Senin, 18 Oktober 2021
Satria Dharma's Weblog
  • Chateu
  • Bareng Pak Anies Baswedan
  • Sabang
  • India
  • NUS, Singapore
  • Merapi, Jogja, Indonesia
  • Kamboja
  • Nusa Dua, Bali, Indonesia
  • Thailand
  • Turki
  • Singapura
  • Puncak, Jawa Barat, Indonesia
  • Korea Selatan
  • Wisuda si Bungsu
TRANS SULAWESI TOUR (Part 2)

Yang menyenangkan dari travelling (jokka-jokka bahasa Makassarnya) adalah menikmati kuliner sepanjang perjalanan. Pokoknya apa yang maknyus harus dicoba. 😁 Mengunjungi Makassar selalu menyenangkan karena kami selalu suka dengan menu ikan bakar, coto, dan pallubasanya. Kami punya langganan resto di dekat Somba Opu dan kami usahakan menginap di hotel dekat resto tersebut. Dari hotel tsb kami tinggal jalan kaki saja. Jadi waktu saya tanya istri saya apa nama hotelnya dan dijawab Whiz Prime Sudirman trus langsung saya pesan hotel di situ. Ternyata bukan Whiz Prime Sudirman yang kami maksud. Yang benar adalah Whiz Prime Hasanuddin yang dekat dengan Somba Opu. Makanya saya heran waktu sopir kami menuju ke hotel pesanan kami kok jalurnya beda. Ternyata kami yang salah pesan hotel. Akhirnya kami naik mobil ke Resto Ikan Bakar Segar yang kami tuju. Setelah sampai di tempat ternyata resto tsb tutup dan tampaknya sedang direnovasi. Sayang sekali…! 😔

Akhirnya kami lanjut ke resto Lae-Lae di dekat jl. Somba Opu juga. Ini sebenarnya juga langganan kami meski kami lebih suka di Resto Segar tadi.

Ketika ditunjuki koleksi ikan dan seafoodnya kami heran karena ikannya kecil-kecil tidak seperti biasanya. Ini sih ikan remaja dan belum layak santap kayaknya. 😁 Mereka masih perlu hidup di laut beberapa waktu lagi sebelum siap bakar. 😁

Kami pilih beberapa ekor ikan dan cumi untuk dibakar dan diberi bumbu sesuai selera. Semuanya enak terutama cuminya yang mendapat pujian dari Yubi dan Yufi. Alhamdulillah kerinduan kami untuk makan ikan bakar di Makassar akhirnya terpenuhi. Terima kasih Ikan Cepa dan Baronang santapan kami. Your body is really delicious. 👍😁
Selanjutnya…

TRANS SULAWESI TOUR

Pandemi Covid 19 ini benar-benar membuat kita kehilangan kesempatan untuk travelling ke luar negeri. Padahal saya dan istri sudah berniat untuk bepergian ke LN paling tidak dua tahun sekali meski tidak perlu jauh-jauh. Mumpung badan masih sehat, istri masih cantik, duit pensiun masih sisa, pekerjaan sudah gak punya, momongan yo ra duwe, umur masih sewidak punjul, dan semangat travelling masih menggebu-gebu. 😁

Terakhir kami travelling adalah ke Balkan dengan teman-teman alumni Kedokteran Undip pada Oktober 2019 . Oh, bukan. Saya mah alumni IKIP Surabaya. Saya cuma diajak teman dokter alumni Undip yang sudah punya jadwal travelling rutin. Ya saya senang sekali kalau bisa bepergian dengan teman-teman satu grup begini. Lha biasanya kami ikut travel bersama dengan orang-orang baru yang baru kami kenal setelah ketemu di bandara Soetta. 😁

Rencananya setelah dari Balkan kami akan travelling lagi pada 2020 dan pilihan tujuannya sudah ditawarkan. Kami sudah milih-milih tapi ternyata booom…pandemi datang dan travelling abroad jadi tidak mungkin. Kami jelas ngaplo selama dua tahun ini. Jelas kami ngempet bersabar menunggu selesainya pandemi agar bisa jalan ke LN lagi. Itu kalau kami masih diberi kesempatan oleh Tuhan lho…! 😁 Selanjutnya…

MERAGUKAN TUHAN? BIASA AJA KALEE….!

Apakah Anda pernah meragukan keberadaan Tuhan? Atau Anda malah tidak pernah merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup Anda? Padahal KTP Anda tertulis beragama Islam dan sejak lahir sudah diajari tentang Allah dan RasulNya. Anda gelisah karena itu…?!

Biasa aja kalee….

Sesungguhnya mengimani adanya Tuhan itu bukan sebuah keniscayaan. Bahkan Tuhan sendiri yang menyatakan bahwa lebih banyak orang yang tidak beriman ketimbang yang beriman. (Yusuf 12:106). Tuhan memang tidak memberi hidayah keimanan pada semua mahluknya yang bernama manusia ini. ‘Allah menyesatkan siapa yang Ia kehendaki dan membimbing siapa yang Ia kehendaki’ (Ibrahim 14:4). Jadi ya memang karep-karepnya Tuhan siapa yang mau ia beri hidayah. Para nabi aja diwanti-wantti agar tidak memaksakan risalahnya. Sampaikan saja ajakan untuk beriman. Perkara mau beriman atau tidak bukan urusanmu, wahai para nabi.

Jangankan kita, lha wong Nabi Ibrahim yang dianggap sebagai Bapaknya Kaum Beriman aja jatuh bangun berkali-kali dalam upayanya mencari dan mengenal Tuhan.

Bagaimana perjalanan spiritual Nabi Ibrahim mengenal Tuhan secara personal? Ia berusaha untuk mencari ‘sosok’ Tuhan dengan bertanya dan mencari seperti para filosof. Pada mulanya ia menemukan sosok tuhan dalam bentuk yang lebih sederhana, yang lebih mudah dipahaminya pada sosok ‘bintang’ (tentu saja bukan dalam artian harfiah tapi dalam makna simbolis). Tapi ketika ‘bintang’ tersebut tenggelam ia menjadi sadar bahwa sosok bintang terlalu sederhana untuk dapat menjadi Tuhan yang ia cari dan mendapat ‘bulan’ sebagai gantinya. Ketika ‘bulan’ tidak cukup memuaskan ia beralih kepada ‘matahari’. Ketika ‘matahari’ pun juga tenggelam maka barulah ia berusaha untuk mencari ‘Tuhan yang tidak tenggelam’, Tuhan yang Maha Eksis. Dan beliau berhasil menemukan ‘sosok’ Tuhan yang memuaskan akalnya. Selanjutnya…

QUE SERA SERA, THE FUTURE’S NOT OURS TO SEE

Seorang teman mengirimkan lagunya Doris Day ini di WAG dan saya tiba-tiba merasa dejavu. It was me asking the question when I was young.

Sama seperti lirik lagu ini saya juga pernah sangat mencemaskan bagaimana hidup saya. Will I be rich? Can I be successful in my life? Can I have a perfect woman as my wife? Can I provide my family a home?

Hidup dengan sepuluh saudara yang masih kecil-kecil dengan masa depan yang tidak jelas membuat saya gelisah akan masa depan. Piye iki uripku mbesok? Saya jelas tidak ingin kehidupan di masa depan saya seperti ini. Harus lebih baiklah… Jadi saya pun menetapkan standar kehidupan yang harus saya miliki sebelum menikah. Saya harus punya rumah sendiri atau minimal bisa kontrak sendiri. Tidak mungkin saya tinggal uyel-uyelan dengan sepuluh saudara saya di Darmokali. Malulah, bro…! Saya harus tinggal di rumah sendiri atau punya fasilitas rumah dari perusahaan tempat saya bekerja. Dan saya merasa berat untuk memenuhi standar tsb. (Padahal saya sudah guru PNS golongan II/b saat itu. Tapi gaji guru PNS golongan melata zaman Soeharto sungguh sesuai dengan lagunya Doris Day) Saya tidak berani ambil komitmen untuk berkeluarga sebelum saya merasa yakin bahwa saya akan bisa mencapai standar tersebut. Saya menuntut diri saya terlalu tinggi sehingga menjadi gamang menghadapi hidup. Kecemasan dan standar yang saya pasang sendiri ini akhirnya membuat saya terlambat menikah. Saya ngeri untuk berkeluarga sehingga terus menjomblo pada usia di mana teman-teman saya sudah mengantar anaknya ke sekolah. Itu sebabnya ketika teman-teman sekolah saya pada pamer cucu di WAG saya masih pamer runtang-runtung berdua sama istri. Lha putune sopo sing apene tak pamerno lha wong anak sulung saya saja baru menikah?

Saya lupa atau mungkin tidak yakin bahwa hidup ini bukanlah hidup kita. Kita hanya dipinjami hidup ini dan ada Tuhan yang Maha Kaya, Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang akan mengatur bagaimana kita akan hidup nantinya. Kita hanya tinggal menjalaninya saja dan serahkan urusan bagaimana bisa punya rumah, punya kendaraan, punya pekerjaan, punya penghasilan, dll pada Sang Pemilik Kehidupan. Selanjutnya…

BERANI TIDAK DISUKAI

Apakah menurut Anda trauma, atau peristiwa menyakitkan yang pernah Anda alami di masa kecil atau remaja mempengaruhi kehidupan Anda saat ini? Apakah perlakuan buruk atau peristiwa mengerikan yang pernah Anda alami pada masa lalu mencengkram Anda sehingga Anda tercekik tidak bisa merasakan kedamaian dan kebahagiaan dalam hidup Anda? Jika ‘ya’ maka bersiaplah menerima tamparan dan ‘tuduhan’ dari buku ini bahwa yang terjadi justru sebaliknya. Andalah yang memutuskan untuk tidak berbahagia dan tidak berdamai dengan memanfaatkan peristiwa traumatis Anda di masa lalu sebagai alasan. Trauma itu hanyalah alasan Anda untuk mengasihani diri agar hidup Anda tidak berbahagia. Bersiaplah untuk terguncang membaca buku ini. Saya sendiri sudah diguncang oleh buku yang aslinya berjudul “The Courage To Be Disliked” yang ditulis bersama oleh Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga. Buku setebal 323 halaman ini sungguh layak menjadi ‘International Bestseller’ karena telah menginspirasi begitu banyak orang dan telah terjual sebanyak 3,5 juta eksemplar. Saya sungguh merekomendasikan buku ini untuk Anda baca sebagai penyegar jiwa Anda. Harganya lebih murah dari biaya sekali nongkrong di café kok!.

Buku ini berisikan penjelasan mengenai pandangan hidup berdasarkan teori psikologi Alfred Adler−seorang psikolog, dokter dan terapis sezaman dengan Sigmund Freud dan Carl Jung yang disampaikan dengan apik oleh seorang filsuf, Ichiro Kishimi. Sang filsuf dengan tegas mengatakan, “Trauma itu tidak ada.”. Tentu saja pernyataan ini menghantam saya karena selama ini saya mengikuti pemikiran Sigmund Freud yang menyatakan bahwa karakteristik dan perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh masa lalunya, jadi trauma itu jelas ada. Trauma itulah yang membentuk kehidupan setiap orang sehingga kita harus mati-matian mencegah seseorang mendapatkan trauma dalam kehidupannya. Jika dulu kita diperlakukan dengan sangat buruk oleh orang tua kita atau siapa pun maka hal itu akan terulang karena kita akan meniru apa yang telah terjadi pada diri kita. Begitulah yang saya percayai selama ini.

Tapi buku ini menjungkirbalikkan apa yang saya percayai itu (We are mostly Freudian). Selanjutnya…

BERAGAMA SEPERTI UMAR

Para sahabat Nabi adalah orang-orang yang sangat istimewa. Tapi saya sangat kagum dengan cara beragama Umar ra. Beliau adalah orang yang sangat rasional dalam beragama dan tidak segan melakukan ijtihad yang revolusioner di zamannya. Bahkan jika diukur dengan para pemimpin agama dan ulama zaman sekarang pun tindakan-tindakan Umar ra sangatlah revolusioner.

Sekadar latar belakang, Umar sebelum masuk Islam sangat menentang Nabi Muhammad dan sering menyiksa pengikut Rasulullah. Suatu saat Umar memutuskan hendak membunuh Rasulullah yang dianggapnya sebagai sumber masalah perpecahan kaum Quraisy saat itu. Namun, di perjalanan dia diberi tahu bahwa adiknya sendiri, Fathimah telah masuk Islam. Umar pun berbalik dan bergegas menemui adiknya. Di depan rumah, Umar justru mendengar Fathimah dan suaminya membaca Alquran. Umar menampar Fathimah. Fathimah jatuh dan menangis. Umar melihat bacaan Alquran yang sedang dibaca adiknya. Dia membaca dan tersentuh dengan bacaan surat Taha itu. Hatinya pun langsung luluh. Seketika Umar ingin bertemu Nabi Muhammad dan masuk Islam saat itu juga. Hidayah masuk ke hatinya dan Umar langsung menyatakan dirinya masuk Islam dan menjadi pengikut Nabi Muhammad yang sangat setia sampai akhir hayatnya.

Setelah Umar masuk Islam, Umar menyarankan Rasulullah agar tak lagi menyiarkan Islam dengan sembunyi-sembunyi. Rasulullah dan para sahabat mulai berdakwah dengan terang-terangan. Pengikut Nabi Muhammad pun semakin berkembang.
Selanjutnya…

JOKOWI OTORITER? ENTE BARU LAHIR YA?


Jika Anda menganggap Jokowi otoriter maka jelas Anda baru lahir kemarin dan mungkin baru belajar merangkak. Anda perlu hidup di zaman Soeharto berkuasa agar Anda paham apa yang disebut otoriter itu. 🙄

Di zaman Soeharto menguasai TNI, tentara benar-benar bisa sewenang-wenang dan berada di luar barak untuk menguasai segala sesuatu. Soeharto menunjuk para perwira menengah untuk menjadi bupati, walikota, gubernur, dan posisi-posisi strategis negara dengan semau-maunya. Saya kebetulan punya seorang kerabat berpangkat letkol yang ditunjuk untuk menjadi walikota di Kaltim ketika itu. Jadi kalau demokrasi dilihat dari hak rakyat untuk memilih pemimpinnya sendiri maka saat Soeharto jelas belum bisa dikatakan ada demokrasi. Di zaman Soeharto tentara benar-benar ditakuti karena bisa menentukan hidup mati dan masa depan Anda. Seseorang bisa dituduh menjadi antek PKI dan tidak perlu ada pengadilan untuk memastikannya. Tentara bisa mengambil orang tersebut dari rumahnya dan setelah itu tidak ada lagi kabar selanjutnya. Gone with the wind tapi bukan kisah percintaan. Keluarga yang ditinggalkannya akan distigma sebagai keluarga pengkhianat dan tidak perlu ada bukti untuk itu. Hidup keluarga yang ditinggalkan akan sengsara dan sulit untuk bekerja di mana-mana. Saya punya teman yang ayahnya dituduh PKI, lalu dicokok sama tentara, dan keluarganya kesulitan mengurus apa pun. Jika demokrasi tolok ukurnya adalah tegaknya hukum dan keadilan maka jelas di zaman Soeharto hukum adalah apa kata Soeharto saja. Selanjutnya…

MINDSET

Ini adalah buku yang sangat bagus. Begitu bagusnya sehingga saya tidak ingin menghabiskannya seketika. Saya ingin mengunyahnya pelan-pelan dan menikmati setiap kalimat dan paragraph yang ada di dalamnya. Saya ingin berlama-lama menikmatinya. Buku ini sungguh sangat maknyus…!

Buku ini berbicara tentang ‘mindset’atau pola pikir manusia. Dalam buku ini manusia dibagi menjadi dua jenis, yang berpola pikir tetap (fixed mindset) dan yang berpola pikir berkembang (growth mindset). Pada intinya buku ini menulis tentang kelebihan orang-orang yang memiliki mindset yang tumbuh dan bahayanya memiliki mindset yang tetap. Selanjutnya…

JANGAN BUNUH OTOT DAN OTAK ANDA. 😊


Pesan ini saya sampaikan khususnya bagi teman-teman saya yang sudah sama-sama pensiunan tapi juga bagi siapa saja anak-anak muda yang diam-diam membunuh otot dan otak mereka tanpa mereka sadari. 🙏

Bagaimana kita bisa membunuh otot dan otak kita sendiri? Dengan tidak menggunakannya maka jelas sekali bahwa kita akan membunuh otot dan otak kita dengan perlahan namun pasti. Otot mau pun otak adalah jaringan tubuh yang memiliki kemampuan untuk berkembang. Jika kita rutin melatihnya ukuran otot akan berkembang. Pada otak kemampuan berpikir kita akan berkembang jika kita terus melatihnya. Meski pun usia kita sudah tua tapi jika rutin menggunakan otot dan otak kita maka ia akan tetap stabil dan berfungsi dengan baik. Namun, jika tidak digunakan dalam waktu lama, jaringan otot bisa menyusut dan kemampuan otak berpikir juga akan melemah. Saat otot terlalu lama tidak digunakan, kemungkinan terjadi atrofi otot yaitu penyusutan pada jaringan otot. Tentu saja, hal ini dapat mengganggu fungsi otot dan sistem gerak tubuh secara keseluruhan. Atrofi memicu terjadinya kelemahan otot, bahkan tak jarang pasien mengalami disabilitas karenanya. Selanjutnya…

SIAPA NGEPRANK : HERYANTI TIO ATAU ANIES BASWEDAN?

Dua orang teman saya di WAG saling olok perkara kasus sumbangan 2 T dari Heryanti, anak Akidi Tio, yang ternyata blong alias tidak ada uangnya. Teman yang satu mengolok teman yang memuji-muji keluarga Akidi Tio karena percaya saja pada ‘prank’2 T tersebut. “Mestinya pakai akal sehatmu. Kritis sedikit dong…! Lha wong uangnya belum ada saja kok sudah dipuji setinggi langit. Kalau sudah begini kamu mau ngomong apa coba? Mestinya yang menjanjikan sumbangan 2 T tersebut ditahan dan dijebloskan penjara”

Teman yang diolok tidak mau kalah. Dia lalu membalas, “Halaaah…! Dulu yang mau ngajak nonton balap Formula E di Monas siapa? Lupa ya kalau kamu pernah ngajak saya nonton balap mobil Formula E kalau Jakarta jadi tuan rumah balap Formula E pada tahun 2020 kemarin? Mana sekarang balapannya…?! Wis setahun lho, bro. Sudah keluar uang 1,1 T tapi zonk. Padahal itu uang rakyat lho yang dipakai. Sopo sing mestine ditahan dan dijebloskan ke penjara? Lha dulu kamu kok percaya pada ‘prank’ balap Formula E tersebut? Mestinya kritis dikit dong…! Lha wong mobil sama tracknya belum ada kok udah percaya banget. Pakai akal covidmu…”

Dan ramailah mereka balas membalas kata. Tapi untunglah bahwa itu cuma guyonan saja di antara mereka karena setelah itu mereka ngakak bareng lagi. Namanya juga teman. Kalau gak guyon sambil saling olok kurang seru hidupnya.

Pertanyaannya adalah benarkah Heryanti Tio dan Anies Baswedan ngeprank atau bahkan menipu? Selanjutnya…