Senin, 02 Juni 2020
Just another WordPress site
  • Chateu
  • Bareng Pak Anies Baswedan
  • Sabang
  • India
  • NUS, Singapore
  • Merapi, Jogja, Indonesia
  • Kamboja
  • Nusa Dua, Bali, Indonesia
  • Thailand
  • Turki
  • Singapura
  • Puncak, Jawa Barat, Indonesia
  • Korea Selatan
  • Wisuda si Bungsu
NEW NORMAL UNTUK PENSIUNAN…?!

Bagi pensiunan seperti saya diminta untuk menerima situasi ‘new normal’ saat ini sama artinya dengan diminta untuk pensiun untuk yang kedua kalinya. Dulu bekerja from 9 to 5 lalu disuruh berhenti bekerja agar bisa menikmati waktu sepenuhnya untuk diri sendiri. Okelah…! Bagi pensiunan everyday is a holiday dan saya harus bikin sendiri jadwal rutin agar tak merasa useless dan kehilangan semangat hidup. Jadi saya bikin kegiatan ‘new normal’ supaya hidup terasa normal kembali.

Jam 3 pagi saya sudah mulai kegiatan ritual saya bersyukur pada Tuhan. Kalau ada waktu saya juga buka HP yang sejak semalam tidak saya sentuh. Begitu adzan Subuh terdengar saya bangunkan anak-anak untuk salat Subuh berjamaah. Sejak adanya Covid 19 ini kami selalu salat berjamaah di rumah tepat waktu. Ini termasuk ‘new normal’ karena biasanya saya ke masjid dan anak-anak salat sendiri. Bagi saya ini luar biasa. Bisa salat berjamaah lima kali sehari tepat waktu bersama anak dan istri selama lebih dari dua bulan adalah prestasi yang luar biasa bagi kami. Kami juga salat tarawih dan Iedul Fitri di rumah. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya jadi Imam dan Khatib salat Iedul Fitri meski jamaah saya hanya sekitar sepuluh orang.

Selesai salat Subuh saya baca Alquran dan untuk ‘new normal’ ini saya tambahi dengan baca tafsirnya Al-Misbah. Dulu sudah pernah saya baca tapi tidak pernah selesai. Lha wong ada 12 volume. Sekarang saya hanya tambahi waktu dan intensitasnya saja. Jam 7:30 waktunya olahraga pagi bersama istri jalan kaki keliling kompleks. Biasanya sih cukup setengah jam kecuali kalau kami gunakan jalur ke pasar. Kalau jalurnya ke pasar kami biasanya sekalian belanja. Tapi belakangan ini ada info beberapa penjual kena Covid 19 dan diisolasi. Jadi untuk sementara waktu kami tidak olahraga ke arah pasar dulu. Ngeri juga kalau ketemu penjual yang tertular tapi tidak ketahuan. Pulang olahraga saya leyeh-leyeh sebentar baca koran Jawa Pos dan Surya. Istri langsung masuk dapur untuk mempersiapkan sarapan. Setelah selesai mandi biasanya sarapan telah tersedia dan saya turun untuk sarapan.
Selanjutnya…

HATI-HATI ULAMA PALSU

Umat Islam Indonesia harus benar-benar berhati-hati karena sekarang ini semakin banyak bermunculan ulama-ulama dan ustadz-ustadz palsu. Ulama-ulama dan ustadz-ustadz palsu ini bukannya membuat umat menjadi semakin damai, cerdas, patuh pada aturan, ikhlas menerima cobaan, ramah, dan menjadi rahmatan lil alamin tapi sebaliknya justru mengajak umat Islam untuk menjadi pemberontak, garang, intoleran, membenci, mengumbar kemarahan, dan memusuhi pemerintah dan orang-orang yang tidak seide dengannya.

Berhati-hatilah dengan ulama semacam ini….

Yang namanya ulama dan ustadz itu semestinya mendasarkan semua sikap dan tindakannya pada ajaran agama dan bukan pada nafsunya. Sedangkan ajaran agama Islam soal bagaimana seharusnya umat Islam bersikap pada pimpinannya SANGAT JELAS dan tertera dalam Alquran dan hadist.

“Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya) dan ulil amri di antara kalian.” [An-Nisaa: 59]

“Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah meskipun kaliau dipimpin oleh hamba sahaya dari habasyi, dengar dan taatilah dia selama memimpin kalian dengan kitabullah.” (HR. Tirmidzi, no. 1706, Nasa’i, 7/154, Ibnu Majah, no. 2328, Ahmad, 6/402 dan Al-Hakim, 4/206, ia berkata hadis shahih dan dishahihkan juga oleh Al-Albani)

“Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku (dalam ilmu, pen) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal, pen). Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia.”

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?”
Selanjutnya…

DUNIA PENDIDIKAN KITA DI TENGAH PANDEMI COVID-19

Jelas sekali bahwa kita tidak tahu kapan pandemi Covid 19 ini akan berlalu. Jangankan kita, bahkan seluruh dunia juga tidak tahu kapan pandemi ini akan berlalu. Meski seluruh ahli medis dan pakar terbaik di seluruh dunia telah mengerahkan segala kemampuannya untuk mencari cara untuk menghentikan pandemi ini toh mereka pada akhirnya tidak mampu memberikan kepastian kapan mereka bisa menghentikan. Semula memang ada beberapa peramalan tentang kapan dan bagaimana virus ini bisa dihentikan tapi ternyata perkiraan para ahli tersebut buyar semua karena ternyata virus ini tidak bisa diperkirakan mutasinya. Wuhan yang semula sudah merayakan kemenangannya melawan virus ini ternyata sekarang kembali cemas karena virus ini kembali muncul dan ada warganya yang kembali positif. Dunia menyebutnya sebagai serangan Covid 19 Gelombang Kedua. Tapi siapa yang bisa menduga apakah tidak akan ada gelombang serangan ketiga atau keempat setelahnya?

Kita juga tidak bisa menunggu sampai obat atau vaksin virus ini ditemukan. Tak ada kepastian kapan obat atau vaksinnya bisa ditemukan. Paling cepat vaksinnya baru akan ditemukan 1 atau 1 ½ tahun yang akan datang. WHO menyatakan tidak akan pernah ada vaksin sebelum akhir 2021. Bahkan Dr. David Nabarro seorang profesor dari Global Health di Imperial College London dan sekarang sebagai Special Envoy (PBB-red) pada WHO untuk Covid-19, mengatakan bahwa kemungkinan besar tidak akan pernah ada vaksin yang efektif untuk Corona. Selanjutnya…

MAAF, KAMI TIDAK MENGANJURKAN KALIAN UNTUK MEMBACA…

Pernahkah Anda mendengar ceramah seorang ustad atau ulama kemudian ustad atau ulama tersebut meminta kita untuk membaca penjelasannya lebih lanjut di buku tertentu…?! “Baca tentang ini di buku ini dan buku ini.”

Insya Allah tidak ada karena ustad dan ulama kita lebih suka kalau jamaahnya hanya mendapatkan ilmu dari apa yang disampaikannya secara lisan.

Ini memang kenyataan pahit bahwa para ulama dan guru agama Islam tidak bersuara dan tidak pernah mendorong umat Islam utk membaca dan membaca…

Indonesia adalah negara dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia. Tahukah Anda berapa persen jumlah penduduknya yg gemar membaca? Ah, tidak usahlah kita besar-besarkan. Jelas sekali bahwa negara kita hanya punya sedikit penduduk yg suka membaca.

Mengapa demikian…?! Bukankah katanya bangsa Indonesia itu mayoritas umat Islam? Sedangkan perintah membaca adalah Perintah Pertama dan Utama dalam kitab sucinya? Apa yang salah pada umat Islam Indonesia? Atau mungkin saya yg salah mengerti dan sebenarnya perintah membaca itu sebenarnya hanya bersifat anjuran yg selemah-lemahnya anjuran? Selanjutnya…

KALAU ANE MAU BEGINI ENTE MAU APA…?!
KALAU ANE MAU BEGINI ENTE MAU APA…?! Ilustrasi

KALAU ANE MAU BEGINI ENTE MAU APA…?! Ilustrasi

Sampai hari ini (Sabtu, 16 Mei 2020) jumlah kematian karena Covid 19 di dunia adalah 308. 109 orang dari 4.618.489 kasus positif. Peringkat tertinggi masih dipegang oleh Amerika Serikat dengan jumlah kasus 1.482.863 dan jumlah kematian sebesar 88.471 orang. China sendiri sudah turun ke peringkat ke 13 dengan jumlah kasus 82.933 dan jumlah kematian 4.633 orang. Indonesia ada di peringkat ke 34 dengan jumlah kasus 16.496 dan kematian sejumlah 1.076 orang. Not badlah…! Tapi kalau mau cari salahnya Jokowi, Dr. Terawan, Luhut, dan Syahrini ya insya Allah tinggal petik saja.

Tahukah Anda bahwa, meski pun Covid 19 ini mengamuk di seluruh dunia, ternyata ada beberapa negara yang ‘blahi slamet’ sampai hari ini belum ada satu pun warganya yang jadi korban? Bukan hanya Vietnam, seperti yang diulas terus menerus, tapi juga beberapa negara lain seperti : Rwanda, Nepal, Madagascar, Uganda, Kamboja, Mozambique, Mongolia, Macao, Timor Leste, Laos, Bhutan, Papua New Guinea, dan negara-negara kecil yang mungkin sangat jarang kita dengar namanya seperti Seychelles, Greenland, Lesotho, dll. Jadi seperti juga Vietnam, di negara-negara tersebut juga ada beberapa kasus warganya yang terinfeksi Covid 19 tapi tidak sampai meninggal. Lesotho itu hanya ada 1 kasus dan tidak sampai meninggal. Iseng-iseng saya cari informasi tentang Lesotho dan ternyata populasinya hanya 2.140.050 juta. Kira-kira jumlah penduduknya sama dengan Jember atau Sidoarjo. Selanjutnya…

TUHAN AJA GAK MAKSA, BRO…!

Beberapa waktu yang lalu saya terlibat dalam diskusi dengan seorang teman yang ustad di FB. Saya sampaikan bahwa hendaklah ia bisa menerima kenyataan bahwa Prabowo kalah dan Jokowi yang bakal menang dalam pilpres ini. Saya sampaikan bahwa itu semua adalah kehendak Tuhan. Sama dengan kalahnya Ahok oleh Anies Baswedan. Sebagai muslim kita hendaknya melihat ini sebagai sebuah ketentuan Tuhan. Kita telah berusaha tapi pada akhirnya ketentuan Tuhan jugalah yang akan berlaku. Kalau Tuhan mau memenangkan Prabowo maka securang apa pun orang terhadapnya maka Prabowo akan tetap menang. Apa pun rekayasa dan tipu daya yang dilakukan orang padanya maka rekayasa Allah jauh lebih hebat. Allah adalah pembuat rekayasa terbaik. ‘Wallahu khairul maakiriin’(Surat Ali Imran (3: 54). Begitu juga dengan Jokowi. Sehebat apa pun fitnah dan goyangan yang ditujukan kepadanya tapi jika Tuhan ingin memenangkannya maka Jokowi akan menang juga. Itu adalah ketentuan Tuhan yang terserah Anda mau menerimanya atau tidak. Selanjutnya…

MENCINTAI YANG KAFIR SEPERTI NABI

Apakah benar bahwa Nabi Muhammad mencintai orang kafir? Tentu saja. Oleh sebab itu kita juga harus mencontoh Nabi dalam hal mencintai orang kafir ini. 😊

Tapi mari kita ngobrol-ngobrol dulu… 🙏

Dulu waktu saya masih kuliah (tahun 1980-an) saya sambi mengajar di bimbingan belajar. Ada seorang teman mahasiswa ITS sesama tentor yang anak orang kaya. Dia bercerita bahwa dia semalaman tidak bisa tidur karena AC kamarnya mati. Saya yang masih anggota Kaypang waktu itu tentu saja takjub. Gila nih temen…! Kamarnya pakai AC. Waktu itu hanya kamar hotel berbintang yang pakai AC. Yang membuat saya heran adalah lha wong AC mati aja kok gak bisa tidur. Lha saya yang tidur di kamar berdesakan dengan adik saya tanpa kipas angin pun bisa mak bleg sek. Apakah dia hanya nggedabrus dengan ceritanya gak bisa tidur tersebut? Apa dia mau nyombong kalau dia anak orang kaya dan kamarnya pakai AC?

Ya begitulah orang kalau menilai sesuatu hanya berdasarkan pengalamannya sendiri. Dipikirnya pengalaman dan perasaannya sendiri itu universal dan yang berbeda dengannya adalah salah. Sekarang saya ketularan tidak bisa tidur kalau mati lampu dan AC tidak menyala. Tibakno koyo ngene rasane urip tanpo AC. 🙄

Intinya, hidup saya sekarang sangat bergantung pada AC, yang dulunya saya cemoohkan sebagai kemewahan seorang borjuis. 😀

Tapi bukan hanya pada AC ketergantungan saya saat ini. Tanpa mobil, komputer, handphone, internet, kulkas, dll maka hidup saya akan jelas sengsara. Coba saja jika tiba-tiba HP Anda mati pet dan Anda tidak bisa melakukan apa-apa yang selama ini Anda lakukan dengan HP tersebut. Dunia akan langsung sumpek dan kita akan ngowoh merana berhari-hari sampai HP tersebut hidup lagi. Selanjutnya…

MENGRITIK PEMERINTAH? YA PERLULAH, BRO!

Apakah pemerintah perlu dikritik? Tentu saja. Saya SELALU melakukannya sejak 40 tahun yang lalu. Saya melakukan kritik dengan berbagai cara.

Ketika pemerintah (Depdikbud) bertindak sewenang-wenang dengan memaksa para guru harus masuk Golkar pada tahun 80-an, saya menentang. Akibatnya saya tidak boleh mengajar dan akhirnya keluar dari PNS. Sila baca kisah saya pada tautan yang saya sertakan di bawah.

Pada tahun 2003 saya tinggal di Balikpapan dan melihat bahwa pendidikan Indonesia memerlukan adanya ‘Education and School Council’ (Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah). Waktu itu dunia pendidikan kita belum mengenalnya dan saya juga tahu karena membaca tentang pendidikan di negara lain. Jadi saya menulis tentang hal ini berkali-kali di media massa Kaltim Post. Pembentukan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah secara legal oleh Depdiknas akhirnya dilakukan di seluruh Indonesia. Semua kota dan kabupaten harus membentuk Dewan Pendidikannya masing-masing dengan mengadopsi Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Karena saya sudah bicara lebih dahulu tentang hal ini di Balikpapan maka Pemkot Balikpapan dengan mudahnya menunjuk saya sebagai Ketua Dewan Pendidikan Kota Balikpapan periode 2003 – 2006. Saya sempat menulis tentang DPK dan KS ini di Kompas. Tapi saya tidak menyimpan dokumennya. Kritik keras saya bahkan ditanggapi oleh Mas Indra Djati Sidi yang waktu itu menjabat sebagai Dirjen di Depdiknas dan kami belum pernah ketemu.
Selanjutnya…

TANYA JAWAB SOAL TKA DAN TKI


TANYA : Apakah benar ada SERBUAN TKA CHINA ke Indonesia?

JAWAB : TIDAK ADA serbuan tenaga kerja China di Indonesia. Malah sebaliknya Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang menyerbu ke China dan negara-negara lain. Tahukah Anda berapa banyak TKI kita yang bekerja di LN?

Data Bank Dunia mencatat terdapat SEMBILAN JUTA pekerja migran atau tenaga kerja asal Indonesia (TKI) yang tersebar di berbagai negara. Meski begitu, seperti diungkapkan Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Bidang Ekonomi, Industri dan Bisnis, Rizal Calvary Marimbo, negara-negara penerima TKI tersebut nyatanya tidak ribut.

“Ada sembilan juta, mungkin sekarang sudah hampir 10 juta TKI atau pekerja migran tersebar di berbagai negara. Tapi negara itu tidak gaduh,” ujar Rizal Calvary Marimbo di Jakarta, Rabu (2/5/2018).

Dari 9 juta TKI itu, menurut Rizal lagi, sebanyak 55 persen bekerja di Malaysia. Lalu, sekitar 13 persen ke Arab Saudi, 10 persen ke Cina Taipei, 6 persen ke Hong Kong, 5 persen ke Singapura, dan sisanya tersebar di negara-negara lainnya.

Di sisi lain, Rizal mengatakan, jumlah Tenaga Kerja Asing (TKA) di Indonesia hanya sekitar 126 ribu pekerja, yang didominasi oleh pekerja asal Cina, Jepang, Amerika Serikat dan Singapura.

“Jumlah ini rasionya HANYA SEKITAR 1,4 % dari sembilan juta TKI di luar negeri. Tidak ada apa-apanya dengan jumlah TKI yang dikirim ke luar negeri,” ucap dia.

suara.com
Selanjutnya…

IGI SANG PENDOBRAK

Kalau Anda guru atau orang yang bergerak di bidang pendidikan, dan mau benar-benar memperhatikan, maka Anda pasti akan melihat beberapa perubahan fenomenal yang dilakukan oleh IGI di dunia pendidikan. Jelas sekali bahwa IGI telah berhasil menjadikan dirinya sebagai sebuah organisasi guru yang mandiri, independen, percaya diri, dalam upayanya untuk memajukan profesi dan meningkatkan kompetensi para guru. IGI adalah organisasi guru yang benar-benar mampu mendorong anggotanya untuk memanfaatkan teknologi informasi dalam meningkatkan kapasitas pembelajaran mereka. Di saat pandemi di mana tiba-tiba para guru harus memanfaatkan teknologi informasi dan meninggalkan cara lama dengan tatap muka maka jelas para guru IGI telah melesat di depan meninggalkan koleganya yang tidak mau berubah sebelumnya. Hampir di semua propinsi IGI melakukan pelatihan dan webinar dengan berbagai topik yang keren. Sungguh kita tidak kalah dengan guru-guru di negara maju yang sebagian besar juga masih kolot. Dulu saya pikir topik-topik semacam itu hanya bisa dilakukan oleh para professor doktor dan pakar pendidikan. Tapi kini jelas mereka sudah jauh tertinggal oleh para guru IGI. Para professor doktor seusia saya masih saja enggan untuk berubah ke pembelajaran daring dan mengira bahwa pembelajaran tatap muka tradisional akan langgeng seumur hidup mereka. Begitu pandemi terjadi maka kelimpunganlah mereka. Lha wong banyak professor doktor yang bahkan menggunakan teknologi WA saja masih kelagepan. 😀
Selanjutnya…