Senin, 17 September 2019
Just another WordPress site
  • Chateu
  • Bareng Pak Anies Baswedan
  • Sabang
  • India
  • NUS, Singapore
  • Merapi, Jogja, Indonesia
  • Kamboja
  • Nusa Dua, Bali, Indonesia
  • Thailand
  • Turki
  • Singapura
  • Puncak, Jawa Barat, Indonesia
  • Korea Selatan
  • Wisuda si Bungsu
NO DRAMA, PLEASE

Mohon maaf, tapi menurut saya KPAI dan PB Djarum mulai main drama…

Semestinya KPAI itu justru harus MENUNTUT agar SEMUA perusahaan rokok mendirikan rumah sakit, sekolah dan perguruan tinggi , pelatihan olahraga, panti jompo, perpustakaan, dan lain-lain untuk meningkatkan peran mereka dalam membantu masyarakat agar lebih sejahtera. Sementara itu silakan lembaga yang lain teruskan kampanye Anda untuk melawan rokok agar setiap tahun jumlah perokok semakin berkurang. Kita punya bidang tugas yang berbeda-beda.

Saya sendiri adalah anti rokok (mantan perokok berat sejak SMP kelas 3 dan baru berhenti setelah usia lebih dari 30 tahun). Saya berharap agar tidak ada satu pun anak-anak kita yang akan menjadi pecandu rokok nantinya (meski anak saya ternyata perokok juga seperti bapaknya dulu dan belum berniat untuk berhenti). Saya menentang kampanye rokok masuk ke acara-acara apa pun, apalagi yang berhubungan dengan pendidikan. Tapi ini tidak menghentikan saya (dan Mas Nanang, sohib ludrukan saya) untuk membantu Sampoerna Foundation dalam upayanya di bidang pendidikan. Saya cukup lama jadi konsultan pendidikan di Sampoerna Foundation dan sampai sekarang tetap bersyukur bahwa yayasan ini berhasil membuat banyak anak-anak bangsa yang tertolong nasibnya menjadi warga yang lebih baik hidupnya.

Bukannya uang yayasan tersebut berasal dari hasil penjualan rokok…?! Katanya anti rokok tapi kok mau membantu yayasan yang asal uangnya dari jualan rokok…?!

Lha justru itu…! Selanjutnya…

SELAMAT DATANG ESEMKA (Bagian 2)

Yang manakah merek mobil di bawah ini yang merupakan mobnas negara Jepang?
A. Honda
B. Suzuki
C. Toyota
D. Daihatsu
E. Mitsubishi
F. Nissan
G. Semuanya

Salah…! Ternyata tak satu pun merek top tersebut yang merupakan mobil nasional Jepang. Tapi tentu saja semua merk mobil top yang ada di Indonesia termasuk Mazda, Lexus, Isuzu, Subaru, Infinity (milik Nissan), Acura (milik Honda), adalah mobil Jepang. Tapi tak satu pun dari merk tersebut yang bisa disebut sebagai mobil nasional dalam konotasi sebagai mobil yang DIINISIASI, DIBIAYAI dan DIMILIKI SAHAMNYA oleh Pemerintah Jepang. Semua perusahaan tersebut adalah perusahaan swasta. Bayangkan, Jepang yang penduduknya hanya 100 jutaan orang tersebut ternyata memiliki sekian banyak merk mobil top. Itu baru mobil lho…! Belum lagi sepeda motor. Pokoknya kalau soal kendaran bermotor Indonesia ini sepenuhnya dijajah oleh aseng, eh! Jepang maksudnya.

Jadi bayangkan betapa ajaibnya bangsa Indonesia ini yang tiba-tiba begitu paranoidnya kalau ada sebuah merk mobil yang digagas oleh bangsa Indonesia, dikerjakan dan dibiayai oleh bangsa Indonesia, diresmikan oleh Presiden Indonesia, kok model mobilnya MIRIP mobil Aseng. Maka gemparlah mereka dan keluarlah berbagai sindiran, kecaman, olok-olok, dan berbagai kelakuan kekanak-kanakan seolah Indonesia ini bakal dijajah oleh China. Lha wong selama ini kita ‘DIJAJAH’OLEH JEPANG tanpa ampun kini kok tiba-tiba muncul nasionalismenya dan paranoid dengan mobil yang mirip mobil China.
Selanjutnya…

SELAMAT DATANG ESEMKA (Bagian 1)

Selamat datang Esemka. Akhirnya kamu datang juga. Banyak yang berpikir bahwa kamu itu cuma hoax. Ternyata kamu itu nyata dan hadir juga pada akhirnya. Sayang sekali bahwa kamu hadir dalam suasana pertarungan politik dalam negeri yang begitu sadis sehingga banyak yang mencibirmu. Tapi tidak apa. Mbok pikir gampang opo urip ning Indonesia iku? Opo maneh nek pingin gede. Kamu harus berdarah-darah dulu agar bisa menjadi besar. Itu sudah seperti sunnatullah kayaknya.

Apakah kamu mobnas?

Ternyata bukan. Presdir PT Solo Manufaktur Kreasi (Esemka), Eddy Wirajaya, sendiri yang menegaskan bahwa Esemka murni perusahaan swasta. “Kami adalah perusahaan swasta nasional yang 100 persen dimiliki swasta dan kami bukan mobil nasional seperti yang dipahami orang selama ini. Lebih tepatnya mobil buatan Indonesia karya anak bangsa sendiri,” demikian katanya.
Selanjutnya…

BPJS YANG HARUS KITA TOLONG

Satu hal yang saya sesalkan tentang BPJS adalah bahwa sampai hari ini saya belum terdaftar sebagai anggotanya… 😞

Don’t get me wrong. Saya sungguh tidak ingin keluarga saya sakit dan dibiayai oleh BPJS. Keluarga kami sudah ikut asuransi swasta. Dobel lagi. Jadi kalau ada di antara kami yang sakit maka kami bisa masuk rumah sakit mana saja dan kami tinggal merem. Semua biayanya akan ditalangi oleh asuransi swasta tersebut. Dua minggu yang lalu Tara kena typhus sehingga kami masukkan ke RS Premier di Jl. Nginden Intan yang mewah tersebut. Meski hanya nginap dua malam ternyata biayanya mencapai lebih dari lima juta rupiah. Astagfirullah hal adzim…! 😯 Saya hampir njomblak mengetahui biayanya. Hanya dua malam lho…! Padahal tidak ada tindakan apa-apa yang diberikan kecuali infus dan pemberian antibiotik sampai lab menyatakan bahwa widalnya Tara sudah normal. Tapi Alhamdulillah kami tidak perlu membayar biayanya sepeser pun kecuali materai enam ribu rupiah untuk klaim ke asuransinya. Kami bahkan masih bisa mengklaim biaya pengobatan pada asuransi satunya yang kami miliki dan itu sesuai dengan perjanjian dengan asuransinya.
Selanjutnya…

JURANG KEMISKINAN FIKTIF
Foto: RMOLSumsel.

Foto: RMOLSumsel.

“Jurang kemiskinan semakin menganga…”

“Jurang yang membatasi antara orang kaya dan orang miskin semakin melebar…””

“Yang miskin semakin miskin dan yang kaya semakin kaya…” – Rhoma Irama

Saya yakin kita semua sangat akrab dengan kalimat-kalimat tersebut. Istilah ‘jurang kemiskinan’ seolah sangat nyata dan terus dipakai sebagai jargon yang faktual. Padahal sebenarnya TIDAK ADA jurang kemiskinan tersebut. Yang disebut sebagai ‘jurang kemiskinan’itu FIKTIF. Baca buku “Factfulness”nya Hans Rosling. Itu salah kaprah yang terus menerus kita pikir benar dan juga kita pakai sebagai dasar kita dalam berpikir. Yang kaya memang semakin kaya tapi TIDAK ADA kelompok orang, bangsa, atau negara miskin yang semakin miskin. Perbedaan kekayaan antara yang miskin dan kaya mungkin semakin lebar tapi sesungguhnya TIDAK ADA JURANG yang memisahkan mereka. Yang ada justru BUKIT atau PIRAMIDA. Jadi antara orang-orang yang PALING KAYA dengan orang yang PALING MISKIN mereka dibatasi oleh sebuah bukit yang tinggi dan terjal di mana orang-orang yang ‘agak miskin’, ‘kalangan menengah’, dan orang-orang ‘kaya’ berada. Jadi kalau dibikin kurva maka kurvanya adalah kurva lonceng dan bukan kurva lonceng terbalik. Kurva pendapatan masyarakat itu sebenarnya TIDAK PERNAH berbentuk kurva lonceng terbalik. Dalam kurva lonceng terbalik antara titik ekstrim kiri dan ekstrim kanan akan dipisahkan oleh sebuah cekungan sehingga jika mau diibaratkan maka antara orang-orang yang paling miskin dan yang paling kaya terpisahkan oleh sebuah jurang. Tapi kurva semacam ini TIDAK PERNAH ada. Yang ada selalu berbentuk kurva lonceng di mana puncak kurvanya semakin lama semakin tinggi dan kurva ini dengan dinamis selalu bergerak ke kanan.

Apa artinya? Selanjutnya…

TERIMA KASIH SUDAH MENGINGATKAN UNTUK MEMBACA

Seorang guru yang membeli buku-buku saya mengucapkan terima kasih karena telah mengingatkannya untuk membaca. Katanya ia termasuk orang yang tidak suka membaca. Sekarang mau tidak mau ia harus memaksakan diri untuk senang membaca. Sampai sekarang ia merasa masih harus belajar untuk benar-benar suka membaca. And I’m very glad to hear this. I have the opportunity to change someone’s life with reading. 😄

Bagaimana dengan Anda…?! Selanjutnya…

SUKSES TANPA SEKOLAH

“Bisakah jadi mahasiswa UI jurusan Ekonomi tanpa pernah bersekolah sama sekali baik di SD, SMP, atau pun SMA?”

“Bisa…!”

“Lho, emangnya gak ikut seleksi atau tes masuk?”

“Ya ikutlah…!”

Ternyata anak kita bisa masuk ke PTN dan jurusan top macam Ekonomi UI meski pun anak kita tidak pernah bersekolah baik di SD, SMP, atau pun SMA…! Yang penting anak kita ikut tes masuknya dan diterima. Bagaimana caranya? Ya homeschooling alias belajar mandiri.

Buku yang luar biasa ini menceritakan bagaimana Yudhis yang meski sama sekali tidak pernah ikut sekolah formal tapi mampu menjadi Pembelajar Mandiri. Saya sampai terhenyak saking terpikatnya membaca pengalaman Yudhis belajar mandiri sejak kecil dan konsisten dengan pilihannya untuk tidak belajar di sekolah. Selanjutnya…

SCARY KHILAFAH (BAGIAN 3)

“Kenapa dunia begitu ketakutan kepada Khilafah? Yang salah visi Khilafahnya ataukah yang menyampaikan Khilafah kepada dunia? – Cak Nun

Wahai saudaraku para pendukung HTI, mari kita duduk santai dan ngobrol nyaman. Saya ingin bertanya sesuatu pada kalian.
Pernahkah kalian berpikir atau bertanya pada diri kalian masing-masing atau pada ulama kalian mengapa Hizbut Tahrir yang sudah didirikan pada tahun 1953, atau lebih dari 60 tahun yang lalu, sampai saat ini belum juga mencapai tujuannya? Mungkin kalian tidak pernah bertanya karena kalian sudah didoktrin untuk tidak bertanya.

Tapi ini serius…
Selanjutnya…

SERI DISKUSI DENGAN HTI (BAGIAN 4): SCARY KHILAFAH (BAGIAN 2)

“Kenapa dunia begitu ketakutan kepada Khilafah? Yang salah visi Khilafahnya ataukah yang menyampaikan Khilafah kepada dunia? Sejak 2-3 abad yang lalu para pemimpin dunia bersepakat untuk memastikan jangan pernah Kaum Muslimin dibiarkan bersatu, agar dunia tidak dikuasai oleh Khilafah.”

 

Isu Kedua: Benarkah ada kesepakatan pemimpin dunia agar dunia tidak dikuasai khilafah?

 

Mari kita bahas bersama. Tapi untuk itu kita mesti membuka-buka buku sejarah. Cak Nun ini memang pintar. Kita diajak untuk belajar sejarah agar tidak katrok. 😉

Kalau sekarang adalah Abad 21 sedangkan yang dimaksud oleh Cak Nun 2 – 3 abad lalu itu berarti kita harus melihat sejarah dunia di Abad 18.  Apakah yang terjadi di dunia pada Abad 18? Berikut ini daftar kejadian yang mungkin menarik diketahui pada abad tersebut.

Selanjutnya…

SERI DISKUSI DENGAN HTI (BAGIAN 3): SCARY KHILAFAH

Seorang teman mengirimi saya tulisan Cak Nun yang berjudul Scary Khilafah. Ini pembukanya yang menarik.

SCARY KHILAFAH

“Kenapa dunia begitu ketakutan kepada Khilafah? Yang salah visi Khilafahnya ataukah yang menyampaikan Khilafah kepada dunia? Sejak 2-3 abad yang lalu para pemimpin dunia bersepakat untuk memastikan jangan pernah Kaum Muslimin dibiarkan bersatu, agar dunia tidak dikuasai oleh Khilafah.”

Cak Nun adalah salah satu penulis favorit saya. Saya hampir punya semua bukunya. Penampilannya bersama Kyai Kanjeng juga selalu memikat. Tapi saya tidak akan membahas semua yang ditulisnya pada artikelnya tersebut. Saya hanya akan membahas dua isu pada paragraf pembukanya tersebut. Isu pertama tentang khilafah yang ‘scary’ dan isu kedua tentang apakah memang ada kesepakatan pemimpin dunia agar dunia tidak dikuasai khilafah.

Isu pertama: Mengapa dunia takut pada khilafah? Selanjutnya…