Rabu, 24 April 2019
Just another WordPress site
  • Chateu
  • Bareng Pak Anies Baswedan
  • Sabang
  • India
  • NUS, Singapore
  • Merapi, Jogja, Indonesia
  • Kamboja
  • Nusa Dua, Bali, Indonesia
  • Thailand
  • Turki
  • Singapura
  • Puncak, Jawa Barat, Indonesia
  • Korea Selatan
  • Wisuda si Bungsu
ULIL AMRI

Siapakah yang Disebut dengan Ulil Amri?

Para ulama sepakat bahwa hukum taat kepada ulil amri adalah wajib. Umat Islam (apalagi yang selama ini mengaku bertakwa dan merasa lebih soleh daripada yang lain) tidak diperbolehkan memberontak pada ulil amri meskipun dalam kepemerintahannya sering berlaku zalim. Prinsip ini menjadi pegangan yang lahir dari salah satu pokok aqidah ahlus sunnah wal jamaah.

Allah ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An Nisa’: 59)

Ibnu Abi ‘Izz dalam Syarah Aqidah Thahawiyah, berkata, “Hukum mentaati ulil amri adalah wajib walaupun mereka berbuat dzalim. karena kalau keluar dari ketaatan kepada mereka akan menimbulkan kerusakan yang berlipat ganda dibanding dengan kezaliman penguasa itu sendiri.” (Syarh Aqidah Ath Thahawiyah, hal. 381)

Ibnu Katsir, setelah mengutip beberapa pandangan ulama tentang ulil amri, beliau menyimpulkan bahwa ulil amri itu adalah penguasa dan ulama. Lalu beliau mengatakan, “Ayat ini merupakan perintah untuk menaati para ulama dan penguasa.”
Selanjutnya…

JURNAL PHD MAMA


Hari ini adalah Hari Kartini dan saya sungguh beruntung mendapat dua buah buku yang luar biasa dari para Kartini masa kini. Judulnya “Jurnal PhD Mama”. Buku ini bercerita tentang perjuangan para ibu yang berhasil menyelesaikan gelar PhD-nya di luar negeri dengan segala kesulitan, hambatan, dan tantangannya. Ada lebih dari dua puluh ibu yang menulis di buku ini dan beberapa suami ikut bercerita. Dua buku ini saya peroleh dari dua orang PhD Mama yang menjadi teman baik saya, yaitu Ika Asmorowati Lugin, dosen Unair, dan Pratiwi Retnaningdyah, Kajur Bahasa Inggris UNESA. Sungguh senang dan bangga punya teman yang luar biasa seperti mereka. 🙏😊

Begitu membaca buku ini saya langsung ikut larut dalam kisah mereka. I was so absorbed. Mereka adalah sosok-sosok luar biasa dengan perjuangan yang luar biasa untuk menggapai cita-cita dan mimpi mereka untuk menjadi PhD. Saya sungguh tercengang dan kagum membaca keteguhan hati dan kegigihan mereka dalam upaya mencapai gelar akademik tertinggi di luar negeri tersebut. Ingin rasanya saya memberi setiap dari mereka plakat penghargaan dan medali atas keberhasilan mereka melewati semua kesulitan dan penderitaan dalam upaya mereka mencapai gelar akademik tertinggi tersebut. Bukan hanya karena beratnya untuk mencapai gelar tersebut tetapi bisa mencapai gelar tersebut sambil tetap mengasuh anak, ngopeni bapaknya, hamil, melahirkan, punya tambahan anak kembar selain tiga anak sebelumnya (Ika Lugin), operasi kanker yang menyakitkan dan menguras stamina (Tiwik), cari tambahan penghasilan untuk menutupi biaya studi, dan berbagai kesulitan adalah luar biasa bagi saya. Saya sungguh merasa kecil di hadapan para PhD Mama ini. They are all giants in their struggle. 🙏
Selanjutnya…

BANGUNLAH JENDRAL…!

Bangunlah Jendral…!

Tahun 2014 saya memilih Anda dan kalah. Tapi saya tidak menyesal. Saya bahkan bersyukur bahwa ternyata pilihan saya salah dan kita kalah. Ternyata Jokowi memang pemimpin yang luar biasa. Bertahun-tahun saya mengamati presiden yang luar biasa sederhana namun bernyali besar ini. Kekaguman saya semakin hari semakin bertambah. Jadi kini saya memilih Jokowi. Kalau saya memilih Anda lagi tahun ini maka saya akan menyesal dan malu sekaligus, Jendral. Bagaimana tidak…?! Apa yang Anda lakukan saat ini benar-benar memalukan menurut saya. 🙁

Tahun 2014 yang lalu Anda masih bisa menerima fakta yang menyakitkan bahwa Anda kalah dalam pemilihan meski sempat dipermalukan dengan hasil survey abal-abal dari kelompok internal Anda. Anda sampai sujud syukur karena percaya pada survey internal dari kubu Anda sendiri dan tidak percaya pada lembaga survey independen yang menyatakan sebaliknya. Ketidakpercayaan Anda pada semua lembaga survey independen yang ada pada saat itu sebetulnya menunjukkan bahwa Anda punya masalah dengan kemampuan mempercayai orang lain. Sedikitnya Anda memiliki halusinasi bahwa Anda selalu dimusuhi dan bakal dibohongi dan dikhianati oleh lingkungan sekitar. Jadi Anda hanya akan percaya pada lingkaran terdekat yang benar-benar Anda yakini tidak akan mengkhianati Anda. Anda akan menjalankan tangan besi untuk menegakkan kesetiaan orang-orang terdekat tentu saja. Jadi tidak heran kalau Anda meninju meja di depan para ulama 212 yang coba-coba mempertanyakan keislaman Anda. Tapi resikonya akhirnya lingkatan terdekat Anda akan bersikap ABS dan tidak akan berani menyampaikan kebenaran yang mungkin akan menyakitkan hati pimpinannya, sang mantan Danjen Kopassus yang tersohor itu. Akhirnya boleh dikata orang seperti Anda ini akan dikagumi, disegani, sekaligus ditakuti, tapi tidak akan pernah dicintai dengan tulus. People may admire you but they will never love you truly. 😢
Selanjutnya…

DOA ULAMA VS DOA BENCES

Cak Nanang Ahmad Rizali dalam postingnya di FB kemarin memperbandingkan mana doa yang lebih diterima oleh Tuhan, apakah doa para ulama yang komat kamit atau doa para bences? Saya pegang bences. Maksud saya, saya yakin doanya para bences lebih manjur. Lho kok bisa…?! Nah, ini…!

Kalau Anda hanya mengandalkan penglihatan ragawi semata maka memang agak sulit memahami mengapa doa para bences lebih mangkus dan sangkil ketimbang ulama, apalagi ulama abal-abal yang sekarang ini banyak bertebaran di dunia permedsosan. Penglihatan lahir itu banyak menipu. Itulah pentingnya penglihatan bathin. Anda butuh menengok ke dalam untuk memahami hal ini. Lengkapnya adalah “Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih. Suci lahir dan di dalam batin. Tengoklah ke dalam sebelum bicara. Singkirkan debu yang masih melekat.. Uhuhuhu… Adalah Dia di atas segalanya..” Wis… ojok diterusno nyanyine…

Mari saya jelaskan mengapa doa bences bisa jauh lebih maqbul ketimbang doa ulama top sekali pun. Untuk memahami penjelasan saya Anda tidak perlu telanjang. Tolong pakai lagi baju Anda. Baca saja penjelasan saya pelan-pelan. Selanjutnya…

ULAMA KOK JADI UMARO’…?! (Part 2)

Apakah umat Islam Indonesia yang soleh-soleh itu tidak ingin punya pemimpin alias imam negara yang benar-benar alim dan menjalankan syariat agama dengan sungguh-sungguh? Tentu saja mereka ingin. Mosok wong soleh golek pemimpin sing gak soleh. Kan yo ra mungkin toh… Emoji

Tapi bagaimana ceritanya kok para ulama 212 malah mendukung Prabowo sebagai calon presiden Indonesia? Bukankah Prabowo itu, menurut mereka sendiri, bukanlah umat Islam yang taat? Mengapa partai Islam macam PKS yang katanya mau menegakkan syariat Islam di Indonesia juga ikut mendukung Prabowo. Bukankah mereka sendiri mengatakan bahwa Prabowo itu bukan muslim yang taat dan seorang muslim abangan?

Itu memang ada ceritanya…

Mau saya ceritain nggak…?! Cepek dulu dong…!

Jadi ceritanya begini…

Dulu itu kubu oposisi yang akhirnya menjadi Kubu 02 sebenarnya ingin mengajukan beberapa nama ulama untuk menjadi umaro’. Calon terkuat mereka adalah Habib Riziq Shihab yang mereka anggap sebagai Imam Besar mereka. Tapi HRS menolak (dan bahkan merat ke Arab Saudi gak kembali-kembali sampai sekarang). Akhirnya HRS mengusulkan Prabowo. Kenapa HRS malah menyorongkan nama Prabowo yang bukan ulama itu? Itu masuk dalam status wallahu a’lam bis showab. Semua di Kubu 02 sepakat tapi tetap berusaha untuk mencari ulama untuk mendampinginya sebagai Cawapres. Jadi sebetulnya sama dengan Kubu 01. Dua kubu tersebut berupaya untuk mendudukkan seorang ulama sebagai cawapres masing-masing. Tujuannya ya jelas untuk menarik hati umat Islam yang soleh-soleh itu tadi. Jelas semua kubu itu berupaya keras untuk menarik hati para muslimin wal muslimat, mukminin wal mukminat. Bukankah umat Islam Indonesia semakin hari semakin soleh dan antrian umrohnya masya Allah panjangnya. Kalau perlu kita berumroh dengan duit utangan. Mosok umat Islam segitu banyaknya gak bisa cari calon pemimpin yang ulama. Kan ya aneh…
Selanjutnya…

ULAMA KOK JADI UMARO’…?!

Ulama kok mau jadi umaro’ alias khalifah…?! Kalau ulama ya tolong jadi ulama saja dan tidak usah menjadi khalifah segala. Ulama yang dekat dengan penguasa itu, apalagi masuk ke pintu istana, bisa jadi ulama yang buruk alias ulama su’. Lha wong dekat saja sudah bisa disebut ulama su’ mosok sekarang ini ada ulama, bahkan Ketua MUI, yang malah mau jadi Wakil Presiden. Berhati-hatilah…!

Sik talah, rek…! Ojok sangar-sangar opo’o….

Sekarang saya mau tanya. Apakah menurut kalian Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib itu bukan ulama? Apakah kalian punya ulama yang lebih ulama ketimbang mereka berempat? Coba sebutkan SATU SAJA ulama kalian yang paling kalian bangga-banggakan sejak dulu sampai sekarang yang kira-kira lebih ulama ketimbang mereka berempat.

Insya Allah gak akan ada ulamanya ulama, ustadsnya ustads, habaibnya habaib yang berani bilang bahwa diri mereka lebih ulama daripada ke empat sahabat Nabi yang luar biasa tersebut.
Selanjutnya…

BISA APA KYAI MA’RUF ITU…?!

Saya ketamuan seorang emak-emak keluarganya ipar saya pagi ini. Ngomong ngalor ngidul, eh! belok juga ke pilpres. Asem kecut…! Dia bilang bahwa kalau Jokowi menang Kyai Ma’ruf gak bakalan jadi wapres tapi bakal disingkirkan dan dijadikan sebagai Mentri Agama. Dan dia cerita dengan sangat yakin. Astagfirullah hal adzim…! Kalau pemahamannya sengaco begini saya nyerah saja. Ipar saya sendiri sampai malu pada saya tapi juga tidak berkutik lha wong itu tamunya. Saya cepat-cepat cari alasan untuk ngacir dan saya serahkan dia ke ipar saya untuk diladeni dan dilayani sebaik mungkin.

Kalau biasanya sih isu serangan ke Kyai Ma’ruf itu adalah soal usianya. Katanya usianya sudah terlalu tua dan tidak akan bisa bekerja dengan maksimal nantinya. Apakah mereka ini lupa bahwa usia Jusuf Kalla itu sama persis dengan Kyai Ma’ruf, sama-sama 76 tahun? Apakah mereka lupa bahwa Mahathir Muhammad itu jauh lebih tua ketimbang Kyai Ma’ruf dan masih begitu trengginas dan bersemangat (usianya 93 tahun)? Soal kesehatan fisik belum tentu Prabowo lebih fit ketimbang Kyai Ma’ruf. Yang jelas Kyai Ma’ruf punya istri yang masih muda, jauh lebih muda ketimbang istri saya apalagi kalau dibandingkan dengan Titik Soeharto, mantan bojone Prabowo.

Serangan lain ke Kyai Ma’ruf biasanya adalah soal perannya. Katanya nanti beliau tidak akan berperan. Sama seperti Jusuf Kalla yang tidak berperan. Astagfirullah hal adzim. Jangan sampai hal ini didengar oleh JK karena beliau pasti akan marah dibilang tidak punya peran sebagai wapres. Kegiatan JK sebagai wapres itu sangat padat. Jangankan wapres, lha wong jadi staf ahli Kemendikbud aja sibuknya bukan main Mas Nanang dulu itu. Kesana kemari memberi sambutan dan dapat honor.

Selanjutnya…

SERAHKAN KEPEMIMPINAN PADA SAYA


Saya ketemu dengan beberapa teman kemarin dan kami ngobrol asyik berbagai topik. Meski demikian topik pilpres yang paling hangat. Maklumlah karena informasi tentang ini semakin intens ditemui di berbagai komunitas dan media. Kami akhirnya tiba pada ajaran bijak soal pentingnya memilih pemimpin yang tidak ambisius dan ngotot untuk mendapatkannya. Ada yang mengutip hadist Nabi SAW yang menyebut, “Kami tidak menyerahkan kepemimpinan ini kepada orang yang memintanya dan tidak pula kepada orang yang berambisi untuk mendapatkannya (HR Bukhari dan Muslim).

“ Kalau begitu sebaiknya kepemimpinan tidak diserahkan kepada Prabowo,” demikian kata seorang teman. “ Dia itu yang paling berambisi untuk memimpin padahal rakyat sudah dua kali menolaknya. Sekarang dia berambisi untuk menjadi pemimpin yang ketiga kalinya” Sambungnya. Jelas sekali bahwa dia dari Kubu 01.

“ Yah, siapa tahu kali ini rakyat bersedia menerimanya karena ingin perubahan.” Kata teman yang lain. “ Bukankah kita harus pantang menyerah dan tetap gigih mengejar cita-cita kita. Justru kita harus meniru kegigihan Prabowo.” Jelas dia Kubu 02.

“ Lha kita kan bicara dalam kapasitas sebagai pemberi amanat kepemimpinan. Hadist itu untuk kita dan bukan untuk Prabowo. Prabowo mah mana peduli sama hadist. Lagipula kan kita bicara soal ambisi dalam mendapatkan jabatan dan kekuasaan dan bukan cita-cita.”
Selanjutnya…

SEMARAKKAH KAMPANYE 01 DI GBK NANTI?

Saya dengar katanya Kubu 01 akan mengadakan Kampanye Akbar juga pada hari Sabtu tanggal 13 April nanti. Jadi Prabowo-Sandi pada tanggal 7 April dan Jokowi-Ma’ruf tanggal 13. Hanya beda seminggu. Pertanyaannya adalah akankah Kampanye Akbar Kubu 01 ini bisa benar-benar menggelegar atau minimal mendekati jumlah peserta kampanye Kubu 02 kemarin? Banyak yang ragu dan bahkan mendoakan agar kampanye 01 ini tidak seheboh dan sebanyak Kubu 02. Begini doanya : “Ya, Allah! Kalau bisa jangan lebih dari separoh peserta kampanye 02. Seperempat saja, ya Allah. Kumohon dengan sungguh-sungguh padaMu, ya Allah!” demikian doanya. Malah ada yang doanya lebih sadis, “Hinakanlah mereka ya, Allah. Halangi para pendukung mereka sehingga tidak bisa datang. Turunkan hujan lebat mulai pagi sampai sore. Kalau bisa sekalian badai atau apa kek… Yang penting agar peserta kampanye mereka jauh di bawah jumlah peserta kampanye kami, ya Allah!” Siapa yang berdoa demikian? Ya, tentu saja dari Kubu 02, Bro! Emang gak boleh berdoa demikian? Ente kan juga berdoa yang sama pada kubu lawan ente. Gak usah sok bersihlah, Bro. 😂
Selanjutnya…

SEMARAK KAMPANYE PRABOWO – SANDI DI GBK

Saya ikut gembira melihat semaraknya kampanye Prabowo – Sandi di GBK hari ini. Benar-benar membludak. Luar biasa memang pendukung 02 ini. Militansinya jangan diragukan deh! 👍😊

Ketua Panitia Kampanye Akbar Prabowo-Sandiaga, M Taufik sebelumnya mengatakan bahwa kampanye ini diperkirakan menjadi kampanye terbesar di pemilihan presiden 2019 (seorang teman bahkan menulis di statusnya bahwa kampanye ini adalah kampanye terbesar di dunia. Namanya juga pendukung fanatik. 😀). Taufik berharap akan hadir sekitar satu juta pendukung. Tapi saya ragu apakah GBK bisa muat satu juta orang lha wong kalau lihat datanya GBK hanya muat untuk 77.193 penonton (anggap saja bisa sampai 100 ribu penonton). Rungrado May Stadium, stadion terbesar di dunia yang berada di Pyongyang, Korea Utara saja hanya mampu menampung 150.000 penonton. Tapi itu kan hanya di tribun. Lha kalau lapangannya ikut dihitung kira-kira berapa jumlah yang bisa masuk? Mari kita bikin maksimal tiga kali lipat penonton di semua tribun (which is a little bit impossible). Itu pun angkanya hanya akan berada di 400 ribu orang saja. 😊
Selanjutnya…