Selasa, 02 Desember 2020
Just another WordPress site
  • Chateu
  • Bareng Pak Anies Baswedan
  • Sabang
  • India
  • NUS, Singapore
  • Merapi, Jogja, Indonesia
  • Kamboja
  • Nusa Dua, Bali, Indonesia
  • Thailand
  • Turki
  • Singapura
  • Puncak, Jawa Barat, Indonesia
  • Korea Selatan
  • Wisuda si Bungsu
BENARKAH ANDA SEORANG ULAMA…?! 🤔

Saya sampai hari ini sungguh tidak habis pikir pada orang-orang yang mengagung-agungkan HRS dan bahkan sampai mengangkatnya menjadi seorang ‘Imam Besar’. Mengangkat seseorang menjadi imam dan apalagi memberinya gelar ‘Imam Besar’ itu saja sebuah hal yang ganjil. 🙄

Coba pikir-pikir dalam hal apa para pendukungnya ini menjadikannya sebagai Imam Besar? Dalam hal keagamaan atau politik? Jika kita melihat di mana gelar ini digunakan, yaitu di Al-Azhar, Mesir, maka Syaikh Al-Azhar merupakan Imam Besar Al-Azhar, dan Imam yang diminta pendapatnya mengenai urusan-urusan keagamaan, yang sesuai dengan al-Qur’an dan ilmu-ilmu Islam. Pengangkatan Imam Besar Al-Azhar sesuai dengan Keputusan Presiden yang diambil dari anggota Akademi Riset Islam. Jadi yang mengangkat itu negara. Apakah bukan dagelan yang tidak punya malu namanya kalau tiba-tiba umat alumni 212 mengangkat HRS dan mengaku-ngaku sebagai Imam Besar umat Islam Indonesia?

Berdasarkan catatan dari CNNIndonesia, gelar imam besar terhadap Rizieq ini pertama muncul dari hasil Kongres Alumni 212 yang digelar pada Desember 2017 silam. Kala itu, Kongres 212 digelar di Wisma PHI, Cempaka Putih, Jakarta Pusat awal Desember 2017 atau sehari sebelum Reuni 212 di Monas, 2 Desember 2017. Slamet Maarif yang kala itu menjabat Ketua Presidium Alumni 212 mengumumkan ke hadapan ribuan orang yang menghadiri Reuni 212 di Monas. “Inti dari maklumat kami semua peserta kongres menguatkan kembali komitmen kembali seluruh alumni 212, Habib Rizieq sebagai imam besar umat Indonesia,” kata Slamet kala itu. Jadi yang mengangkatnya adalah ketua persatuan alumni 212.

Lalu Anda juga ikut-ikutan mengekor Slamet Maarif menjadikan HRS sebagai imam besar?

Apa pertimbangan Anda…?! 😳 Selanjutnya…

Buku: Muslim Kok Nyebelin – Bagian 2

(Tanggapan atas buku “Muslim Kok Nyebelin (Part I)”

BUKU YANG SANGAT BERANI… 🤔

Ketika pertama melihatnya di toko, saya menilai buku ini sangat berani… buku ini bermain pada hal-hal yang berkaitan dengan akidah, hal yg tidak main2 menurut saya, ibaratnya nggak bisa dipakai guyon, saya membaca dengan sangat pelan-pelan, beberapa kali saya dibuat googling untuk mencari referensi, btw saya tidak selalu mengamini sumber-sumber yang dipakai acuan di buku ini, meski demikian saya sering dibuat tak kuasa untuk menolak pendapat si penulis.

Sesungguhnya saya sering memikirkan kegelisahan seperti yang dia gelisahkan, salah satunya dengan prinsip ‘sami’na wa atho’na’ dan saya termasuk memegang teguh prinsip itu, selama itu merupakan firman Tuhan dan contoh dari Nabi saya akan berusaha taati meskipun hal yang paling tidak masuk akal sekalipun. Namun demikian ternyata Sami’na wa atho’na juga ada diterapkan untuk ustad dan kiai2nya, ini yang susah saya lakukan. Kadang kiai membuat statement sendiri dan saya kesulitan untuk mentaatinya, seperti larangan membeli Colamerk ini, air mineral brand itu, shampoo ini, sabun itu, dan makanan ini itu yang beliau minta untuk tidak dibeli dengan alasan yang sangat sulit untuk saya cerna, bahkan cenderung menyederhanakan alasan.

Salah satu hal yang masih kesulitan saya cerna dari buku ini adalah pernyataan bahwa Adam bukan manusia pertama, seakan buku ini berusaha mengambil titik tengah antara teori evolusi manusia dengan keberadaam Adam selaku manusia pertama. Meski pemaparannya masuk akal, saya menangkap bahwa penulis hendak menyatakan bahwa Adam bukan manusia pertama namun dia adalah manusia rasional pertama yang mendapat mandat untuk menyampaikan pencerahan. Saya masih sulit untuk menerima itu,. Mungkin memang saya masih harus banyak belajar dan mencari. Sampai sekarang saya masih meyakini Adam adalah manusia pertama, meski jika ditanya bagaimana asal mulanya saya juga belum bisa menjawab.
Selanjutnya…

JANGAN IKUT DEMO, NAK!

Kalau anak saya mahasiswa dan mau ikut demo saat ini maka saya akan dengan keras melarangnya. Kalau perlu saya dudukkan dia dan ceramahi betapa bodohnya dia kalau ikut-ikutan demo saat ini.

Pertama, sekarang ini masih pandemi Covid 19 dan samasekali belum berakhir. Protokol kesehatan masih wajib dilakukan. Orang-orang yang bekerja mencari nafkah yang wajib saja masih sangat dibatasi geraknya. Eee lha kok kamu dengan sembrononya ikut demonstrasi yang jelas tidak mungkin melaksanakan protokol kesehatan tersebut. 🙄

Hanya mahasiswa bodoh yang mengira bahwa status kemahasiswaannya itu membuat Covid 19 segan menghampirinya. Apalagi mereka beramai-ramai dan berdesak-desakan. Semakin beramai-ramai semakin senang Covid 19 menghampiri kalian.

Coba pikir…! Sungguh bodoh orang yang justru mendatangi tempat yang besar kemungkinan bakal menularinya virus Corona dan juga bakal menulari keluarganya yang lain. Apalagi kalian adalah mahasiswa yang mestinya mulai berpikir rasional dan bukan sekedar menuruti emosional belaka.

“Tapi ini perjuangan untuk bangsa dan negara, Pak. Rakyat membutuhkan kami para mahasiswa untuk turun membela mereka. Siapa lagi yang akan membela buruh dan rakyat kecil kalau bukan kami para mahasiswa.” Selanjutnya…

DEMONSTRASI DAN HEROISME ALA MAHASISWA


Mungkin karena saya seorang guru, orang tua saya dua-duanya dulu juga guru, kebanyakan kumpul sama guru, maka saya tidak pernah menganggap demo mahasiswa, apalagi pelajar, ke jalan-jalan itu sebagai sesuatu hal yang positif. Nehi…! Bagi saya demo semacam itu lebih banyak mudharatnya (eh, ini kok kayak pendapatnya Muhammadiyah ya?) 😄

Lha dulu sampeyan waktu mahasiswa apa tidak pernah ikut demo?

Tidak. Sejak kuliah saya sudah sibuk mengajar siang harinya. Seandainya pun saya nganggur saya tidak tertarik dengan heroisme mahasiswa macam itu. Ketika jadi mahasiswa saya belum begitu paham dengan retorika ‘idealisme membela negara dari cengkraman para pengkhianat bangsa yang menindas rakyat kecil’. Itu isu yang terlalu abstrak bagi mahasiswa IKIP macam saya. Membela negara ya mengajar agar anak-anak menjadi pintar. Memang rodok ndeso tapi yo wis ben. 😞

Bagi saya demo-demo teriak melalui TOA sambil menutup jalan dengan berkhayal melakukan sebuah tugas suci melawan kemungkaran sungguh absurd. Cek sangare awakmu, Bro? 🤔 Lagipula saya memang tidak pernah merasa nyaman dalam kerumunan (crowd) dan gampang haus kalau teriak-teriak. 😊

Tapi demo itu adalah hak yang dilindungi hukum, konstitusional….
Selanjutnya…

APA SIH AJARAN ISLAM ITU?
Ilustrasi. pinterpolitik.com

Ilustrasi. pinterpolitik.com

Salah satu masalah besar kita sebagai umat Islam dalam memahami agama adalah ketidakmampuan kita untuk MEMBEDAKAN mana yang ajaran agama, mana yang budaya, mana yang sejarah, mana yang ijtihad, mana yang pendapat ulama, dll.
Masih banyak di antara kita yang mengira bahwa semua yang dilakukan oleh nabi Muhammad (atau yang dilakukan oleh para nabi yang tertulis dalam Alquran) adalah ajaran agama. Padahal tidak.
Masih banyak di antara kita yang mengira bahwa semua yang dilakukan oleh para khalifah Islam adalah ajaran agama yang perlu kita ikuti. Tentu saja tidak.

Masih banyak di antara kita yang mengira bahwa pendapat para ulama pastilah merupakan ajaran agama semua. Tentu saja tidak. Sebagian besar dari apa yang mereka sampaikan jelas hanyalah hasil pemikiran mereka. Meski pun mereka telah berusaha keras untuk mendasarkannya pada Alquran dan hadist paling shahih.

Para nabi itu punya beberapa istri. Tapi ada juga yang tidak beristri. Nabi Muhammad bahkan punya lebih dari empat istri. Nabi Daud bahkan sampai didatangi oleh malaikat perkara berlebih-lebihannya dalam soal memiliki istri. Nabi Sulaiman katanya juga istrinya puluhan orang. Tapi jelas punya banyak istri itu BUKAN ajaran agama. Itu hanya kebiasaan dan adat istiadat orang-orang zaman dahulu di mana para nabi termasuk di dalamnya.
Selanjutnya…

KITA BISA KENA VIRUS DI MANA SAJA

Ya, apa pun upaya kita, kita tetap bisa terjangkit di mana aja.

Pertama, kita tidak mungkin tinggal di rumah terus. Kita harus melanjutkan kehidupan kita. Kita tidak mungkin mengurung diri terus tanpa berhubungan langsung dengan siapa pun. Meski pun saya sudah pensiun, tidak bekerja ngantor lagi, dan menolak untuk bepergian jika tidak sangat perlu tapi saya masih mungkin terpapar di jalanan, di toko, di pasar, di resto, di masjid, di mana saja saya pernah berada. Saya juga masih harus tetap bertemu dengan orang-orang lain. Dan salah satu dari mereka mungkin OTG yang bisa menularkan virus kepada saya.

Kalau pun kita mengurung diri total dengan tidak keluar rumah sama sekali, anggota keluarga kita tentu tidak bisa melakukan hal yang sama. Meski saya berusaha untuk tidak bertemu teman-teman saya, umpamanya, tapi anak-anak dan istri saya tentu tidak bisa. Mereka punya kehidupan sosial yang harus mereka jalankan. Saya bahkan tidak mampu menahan mereka untuk tidak keluyuran atau nongkrong di café bersama teman-temannya. Saya juga tidak bisa menolak teman-teman mereka datang dan bahkan tidur di kamar mereka. Salah satu dari anggota keluarga saya atau teman-temannya yang berkunjung mungkin sudah jadi OTG dan bisa menularkan virus kepada anggota keluarga yang lain. Bahkan saya bisa tertular di mobil atau di rumah saya sendiri.

Kedua, sedisiplin apa pun kita menggunakan masker, menjaga jarak dengan orang lain, menjaga kesehatan tubuh, membaca banyak petunjuk dan panduan untuk tidak tertular virus, berdoa dalam setiap salat kita, tetap tidak ada jaminan bahwa kita tidak akan tertular.

Yang bisa kita lakukan hanyalah IKHTIAR. Soal apakah kita akan tertular atau tidak suatu saat itu adalah MISTERI. Para dokter dan tenaga kesehatan yang sudah demikian disiplin dan pahamnya akan virus ini saja masih juga jadi korban. Kita bukanlah perkecualian. Tidak peduli seberapa ketatnya kita menjaga jarak, seberapa sehatnya tubuh kita, seberapa mudanya usia kita, seberapa cerdasnya kita memahami virus ini dan penyebarannya, seberapa merasa dekatnya kita berhubungan dengan Tuhan, we are still no exception. Kalau Tuhan inginkan kita tertular ya kena juga.

Jadi bagaimana dong…?! Selanjutnya…

SITI GALAUWATI BERANAK TIGA

Kadangkala kita kehilangan kekuasaan tepat di jantung kekuasaan kita. Seperti yang saya alami di rumah saya sendiri…

Semua anggota keluarga saya suka dengan binatang peliharaan, kecuali saya. Mereka suka sekali memelihara kucing. Yubi bahkan pernah membeli seekor anjing kecil jenis poodle yang sangat lucu dan dimasukkannya ke kamarnya. Tentu saja saya berang. Meski semula binatang piaraan tersebut janjinya hanya akan berada di luar rumah dalam kandang tapi tentu saja itu janji kosong seperti janjinya para politisi. Pada kenyataannya binatang piaraan tersebut akhirnya akan menjadi bagian dari keluarga yang akan mendapatkan perlakuan sebagaimana layaknya anggota keluarga yang lain. Mereka hanya tidak masuk dalam daftar Kartu Keluarga dan diikutkan BPJS saja.

Berkali-kali saya sampaikan bahwa saya tidak suka ada binatang peliharaan masuk rumah. Kalau pun TERPAKSA kami harus memelihara seekor anjing lucu atau kucing jenaka maka mereka harus tinggal di luar rumah. Di dalam pagar oke tapi tidak di dalam rumah. Belikan kandang dan bikin senyaman mungkin bagi mereka. Mereka sepakat, pada mulanya….

Tapi saya dikepung oleh persekongkolan antara istri dan anak-anak saya yang lama-lama membiarkan mereka masuk sedikit demi sedikit. Akhirnya para kucing menjengkelkan tersebut akan naik ke kasur mereka masing-masing. Sungguh anjay dan kucay mereka itu…!

Lalu kucing-kucing tersebut akan mulai masuk ke kamar saya mencoba merayu saya agar ikut menyukai mereka. No way, Jose…!
Selanjutnya…

BENARKAH MUHAMMAD ADALAH SEORANG NABI?

Ketika saya menulis “Muslim Kritis? Harus dong!” seseorang mengritik dan mengatakan bahwa ia tidak percaya bahwa Alquran itu adalah wahyu Tuhan karena katanya isinya banyak kontroversi (meski ia tidak menjelaskan apa kontroversinya dan saya tidak tertarik untuk menanyainya). Jadi saya jawab bahwa ia bukan orang pertama dan tidak sendirian. Sejak awal Nabi Muhammad mendakwahkan agama Islam sudah ditentang dan dilecehkan. Dan itu akan terus terjadi sampai akhir zaman nanti. Jadi nothing new. Orang akan terus membantah dan menolaknya. Lagipula orang yang tidak mengimani kebenaran dalam agama Islam itu jauh lebih banyak daripada yang mengimaninya. Jumlah umat Islam di dunia ini memang sudah dalam bilangan milyar. Tapi yang non-muslim kan lebih milyar jumlahnya. Lha wong yang mengaku Islam aja belum tentu mukmin lho! Jadi saya katakan padanya ‘You’re not alone’. There are so many of people like him in the world. Anda punya hak untuk tidak percaya. Itu sudah disampaikan oleh Tuhan dalam Al-Kahfi 29 (sila cek sendiri apa kata Tuhan dalam ayat ini).

Dulu saya menikmati berdebat tentang agama baik dengan sesama muslim, apalagi dengan non-muslim, di milis-milis. Saya ini ‘alumni’ milis Apakabar yang heboh dulu itu. Jika Anda sudah cukup tua mungkin Anda tahu mailing list group ini. Rasanya adrenalin saya mengalir deras kalau mendapat tantangan debat tentang agama. Pokoknya saya sok bangetlah. Saya mengoleksi berbagai buku-buku debat agama yang berbahasa Indonesia mau pun yang berbahasa Inggris. Ahmed Deedat almarhum (semoga Allah merahmatinya di alam kubur) adalah debater favorit saya. Selanjutnya…

PERLU MUKJIZAT?

Apakah Anda memerlukan mukjizat dalam hidup Anda? Jika ya, mukjizat apa yang Anda inginkan?

Sesungguhnya kehidupan kita ini dipenuhi dengan mukjizat-mukjizat yang tidak kita sadari..

Menyembuhkan orang yang sakit lepra dan kusta? Ilmu kedokteran bahkan mampu melenyapkan penyakit itu selama-lamanya. Sebentar lagi kita sudah akan bisa menemukan cara mengalahkan Covid 19. Just a matter of time.

Memiliki suara yang merdu seperti Nabi Daud? Sekarang ada ribuan penyanyi yang memiliki suara yang sungguh memukau dan bisa kita simpan lagunya di gadget kita.

Menyeberangkan ratusan orang lewat laut dengan membelahnya sehingga mereka bisa berjalan di antaranya? Sekarang ribuan orang lalu lalang melintasi lautan tanpa harus capek-capek berjalan. Laut juga tidak perlu dibelah. Lewat saja di atasnya. Zaman dulu Nabi Musa tidak punya kapal makanya ia terpaksa harus melakukan atraksinya tersebut untuk menyelamatkan umatnya.

Mengubah tongkat menjadi ular? Siapa yang terkesan sekarang? Lha wong orang lebih terkesan kalau ada mukjizat mengubah kertas koran menjadi uang.

Ada nabi atau orang yang bisa melayang atau terbang? Now everybody can fly, kata Airasia. It’s no magic anymore. Kalau ada orang yang dengan kekuatan batinnya bisa melayang beberapa centimeter dari tanah maka itu sekarang hanya akan dianggap semacam atraksi saja.

Hal tersebut TIDAK MEMECAHKAN MASALAH APA PUN. Selanjutnya…

HALU LEVEL TUJUH


Kadang ada orang yang bersikap aneh bin ajaib. Orang-orang ini menyuruh sesuatu agar dilakukan tapi dia sendiri tidak melakukannya.

“Ngopilah setiap hari…! Barangsiapa tidak ngopi maka hidupnya akan susah !”

“Kami ngopi kok setiap hari.”

“Kopi kalian ini tidak murni. Itu tidak dianggap ngopi.”

“Lha apakah kalian ngopi yang murni?”

“Tidak. Kami masih mencari kopi luak murni asli gurun.”

“Busyet dah…!” 🙄 Selanjutnya…