Rabu, 23 September 2020
Just another WordPress site
  • Chateu
  • Bareng Pak Anies Baswedan
  • Sabang
  • India
  • NUS, Singapore
  • Merapi, Jogja, Indonesia
  • Kamboja
  • Nusa Dua, Bali, Indonesia
  • Thailand
  • Turki
  • Singapura
  • Puncak, Jawa Barat, Indonesia
  • Korea Selatan
  • Wisuda si Bungsu
CARI MASALAH DENGAN ALLAH? SING BENER AE TAH, CAK

Jangan anti khilafah. Kita jangan cari masalah dengan Allah…” (Cak Nun)

Sik talah, Cak. Sing anti khilafah iku sopo trus opo hubungane karo ‘cari masalah dengan Allah’? Ojok seneng meden-medeni umat Islam tah, Cak… Ojok sok seolah mewakili Allah tah, peno, iku.

Gak mungkinlah kita, apalagi para polisi, yang cinta kepada tanah air dan negara Indonesia ini ANTI KHILAFAH. Gak muhin, Cak…! Justru karena kecintaannya pada KEKHILAFAHAN INDONESIA yang berbentuk NKRI inilah maka kita TIDAK SUDI dan TIDAK RELA kalau ada yang mau menggantinya dengan kekhilafahan Tahririyah yang diusung oleh pendukung HTI itu. Mosok sikap MEMBELA KHILAFAH semacam ini sampeyan tuding sebagai ANTI KHILAFAH?

Sakjane khilafah opo sih sing sampeyan maksud iku, Cak? Kekhilafahan Tahririyah yang diusung oleh HTI tah? Trus oleh pirang perkoro kok moro-moro sampeyan bilang ‘Mari hindarkan konflik laten dengan Tuhan’. Apakah Tuhan sudah berpihak pada kekhilafahan Tahririyah HTI sehingga kalau kita tidak setuju pada sistem kekhilafahan yang mereka ajukan lalu kita disebut CARI MASALAH DENGAN TUHAN dan KONFLIK LATEN DENGAN TUHAN? Sik, pikiren maneh tah Bro. Selanjutnya…

IRONI UMAT ISLAM INDONESIA

Islam adalah agama yang SANGAT TEGAS melarang umatnya untuk berkata bohong, memfitnah, dan menyebarkan ujaran kebencian. Al-Quran menyebut fitnah lebih kejam atau lebih besat daripada membunuh (Al-Baqarah 191 dan 217).
Allah Swt berfirman: “Wahai orang yang beriman! Jauhilah dari kebanyakan sangkaan, karena sesungguhnya sebagian daripada sangkaan itu adalah dosa, dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang, dan janganlah kamu mengumpat setengah yang lain. Adakah seseorang kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Sudah tentu kamu jijik kepadanya. (Oleh itu patuhilah larangan tersebut) dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha penerima taubat dan Maha penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12).

Nabi saw bersabda: “TIDAK AKAN MASUK SORGA orang yang suka menyebar fitnah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Jelas sekali bahwa umat Islam diwajibkan tabayyun dan mengecek sendiri berita yang mereka dengar dan tidak dengan serta merta menyebarkannya. Jangan asal sebar apa yang kita dengar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tegas mengatakan tentang balasan bagi pendusta dalam Islam, “Cukuplah seseorang dikatakan sebagai pendusta apabila dia mengatakan semua yang didengar.” (HR. Muslim no.7). Menyebarkan berita atau informasi tanpa mengecek sungguh-sungguh kebenarannya dianggap sebagai PENDUSTA dalam ajaran Islam.

Sesungguhnya sangat tegas sekali AJARAN ISLAM tentang hal ini… Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu informasi, maka PERIKSALAH DENGAN TELITI, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”(QS. Al Hujuraat [49]: 6)
Selanjutnya…

PANCASILA MAU DIUBAH JADI TRISILA…?!

Ada teman yang mengirimi saya video Ahmad Dhani yang katanya Pancasila mau diganti menjadi Trisila dan Ekasila. Benarkah itu, Mad…?!

Saya sebetulnya kasihan sama Ahmad Dhani yang TIDAK PAHAM tapi sok yakin begitu.

Jadi saya jawab begini :

Tidak ada yang mau MENGUBAH Pancasila menjadi Ekasila. TIDAK ADA…!

Tidak ada itu Pancasila mau diubah jadi Ekasila.

Pahami dulu maksudnya. Selanjutnya…

KHILAFAH ISLAM: HALUSINASI MASSAL BERBALUT AGAMA

Mungkin ada benarnya bahwa kadang kebodohan itu tidak ada batasnya. Begitu Anda tidak menggunakan akal Anda dalam memahami sesuatu maka Anda akan bablas terus sampai tiba-tiba Anda sadar dan menggunakan akal Anda lagi.

“Enak jamanku toh…?!”

Ungkapan ini menjadi populer untuk membandingkan keadaan zaman Soeharto dengan saat ini. Maksudnya banyak orang yang dulu mengalami keadaan jaya di zaman Soeharto dan kini tercekik karena sumber pendapatannya mampet dan mereka merindukan zaman ketika mereka bebas korupsi sebanyak-banyaknya. Kita bisa maklum jika ada orang yang ngomong begini. Tapi kebanyakan orang hanya bergurau dengan ungkapan ini. Tak ada orang waras yang mau balik ke zaman Soeharto kecuali mereka yang pernah jaya dan sekarang tercekik.

Bagaimana kalau ada usul agar kita kembali ke zaman kejayaan Nusantara dulu? Adakah di antara kita yang merindukan untuk kembali ke zaman Majapahit, umpamanya? Bukankah kita pernah sangat jaya ketika zaman kerajaan Majapahit yang berkuasa selama ratusan tahun? Atau ada yang rindu pada zaman keemasan Sriwijaya, Demak, Samudera Pasai, Singosari? Bukankah kita pernah mengalami masa-masa kejayaan di zaman itu? Maukah Anda menukar kehidupan Anda kini dan balik ke zaman kerajaan Majapahit dan dijanjikan akan hidup sangat nyaman, kaya raya, punya gundik tiga, dlsb? Jika Anda percaya dan bahkan bersedia bergabung dengan kelompok orang yang memperjuangkan kembalinya kejayaan Majapahit maka Anda pasti akan diketawai oleh banyak orang.

Tapi toh memang ada orang-orang seperti ini… Selanjutnya…

KHILAFAH AJARAN ISLAM: COCOKLOGI

“Bagaimana pendapatmu jika saya katakan bahwa ilmu berbicara pada hewan dan ilmu memindahkan barang dalam sekejap mata ala transporter itu AJARAN ISLAM?” kata saya pada seorang teman.

“Maksudmu…?!” tanya teman saya sambil mengernyitkan keningnya. Bingung dia saya sodok pertanyaan tersebut.

“Karena di Alquran ada disebutkan kisah tentang Nabi Sulaiman yang bisa berbicara dengan hewan. Dikisahkan beliau bisa berbicara dengan burung dan semut. Bukankah itu berarti ilmu berbicara pada hewan itu adalah ajaran Islam? Dalam kisah di Alquran juga ada kisah salah seorang staf Nabi Sulaiman yang bisa memindahkan singgasana Ratu Balqis dalam sekejap mata saja.” kata saya lebih lanjut. “Bisakah kita menyatakan bahwa ilmu berbicara pada hewan dan ilmu Transporter adalah AJARAN AGAMA ISLAM?”

“Wah…! Itu mah cocoklogi namanya.” jawab teman saya sambil tertawa. “Tidak berarti bahwa segala yang dikisahkan dalam Alquran adalah AJARAN ISLAM walau pun itu dilakukan oleh para nabi-nabi. Bisa bahaya kalau semua yang dilakukan oleh para nabi di zaman dahulu disebut sebagai AJARAN AGAMA YANG WAJIB DIIKUTI.”

“Apa bahayanya…?!” tanya saya kini dengan heran. Kok bisanya dia bilang bahwa apa yang dilakukan oleh para nabi zaman dahulu dianggap bahaya…

“Bayangkan kalau kamu menyodorkan anak perempuanmu kepada para gay sebagaimana Nabi Luth dulu. Bayangkan kalau ada umat Islam yang terinspirasi oleh kisah Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya sebagai bukti ketakwaannya pada Tuhan. Bayangkan jika ada pemimpin Islam yang terinspirasi oleh kisah Nabi Sulaiman yang mengancam untuk menginvasi negara tetangganya (Negara Saba milik Ratu Balqis) dan akan menghancurkannya jika tidak tunduk padanya hanya KARENA ITU ADA DISEBUTKAN DALAM ALQURAN. ” Jawab teman saya kali ini dengan serius.

“Lha bagaimana kalau ada ustad, kyai, ulama, cendekiawan muslim yang ngomong bahwa sistem khilafah itu adalah AJARAN ISLAM YANG WAJIB DIPATUHI hanya karena kata ‘khalifah’ ada disebutkan di Alquran?” sodok saya kali ini sambil pasang wajah serius.

“Asem peno, Bro…!” dia tak menjawab tapi langsung ngakak. Sekarang dia tahu kemana arah pembicaraan saya.

Coba pikirkan baik-baik…! Selanjutnya…

KHILAFAH AJARAN ISLAM…?! PENIPU…!

Jika ada yang mengatakan kepada Anda bahwa sistem khilafah adalah ajaran Islam maka hanya ada dua kemungkinan: orang itu tidak paham apa itu ajaran Islam atau dia sedang berbohong dan berusaha menipu Anda.

Tidak peduli apakah yang mengatakan itu berstatus ustad, ulama, kyai, punya gelar doktor dari Mesir atau mana pun maka tetaplah ia jatuh pada dua kategori tersebut : tidak paham apa itu ajaran Islam atau sedang berbohong.
Begini kata mereka :

1. Khilafah adalah ajaran Islam… Perintah Allah… Jika Anda tidak setuju dengan khilafah ya berhadapan dengan Allah…
Coba perhatikan baik-baik. Argumen ini khas sekali. Very typical. Pertama mereka akan berbohong (tepatnya membohongi umat Islam) dan yang kedua mereka akan menakut-nakuti dengan nama Tuhan. Tentu saja supaya umat Islam jadi keder lha wong kalian memang katrok suka ditakut-takuti, apalagi kalau sudah bawa-bawa nama Allah. Langsung grogi kalian sambil nyebut, “Naudzubilahi min dzalik… Ampun Gusti…!” 😄

Kalimat pertama ‘Khilafah adalah ajaran Islam’ jelas adalah sebuah kebohongan. Coba pikir, apa sih yang disebut sebagai ‘AJARAN ISLAM’ itu? Menghormati orang tua adalah ajaran Islam, menjauhi zina adalah ajaran Islam, menutup aurat adalah ajaran Islam, menjalankan salat, puasa, zakat, berqurban, adalah ajaran Islam, bersikap adil dalam memutuskan perkara adalah ajaran Islam, membersihkan tubuh dan memakai wewangian adalah ajaran Islam. Tapi ‘khilafah’…?! Apa yang dimaksud dengan ‘khilafah’ di sini? Bagaimana bisa ‘khilafah’ tiba-tiba menjadi ajaran Islam? Tidak pernah ada ajaran khilafah baik di Alquran mau pun dalam hadist-hadist.
Selanjutnya…

SAYA NGUTANGI DAN SAYA BERSYUKUR

Saya punya teman yang asyik. Kalau kebanyakan orang suka ngutang, dia ini malah suka ngutangi. Pokoknya hampir semua teman yang butuh utangan nembaknya ke dia. Dan dia selalu berusaha untuk memberi utangan, meski seringkali yang ngutang lupa sama utangnya dan balik lagi ke dia untuk ngutang yang ke sekian kalinya. Waktu saya tanya apakah banyak orang yang ngemplang utangnya dia bilang, “Fifty- fiftylah…! Separoh mbayar, separoh lali alias lupa.” sambil tertawa. Jadi sekitar separoh yang berutang padanya tidak membayar utangnya.

Tapi itu tidak membuatnya kapok ngutangi. “Saya bersyukur bisa ngutangi.” Jawabnya sambil tersenyum.

“Saya sungguh bersyukur bahwa saya berada pada posisi ngutangi dan bukan pada posisi yang berutang. Orang berutang itu sebenarnya berada pada posisi yang sulit. Seringkali teman-teman yang ngutang ke saya itu datang dengan menahan rasa malu yang besar. Tapi karena memang kepepet ya apa boleh buat. Walau pun malu ya terpaksa dilakoni.”

“Tapi kalau diutangi terus dan utangnya tidak kembali kan lama-lama jugrug alias bangkrut awakmu,” pancing saya.

“Kalau ngutangi orang ya kamu harus smart agar tidak kerepotan,” jawabnya. “Jangan ngutangi dengan uang belanja bulanan. Itu haknya keluarga. Itu kewajiban primer yang harus dipenuhi dulu sebelum mendanai yang sekunder. Saya ngutangi dengan dana yang memang benar-benar aman. ”

“Dana yang aman maksudnya apa?” tanya saya.
Selanjutnya…

SAYA KECEWA PADA JOKOWI DAN GIBRAN…
Jokowi dan Gibran. Foto: detik.com

Jokowi dan Gibran. Foto: detik.com

“Saya kecewa pada Jokowi dan Gibran…” demikian ungkap seorang teman dengan wajah muram ketika ngobrol kemarin. “Ternyata Jokowi sama saja dengan penguasa lain. Dia juga gila kekuasaan dan mendorong anak-anaknya untuk berkuasa juga. Sama saja dengan para penguasa lain.” Ia menarik napas dan matanya menerawang. “Gibran yang saya puji sebelumnya juga ternyata ambisius dan pingin juga berkuasa. Sungguh saru dan ora pantes dia memanfaatkan kuasa dan pengaruh bapaknya untuk bisa menjabat. Dia ini melakukan aji-aji mumpung.”

Saya ndlahom mendengar uneg-uneg teman saya yang polos ini. Ternyata dia ini termasuk orang yang bertipe mencintai dengan cinta yang bersyarat. I love you if… But if you don’t qualify my standards or expectation, I will hate you instead…

Makanya jangan mencintai atau membenci seseorang terlalu berlebih-lebihan, kata orang bijak entah siapa saya sudah lupa. Jangan sampai kita mencintai sesuatu secara berlebihan, karena itu akan membuat kita menderita. Kita bisa dibuat majnun atau bodoh, kita bisa dibuat linglung dan beleng-beleng (pinjam istilahnya Pak Ustad Das’ad). Bisa jadi yang kita sangat cintai itu akan mengecewakan kita sehingga membuat kita sangat sakit dan menderita. Membenci sesuatu juga jangan keterlaluan. Karena bisa jadi suatu saat apa yang kita benci justru akan kita cintai dan dambakan. Malah justru kalian bisa jatuh hati kepadanya. Sudah banyak contoh yang seperti itu. Dulu benci, sekarang cinta.

Makanya saya sama istri juga begitu. Saya tidak pernah mencintainya berlebih-lebihan. Saya hanya mencintainya sepenuhnya. Kalau cinta saya sudah penuh ya tidak saya gelontor terus. Saya kuatir cinta saya yang berlebih itu kemudian dipungut wanita lain. Bisa gempar dunia persilatan…
Selanjutnya…

POLITIK DINASTI?
Foto: Travel - Tempo.co

Foto: Travel – Tempo.co

Pada Pilgub Jatim 2018 yang lalu pasangan Khofifah Indar Parawansa dan Emil Estianto Dardak maju berhadapan dengan pasangan lawannya Saifullah Yusuf (Gus Ipul)-Puti Guntur Soekarnoputri. Begitu tahu bahwa pasangan Gus Ipul adalah Puti yang merupakan cucu Soekarno dan keponakan Megawati saya langsung menduga bahwa Khofifah kali ini akan memenangkan pilkada. Analisis saya sederhana, Puti itu ‘kartu mati’. Jadi yang berhadapan sebenarnya bukan Khofifah melawan Gus Ipul karena keduanya adalah orang NU dan nilai mereka sama di mata rakyat Jatim. Yang berhadapan di mata rakyat Jatim adalah Emil Dardak melawan Puti. Kalau Puti melawan Emil ya jelas Emil lebih unggul. Siapa sih yang tahu reputasi Puti? Orang Jawa Timur sama sekali tidak pernah mendengar kiprahnya tapi tiba-tiba didorong untuk menjadi calon Wagub. Meski pun dia adalah cucu Soekarno, Proklamator RI sekaligus presiden pertama sekaligus keponakan Megawati, yang juga mantan presiden, tapi siapa sih Puti itu? Meski sebenarnya Puti, yang nama lengkapnya panjang banget Puti Pramathana Puspa Seruni Paundrianagari Guntur Soekarno Putri, menjabat sebagai anggota DPR RI periode 2019-2024 dari Daerah Pemilihan Jawa Timur I yang meliputi wilayah Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo. Sebelumnya ia pernah menjabat sebagai anggota DPR RI periode 2009-2014 dan 2014-2019 dari Daerah Pemilihan Jawa Barat X yang meliputi wilayah Kabupaten Ciamis, Kabupaten Kuningan, dan Kota Banjar. Tapi orang Jawa Timur tidak mengenal kiprahnya. Dia bisa maju sebagai calon wagub hanya karena dia adalah keponakan Mega dan bukan karena prestasi atau kemampuan memimpinnya.

Jelas berbeda dengan Dr. H. Emil Elestianto Dardak, M.Sc. atau Emil Dardak. Emil adalah Bupati Trenggalek yang usianya masih 36 tahun. Emil adalah seorang politikus, penyanyi dan eksekutif muda Indonesia. Ia dan Mochamad Nur Arifin menjadi pasangan termuda pada pilkada serentak 2015. Ia menjadi peraih gelar Doktor Ekonomi Pembangunan termuda di Jepang dari Ritsumeikan Asia Pacific University pada usia 22 tahun. Emil jelas lebih menawan rakyat Jawa Timur ketimbang Puti.
Selanjutnya…

SUNNI DAN SYIAH: SIAPA YANG BENAR?

Dulu saya naif banget soal permazhaban.
Seorang teman bule pernah bertanya pada saya, “Are you muslim?”. “Yes,” jawab saya spontan. “Are you Sunni or Syiah?” tanyanya lebih lanjut. Saya kaget dan tidak menduga akan mendapat pertanyaan seperti itu.

“Whaat…?! I’m just muslim, neither Sunni nor Syiah,” jawab saya.

Bagi saya dulu yang naif seorang muslim ya muslim dan tidak perlu dikategorikan Sunni atau Syiah. Tentu saja saya salah. Teman bule saya itu ternyata lebih tahu banyak tentang sejarah Islam ketimbang saya. 😱 Kalau kamu mengaku muslim maka itu tidak cukup. Kamu harus masuk salah satu kategori, entah Sunni, Syiah, Ahmadiah, atau apa lagi gitu. Itu ‘world class category’. Kalau di Indonesia pengkategoriannya lebih beragam . Kamu boleh pilih NU, Muhammadiyah, Persis, NW, FPI, DDI, HTI, dan banyak lagi. Tapi yang ini bukan madzhab tapi organisasi massa atau jamaah. Jadi secara internasional kita itu masuk dalam kategori mazhab besar, yaitu Sunni, dan setelah itu baru ditanya organisasi Islamnya mau masuk mana, NU, Muhammadiyah, Nahdlatul Wathan, FPI, atau apa. Kalau tidak ikut salah satunya berarti Anda ‘Muslim Ronin’. Tapi tolong jangan cari istilah ini di kamus. 😄

Pertanyaan, “Are you Sunni or Syiah?” sebenarnya pertanyaan yang gawat surawat. Soalnya dua madzhab ini tidak akur dan bahkan terjadi peperangan antar madzhab ini sejak dulu sampai sekarang. Jika Anda tinggal di negara-negara muslim yang sedang berperang karena perbedaan mazhab Sunni dan Syiah maka pertanyaan tersebut bisa menentukan nasibmu dan bahkan hidup dan matimu. Suriah yang makmur dan indah sekarang hancur berantakan karena perang yang didasarkan pada perbedaan mazhab ini.
Selanjutnya…