Jumat, 10 Juli 2020
Just another WordPress site
  • Chateu
  • Bareng Pak Anies Baswedan
  • Sabang
  • India
  • NUS, Singapore
  • Merapi, Jogja, Indonesia
  • Kamboja
  • Nusa Dua, Bali, Indonesia
  • Thailand
  • Turki
  • Singapura
  • Puncak, Jawa Barat, Indonesia
  • Korea Selatan
  • Wisuda si Bungsu
SEBURUK BURUK MANUSIA

Saya punya teman ngobrol yang kalau berkomentar kadang nyleneh tapi ada benarnya.. Sebagai contoh ketika kami ngobrol ngalor ngidul dan percakapan nglantur ke topik orang keturunan China yang menguasai perekonomian Indonesia dia tiba-tiba nyletuk, “Lha itu kan karena Wong Jowo serakah…!”.

Tentu saja kami semua terhenyak dan ndlahom… 🙄

“Coba pikir toh…!” katanya. “Sebenarnya di Indonesia itu hampir semuanya dikuasai oleh orang Jawa…

Parlemen dikuasai oleh orang Jawa…

Politik dikuasai oleh orang Jawa…

Militer dikuasai oleh orang Jawa…

Kepolisian dikuasai oleh orang Jawa…

Kejaksaan dikuasai oleh orang Jawa…

Para hakim mayoritas orang Jawa…

Para dokter, notaris, guru, PNS, honorer, PNS, petani, tukang bakso…hampir semua orang Jawa.

Hanya tukang cukur yang agak banyak orang Maduranya.” 😏

Tentu saja kami ngakak mendengar kalimat terakhirnya. Soalnya di daerah kami mayoritas tukang cukur memang orang Madura. 😂

“Lha gitu kok ya masih mengeluh ketika ekonomi dikuasai oleh orang China….!” Tambahnya dengan nada setengah mengejek.
Selanjutnya…

MAAF, KAMI TIDAK MENGANJURKAN KALIAN UNTUK MEMBACA…

Pernahkah Anda mendengar ceramah seorang ustad atau ulama kemudian ustad atau ulama tersebut meminta kita untuk membaca penjelasannya lebih lanjut di buku tertentu…?! “Baca tentang ini di buku ini dan buku ini.”

Insya Allah tidak ada karena ustad dan ulama kita lebih suka kalau jamaahnya hanya mendapatkan ilmu dari apa yang disampaikannya secara lisan.

Ini memang kenyataan pahit bahwa para ulama dan guru agama Islam tidak bersuara dan tidak pernah mendorong umat Islam utk membaca dan membaca…

Indonesia adalah negara dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia. Tahukah Anda berapa persen jumlah penduduknya yg gemar membaca? Ah, tidak usahlah kita besar-besarkan. Jelas sekali bahwa negara kita hanya punya sedikit penduduk yg suka membaca.

Mengapa demikian…?! Bukankah katanya bangsa Indonesia itu mayoritas umat Islam? Sedangkan perintah membaca adalah Perintah Pertama dan Utama dalam kitab sucinya? Apa yang salah pada umat Islam Indonesia? Atau mungkin saya yg salah mengerti dan sebenarnya perintah membaca itu sebenarnya hanya bersifat anjuran yg selemah-lemahnya anjuran? Selanjutnya…

KALAU ANE MAU BEGINI ENTE MAU APA…?!
KALAU ANE MAU BEGINI ENTE MAU APA…?! Ilustrasi

KALAU ANE MAU BEGINI ENTE MAU APA…?! Ilustrasi

Sampai hari ini (Sabtu, 16 Mei 2020) jumlah kematian karena Covid 19 di dunia adalah 308. 109 orang dari 4.618.489 kasus positif. Peringkat tertinggi masih dipegang oleh Amerika Serikat dengan jumlah kasus 1.482.863 dan jumlah kematian sebesar 88.471 orang. China sendiri sudah turun ke peringkat ke 13 dengan jumlah kasus 82.933 dan jumlah kematian 4.633 orang. Indonesia ada di peringkat ke 34 dengan jumlah kasus 16.496 dan kematian sejumlah 1.076 orang. Not badlah…! Tapi kalau mau cari salahnya Jokowi, Dr. Terawan, Luhut, dan Syahrini ya insya Allah tinggal petik saja.

Tahukah Anda bahwa, meski pun Covid 19 ini mengamuk di seluruh dunia, ternyata ada beberapa negara yang ‘blahi slamet’ sampai hari ini belum ada satu pun warganya yang jadi korban? Bukan hanya Vietnam, seperti yang diulas terus menerus, tapi juga beberapa negara lain seperti : Rwanda, Nepal, Madagascar, Uganda, Kamboja, Mozambique, Mongolia, Macao, Timor Leste, Laos, Bhutan, Papua New Guinea, dan negara-negara kecil yang mungkin sangat jarang kita dengar namanya seperti Seychelles, Greenland, Lesotho, dll. Jadi seperti juga Vietnam, di negara-negara tersebut juga ada beberapa kasus warganya yang terinfeksi Covid 19 tapi tidak sampai meninggal. Lesotho itu hanya ada 1 kasus dan tidak sampai meninggal. Iseng-iseng saya cari informasi tentang Lesotho dan ternyata populasinya hanya 2.140.050 juta. Kira-kira jumlah penduduknya sama dengan Jember atau Sidoarjo. Selanjutnya…

TUHAN AJA GAK MAKSA, BRO…!

Beberapa waktu yang lalu saya terlibat dalam diskusi dengan seorang teman yang ustad di FB. Saya sampaikan bahwa hendaklah ia bisa menerima kenyataan bahwa Prabowo kalah dan Jokowi yang bakal menang dalam pilpres ini. Saya sampaikan bahwa itu semua adalah kehendak Tuhan. Sama dengan kalahnya Ahok oleh Anies Baswedan. Sebagai muslim kita hendaknya melihat ini sebagai sebuah ketentuan Tuhan. Kita telah berusaha tapi pada akhirnya ketentuan Tuhan jugalah yang akan berlaku. Kalau Tuhan mau memenangkan Prabowo maka securang apa pun orang terhadapnya maka Prabowo akan tetap menang. Apa pun rekayasa dan tipu daya yang dilakukan orang padanya maka rekayasa Allah jauh lebih hebat. Allah adalah pembuat rekayasa terbaik. ‘Wallahu khairul maakiriin’(Surat Ali Imran (3: 54). Begitu juga dengan Jokowi. Sehebat apa pun fitnah dan goyangan yang ditujukan kepadanya tapi jika Tuhan ingin memenangkannya maka Jokowi akan menang juga. Itu adalah ketentuan Tuhan yang terserah Anda mau menerimanya atau tidak. Selanjutnya…

MENCINTAI YANG KAFIR SEPERTI NABI

Apakah benar bahwa Nabi Muhammad mencintai orang kafir? Tentu saja. Oleh sebab itu kita juga harus mencontoh Nabi dalam hal mencintai orang kafir ini. 😊

Tapi mari kita ngobrol-ngobrol dulu… 🙏

Dulu waktu saya masih kuliah (tahun 1980-an) saya sambi mengajar di bimbingan belajar. Ada seorang teman mahasiswa ITS sesama tentor yang anak orang kaya. Dia bercerita bahwa dia semalaman tidak bisa tidur karena AC kamarnya mati. Saya yang masih anggota Kaypang waktu itu tentu saja takjub. Gila nih temen…! Kamarnya pakai AC. Waktu itu hanya kamar hotel berbintang yang pakai AC. Yang membuat saya heran adalah lha wong AC mati aja kok gak bisa tidur. Lha saya yang tidur di kamar berdesakan dengan adik saya tanpa kipas angin pun bisa mak bleg sek. Apakah dia hanya nggedabrus dengan ceritanya gak bisa tidur tersebut? Apa dia mau nyombong kalau dia anak orang kaya dan kamarnya pakai AC?

Ya begitulah orang kalau menilai sesuatu hanya berdasarkan pengalamannya sendiri. Dipikirnya pengalaman dan perasaannya sendiri itu universal dan yang berbeda dengannya adalah salah. Sekarang saya ketularan tidak bisa tidur kalau mati lampu dan AC tidak menyala. Tibakno koyo ngene rasane urip tanpo AC. 🙄

Intinya, hidup saya sekarang sangat bergantung pada AC, yang dulunya saya cemoohkan sebagai kemewahan seorang borjuis. 😀

Tapi bukan hanya pada AC ketergantungan saya saat ini. Tanpa mobil, komputer, handphone, internet, kulkas, dll maka hidup saya akan jelas sengsara. Coba saja jika tiba-tiba HP Anda mati pet dan Anda tidak bisa melakukan apa-apa yang selama ini Anda lakukan dengan HP tersebut. Dunia akan langsung sumpek dan kita akan ngowoh merana berhari-hari sampai HP tersebut hidup lagi. Selanjutnya…

MENGRITIK PEMERINTAH? YA PERLULAH, BRO!

Apakah pemerintah perlu dikritik? Tentu saja. Saya SELALU melakukannya sejak 40 tahun yang lalu. Saya melakukan kritik dengan berbagai cara.

Ketika pemerintah (Depdikbud) bertindak sewenang-wenang dengan memaksa para guru harus masuk Golkar pada tahun 80-an, saya menentang. Akibatnya saya tidak boleh mengajar dan akhirnya keluar dari PNS. Sila baca kisah saya pada tautan yang saya sertakan di bawah.

Pada tahun 2003 saya tinggal di Balikpapan dan melihat bahwa pendidikan Indonesia memerlukan adanya ‘Education and School Council’ (Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah). Waktu itu dunia pendidikan kita belum mengenalnya dan saya juga tahu karena membaca tentang pendidikan di negara lain. Jadi saya menulis tentang hal ini berkali-kali di media massa Kaltim Post. Pembentukan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah secara legal oleh Depdiknas akhirnya dilakukan di seluruh Indonesia. Semua kota dan kabupaten harus membentuk Dewan Pendidikannya masing-masing dengan mengadopsi Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Karena saya sudah bicara lebih dahulu tentang hal ini di Balikpapan maka Pemkot Balikpapan dengan mudahnya menunjuk saya sebagai Ketua Dewan Pendidikan Kota Balikpapan periode 2003 – 2006. Saya sempat menulis tentang DPK dan KS ini di Kompas. Tapi saya tidak menyimpan dokumennya. Kritik keras saya bahkan ditanggapi oleh Mas Indra Djati Sidi yang waktu itu menjabat sebagai Dirjen di Depdiknas dan kami belum pernah ketemu.
Selanjutnya…

TANYA JAWAB SOAL TKA DAN TKI


TANYA : Apakah benar ada SERBUAN TKA CHINA ke Indonesia?

JAWAB : TIDAK ADA serbuan tenaga kerja China di Indonesia. Malah sebaliknya Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang menyerbu ke China dan negara-negara lain. Tahukah Anda berapa banyak TKI kita yang bekerja di LN?

Data Bank Dunia mencatat terdapat SEMBILAN JUTA pekerja migran atau tenaga kerja asal Indonesia (TKI) yang tersebar di berbagai negara. Meski begitu, seperti diungkapkan Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Bidang Ekonomi, Industri dan Bisnis, Rizal Calvary Marimbo, negara-negara penerima TKI tersebut nyatanya tidak ribut.

“Ada sembilan juta, mungkin sekarang sudah hampir 10 juta TKI atau pekerja migran tersebar di berbagai negara. Tapi negara itu tidak gaduh,” ujar Rizal Calvary Marimbo di Jakarta, Rabu (2/5/2018).

Dari 9 juta TKI itu, menurut Rizal lagi, sebanyak 55 persen bekerja di Malaysia. Lalu, sekitar 13 persen ke Arab Saudi, 10 persen ke Cina Taipei, 6 persen ke Hong Kong, 5 persen ke Singapura, dan sisanya tersebar di negara-negara lainnya.

Di sisi lain, Rizal mengatakan, jumlah Tenaga Kerja Asing (TKA) di Indonesia hanya sekitar 126 ribu pekerja, yang didominasi oleh pekerja asal Cina, Jepang, Amerika Serikat dan Singapura.

“Jumlah ini rasionya HANYA SEKITAR 1,4 % dari sembilan juta TKI di luar negeri. Tidak ada apa-apanya dengan jumlah TKI yang dikirim ke luar negeri,” ucap dia.

suara.com
Selanjutnya…

IGI SANG PENDOBRAK

Kalau Anda guru atau orang yang bergerak di bidang pendidikan, dan mau benar-benar memperhatikan, maka Anda pasti akan melihat beberapa perubahan fenomenal yang dilakukan oleh IGI di dunia pendidikan. Jelas sekali bahwa IGI telah berhasil menjadikan dirinya sebagai sebuah organisasi guru yang mandiri, independen, percaya diri, dalam upayanya untuk memajukan profesi dan meningkatkan kompetensi para guru. IGI adalah organisasi guru yang benar-benar mampu mendorong anggotanya untuk memanfaatkan teknologi informasi dalam meningkatkan kapasitas pembelajaran mereka. Di saat pandemi di mana tiba-tiba para guru harus memanfaatkan teknologi informasi dan meninggalkan cara lama dengan tatap muka maka jelas para guru IGI telah melesat di depan meninggalkan koleganya yang tidak mau berubah sebelumnya. Hampir di semua propinsi IGI melakukan pelatihan dan webinar dengan berbagai topik yang keren. Sungguh kita tidak kalah dengan guru-guru di negara maju yang sebagian besar juga masih kolot. Dulu saya pikir topik-topik semacam itu hanya bisa dilakukan oleh para professor doktor dan pakar pendidikan. Tapi kini jelas mereka sudah jauh tertinggal oleh para guru IGI. Para professor doktor seusia saya masih saja enggan untuk berubah ke pembelajaran daring dan mengira bahwa pembelajaran tatap muka tradisional akan langgeng seumur hidup mereka. Begitu pandemi terjadi maka kelimpunganlah mereka. Lha wong banyak professor doktor yang bahkan menggunakan teknologi WA saja masih kelagepan. 😀
Selanjutnya…

SINOPHOBIA DAN KETIDAKPAHAMAN SEJARAH

Kebencian pada China tampaknya mulai dihembus-hembuskan lagi di medsos. Beberapa tokoh dengan terang-terangan mengecam investasi China di Indonesia di TV. Tentu saja mereka punya agenda politis di balik penolakan mereka pada investasi dan adanya TKA China di Indonesia.

Bagi saya apa yang mereka lakukan itu mengerikan sekaligus menyedihkan. 😞

Ketakutan pada segala yang asing atau Xenophobia itu penyakit yang dengan cepat akan berkembang menjadi rasisme. Kebencian pada segala yang berbau asing ini adalah penyakit menular dan harus dibasmi. Tuhan sendiri sudah mewanti-wanti umat Islam agar tidak xenophobic dan rasis dengan ayatnya yang sangat terkenal di Surah Al Hujurat ayat 13, disitu Allah berfirman: “Wahai manusia, sesungguhnya Aku menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal….” Jadi jelas tujuan Tuhan untuk menciptakan manusia dalam berbagai ras dan suku itu adalah agar kita SALING MENGENAL dan bukan untuk saling mencurigai dan memusuhi. Keberagaman adalah Sunnatullah dan kebencian pada keberagaman adalah penyakit jiwa yang harus dibrantas. Sebagai umat beragama sudah selayaknya kita menyembuhkan dari dari xenophobic dan rasisme dengan terus menerima adanya perbedaan yang memang merupakan ketentuan dari Allah ini. 🙏 Selanjutnya…

RAKYAT SEPERTIMU…

Suatu hari, Ubaidah As-Salman mendatangi Khalifah Ali bin Abu Thalib seraya bertanya sekaligus protes, “Wahai Amirul Mukminin, di masa Abu Bakar dan Umar, tidak banyak terjadi kegaduhan; di masa engkau dan Ustman jadi khalifah, terjadi banyak kegaduhan politik. Mengapa?

Ali bin Abi Thalib menjawab, “Di masa Abu Bakar dan Umar jadi khalifah, rakyatnya adalah orang-orang seperti Utsman dan aku sedangkan di masa Utsman dan aku, yang jadi rakyat adalah orang-orang sepertimu.

Seorang aktivis mantan pejabat marah melihat cara pemerintahan Indonesia menangani wabah Covid 19 ini. Dia menyanjung-nyanjung negara Vietnam yang mampu mengatasi wabah ini dengan nol kematian dan memaki-maki Luhut. Ada dua kesalahan yang tampaknya memang sengaja disampaikannya. Pertama ia bilang Vietnam penduduknya 100 juta jiwa padahal tidak sampai sekian. Kecuali kalau Vietnam digabung dengan Singapura. Yang kedua adalah ketika ia menyatakan bahwa Pemerintah Vietnam itu Pancasilais sejati. Saya sampai tersedak membacanya. Hampir saja saya misuh sambil ngakak. Rupanya kalau sedang ada maunya pemerintah komunis pun bisa disebut Pancasilais sejati sedangkan presiden negara Pancasila bisa dituduh komunis. Dengan mudahnya Vietnam bisa disebut ber-Ketuhanan yang Maha Esa karena negaranya nol korban Covid 19. (Makanya saya berusaha untuk tidak ngomong sama sekali kalau sedang marah pada istri saya). 😎
Selanjutnya…