Sabtu, 21 Oktober 2018
Just another WordPress site
  • Chateu
  • Bareng Pak Anies Baswedan
  • Sabang
  • India
  • NUS, Singapore
  • Merapi, Jogja, Indonesia
  • Kamboja
  • Nusa Dua, Bali, Indonesia
  • Thailand
  • Turki
  • Singapura
  • Puncak, Jawa Barat, Indonesia
  • Korea Selatan
  • Wisuda si Bungsu
TRAVELLING TO LOVE EARTH

Maksudnya jalan-jalan ke Sukabumi. 😄
Tapi biar keren ya pakai bahasa Inggris. Lha wong apa-apa kalau pakai bahasa Inggris jadi mahal. Kopi Item cuma goceng tapi kalau minta Black Coffee bisa jadi tiga puluh rebu. 😄

Karena ada acara Rakornas IGI 2018 di Jakarta kemarin maka kesempatan ini kami manfaatkan untuk meneruskan agenda kami untuk Wisata Sehari Satu Kota yang kemarin tertunda karena harus mengikuti acara wisuda di Balikpapan.

Sukabumi kami pilih sebagai kota pertama dan dari kota ini kami akan lanjutkan perjalanan ke Tasikmalaya. Untuk ke Sukabumi kami pilih transportasi KA dan untuk itu kami harus ke Bogor dulu.
Selanjutnya…

THE BEAUTIFUL LOVE EARTH

Sukabumi yang indah…
Acara kami pagi ini adalah ke Situ Gunung. Kawasan wisata alam Situgunung ini terletak di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) Resort Situgunung, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi. Semula saya mau sewa mobil seharian ini sebelum berangkat ke Tasikmalaya. Tapi ternyata sewanya mahal dan naik Gocar jauh lebih murah. Toh Gocarnya bisa diminta untuk menunggu dan kita sewa lagi untuk kembali. Biayanya jatuhnya tinggal seperempatnya dibandingkan dengan sewa mobil. 😄

Kami beruntung bisa berkunjung ke Situ Gunung karena saya memang penasaran dengan keberadaan jembatan gantung (suspension bridge) yang baru dibangun di lokasi ini. Katanya sih ini jembatan gantung terpanjang di Indonesia. Bahkan jembatan gantung yang dibangun atas kerjasama Balai Besar TNGGP di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dengan PT Fontis Aqua Vivam ini pun diklaim sebagai terpanjang di Asia. 😄

Jembatan yang dibangun di atas pepohonan ini panjangnya mencapai 240 meter dengan lebar 2 meter. Serta dari permukaan tanah paling tinggi mencapai 161 meter. Selanjutnya…

DOING THE IMPOSSIBLE

“Sekali dalam hidup Anda harus menulis sebuah buku untuk membuktikan bahwa hidup Anda cukup berharga untuk dituliskan”

Jika Anda perhatikan belakangan ini Anda akan melihat fenomena yang cukup aneh, mengherankan, dan mengejutkan, yaitu fenomena para guru menulis buku. Ya, di seluruh Indonesia sedang terjadi ‘demam menulis buku’ yang dilakukan oleh para guru (dan sekarang mulai bergerak ke siswa-siswa). Mengapa ini aneh dan mengherankan? Karena fenomena ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Sebelum ini para guru menganggap bahwa menulis buku adalah sebuah kemustahilan bagi mereka. Hanya mereka yang memiliki bakat dan karunia kepandaian menulis dari Tuhan yang bisa menulis dan menerbitkan bukunya. Menulis dan menerbitkan sebuah buku bagi guru yang awam adalah sebuah mimpi yang tidak pernah hadir dalam tidur selama ini. Kalau pun ada satu atau dua guru yang menulis maka itu adalah sebuah hal yang luar biasa. Mereka adalah para guru ‘luar biasa’ yang dikarunia bakat menulis oleh Tuhan dan karunia itu bukanlah milik setiap guru. Para guru umumnya menganggap bahwa menulis buku adalah ‘doing the impossible’.  Gak mungkinlah aku…
Selanjutnya…

WISATA SEHARI SATU KOTA DAY 3: CIREBON

Kota Cirebon dijuluki sebagai kota udang. Saking terkenalnya dengan hasil udang sampai lambang kotanya pun bergambar udang (jadi ingat Sidoarjo). Di beberapa sudut kota juga terdapat ikon berbentuk udang. Dari udang segar hingga olahannya, semua tersedia di kota ini. Artinya kita bisa memilih berbagai olahan udang untuk dijadikan oleh-oleh.

Karena lokasi Cirebon berada di pesisir utara Pulau Jawa dengan garis pantai sepanjang 54 km, Cirebon pun bisa menjadi daerah penghasil garam terbesar di Indonesia. Di tahun 2015 katanya Cirebon mampu menghasilkan 435.439 ton garam. Hasil ini membuat Cirebon menjadi pemasok kebutuhan garam lokal sebanyak 20% dari target pemerintah. Katanya kalau kita mengadakan tur wisata garam di sini maka kita boleh makan garam di lokasi seberapa banyak pun hanya dengan biaya lima ribu rupiah. Anda tertarik…?! 😀

Letak kota ini berada di pesisir utara Pulau Jawa atau jalur Pantura yang menghubungkan Jakarta-Cirebon-Semarang-Surabaya. Selain kota Cirebon juga berbentuk kabupaten. Kota dan Kabupaten Cirebon berbatasan dengan Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka di sebelah Selatan, dan Kabupaten Indramayu di sebelah Barat. Sedangkan di sebelah Timur Cirebon berbatasan dengan Brebes.

Menurut sejarah Cirebon ini adalah daerah yang sudah berkembang menjadi sentra perdagangan sejak Abad ke-15 di zaman Kerajaan Siliwangi. Cirebon mengalami penjajahan dan pemerintahan baik oleh Belanda mau pun Jepang.
Selanjutnya…

WISATA SEHARI SATU KOTA DAY 2: BREBES

Hari kedua ini jadwal kami adalah mengunjungi Brebes. Brebes adalah sebuah kabupaten yang terletak di antara Kota dan Kabupaten Tegal di sebelah Timurnya, Kabupaten Banyumas dan Cilacap di Selatannya, dan di sebelah Baratnya adalah Kabupaten Cirebon, sedangkan di sebelah Utara adalah Laut Jawa. Jadi Brebes ini terletak di ujung Barat Jawa Tengah berbatasan dengan Cirebon. Saat ini Brebes dipimpin oleh seorang bupati wanita bernama Hj. Idza Priyanti SE yang tampaknya masih muda. Kendal juga bupatinya wanita muda. Tampaknya para wanita di Jawa Tengah sedang bangkit untuk menguasai kepemerintahan. Oleh sebab itu, waspadalah wahai para lelaki…! 😀

Untuk menuju Kab. Brebes dari Kendal kami naik KA Kaligung 407 dari Weleri ke Brebes dengan biaya hanya 50 ribu. Kereta ini juga kelas ekonomi tapi nyaman dan bahkan lebih baik daripada Maharani kemarin. Tempat duduknya hanya untuk dua orang dan tidak berhadap-hadapan. Perjalanannya hanya memakan waktu dua jam.

Untuk hotel di Brebes saya memesan di Grand Dian dengan harga yang lebih mahal daripada Sae Inn. Saya memilihnya karena katanya lokasinya tepat di tengah kota. To my surprise ternyata letaknya persis di depan pintu Stasiun Brebes. Jadi kami tinggal menyeberang jalan dan langsung masuk ke lobi hotel. Kami tiba jam 11:45 dan biasanya sebelum jam 13:00 tamu belum boleh check-in. Tapi ternyata di Grand Dian boleh. Mungkin karena hotel sepi dan tidak banyak tamu. Ternyata kamar yang saya pesan di Grand Dian memang lebih besar dan lebih bagus ketimbang kamar di Sae Inn. Lagipula harga hotel di Grand Dian sudah termasuk sarapan bagi dua orang. Alhamdulillah…!
Hotel ini ternyata milik Dedy Jaya, seorang konglomerat lokal yang menguasai banyak bisnis di Brebes sejak lama. Dengar-dengar dia sekarang malah jadi Walikota Tegal. Rupanya sekarang sedang ngetren para pebisnis bermetamorfosis menjadi pejabat. 😊
Selanjutnya…

WISATA SEHARI SATU KOTA DAY 1 : KENDAL

Di mana letak Kota Kendal? Apakah benar Kendall Jenner lahir di sini?

Kota Kendal adalah sebuah Kabupaten yang terletak di sebelah Barat Kota Semarang dan berbatasan dengan Kabupaten Batang di sebelah Barat. Meski Kendal itu resminya pusat pemerintahan tapi sebenarnya kalah ramai dengan Kali Wungu dekat Semarang atau Weleri, sekitar 20 km menuju Kabupaten Batang di sebelah Barat Kendal. Jadi kalau anda sudah keluar Kecamatan Weleri ke arah barat berarti anda sudah memasuki Kabupaten Batang. Untuk bagian selatan berbatasan dengan Kabupaten Temanggung dan di Utara adalah Laut Jawa. Jadi Kota Kendal punya garis pantai yang lumayan panjang. Pantai-pantainya yang terkenal adalah Pantai Cahaya, Pantai Moro, Pantai Muara Kencan, dan Pantai Karang Malang.

Pusat Kota Kabupaten Kendal berada di Kota Kendal yang merupakan salah satu dari 20 Kecamatan yang ada di Kabupaten ini. Jadi sebenarnya Kabupaten Kendal ini memang cukup luas.

Bagaimana caranya untuk traveling ke Kota Kendal dengan biaya murah? Ya naik kereta apilah, Bro. Kendal bisa dicapai dengan naik KA dengan turun di Stasiun Weleri. Kereta api punya klas eksekutif dan ekonomi yang tentu saja punya tingkat kenyamanan berbeda. Tapi bagi kami kereta kelas ekonomi pun tetap lebih nyaman ketimbang naik bis. Kali ini kami sengaja naik kelas Ekonomi. Dari Surabaya ke Semarang klas ekonomi KA Maharani hanya 50 ribu. Sungguh murah…! 😀 Karena murah maka tentu saja meriah. Kursinya satu untuk bertiga berhadapan dengan penumpang lain dan sangat dekat. Jadi kita bisa adu dengkul dengan penumpang lain. Kereta ini biasanya penuh apalagi pas ada liburan hari kejepit seperti Selasa, 11 September 2018, yang merupakan Tahun Baru Islam 1 Muharram. Tapi tentu saja kami selalu punya cara untuk menyiasatinya agar kami bisa bepergian dengan tetap nyaman dan saling mencintai satu sama lain. Oke, itu tidak ada hubungannya. 🤓
Selanjutnya…

WISATA SEHARI SATU KOTA

Meski harga dolar naik dan ada banyak pengamat dan praktisi bisnis yang menganjurkan agar kita berhemat dalam kondisi ini, saya dan istri punya pandangan lain. Berhemat boleh tapi traveling harus tetap diselenggarakan dengan cara yang seksama dan dalam waktu yang disesuaikan dengan kemampuan kantong. 😄

Tentu saja kami tidak akan traveling ke luar negeri di masa USD sangat sombong seperti ini. Di samping kami memang tidak menyimpan USD, rekreasi ke LN di saat seperti ini sungguh terasa sebagai pengkhianatan kalangan menengah terhadap penderitaan kalangan bawah. Agak lebay yo ben. 😄

Sebagai gantinya kami akan tetap traveling tapi cukup di dalam negeri. Dengan demikian kami bisa bilang, “Jangan ada kenaikan kurs di antara kita. Dan biarlah rupiah menjadi tuan di rumahnya sendiri. Mensana in corpore sano. Yang mens ke sana yang suka kompor ke sono.” Selama seminggu ini kami akan traveling ke lima kota di Jawa Tengah dan Jawa Barat, satu hari satu kota. Kami juga memilih kota-kota yang belum pernah kami kunjungi selama ini. Ada pun lima kota pilihan kami adalah : Kendal, Brebes, Cirebon (been here but many years ago), Tasikmalaya, dan Kebumen. Saya yakin Anda tidak tahu di mana tepatnya letak kota-kota ini di peta kecuali Anda sudah pernah datang ke sana sebelumnya sambil melihat peta. 😊 Setelah dari Kebumen baru akan kami putuskan apakah lanjut ke kota lain atau pulang dulu leyeh-leyeh sambil merencanakan next trip. 😊
Selanjutnya…

JEMPOL UNTUK SANDIAGA UNO

Ditengah tontonan prilaku politik yang amoral, licik, koruptif, dan dipenuhi oleh para politisi munafik saya sungguh terkejut sekaligus gembira membaca pernyataan Sandiaga Uno yang mengecam Dhani karena memaki dengan kata ‘idiot’. Bagi Sandi makian tersebut bermuatan negatif dan ia berharap agar pendukungnya tidak menggunakan kata-kata yang mendegradasi atau merendahkan. “Kita gunakan kata-kata yang seharusnya menyanjung. Kata-kata yang mengangkat semangat.”

Gileee…! Kata saya dalam hati. Sandi ini sungguh keren dan bak oase di padang pasir perpolitikan yang ganas. Ingin rasanya saya mentraktir Sandi makan penyetan 4T (tahu, tempe, telor, dan terong). Biarlah saya yang membayar. Saya sungguh berharap bahwa Sandi tidak terkontaminasi oleh prilaku jahat para politisi di sekitarnya dan tetap mempertahankan kesantunannya. Selagi ILC mempertontonkan debat antara Rocky Gerung dan Ngabalin yang sungguh tidak ada manfaatnya selain mempertebal rasa permusuhan dan bahan olok-olok di antara pendukungnya kesantunan Sandiaga ini sungguh menyegarkan dan memberi harapan.

Sebelumnya Sandi juga mengecam kejadian penghadangan neon Warisman di Pekanbaru. “Pemilu seharusnya mempersatukan bukan pecah belah. Kita ingin isu yang diangkat adalah isu ekonomi. Saya prihatin dengan gesekan yang terjadi di masyarakat,” Ia memberi saran kepada Neno dan Mardani Ali Sera untuk lebih selektif memilih tempat deklarasi dan lebih menyarankan untuk memanfaatkan media digital. Artinya Sandiaga Uno tidak ingin pilpres atau pemilu ini menjadi ajang permusuhan dan gesekan di masyarakat. Lebih baik mengalah daripada memprovokasi masyarakat sehingga terjadi benturan dan perpecahan. Ngapain sih harus ngotot deklarasi jika itu sampai membuat masyarakat marah dan terjadi bentrok? Kalau pun deklarasi mbok ya jangan memprovokasi tapi gunakan kata-kata yang menyanjung dan mengangkat semangat, bukan mengangkat pedang. It’s not a war and never turn it into a war. Sungguh cool…!
Selanjutnya…

DEMO GANTI PRESIDEN: PROVOKASI UJARAN KEBENCIAN

Seperti yang bisa diduga demo #2019GantiPresiden di Pekanbaru dan Surabaya ricuh dan terjadi bentrokan antara pendukung gerakan ini dan penentangnya. Neno Warisman sampai harus dipulangkan balik tanpa sempat melangsungkan acaranya.

Banyak orang yang pura-pura tidak paham mengapa ini bisa terjadi. “Di alam demokrasi kok ada orang yang mau menyampaikan aspirasinya dihalang-halangi?” Begitu katanya.

Masalahnya ini memang bukan sekedar aspirasi tapi sudah merupakan hate speech atau ujaran kebencian dan ujaran tersebut mendatangkan kemarahan pada orang-orang yang kemudian bereaksi menentang adanya demo tersebut. “Tidak ada undang-undang yang dilanggar, tapi jelas nyebar kebencian pada Presiden yang sedang menjabat sebelum waktu kampanye Pilpres yang resmi. Maka kalau ada reaksi yang sama bencinya dari para pendukung presiden petahana dapat dikatakan logis saja,” kata Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie.

“Baru satu emak-emak yang bicara saja sudah ketakutan. Bayangkan kalau sejuta emak.” Kata yang lain.

Ya, tentu saja. Kalau satu emak-emak yang suka menyebarkan kebencian saja sudah membuat negara tidak tentram. Apalagi kalau sampai sejuta. Ya, kiamatlah Indonesia. Naudzubillahi min dzalik…! Jangan sampai terjadi.

Emak-emak itu memang seharusnya menyebarkan kasih sayang dan bukan kebencian dan provokasi ke mana-mana. Apa jadinya dunia ini jika emak-emak memberi contoh yang buruk pada anak-anaknya. Dunia seperti apa yang ingin ia tinggalkan bagi anak-anaknya?

Coba jika emak-emak ini mempromosikan : Selanjutnya…

MISKIN KOK UMROH?

Ada orang-orang tertentu yang tidak bisa menerima fakta bahwa perekonomian bangsa Indonesia memang meningkat dan membludaknya jumlah umat Islam yang umroh belakangan ini adalah salah satu indikasinya.

Kok umroh sih indikatornya…?! Tanya mereka

Lha mau indikator apa? Meningkatnya jumlah orang yang rekreasi? Penuhnya semua resto ketika buka puasa karena banyaknya orang yang bukber? Meningkatnya penjualan Honda HRV? Banyaknya orang pensiunan semacam saya yang kerjanya reunian di berbagai resto dan tempat wisata?

Lha kalau untuk umroh yang biayanya sekitar 20 jutaan per orang saja membludak apa mau ngotot bahwa mereka semakin miskin?

Diah Fakhma membantah dengan mengatakan bahwa banyak di antara mereka yang umroh sebenarnya adalah orang miskin dan mereka bisa umroh karena dapat undian dari toko atau hadiah dari perusahaannya bekerja. Intinya bukan karena dia punya duit untuk dipakai umroh. Diah ini sengaja mencari contoh yang ekstrim. Berapa persen sih orang yang umroh karena dapat hadiah dari perusahaannya atau karena dapat undian? Paling banter ya 1%. Artinya yang 99% ya biaya sendiri atau biaya dari keluarganya. Kalau biaya sendiri atau dari keluarganya maka itu artinya mereka atau keluarga mereka memang punya uang berlebih untuk dipakai berumroh. Itu artinya perusahaan tempatnya bekerja dan keluarga yang membiayai mereka umroh lebih makmur. Dan itu semua adalah indikator peningkatan ekonomi umat Islam.

Suyadi Sastranegara mengatakan banyak rakyat yang menjerit karena kesulitan ekonomi. Lalu apa hubungannya itu dengan mereka yang berumroh? Mereka yang menjerit karena kesulitan hidup jelas tidak akan berpikir untuk berumroh. Masih bisa berangkat umroh kok menjerit? 🙂 Selanjutnya…