Senin, 17 September 2019
Just another WordPress site
  • Chateu
  • Bareng Pak Anies Baswedan
  • Sabang
  • India
  • NUS, Singapore
  • Merapi, Jogja, Indonesia
  • Kamboja
  • Nusa Dua, Bali, Indonesia
  • Thailand
  • Turki
  • Singapura
  • Puncak, Jawa Barat, Indonesia
  • Korea Selatan
  • Wisuda si Bungsu
NO DICHOTOMY

Negara di dunia tidak bisa lagi dibagi menjadi dua bagian: kaya dan miskin. Pembagian secara biner itu sungguh sudah tidak layak lagi dipakai. Rosling merekomendasikan untuk berpikir tentang dunia yang dibagi menjadi empat tingkatan berdasarkan pendapatan warganya, yaitu dari Tingkatan 1 s/d 4. Jadi kategori ‘Negara Berkembang’ dan ‘Negara Maju’ sudah sangat ketinggalan zaman.

Rosling sendiri berkali-kali menjelaskan hal ini, dengan data tentunya, pada staf Bank Dunia. Tapi Bank Dunia butuh 17 tahun dan 14 kali ceramah Rosling baru mereka mau berubah. 😯 Kini Bank Dunia telah mengubah kategori dunia dalam 4 tingkatan. Tapi PBB dan sebagian besar organisasi dunia lain BELUM BERUBAH. 😊

Mengapa susah sekali berubah? Selanjutnya…

SHOCKING FACTS IN “FACTFULNESS”

“Factfulness” karya mendiang Hans Rosling adalah buku yang saya baca pada pagi yang cerah namun sejuk di ‘villa’ kami di Desa Madigondo, Madiun (sebetulnya sudah masuk Kabupaten Magetan). Hari ini kami baru menyembelih hewan qurban kami di desa. Dan sementara penduduk desa bekerja dengan riang memotong-motong daging, saya menikmati buku luar biasa ini di beranda. 😄

Buku ini luar biasa menarik dan apa yang disampaikannya akan membuat kita tercengang. 😯 Ternyata selama ini kita salah dalam menilai situasi dunia yang kita tinggali. 😎

Dalam buku ini Rosling mengemukakan bahwa sebagian besar kita, tidak peduli seberapa pintar, terdidik, berwawasan Anda, ternyata salah dalam menilai keadaan dunia. Kita selama ini selalu berpendapat bahwa dunia ini lebih miskin, kurang sehat, dan lebih berbahaya daripada fakta yang sebenarnya. Kita selalu membagi dunia dalam dua kategori: negara kaya dan negara miskin, negara maju dan negara terkebelakang, negara sehat dan negara sakit, kita dan mereka, dst. Dan kita cenderung mengira bahwa dunia lebih muram dan menyedihkan daripada fakta dan keadaan sebenarnya. Ternyata kita SALAH BESAR selama ini…! 🙄
Tapi tak usah merasa malu karena bahkan orang-orang paling terdidik, para kepala negara, para penentu kebijakan klas dunia pun ternyata salah dalam menilai dunia.

Mari saya beri contoh. Selanjutnya…

SERI DISKUSI DENGAN HTI (BAGIAN 2): HIZBUT TAHRIR PENGKHIANAT BANGSA

“HTI bukan pengkhianat bangsa… yang pengkhianat bangsa adalah para pelaku korupsi dan para pejabat yang menggadaikan tanah asing ke Aseng dan Asing…”

Ini adalah tipikal jawaban dari orang HTI. Ini namanya PENGALIHAN ISU. Jadi ketika kita bicara tentang sesuatu maka mereka akan mengalihkan isunya ke isu lain. Mereka juga dengan cerdik menggunakan sentimen anti asing dan aseng untuk menarik simpati umat pada agenda politik mereka. PENGALIHAN ISU adalah senjata utama mereka ketika diserang balik. Dan mereka punya segudang isu untuk jadi bahan pengalihan. Pekerjaan mereka sebenarnya justru mengumpulkan isu-isu yang menarik perhatian masyarakat, dan khususnya umat Islam, agar tertarik pada mereka. Sama dengan penjual obat pinggir jalan yang bawa ular besar supaya orang-orang datang melihat. Anehnya orang-orang itu kok ya selalu tertarik melihat ular besar. 🙂

Ini contohnya. Ketika kita katakan bahwa HTI itu pengkhianat bangsa maka ia akan menuding pihak lain sebagai pelakunya. Di sini mereka ingin mengalihkan perhatian kita pada isu anti asing dan aseng. Orang yang sudah punya sentimen pada kedua isu tersebut dengan mudahnya akan mengikuti kendang yang mereka tabuh dan akhirnya ikut menari bersama para zombie khilafah.

Selanjutnya…

ORANG-ORANG BIASA

“Fiksi bukan sekedar mengadakan yang tidak ada. Fiksi adalah cara berpikir.” – Andrea Hirata

Ini adalah novel terbaru dari Andrea Hirata. Meski judulnya adalah ‘Orang-orang Biasa’ atau ‘Ordinary People’ tapi sebenarnya orang-orang yang diceritakannya ‘not quite ordinary’. Seperti biasa di tangan Andrea Hirata sosok apa pun yang ia kisahkan akan menjadi sosok yang istimewa, unique, quite strange, and peculiar tepatnya. 😄

Ini adalah kisah tentang 10 (sepuluh) sosok unik yang digambarkan sangat mengenaskan nasibnya dengan begitu ngocolnya tapi kemudian ditakdirkan (tepatnya dijadikan oleh dalangnya alias Andrea Hirata) menjadi sosok yang mampu melakukan tindakan yang spektakuler. Macam ‘Laskar Pelangi’ juga tapi dengan kisah yang dibangun dengan plot twist yang akan membuat kita tercengang lalu tertawa ngakak karena merasa dikerjai oleh Andrea Hirata. Jika Anda sudah pernah nonton film “Ocean’s Eleven” maka ini adalah kisah petualangan “Debut’s Ten” yang akan membuat Anda terpukau dengan plot kisahnya yang sama sekali tak terduga.
Selanjutnya…

SERI DISKUSI DENGAN HTI (BAGIAN 1): KHILAFAH BUKANLAH AJARAN ISLAM

Ada beberapa pengikut HTI yang mampir dan berkomentar di status saya. Yang bertanya baik-baik ya saya jawab baik-baik sedangkan yang bermulut comberan ya saya tendang kembali ke comberan dari mana ia berasal. Daripada kita kecipratan semburan mulut comberannya kan kita ikut bau nantinya. Emoji

Soal bertanya jawab dengan orang-orang HTI itu sudah saya lakukan sejak tahun 2003 kalau tidak salah. Kami berdiskusi baik melalui mailing list mau pun tatap muka langsung. Semua level pertanyaan dan serangan mereka sudah pernah saya hadapi. Dan materinya ya itu-itu saja. Tapi bagi mereka yang tidak pernah pibu dengan orang HTI mungkin pertanyaan dan sodokan mereka sulit mereka jawab. Sebetulnya mereka itu NGASAL saja kok. Percayalah…! Repotnya kalau kalian memang tidak pernah baca dan kurang pengetahuan ya bakalan diuntal sama mereka lha wong mereka ikut kajian khusus dan terus menerus dibina oleh mentornya. Emoji

Berikut ini beberapa argumen mereka yang mampir ke status saya. Selanjutnya…

POOR ENZO ALLIE… 😢


Saya sungguh merasa sedih dan nelongso melihat wajah Enzo Allie taruna Akmil yang ganteng itu. Gara-gara virus HTI maka studi dan karirnya di militer Indonesia terancam. Tidak seharusnya Enzo yang lugu dan imut ini yang harus menanggung akibat virus HTI. Seharusnya kalian, para orang tua baik yang akademisi, guru, pejabat, kyai, tokoh agama dan masyarakat, tentara, polisi, ketua ormas dan orpol YANG BERTANGGUNG JAWAB atas hal ini. Ini semua karena kalian membiar-biarkan dan menolerir virus HTI berkembang biak beranak pinak dan meracuni warga dan umat sampai generasi muda kita keracunan juga. 😭

HTI memang sudah resmi dilarang dan dibubarkan, meski sebenarnya agak terlambat. Kerusakan yang dibuatnya sudah cukup parah. Langkah pemerintah melarang juga tidak tegas dan tampak gamang. Para pengasong khilafah masih berkeliaran di mana-mana dengan bebas tanpa ada tindakan tegas pemerintah. Padahal sudah sangat banyak anak-anak muda muslim yang berhasil diracuninya dan bahkan banyak PNS/ASN yang sudah terlanjur menjadi bagian dari organisasi pengkhianat bangsa ini. Dan pemulihannya itu sungguh tidak mudah. Selanjutnya…

SEBEGITU TOLOLNYAKAH KITA…?! (BAGIAN 2)

Masih ada saja beberapa orang yang mampir ke status saya berkomentar membela syariahisasi Indonesia dengan menunjukkan betapa tololnya komentar mereka. Yang marah dan mengeluarkan kata-kata makian jelas saya tendang dari status saya. Orang semacam itu terlalu parah tololnya dan bisa menular ke yang lain.

Baiklah…

Mari saya tunjukkan lagi betapa ngawurnya argumentasi tentang perlunya sebuah negara berbasis khilafah.
PERTAMA, Anda harus tahu bahwa Nabi Muhammad sama sekali TIDAK PERNAH meminta atau menyuruh siapa pun sahabatnya untuk mendirikan negara sesudah wafatnya beliau. TIDAK ADA satu pun sahabatnya yang MENDAPAT MANDAT untuk mendirikan kekhalifahan atau meneruskan kepemimpinan beliau. Khalifah Abu Bakar yang menjadi Khalifah pertama yang menggantikan kepemimpinan Nabi Muhammad BUKANLAH MENDAPAT MANDAT dari Rasulullah sendiri. Abu Bakar DIBAIAT OLEH PARA SAHABAT setelah mereka bertengkar dan saling berebut untuk menjadi pemimpin umat Islam. Itu pun tidak dengan suara bulat karena Ali r.a. tidak ikut membaiatnya dan enam bulan kemudian baru berbaiat.
Selanjutnya…

SEBEGITU TOLOLNYAKAH KITA…?!

Saya membaca posting Husni Syawie soal segelintir umat Islam yang masih terus saja memperjuangkan masuknya syariat Islam dalam konstitusi kita, dalam hal ini adalah FPI. Postingnya bisa dibaca di https://www.facebook.com/search/top/?q=husni%20syawie&epa=SEARCH_BOX

Umat Islam memang tidak pernah mau belajar dari sejarah, meski pun itu di depan matanya sendiri. Mereka terus menerus terjebak dalam kesalahan yang sama dan dengan bebalnya mengira mereka sedang memperjuangkan kebenaran agama mereka. Padahal mereka sedang tertipu oleh agenda politik kekuasaan. Sungguh menyedihkan…!

Umat Islam Indonesia memang masih mudah dikecoh dengan segala atribut yang berbau agama. Dan itu sudah disampaikan oleh Ibnu Rusd berabad-abad yang lalu dengan peringatannya, :”Jika ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah kebatilan dengan agama.” Umat Islam sangat mudah dikecoh dengan kemasan yang berbau agama dan itulah yang dilakukan oleh berbagai organisasi, termasuk organisasi massa FPI dan organisasi politik Hizbut Tahrir yang telah diberangus itu.

Coba lihat fakta yang ada di depan mata kita ini.
Selanjutnya…

MENGAPA SISWA KITA TIDAK DIWAJIBKAN MEMBACA KARYA SASTRA?

(Bagian 2)

Siswa-siswa Rusia mengenal karya-karya luhur sastrawan negeri mereka sejak SMA (Leo Tolstoy, Pastovsky and Simonov) dan mereka sangat menikmati pencerahan dan kecendekiaan sebagai generasi muda sebuah bangsa besar. HAL INI TIDAK TERJADI DI INDONESIA. Kurikulum Bahasa Indonesia telah memblokir karya-karya Hamzah Fansuri hingga Rendra dan Wisran Hadi. Kurikulum kita tidak PRO MEMBACA DAN MENULIS apalagi PRO SASTRA! Demikian gugat Taufik Ismail. 😯

MENGAPA PERLU BACA KARYA SASTRA?
Mengapa yang dipermasalahkan kewajiban membaca buku sastra? Mengapa bukan buku teks? Apa sih urgensi membaca karya sastra bagi dunia pendidikan kita, apalagi di zaman millenial ini? 🤔

Sastra itu berkaitan dengan semua segi tentang manusia dan dunia di dalam keseluruhannya. Setiap karya sastra berbicara tentang sebuah topik khusus, dan bahkan sering mengenai banyak hal dengan sangat intens. Buku sastra adalah karya sastrawan dengan keseluruhan totalitasnya. Sastrawan melakukan riset, merenungkan, menghayati, dan menuliskan buku sastranya sebagai sebuah karya seni. Bagai masakan, buku sastra adalah masakan yang dimasak secara cermat dan dengan citarasa yang tinggi.
Semakin banyak orang membaca karya sastra, maka semakin baiklah isi pengetahuan dan moral orang yang bersangkutan. Tidak mungkin rasanya orang yang berkecimpung dan menikmati sastra lalu menjadi orang yang suka melanggar aturan dan bejat moralnya. Sastra justru mengarahkan kita semua untuk menjadi semakin tertib dalam hidup, cerdas, lembut hati, dan penuh empati. Pembaca karya sastra akan mampu melihat kompleksitas hidup dengan pengertian yang lebih besar, wawasan yang lebih luas, dan bertoleransi dan empati yang lebih besar. Selanjutnya…

MENGAPA SISWA KITA TIDAK DIWAJIBKAN MEMBACA KARYA SASTRA?

Tanpa buku Tuhan diam, keadilan terbenam, sains alam macet, sastra bisu, dan seluruhnya dirundung kegelapan.
[Thomas V. Bartholin, 1672]

Pada tahun 1997 Mendiknas saat itu Prof Dr. Wardiman Djojonegoro memerintahkan Taufik Ismail untuk mengadakan penelitian tentang kewajiban membaca karya sastra pada sekolah-sekolah di 13 negara. Taufik Ismail melakukan penelitian tentang ini di SMA di 13 negara. Ia melakukan serangkaian wawancara dengan tamatan SMA 13 negara dan bertanya tentang
1) kewajiban membaca buku,
2) tersedianya buku wajib di perpustakaan sekolah,
3) bimbingan menulis dan
4) pengajaran sastra di tempat mereka.

Ternyata hasil penelitiannya sungguh mengejutkan! Siswa SMA Indonesia TIDAK WAJIB MEMBACA BUKU SASTRA SAMA SEKALI (atau nol buku) sehingga dianggap sebagai siswa yang BERSEKOLAH TANPA KEWAJIBAN MEMBACA. 🙄

Angka NOL BUKU untuk SMA Indonesia sudah berlaku sejak kita merdeka, dengan perkecualian luar biasa sedikit pada beberapa SMA swasta elit saja. Taufik Ismail kemudian mengajak kita berefleksi sebagai berikut :
“… Sebagai tamatan SMA Indonesia, mari kita ingat-ingat berapa buku sastra yang wajib kita baca selama 3 tahun di sekolah kita dulu (yang disediakan di perpustakaan, dibaca tamat, kita menulis mengenainya dan lalu diujikan)? NOL BUKU. 😢

Untuk lebih lanjut sila baca https://satriadharma.com/…/tragedi-nol-buku-tragedi-di-dun…/
Selanjutnya…