Kegiatan ini dilaksanakan di Hotel Kyriad Grand Master atas kerjasama Dinas pendidikan Kabupaten Grobogan, Forum Silaturahim Sekolah Islam Grobogan (FOSSIG ) dan Forum Persaudaraan Muslim Grobogan (FPMG). Kegiatan workshop ini menghadirkan berbagai narasumber nasional dalam bidang Literasi, antara lain Dewi Utama Faizah dari Satgas GLS Kemdikbud RI, Dharma Sastra dari Tarakan, Ameliasari Kesuma dari Salatiga, BM Asti dan Kak Erwin NS Pambudi dari Grobogan, Handoko Widagdo, dari USAID yang saat ini melakukan program inovasi dan literasi di Kalimantan Utara, dan saya sendiri. Sila baca di pustakawanjogja.
Selanjutnya…

DITIPU…😞

Cerita seorang teman yang ditipu membuat saya jadi ingat kisah saya ditipu juga dulu. Saya tidak pernah ceritakan hal ini karena apa hebatnya cerita kita ditipu orang…?! Mbok ya cerita tentang kesuksesan aja agar memotivasi teman yang lain… 😀 Tapi siapa tahu kisah ini bisa memberi pelajaran bagi orang lain. Paling tidak bisa membuat teman lain yang juga pernah ditipu merasa ada temannya. 😂

Saya masih tinggal di Balikpapan waktu itu dan tiba-tiba diajak untuk ikut bisnis batubara oleh seorang teman. Wah, keren banget kan kalau bisa jadi ‘pengusaha’ batubara? 😀 Siapa tahu saya yang masih jadi guru dan dosen waktu itu bisa jadi kaya raya jika ikut bisnis ini. Waktu itu bisnis batubara memang sedang booming dan semua orang lagi gila batubara. 😀Saya punya sedikit tabungan yang bisa saya pakai untuk ‘main batubara’. Lagipula teman yang mengajak saya ini orangnya ulet banget dan punya potensi untuk sukses. Okelah kalau begitu… Apa salahnya…?! Siapa tahu nasib awak lagi mujur. Dari seorang guru swasta menjadi pengusaha batubara kaya raya… Kalian jangan iri ya kalau saya sukses nanti… 😎 Selanjutnya…

GURU KONTRAK PROFESIONAL
Ilustrasi. Gambar; Google

Ilustrasi. Gambar; Google

Hampir semua sepakat bahwa dari tiga faktor penentu keberhasilan pendidikan yaitu : perangkat keras (hardware) yang meliputi : ruang belajar, peralatan praktek, laboratorium, perpustakaan, dll,; perangkat lunak (software) yang meliputi :kurikulum, program pengajaran, manajemen sekolah, sistem pembelajaran, dll, serta perangkat pikir (brainware) yaitu : guru, kepala sekolah, anak didik, dan orang-orang yang terkait dalam proses tersebut; maka guru adalah faktor yang paling menentukan. Argumentasinya adalah, ruang belajar bisa sangat sederhana; peralatan, laboratorium dan perpustakaan bisa kurang memadai, tapi bila gurunya memiliki kualitas yang tinggi dalam mengajar maka guru tersebut akan dapat berinovasi untuk mencapai tujuan pengajarannya. Sebaliknya jika meskipun semuanya tersedia, jika gurunya tidak berkualitas maka semua peralatan tersebut tidak akan ada gunanya. Dahulu ada ‘joke’ tentang keinginan bangsa Jepang untuk tukar menukar tanah air dengan kita. Bangsa Indonesia silakan pindah ke Jepang dan ambil semua kekayaan Jepang dan ditambah boleh membawa semua harta yang ada dari Indonesia. Sebaliknya bangsa Jepang akan pindah ke tanah air kita hanya dengan mengenakan celana kolor saja. Dijamin dalam jangka waktu singkat bangsa Jepang akan kembali kaya dan tetap unggul karena keunggulan brainwarenya. Sebaliknya, meskipun telah mewarisi banyak harta dari Jepang, tak lama kita tentu akan terpuruk lagi karena SDM kita yang lemah.
Jepang sangat percaya bahwa pendidikan adalah sangat penting dan guru merupakan profesi yang sangat terhormat dan sangat dihargai. Di Australia sendiri banyak master dan doktor yang bersedia menjadi guru (bukan dosen) di sekolah dasar dan menengah karena gaji mereka tercukupi di sana.
Selanjutnya…

SELAMAT HARI NATAL DAN TAHUN BARU
Ilustrasi. medium.com

Ilustrasi. medium.com

Setiap menjelang Natal selalu saja terjadi pertengkaran di antara umat Islam antara yang pro dan kontra ucapan Selamat Natal. Perkaranya karena ada ulama yang membolehkan ucapan Selamat Natal, dan ada ulama yang dengan keras melarangnya. Kenapa bisa demikian? Karena ini termasuk perkara yang tidak ada nash-nya yang tegas dan jelas. Baik yang membolehkan maupun yang melarangnya tidak berlandaskan kepada dalil yang qath’i (pasti). Artinya semua ulama bersandarkan diri pada pendapat masing-masing yang tentu saja berdasarkan pada pemahaman agama masing-masing. Dan masing-masing ulama tentu saja menyatakan dirinya bersandarkan pada Alquran dan hadist. Yang enggan mengucapkan Selamat Natal punya dasar, demikian juga yang mengucapkannya.

Mengapa demikian? Karena perkara ucapan Selamat Natal ini adalah perkara ushul yang dhann’i dan bukan perkara yang qath’i. Tidak ada ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi yang secara jelas dan tegas menerangkan keharaman atau kebolehan mengucapkan selamat Natal. Karena tidak ada ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi yang secara jelas dan tegas menerangkan hukumnya, maka masalah ini masuk dalam kategori permasalahan ijtihadi. Dengan demikian, baik ulama yang mengharamkannya maupun membolehkannya, sama-sama hanya berpegangan pada generalitas (keumuman) ayat atau hadits yang mereka sinyalir terkait dengan hukum permasalahan ini. Karenanya, mereka berbeda pendapat berdasarkan ijtihad mereka sendiri-sendiri. Dalam hal ini umat Islam sepakat untuk saling menghargai dan menghormati sikap yang berbeda dengannya. Selanjutnya…

SEANDAINYA SAYA BUPATI…
Presiden Jokowi berfoto bersama para bupati yang mengikuti pertemuan di Istana Kepresidenan Bogor, Jabar, Selasa (31/7/2018) siang. (Foto: Rahmat/Humas)

Presiden Jokowi berfoto bersama para bupati yang mengikuti pertemuan di Istana Kepresidenan Bogor, Jabar, Selasa (31/7/2018) siang. (Foto: Rahmat/Humas)

Seandainya saya Bupati maka jelas saya yang akan bertanggung jawab atas hebat dan memblenya mutu pendidikan di daerah saya. Sayalah yang memang seharusnya bertanggung jawab untuk itu. Saya tidak akan menyalahkan staf saya karena toh saya bisa memilih siapa yang akan saya angkat untuk membantu saya. Kalau Kadisdik saya memble dengan mudah akan saya ganti dengan orang yang benar-benar mumpuni. Untuk apa saya punya Kadisdik dan Kabag yang tidak bermutu? Ada banyak orang hebat yang bersedia untuk menjadi Kadisdik dan mau bekerja keras memperbaiki mutu pendidikan di daerah saya.

Saya juga tidak akan menyalahkan Gubernur karena kami punya kewenangan, hak dan tanggung jawab yang berbeda. Apalagi menyalahkan Mendikbud. Lagipula kan sebenarnya beban saya SUDAH DIKURANGI dengan ditariknya urusan pendidikan menengah ke propinsi. Jadi saya yang semula bertanggung jawab atas pendidikan dari tingkat SD, SMP, SLTA, maka kini berkurang tinggal SD dan SMP. Bahkan sebenarnya Kadisdik saya tidak perlu mengurusi anak-anak yang bersekolah di madrasah karena itu urusan Kemenag. Mosok sih ngurusi SD dan SMP saja saya tidak bisa melakukannya dengan sebaik-baiknya? Lha ngapain saya jadi Bupati kalau urusan begini saja saya sambat atau bahkan sampai disoroti karena ketidakmampuan saya. Mending ngarit saja kan…?! Selanjutnya…

BAHASA KEDUA DALAM TES PISA KITA

Sebagai penggagas Gerakan Literasi Sekolah hasil tes PISA yang baru saja dirilis benar-benar membuat hati saya sedih dan kecewa. Saya pikir GLS yang dijadikan sebagai program resmi Kemendikbud yang kemudian disebarluaskan ke seluruh Nusantara selama beberapa waktu ini paling tidak akan memberi sedikit efek pada peningkatan nilai tes PISA 2015 kita ke PISA 2018. Faktanya malah menurun. Hasil Tes PISA 2018 kita kembali merosot ke poin 371. Sama persis dengan poin kita pada tahun 2000. Jadi 18 tahun berlalu dan kita masih berada di tempat yang sama dalam soal kemampuan membaca. Sungguh mengenaskan…!
Ada apa yang salah sebenarnya…?! Mengapa semua kerja pendidikan kita selama ini sama sekali tidak berbekas…?! 🙄
Jelas sekali bahwa apa yang kita lakukan selama ini sama sekali tidak mampu meningkatkan kemampuan literasi anak-anak kita. Kita harus bersungguh-sungguh meneliti kesalahan kita ini dan mencoba cara lain yang lebih efektif.

Menurut saya ada beberapa alasan mengapa GLS yang meski pun sudah menjadi program Kemendikbud secara nasional belum juga memberikan hasil yang memadai. Apakah program GLS yang selama ini kita laksanakan salah? Tidak. Pembiasaan siswa untuk membaca sangatlah penting dan vital. Justru sebaliknya kegagalan kita adalah karena program ini memang belum dilaksanakan secara merata. Jangankan yang di luar Jawa, sedangkan di Jawa Timur pun masih banyak sekolah yang belum melaksanakannya sampai hari ini. Kalau mau benar-benar berkeliling maka bahkan di Surabaya, di mana program ini pertama kali dilaksanakan, masih banyak sekolah yang belum melaksanakannya. Bahkan ada sekolah yang semula melaksanakannya saat ini sudah tidak melaksanakannya. Bukan hanya di daerah-daerah, bahkan di Jakarta yang nilai literasinya tertinggi program GLS ini juga belum berjalan dengan lancar. Artinya Kemendikbud dan Disdik belum berhasil mendorong setiap sekolah untuk menjalankan program sederhana membiasakan anak membaca 15 menit setiap pagi secara rutin ini secara massif. Asumsi saya jika sudah diluncurkan oleh Kemendikbud dengan begitu gegap gempita maka akan langsung diikuti oleh semua sekolah dengan patuh dan ‘sami’na wa athokna’. I was wrong… 🙄 Jika di kota besar saja kita gagal menjalankan program sederhana ini maka jangan harap bisa menjalankan program ini di daerah-daerah yang jauh dari ibukota dan berada di remote area. Perlu sebuah strategi baru untuk dapat mengembangkan program GLS ini lebih jauh agar benar-benar menjadi sebuah instrument pengembangan kemampuan berbahasa anak.
Selanjutnya…