Sabtu, 09 Agustus 2020
Just another WordPress site
  • Chateu
  • Bareng Pak Anies Baswedan
  • Sabang
  • India
  • NUS, Singapore
  • Merapi, Jogja, Indonesia
  • Kamboja
  • Nusa Dua, Bali, Indonesia
  • Thailand
  • Turki
  • Singapura
  • Puncak, Jawa Barat, Indonesia
  • Korea Selatan
  • Wisuda si Bungsu
SAYA NGUTANGI DAN SAYA BERSYUKUR

Saya punya teman yang asyik. Kalau kebanyakan orang suka ngutang, dia ini malah suka ngutangi. Pokoknya hampir semua teman yang butuh utangan nembaknya ke dia. Dan dia selalu berusaha untuk memberi utangan, meski seringkali yang ngutang lupa sama utangnya dan balik lagi ke dia untuk ngutang yang ke sekian kalinya. Waktu saya tanya apakah banyak orang yang ngemplang utangnya dia bilang, “Fifty- fiftylah…! Separoh mbayar, separoh lali alias lupa.” sambil tertawa. Jadi sekitar separoh yang berutang padanya tidak membayar utangnya.

Tapi itu tidak membuatnya kapok ngutangi. “Saya bersyukur bisa ngutangi.” Jawabnya sambil tersenyum.

“Saya sungguh bersyukur bahwa saya berada pada posisi ngutangi dan bukan pada posisi yang berutang. Orang berutang itu sebenarnya berada pada posisi yang sulit. Seringkali teman-teman yang ngutang ke saya itu datang dengan menahan rasa malu yang besar. Tapi karena memang kepepet ya apa boleh buat. Walau pun malu ya terpaksa dilakoni.”

“Tapi kalau diutangi terus dan utangnya tidak kembali kan lama-lama jugrug alias bangkrut awakmu,” pancing saya.

“Kalau ngutangi orang ya kamu harus smart agar tidak kerepotan,” jawabnya. “Jangan ngutangi dengan uang belanja bulanan. Itu haknya keluarga. Itu kewajiban primer yang harus dipenuhi dulu sebelum mendanai yang sekunder. Saya ngutangi dengan dana yang memang benar-benar aman. ”

“Dana yang aman maksudnya apa?” tanya saya.
Selanjutnya…

SAYA KECEWA PADA JOKOWI DAN GIBRAN…
Jokowi dan Gibran. Foto: detik.com

Jokowi dan Gibran. Foto: detik.com

“Saya kecewa pada Jokowi dan Gibran…” demikian ungkap seorang teman dengan wajah muram ketika ngobrol kemarin. “Ternyata Jokowi sama saja dengan penguasa lain. Dia juga gila kekuasaan dan mendorong anak-anaknya untuk berkuasa juga. Sama saja dengan para penguasa lain.” Ia menarik napas dan matanya menerawang. “Gibran yang saya puji sebelumnya juga ternyata ambisius dan pingin juga berkuasa. Sungguh saru dan ora pantes dia memanfaatkan kuasa dan pengaruh bapaknya untuk bisa menjabat. Dia ini melakukan aji-aji mumpung.”

Saya ndlahom mendengar uneg-uneg teman saya yang polos ini. Ternyata dia ini termasuk orang yang bertipe mencintai dengan cinta yang bersyarat. I love you if… But if you don’t qualify my standards or expectation, I will hate you instead…

Makanya jangan mencintai atau membenci seseorang terlalu berlebih-lebihan, kata orang bijak entah siapa saya sudah lupa. Jangan sampai kita mencintai sesuatu secara berlebihan, karena itu akan membuat kita menderita. Kita bisa dibuat majnun atau bodoh, kita bisa dibuat linglung dan beleng-beleng (pinjam istilahnya Pak Ustad Das’ad). Bisa jadi yang kita sangat cintai itu akan mengecewakan kita sehingga membuat kita sangat sakit dan menderita. Membenci sesuatu juga jangan keterlaluan. Karena bisa jadi suatu saat apa yang kita benci justru akan kita cintai dan dambakan. Malah justru kalian bisa jatuh hati kepadanya. Sudah banyak contoh yang seperti itu. Dulu benci, sekarang cinta.

Makanya saya sama istri juga begitu. Saya tidak pernah mencintainya berlebih-lebihan. Saya hanya mencintainya sepenuhnya. Kalau cinta saya sudah penuh ya tidak saya gelontor terus. Saya kuatir cinta saya yang berlebih itu kemudian dipungut wanita lain. Bisa gempar dunia persilatan…
Selanjutnya…

POLITIK DINASTI?
Foto: Travel - Tempo.co

Foto: Travel – Tempo.co

Pada Pilgub Jatim 2018 yang lalu pasangan Khofifah Indar Parawansa dan Emil Estianto Dardak maju berhadapan dengan pasangan lawannya Saifullah Yusuf (Gus Ipul)-Puti Guntur Soekarnoputri. Begitu tahu bahwa pasangan Gus Ipul adalah Puti yang merupakan cucu Soekarno dan keponakan Megawati saya langsung menduga bahwa Khofifah kali ini akan memenangkan pilkada. Analisis saya sederhana, Puti itu ‘kartu mati’. Jadi yang berhadapan sebenarnya bukan Khofifah melawan Gus Ipul karena keduanya adalah orang NU dan nilai mereka sama di mata rakyat Jatim. Yang berhadapan di mata rakyat Jatim adalah Emil Dardak melawan Puti. Kalau Puti melawan Emil ya jelas Emil lebih unggul. Siapa sih yang tahu reputasi Puti? Orang Jawa Timur sama sekali tidak pernah mendengar kiprahnya tapi tiba-tiba didorong untuk menjadi calon Wagub. Meski pun dia adalah cucu Soekarno, Proklamator RI sekaligus presiden pertama sekaligus keponakan Megawati, yang juga mantan presiden, tapi siapa sih Puti itu? Meski sebenarnya Puti, yang nama lengkapnya panjang banget Puti Pramathana Puspa Seruni Paundrianagari Guntur Soekarno Putri, menjabat sebagai anggota DPR RI periode 2019-2024 dari Daerah Pemilihan Jawa Timur I yang meliputi wilayah Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo. Sebelumnya ia pernah menjabat sebagai anggota DPR RI periode 2009-2014 dan 2014-2019 dari Daerah Pemilihan Jawa Barat X yang meliputi wilayah Kabupaten Ciamis, Kabupaten Kuningan, dan Kota Banjar. Tapi orang Jawa Timur tidak mengenal kiprahnya. Dia bisa maju sebagai calon wagub hanya karena dia adalah keponakan Mega dan bukan karena prestasi atau kemampuan memimpinnya.

Jelas berbeda dengan Dr. H. Emil Elestianto Dardak, M.Sc. atau Emil Dardak. Emil adalah Bupati Trenggalek yang usianya masih 36 tahun. Emil adalah seorang politikus, penyanyi dan eksekutif muda Indonesia. Ia dan Mochamad Nur Arifin menjadi pasangan termuda pada pilkada serentak 2015. Ia menjadi peraih gelar Doktor Ekonomi Pembangunan termuda di Jepang dari Ritsumeikan Asia Pacific University pada usia 22 tahun. Emil jelas lebih menawan rakyat Jawa Timur ketimbang Puti.
Selanjutnya…

SUNNI DAN SYIAH: SIAPA YANG BENAR?

Dulu saya naif banget soal permazhaban.
Seorang teman bule pernah bertanya pada saya, “Are you muslim?”. “Yes,” jawab saya spontan. “Are you Sunni or Syiah?” tanyanya lebih lanjut. Saya kaget dan tidak menduga akan mendapat pertanyaan seperti itu.

“Whaat…?! I’m just muslim, neither Sunni nor Syiah,” jawab saya.

Bagi saya dulu yang naif seorang muslim ya muslim dan tidak perlu dikategorikan Sunni atau Syiah. Tentu saja saya salah. Teman bule saya itu ternyata lebih tahu banyak tentang sejarah Islam ketimbang saya. 😱 Kalau kamu mengaku muslim maka itu tidak cukup. Kamu harus masuk salah satu kategori, entah Sunni, Syiah, Ahmadiah, atau apa lagi gitu. Itu ‘world class category’. Kalau di Indonesia pengkategoriannya lebih beragam . Kamu boleh pilih NU, Muhammadiyah, Persis, NW, FPI, DDI, HTI, dan banyak lagi. Tapi yang ini bukan madzhab tapi organisasi massa atau jamaah. Jadi secara internasional kita itu masuk dalam kategori mazhab besar, yaitu Sunni, dan setelah itu baru ditanya organisasi Islamnya mau masuk mana, NU, Muhammadiyah, Nahdlatul Wathan, FPI, atau apa. Kalau tidak ikut salah satunya berarti Anda ‘Muslim Ronin’. Tapi tolong jangan cari istilah ini di kamus. 😄

Pertanyaan, “Are you Sunni or Syiah?” sebenarnya pertanyaan yang gawat surawat. Soalnya dua madzhab ini tidak akur dan bahkan terjadi peperangan antar madzhab ini sejak dulu sampai sekarang. Jika Anda tinggal di negara-negara muslim yang sedang berperang karena perbedaan mazhab Sunni dan Syiah maka pertanyaan tersebut bisa menentukan nasibmu dan bahkan hidup dan matimu. Suriah yang makmur dan indah sekarang hancur berantakan karena perang yang didasarkan pada perbedaan mazhab ini.
Selanjutnya…

PARA KHALIFAH: SIAPA BERI MANDAT…?!


Ada yang bilang bahwa ajaran Islam itu begitu lengkapnya sehingga urusan kencing, tidur, makan-minum, masuk rumah, utang piutang, nikah-cerai, waris, bahkan bersendawa pun diatur…

Pertanyaannya, lantas mengapa urusan siapa PENGGANTI Rasul sebagai pemimpin, yang begitu penting dan menyangkut nasib umat setelah beliau wafat justru TIDAK PERNAH DIBAHAS? 🤔

Mengapa tidak ada satu pun wasiat atau pun amanat dari Rasulullah tentang siapa khalifah yang ditunjuk untuk menggantikan beliau setelah wafat?

Karena tidak ada wasiat, amanat, atau pun mandat soal ini maka para sahabat benar-benar tidak siap ditinggalkan oleh Nabi dan tidak tahu siapa yang harus menjadi pemimpin umat sebagai pengganti Nabi (khalifah). Bahkan pada saat beliau sakit dan merasa akan meninggal pun beliau tidak beramanat atau pun berwasiat soal pengganti beliau.
Selanjutnya…

APA PERAN AGAMA BAGI BANGSA DAN NEGARA?


Sampai saat ini saya masih bertanya-tanya dan berharap agar ada teman, khususnya yang selama ini belajar khusus di bidang agama sampai mendapatkan gelar sarjana, master, dan apalagi doktor di bidang agama, untuk bersedia menjawabnya.

Jadi menurut Anda apa peran agama bagi bangsa dan negara? Apakah agama MEMPERKUAT rasa kebangsaan dari rakyat Indonesia atau justru sebaliknya MEMPERLEMAH rasa kebangsaannya?

Menurut teori dan cita-cita bangsa kita, agama dan negara harus berjalan beriringan dan saling memperkukuh, bukan untuk saling dipertentangkan. Anda sepakat…?! Para pendiri republik ini sudah sepakat sejak dahulu, meski ada upaya untuk menjadikan Indonesia menjadi sebuah negara Islam sejak awal. Seandainya dulu mereka tidak sepakat maka Indonesia tidak akan berdiri. Tapi sampai hari ini masih saja ada orang-orang yang masih terus memperjuangkan agendanya untuk menjadikan Indonesia sebagai negara Islam. Salah satunya adalah agenda untuk mengubahnya menjadi negara khilafah. Ide menjadikan Indonesia sebagai negara Islam adalah virus yang laten dalam benak umat Islam. Umat Islam Indonesia tak henti-hentinya mendambakan lahirnya negara Islam dan masyarakat Islam ideal di Indonesia.

Jika kita melihat sejarah, upaya mendirikan negara Islam selalu timbul tenggelam di Indonesia. Ada yang berbentuk kekhalifahan dunia atau internasionalisme seperti Hizbut Tahrir dan ada yang lingkupnya hanya Indonesia, seperti yang dilakukan oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. Selanjutnya…

INDONESIA TANPA INVESTOR ASING

Ya jelas kita tidak akan semakmur sekarang…😊

Kita akan tetap menjadi negara terkebelakang dan tidak akan mampu bersaing dengan negara-negara lain. Dengan wilayahnya yang begitu luas, terlebih lagi dengan kontur negaranya yang berbentuk kepulauan, maka Indonesia jelas sangat membutuhkan banyak modal agar seluruh pelosok mendapatkan pembangunan yang memadai. Tanpa infrastruktur yang memadai maka pembangunan jelas akan terhambat karena alasan akses dan mobilitas.

Jangankan Indonesia, semua negara besar di dunia ini tumbuh dan besar karena investasi asing. Peran investasi asing sangat besar untuk mendukung percepatan pembangunan ekonomi suatu negara. Tanpa investasi asing, mustahil negara seperti China dapat menikmati kemajuan ekonomi dan teknologi yang fenomenal seperti saat ini. Sekedar informasi, China merupakan negara penerima investasi asing terbesar kedua dunia setelah Amerika Serikat. Jadi negara-negara besar itu tumbuh membesar karena peran investasi asing dan mereka akan tetap membutuhkan investasi asing untuk terus meningkatkan perekonomiannya.

Investasi asing memang sangat diperlukan untuk pembiayaan program percepatan pembangunan nasional. Aliran modal asing yang masuk dapat menggerakkan roda perekonomian dan meningkatkan pendapatan negara. Tanpa itu maka kita tidak akan bisa membangun sebagaimana negara-negara miskin yang tidak dilirik dan diminati oleh investor asing.

Ada tokoh-tokoh tertentu yang selalu menghembus-hembuskan bahwa apa yang kita lakukan pada kekayaan alam kita itu salah. Semestinya kekayaan alam seperti minyak, gas, emas, dan berbagai mineral lainnya jangan sampai dikerjakan oleh pihak asing. Biarkan saja ia di dalam bumi sampai anak cucu kita sendiri suatu saat nanti dengan kemampuan dan modalnya sendiri yang akan menggali dan memanfaatkannya kelak. Pemikiran semacam ini tentu saja sangat naif. Hal ini sama dengan menyatakan, “Seandainya Engkong lu kagak jual tanahnya di Sudirman itu maka kita yang akan punya gedung berlantai 30 itu.”
Selanjutnya…

MENGHUJAT ISLAM

Seringkali saya menemukan orang-orang yang disebut ulama, ustad, da’i, dosen, dan bahkan professor perguruan tinggi Islam yang katanya membela Islam tapi dalam sikap, perkataan, dan tindakannya sebenarnya justru merendahkan Islam dan menganggap Islam itu inferior dan tidak berdaya. Orang-orang seperti ini sebenarnya menghujat agamanya sendiri. Aneh sekali orang-orang ini. Katanya berdakwah tapi sebenarnya mereka menghujat, menghina, dan meremehkan agamanya sendiri.

Coba perhatikan bagaimana mereka berceramah atau menulis artikel. Mereka-mereka ini akan menggambarkan Islam sedang dirundung nestapa, sedang kritis, sedang gawat, para ulamanya sedang diujung tanduk karena dikriminalisasi, dan segala macam situasi buruk karena dipepet, dikepung, diancam, mau dihancurkan, digerus, diapalah-apalah, oleh komunisme, kapitalisme, fasisme, liberalisme, hedonisme, dan segala macam ancaman isme yang ada di dunia ini. Mereka-mereka ini akan menggambarkan betapa umat Kristen dan Yahudi tidak pernah rela bertetangga dengan umat Islam dan kebencian mereka sudah nyata jadi jangan pernah sedikit pun percaya para mereka (untungnya agama lain tidak disebut kejahatannya di Alquran). Mereka itu cuma manis dibibir tapi hatinya berulat. Orang-orang keturunan Cina itu apalagi. Ekonomi mereka kuasai, perdagangan ada di tangan mereka, uang ada di tangan mereka, emas dan rajabrana mereka tumpuk untuk bersenang-senang, pejabat, tentara, dan polisi dalam kekuasaan mereka, sementara umat Islam terpuruk, ndlosor, dan megap-megap di bawah mereka. Selanjutnya…

ANDA MUSLIM…?!


Seorang teman pernah mengeluh tentang semakin tidak bermutunya pemahaman agama umat Islam. Ia menunjukkan poster pelatihan “Cara Cepat Dapat Istri Empat” menyusul suksesnya “Kelas Poligami Nasional” tahun sebelumnya. Bukan hanya muslim awam yang dikeluhkannya tapi juga munculnya ustadz-ustadz yang semakin ngawur ajarannya. Kapan hari ada ustadz yang menyatakan bahwa lagu “Balonku” dan lagu “Naik ke Puncak Gunung”sebagai propaganda anti-islam dan mengagungkan agama lain. Ada apa sebenarnya yang terjadi dengan para ustadz semacam ini? 😞

Sebenarnya sudah lama saya memprihatinkan masalah ini. Problem besar umat Islam masa kini adalah karena mereka tidak dididik untuk berpikir. Mereka hanya diajari untuk patuh pada ustadz mereka baik di sekolah mau pun di masjid tapi mereka tidak pernah diajari untuk berpikir, apalagi untuk bersikap kritis. Bersikap kritis, apalagi mempertanyakan pendapat ustadz mereka seolah dianggap sebagai sebuah kejahatan yang sangat tercela dan haram untuk dilakukan. Di sekolah dan di pesantren mereka hanya diajari untuk menghapal ayat dan hadist dan tidak diajari untuk mengaplikasikannya. Apa yang mereka pelajari hanya menjadi ilmu tanpa laku sehingga budaya dan tradisi keislaman menjadi mandek dan jumud. Selanjutnya…

KARENA KAMI PUNYA ORANG TUA YANG HEBAT

… Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua orang tuamu. KepadaKulah kamu kembali” (Luqman 21-14)

Sungguh kami bersaudara bersyukur bahwa kami memiliki dua orang tua yang benar-benar dapat dijadikan contoh dan panutan. Sebagai manusia tentu saja mereka tidak sempurna. Tetapi sebagai orang tua mereka adalah dua orang tua yang didambakan oleh semua anak di dunia ini.

Mereka adalah orang tua yang penuh kasih. Tidaklah mudah untuk menjadi orang tua dari 11 anak. Sebagai orang tua dari 3 orang anak dengan begitu banyak kemudahan pun ternyata tidaklah mudah bagi saya untuk tetap bersikap sebagai seorang ayah atau orang tua yang ideal. You will lose your temper temporarily. Saya tidak bisa membayangkan diri saya memiliki 11 orang anak dengan kondisi ekonomi yang begitu sulit pada jaman itu. Saya mungkin akan menyerah sebagai orang tua. Tapi mereka tidak.

Salah satu kelebihan mereka berdua yang menjadi sumber kekaguman kami sampai saat ini adalah ketabahan mereka menghadapi kesulitan hidup menanggung 11 orang anak dengan kondisi ekonomi yang benar-benar tidak masuk di akal kalau dipikirkan. Selanjutnya…