Selasa, 20 Februari 2019
Just another WordPress site
  • Chateu
  • Bareng Pak Anies Baswedan
  • Sabang
  • India
  • NUS, Singapore
  • Merapi, Jogja, Indonesia
  • Kamboja
  • Nusa Dua, Bali, Indonesia
  • Thailand
  • Turki
  • Singapura
  • Puncak, Jawa Barat, Indonesia
  • Korea Selatan
  • Wisuda si Bungsu
MUSUH-MUSUH ISLAM

“Umat Islam itu sejak dulu selalu terpecah belah dan saling berperang satu sama lain. Oleh sebab itu perlu diciptakan musuh bersama untuk mempersatukannya.” Demikian kata seorang teman dalam sebuah diskusi. “Jadi jangan heran kalau ada yang membangunkan hantu PKI untuk menakut-nakuti umat Islam. Itu strategi kuno dari Tiongkok, yaitu Strategi ke14 yang disebut ‘Pinjam mayat orang lain untuk menghidupkan kembali jiwanya. (Menghidupkan kembali orang mati.)’ Hidupkan kembali sesuatu dari masa lalu dengan memberinya tujuan baru atau terjemahkan kembali, dan bawa ide-ide lama, kebiasaan, dan tradisi ke kehidupan sehari-hari. Sedangkan strategi yang pernah disampaikan Prabowo dalam ceramahnya, yaitu ‘Rampoklah rumah yang sedang terbakar (Loot a burning house)’ adalah Strategi ke 5. Saat sebuah negara mengalami konflik internal, ketika terjangkit penyakit dan kelaparan, ketika korupsi dan kejahatan merajalela, maka ia tidak akan bisa menghadapi ancaman dari luar. Inilah waktunya untuk menyerang. Jadi ini memang strategi perang kuno. Semua itu bisa dibaca di https://id.wikipedia.org/wiki/36_Strategi.” sambungnya.

“Umat Islam itu susah bersatu kalau bicara soal kekuasaan, semua pada ingin berkuasa sendiri-sendiri. Lha wong di zaman khilafah aja mereka bisa saling bunuh dan bantai sesama keluarga kok. Coba lihat di Indonesia ada berapa partai berbasis Islam. Mengapa mereka tidak jadi satu saja dalam sebuah partai Islam?” tanyanya.

Selanjutnya…

THE DEATH OF HIZBUT TAHRIR INDONESIA

MA TOLAK KASASI HTI

Alhamdulillah, Mahkamah Agung (MA) resmi menolak kasasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan resmi menetapkannya sebagai organisasi terlarang. Ini sebuah hook keras yang menghantam HTI sehingga tidak bisa bangun lagi.

Amar putusan MA dilansir di laman resmi Kepaniteraan MA pada Kamis (14/2/2019). Perkara dengan nomor registrasi 27K/TUN/2019 itu diajukan dari Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta pada 2 Januari 2019. HTI sebagai pemohon menggugat Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia atas pembubaran organisasi tersebut. Kuasa Hukum HTI Yusril Ihza Mahendra mendaftarkan kasasi ke MA pada 19 Oktober 2018. Permohonan ini kemudian ditolak MA. Dengan putusan tersebut, maka pembubaran HTI telah memiliki kekuatan hukum tetap atau inkrah. Ini adalah kemenangan dari bangsa Indonesia melawan sebuah upaya pengkhianatan terhadap negara NKRI yang berbasiskan Pancasila melalui sistem demokrasi ini.

MENGAPA RINDU KHILAFAH?

Mengapa ada banyak umat Islam di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, yang menginginkan kembalinya era khilafah? Faktor utamanya, saya rasa, adalah karena mereka merasa bahwa umat Islam saat ini kalah dari umat lain. Mereka merasa terpinggirkan, termarjinalisasi, ketinggalan kereta, miskin, tak memiliki kekuasaan, dikuyo-kuyo, dlsb. Faktanya negara-negara Islam saat ini memang kalah maju dan makmur dibandingkan dengan negara-negara sekuler atau bahkan dengan negara komunis. Apalagi dengan negara Israel yang Yahudi tersebut. Kalah total. Selanjutnya…

BERSAMA IGI MENUJU PROFESIONALISME GURU

“Organisasi profesi guru ini harus mandiri, independen dan mesti digunakan oleh guru untuk memajukan profesinya, meningkatkan kompetensinya, kariernya, wawasan kependidikannya, perlindungan profesinya, meningkatkan kesejahteraan dan pengabdian kepada masyarakat. Bendera kebangkitan guru telah kukibarkan,” Satria Dharma, Pendiri dan Ketua Ikatan Guru Indonesia.

Ikatan Guru Indonesia atau IGI pada awalnya terbentuk melalui diskusi di milis The Center for The Betterment of Education (CBE): cfbe@yahoogroups.com. Dua begawan pendidikan muda kala itu, Satria Dharma dan Achmad Rizali, resah dengan kondisi mutu guru di Indonesia. Melalui CBE, keduanya beberapa kali melakukan dialog pendidikan secara nasional. Hasilnya, guru dianggap menjadi persoalan pendidikan yang serius.

Di sisi lain, kinerja pemerintah dalam meningkatkan profesionalitas guru juga memprihatinkan. Organisasi guru yang diharapkan bisa menjadi bidan yang ikut melahirkan guru-guru profesional kurang optimal. Keresahan ini membuncah. Reformasi pendidikan perlu segera dilakukan.

Selanjutnya…

MUSTAFA KEMAL PASHA: PAHLAWAN TURKI YANG DIBENCI PENDUKUNG KHILAFAH

Siapa orang yang paling dibenci dan difitnah oleh para pengusung khilafah? Namanya Mustafa Kemal Pasha yang mendapat gelar Ataturk. Ya, dia adalah Bapaknya orang Turki (Attaturk). Dia dianggap sebagai Bapaknya Orang Turki karena dialah pendiri dan sekaligus presiden pertama Republik Turki. Dia adalah pahlawan yang memerdekakan Turki dari penjajahan.

Lalu mengapa ia dibenci oleh para pendukung khilafah?

Karena ialah yang dianggap mengakhiri riwayat sistem kekhilafahan Islam terakhir pada tahun 1921 dan menjadikan Turki sebagai negara sekuler sampai hari ini. Bagi para pendukung khilafah Kemal Pasha ini adalah orang yang paling bersalah yang mengakhiri zaman kekhilafahan Islam.

Bagaimana ceritanya?

Selanjutnya…

MENGAPA SAYA MEMILIH IGI (Bagian 2)

Education is the passport to the future,

for tomorrow belongs to those who prepare for it today.

– Malcolm X

Hampir setiap saat para guru IGI ditanya apa beda IGI dan PGRI. Saya selalu menjawab, “ Mau yang singkat atau yang panjang? Kalau yang singkat bedanya adalah PGRI hanya punya satu ‘I’ sedangkan IGI punya dua ‘I’. Tapi kalau mau yang panjang ada beberapa versi.

Salah satu perbedaan yang saya sampaikan adalah bahwa IGI itu sama dengan IDI (Ikatan Dokter Indonesia). IDI itu organisasi profesi yang tentu saja para anggota dan pengurusnya adalah dokter semua. IDI tentu saja tidak menerima bidan dan perawat untuk menjadi anggotanya. Lagipula bidan dan perawat tentu punya organisasi profesinya sendiri. Begitu juga dengan IGI. Di IGI semua anggota dan pengurusnya adalah para guru. PGRI justru pengurusnya mayoritas bukanlah para guru itu sendiri. Pengurus PGRI hampir semuanya adalah para pejabat di lingkup dinas pendidikan, dosen, dan bahkan ada yang tidak sama sekali berhubungan dengan pendidikan dan sekedar pejabat di pemda.

Karena di IGI semua pengurus dan anggotanya adalah guru maka mereka tahu benar apa yang mereka butuhkan dan harus lakukan untuk menjadikan mereka sebagai guru-guru professional. Mereka adalah tuan di rumah mereka sendiri. Pengurus di organisasi mereka sendiri. Selanjutnya…

MENGAPA SAYA MEMILIH IGI

Dalam sebuah diskusi seorang dosen senior dengan sedih mengatakan bahwa saat ini para guru telah kehilangan idealismenya. Para guru telah terjebak pada pragmatisme dan tidak lagi memiliki spirit perjuangan sebagaimana para guru di zaman lampau.

“Oh, tidak. Itu karena Anda belum bertemu dengan para guru IGI.” Kata saya.

“Guru IGI…?! Apa itu IGI…?!” tanyanya dengan penuh rasa ingin tahu.

Kemarin saya mengikuti acara pertemuan para pengurus IGI Jawa Timur di Srambang Park Ngawi yang sedang meluncurkan buku “Mengapa Saya Memilih IGI” dan Jurnal “Qualita”. Begitu bertemu dengan mereka suasana yang akrab, hangat, dan penuh semangat perjuangan dan idealisme langsung terasa.

Orang-orang ini memang para guru luar biasa. Penampilan mereka tetap bersahaja sebagaimana penampilan para guru umumnya tapi begitu mereka berbicara maka Anda akan sadar bahwa Anda berhadapan dengan para guru yang benar-benar memiliki semangat juang dan idealism yang menyala-nyala.

Selanjutnya…

YANG MENGGAJI KAMU SIAPA…?!


Kemarin ada ribut-ribut soal teguran dan pertanyaan Menkominfo pada seorang anak buahnya karena mengaitkan pemilihan desain dengan pemilihan presiden. Beliau bertanya, “Yang menggaji kamu siapa…?!”

Saya jadi ingat apa yang pernah saya alami dulu ketika masih mengajar.

Saya tidak ingat persis waktunya tapi sekitar tahun 1986 – 1987, yaitu ketika saya masih mengajar di SMAN 13 Surabaya. Saya seorang PNS dengan golongan II/b waktu itu dan belum III/a karena belum sempat mengurus penyesuaian kesarjanaan saya. Lagipula dulu itu tidak otomatis dan kita mesti mengurus sendiri dan it takes time and effort.

Pada suatu hari, entah karena dekat pemilu, tiba-tiba semua guru diminta mengisi formulir untuk mendaftarkan diri menjadi anggota Golkar. Sekedar informasi, Golkar dulu sak penak-penake dewe memaksa PNS untuk masuk Golkar soalnya kan mereka sedang berkuasa penuh di bawah Mbah Harto yang meski pun fotonya selalu smiling but he was a general with an iron hand. Selanjutnya…

THE DARK AND BLOODY SIDE OF KHILAFAH

“Jika ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah kebatilan dengan agama.”

Ibnu Rusd

Sudah baca buku “Islam Yes, Khilafah No” Jilid 2 karya Nadirsyah Hosen? Kalau belum, beli dan bacalah bukunya. Umat Islam perlu mengetahui fakta sejarah kekhilafahan yang sebenarnya dan jangan mau dibodoh-bodohi terus. Bodoh kok dilaminating…! 😀
Selanjutnya…

DEKLARASI GERAKAN LITERASI SEKOLAH DI KABUPATEN MADIUN

Alhamdulillah, Gerakan Literasi yang semula direncanakan hanya untuk SMPN 1 Mejayan, Caruban, akhirnya meluas menjadi Gerakan Literasi Sekolah se Kabupaten Madiun. Sabtu, 26 Januari kemarin gerakan ini dideklarasikan. Ini juga sekaligus program Gerakan Literasi Sekolah pertama yang saya gulirkan di tahun 2019 ini.

Seperti yang diduga oleh Pak Agus Sucipto, Kasek SMPN 1 Mejayan, bahwa jika ia menyampaikan niatnya pada Pak Sodik Hery Purnomo, Kadisdik Kab. Madiun, untuk mendeklarasikan Gerakan Literasi di sekolahnya maka beliau tentu akan meminta agar sekolah-sekolah lain juga didorong untuk mendeklarasikan Gerakan Literasi di sekolah mereka juga. Ternyata benar…! Pak Sodik segera mendorong para kepala sekolah lain untuk ikut pada acara tersebut.

Jadi begitulah… Acara yang semula dirancang sederhana akhirnya menjadi acara yang sungguh meriah. Sabtu, 26 Januari 2018, kemarin dideklarasikan Gerakan Literasi SMPN 1 Mejayan bersama puluhan kepala SDN dan SMPN se kabupaten Madiun. Siswa SMPN 1 Mejayan bertekad untuk mengikuti “Tantangan Membaca 1.000 Halaman (1,000 Page Reading Challenge)” yang dibuka langsung oleh Bunda Baca Kabupaten Madiun, Ibu Penta Lianawati, yang sekaligus adalah istri Bupati Madiun. Selanjutnya…

TERJEBAK BERABAD-ABAD LAMANYA

Ketika seluruh rakyat Indonesia menikmati kemerdekaan dari penjajahan dan mensyukuri keberkahan dan rahmat yang dilimpahkan oleh Allah SWT selama ini, sebagian kecil umat Islam ada yang merasa tidak puas, tidak mensyukuri, dan bahkan mengingkari nikmat tersebut. Mereka mengkufuri nikmat Tuhan tersebut dan merasa bahwa apa yang diperoleh oleh umat Islam di Indonesia adalah bala bencana dan apa yang diberikan oleh Allah tersebut adalah sesuatu yang mungkar dan harus diperangi. Orang-orang yang berpikir demikian adalah orang-orang yang tergabung dalam kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Umat Islam yang tidak mensyukuri nikmat kemerdekaan dari Tuhan ini ada di berbagai negara dan mengganggu kepemerintahan di mana pun mereka tinggal sehingga dilarang bahkan di negara di mana pemikiran ini berasal.

Apa sebenarnya yang terjadi dengan orang-orang ini? Mengapa mereka tidak bersyukur dengan nikmat kemerdekaan bangsa Indonesia dan ingin menjadikan negara Indonesia sebagai negara kekhilafahan sebagai mana Islam di zaman dulu? Itu karena mereka terjebak dengan angan-angan dan asumsi sesat mereka yang mengira bahwa sebuah negara Islam haruslah berbentuk kekhalifahan dan tidak boleh berbentuk lain.. Sebuah negara yang berbentuk selain kekhilafahan menurut mereka adalah negara kufur, pemimpinnya kufur, hukumnya kufur, warganya juga kufur sehingga jika mati dianggapnya mati kufur. Jika umat Islam mati kufur maka jelaslah mereka masuk neraka. Lu mau masuk neraka…?! Tahu neraka nggak..?! 😀
Selanjutnya…