Sabtu, 05 April 2020
Just another WordPress site
  • Chateu
  • Bareng Pak Anies Baswedan
  • Sabang
  • India
  • NUS, Singapore
  • Merapi, Jogja, Indonesia
  • Kamboja
  • Nusa Dua, Bali, Indonesia
  • Thailand
  • Turki
  • Singapura
  • Puncak, Jawa Barat, Indonesia
  • Korea Selatan
  • Wisuda si Bungsu
STOPPING US…?! NO WAY, JOSE…! 😀

Saya kebetulan sedang di rumah Madigondo, Madiun dan melihat anak-anak TK main drumband di depan rumah. Saya pikir mereka akan jalan jauh ke kota. Ternyata mereka berhenti di depan rumah dan minta ijin masuk dan istirahat di rumah kami. Ternyata rumah kami yang jadi perpustakaan memang dijadikan titik finish mereka. 😯

Salah seorang guru kemudian bercerita bahwa sebenarnya ada lomba drumband di Karesidenan Madiun yang bertempat di alun-alun kota Madiun. Tapi tiba-tiba tadi malam ada instruksi untuk membatalkan kepesertaan mereka dari Disdikpora. Mereka dilarang mengikuti lomba oleh Disdikpora (saya rasa ini berkaitan dengan anjuran untuk menghentikan semua kegiatan yang bersifat massal karena virus Corona)…! 🙄
Bayangkan susahnya hati para kasek TK ini karena mereka tahu betapa antusiasnya siswa mereka mengikuti lomba ini. Berminggu-minggu mereka berlatih untuk ikut acara ini. Mereka juga sudah sewa kostum yang tentunya tidak murah. Mereka juga sudah berhari-hari menantikan hari ketika mereka akan tampil menunjukkan hasil latihan mereka. Dan tiba-tiba acara ini dibatalkan…?! Oh, no…! Please, no…! 😭
Selanjutnya…

CERDAS DAN CERDIK

Pada tahun 1957 ayah saya yang baru berusia 23 tahun sudah beristri dan beranak satu. Saat itu beliau masih berstatus mahasiswa di Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin. Tapi selain itu beliau juga sudah menjadi PNS di Kantor Inspeksi IV Jawatan Penempatan Tenaga Makassar. Tampaknya ini semacam dinas di bawah Kementrian Dalam Negeri. Daerah inspeksinya meliputi Indonesia Bagian Timur, yaitu Makassar (Sulawesi Selatan), Manado (Sulawesi Utara). Ambon (Daerah Maluku), Singaraja (Bali). Ayah saya menggunakan ijazah SMA-nya ketika bekerja. Pada waktu itu tenaga kerja yang trampil dan berpendidikan mungkin masih sulit dicari sehingga ayah saya mudah saja mendapatkan pekerjaan.

Meski hanya berijazah SMA tapi ayah saya sudah mendapatkan posisi yang lumayan bagus di kantornya. Beliau sering dikirim ke berbagai daerah untuk melakukan inspeksi ke daerah-daerah yang menjadi lingkup tugasnya. Jadi sejak masih mahasiswa ayah saya memang sudah berkeluarga, punya anak, punya banyak tanggungan selain keluarga utamanya (bersama ibu saya ikut juga nenek dan kakaknya dengan 4 orang anaknya yang sudah yatim), menjadi pegawai yang cukup sering bertugas ke luar daerah sehingga cara berpikirnya memang sudah jauh lebih matang ketimbang anak-anak mahasiswa zaman sekarang. Pada saat itu ayah saya harus sudah mencari rumah kontrakan yang lebih besar di Mamajang, Makassar.

Selanjutnya…

TETANGGA YANG BAIK : WUHAN JIAYOU

Apa yang kita lakukan jika tetangga kita terkena bencana?
Kita MEMBANTU mereka. Itu sudah jelas.
Perkara bagaimana bentuk bantuannya maka itu bergantung pada apa bantuan yang mereka butuhkan dan bagaimana kesanggupan kita dalam membantu mereka. Jika mereka butuh bantuan tenaga, dana, makanan, pakaian, saran, hiburan, doa, atau apa saja yang kita miliki dan kita mampu membantunya maka kita membantu mereka sesuai dengan kebutuhan mereka dan kemampuan kita

Kita TIDAK menari di atas penderitaan mereka.
Kita TIDAK bergembira atau senang dengan penderitaan yang menimpa mereka.
Kita TIDAK mengatakan bahwa itu adalah azab, kutukan, hukuman, dan laknat Tuhan pada mereka.
TIDAK….!
Kita MEMBANTU tetangga kita. Kita MENAWARKAN bantuan kita pada mereka. 🙏

Barangkali saya perlu mengingatkan apa yang terjadi pada kita 15 tahun yang lalu, tepatnya pada 26 Desember 2004, ketika gelombang tsunami menerjang wilayah Aceh. Wilayah Aceh disapu ombak setinggi kurang lebih 20 meter sehingga membuat beberapa kota di provinsi itu hancur dan lumpuh. Korban meninggal di Aceh mencapai 130.736 jiwa dan lebih dari 500 ribu penduduk kehilangan tempat tinggal.
Selanjutnya…

GAK USAH LEBAY, BRO…!

Siapa yang lebih mudah terpapar penyakit karena bakteri atau virus, yang berusaha menjauhi orang yang sakit atau yang setiap hari malah bersentuhan dengan orang yang sakit?

Pikirkan dulu dan simulasikan situasinya di benak Anda sebelum menjawab. Tolong biasakan untuk berpikir dahulu sebelum menjawab. Soalnya setiap kali saya bertanya pada sesi seminar saya, “Anak-anak itu kalau disuruh baca buku, pilih yang tebal atau tipis?” para guru langsung menjawab, “Yang tipis…!”. Tentu saja itu jawaban yang salah. Jawaban yang benar adalah ‘Yang menarik bagi mereka’. Biar tebal kalau itu menarik seperti bukunya Harry Potter akan tetap mereka pilih ketimbang buku tipis berjudul “Bagaimana Menetapkan Hak Waris Secara Syar’i”, umpamanya. Jadi tolong pikir dulu baik-baik baru menjawab. 😎

Nah, apa jawaban Anda?
Selanjutnya…

KONSEKUEN

Makna konsekuen di KBBI adalah: sesuai dengan apa yang telah dikatakan atau diperbuat; berwatak teguh, tidak menyimpang dari apa yang sudah diputuskan. Dan ini adalah salah satu sifat menonjol ayah saya yang lain selain keberaniannya. Kalau beliau sudah menyatakan sesuatu maka beliau akan memegang kata-katanya tersebut meski ia sebenarnya tidak suka.

Ketika kelas 3 SMP saya mulai merokok. Saya dipengaruhi oleh seorang teman yang neneknya punya los di pasar. Hampir setiap hari ia ke Pasar Wonokromo untuk mengunjungi los pasar neneknya tersebut. Seringkali ia mengajak saya untuk ikut bersamanya mendatangi neneknya tersebut. Tujuannya datang ke sana adalah untuk minta uang neneknya. Ia seolah punya jatah uang harian dari neneknya karena selalu diberi uang setibanya di sana. Selain itu ia juga mengambil rokok yang dijual di los neneknya tersebut. Tentu saja tanpa diketahui oleh neneknya. Ia lalu mengajak saya untuk mulai belajar merokok.
Pada mulanya saya batuk-batuk dan tidak menikmati merokok. Tapi lama-lama saya bisa menikmatinya juga. Bukan hanya itu, semakin lama dan semakin sering saya menikmati rokok gratisan (dan colongan) itu saya menjadi semakin ketagihan. Kalau biasanya saya agak ogah-ogahan diajak ikut ke pasar maka belakangan saya malah bersemangat untuk ikut teman saya tersebut. Minimal saya dapat rokok beberapa batang yang akan saya konsumsi bersama teman-teman sepermainan yang juga sudah mulai ketagihan merokok. Celakanya, ketika saya sudah ketagihan merokok teman saya yang biasa memasok saya rokok sudah tidak mau lagi memasok atau berbagi rokok yang ia peroleh dari neneknya. Mungkin ia sudah ketahuan kalau sering mengambil rokok dari los neneknya dan mendapat pengawasan yang ketat sehingga ia sendiri pun sudah kesulitan untuk mendapat rokok. KPK sudah bertindak dan OTT semakin sering dilakukan. 😀
Selanjutnya…

PEMBERANI (Bagian 3)

Seekor singa tentu ingin agar anak-anaknya menjadi singa juga. Dia tentu tidak ingin anak-anaknya menjadi kucing, ikan piranha, terwelu, atau kalkun. Begitu juga ayah saya…

Karena beliau adalah orang yang sangat berani ngedap-ngedapi melawan siapa saja maka tentu beliau juga ingin agar anak-anaknya jadi pemberani seperti beliau. Utamanya tentu beliau berharap agar saya sebagai anak laki-laki pertama dalam keluarga juga bersikap berani berkelahi dan berani mati seperti beliau.

Jadi beliau selalu bilang bahwa saya harus berani berkelahi melawan siapa pun. Saya tidak boleh takut melawan siapa pun. Siapa pun itu… Siktalah, Dad…! 🙄

Suatu ketika ayah saya melihat saya dibuli oleh anak tetangga saya (kalau tidak salah namanya Saiful). Anak ini badannya dua kali lebih besar daripada saya dan tentu saja saya tidak berani melawannya. Begitu melihat saya mengalah dibuli oleh Saiful ini maka beranglah ayah saya. Mosok anak Singa dikerjain sama Gorilla kok diam saja?

Saya lalu dipanggil dan diminta untuk melawan Saiful. “Lawan dia…!” Selanjutnya…

PEMBERANI (Bagian 2)

Selain berani berkelahi melawan tentara, ayah saya juga punya keberanian lain. Salah satunya adalah berani punya anak banyak. Eit…! Jangan ketawa. Iki serius rek…!

Berani punya anak banyak itu termasuk keberanian yang sangat langka sekarang ini. Kalau dulu sih banyak orang yang punya anak banyak. Tapi punya anak sebelas zaman dulu pun tetaplah sebuah jenis pencapaian yang spektakuler. Kalau tidak percaya coba cari keluarga teman dan tetanggamu yang punya anak di atas sepuluh. Pasti hanya bisa dihitung dengan jari tangan sebelah. Kami ini sebelas anaknya tak satu pun yang berani punya anak banyak. Paling banter ya cuma punya anak empat. Itu bahkan belum separonya dari anaknya ayah saya. Ini agak aneh soalnya kami itu tahu betul betapa enaknya punya banyak saudara. Punya banyak saudara itu sumprit wuenak pol…! Kami itu selalu bersyukur bahwa kami punya banyak saudara. Kami itu kalau sudah berkumpul, masya Allah ributnya. Kami bisa bergurau berjam-jam lupa waktu sambil menghabiskan hidangan yang ada di atas meja. Kalau sate ayam lima puluh tusuk aja udah kayak sulap David Copperfiled. Tiba-tiba aja menghilang…

Punya anak sebelas itu jelaz (pakai akhiran ‘z’) sebuah prestasi yang tidak main-main. Tapi selain prestasi ini juga sebuah tantangan dan cobaan yang berat yang tidak berani kami tanggungkan. Akhirnya paling tinggi kami hanya berhenti di angka 4 dan yang terbanyak ya 3. Tak ada yang berani lebih. Tidak ada yang berani mewarisi keberanian ayah kami tersebut. Dulu pun kami sering merasa malu karena disindiri tetangga kanan kiri kok orang tua kami anaknya banyak sekali. Iku manak opo mencret…?! Ya terpaksa mereka saya pisuhi dengan cara yang selegan-elegannya. Tentu saja yang tidak punya anak merasa iri karena mereka tidak diberi Tuhan meski satu anak pun. Aduh…! Enak ya bisa punya banyak anak, kata mereka. Saya diam saja tidak berkomentar. Tapi dalam hati saya menjawab, “Iyo, awakmu gak ngrasakno.” 😞
Selanjutnya…

PEMBERANI

Saudara-saudara saya tiba-tiba punya ide bagus. Bagaimana kalau kami yang sepuluh bersaudara itu (semuanya sebenarnya sebelas tapi salah seorang dari kami, adik saya Alim Akbar Jaya, telah berpulang ke rahmatullah) menerbitkan sebuah buku yang ditulis bersama. Jadi kami diminta untuk menulis kisah dan nantinya dikumpulkan untuk diterbitkan.. Pancen ciamik kok dulur-dulurku iki. 😂 Tentu saja kami juga akan mengajak anak-anak kami yang mau ikut. Buku ini khusus tentang kisah dan kenangan kami bersama ayah kami, Muhammad Hasyim Mahmud, yang saat ini telah berusia 86 tahun. Buku ini akan kami tulis dan cetak dan akan kami berikan sebagai kenang-kenangan dan hadiah ulang tahun bagi beliau pada ultah beliau yang ke 87.
Tentu saja kami semua punya kenangan yang mengesankan dan rasa cinta dan kagum yang kuat pada ayah kami.. Ayah kami punya banyak sifat-sifat baik yang sangat menonjol. Saya akan menceritakan salah satunya, yaitu soal keberanian beliau. 👍😊

Salah satu sifat ayah saya yang sangat menonjol adalah keberaniannya. Beliau bukan hanya sangat berani tapi juga cenderung nekat ngedap-ngedapi. Orang akan salah sangka jika melihat ayah saya. Meski wajah dan postur beliau tampak halus, lembut, ramah, selalu tersenyum, kulitnya putih bersih, dan sangat miayeni (seperti piyayi Jawa), tapi kalau sudah marah maka beliau bisa berubah menjadi monster yang menakutkan dan akan menerjang apa dan siapa saja yang berani menghadapinya. Beliau akan tiwikrama menjadi raksasa yang akan mengobrak-abrik hutan seperti Arjuna Sasrabahu ketika marah pada Bambang Sumantri. Kalau di kantor beliau dulu di Kanwil Depdikbud Propinsi Gentengkali beliau sangat dikenal ‘kegarangan’nya. Beliau juga sangat saklek dan tanpa tedeng aling-aling. Lebih tepatnya adalah beliau memandang sesuatu kalau tidak hitam ya putih. Bugis aslilah pokoknya. 😂
Selanjutnya…

KALIAN PIKIR ISLAM ITU… 🙁

Masih sangat banyak umat islam yang mengira bahwa agama Islam itu suci murni tanpa campuran dari ritual-ritual agama lain. Jadi mereka mengira bahwa ajaran dan ritual-ritual agama Islam itu langsung turun dari langit melalui Jibril dan diberikan ke Nabi Muhammad dan tidak ada campurannya sama sekali dengan ritual ataupun ajaran agama lain. Semacam emas 24 karat begitulah. 😀

Padahal Nabi Muhammad sendiri dengan begitu rendah hatinya menyatakan bahwa apa yang ia bawakan hanyalah sepotong batu batu penyempurna bangunan yang sudah berdiri kokoh.

“Perumpamaanku dan para Nabi sebelumku seperti seseorang yang membangun suatu rumah lalu dia membaguskannya dan memperindahnya kecuali ada satu labinah (tempat lubang batu bata yang tertinggal belum diselesaikan) yang berada di dinding samping rumah tersebut, lalu manusia mengelilinginya dan mereka terkagum-kagum sambil berkata; ‘Duh seandainya ada orang yang meletakkan labinah (batu bata) di tempatnya ini”. Beliau bersabda: “Maka akulah labinah itu dan aku adalah penutup para Nabi”.

Karena mengira bahwa agamanya paling suci dan murni 24 karat maka mereka selalu curiga dan paranoid jika ada unsur-unsur ritual agama lain yang mirip-mirip atau menyerupai ritual dan ajaran agama Islam. Dengan sigap mereka akan berkata,”Agamaku agamaku, agamamu agamamu.” yang maksudnya jangan meniru ritual agamaku, jangan meniru ajaran agamaku, kalau kamu non-muslim ya jangan pakai kopiah dan sarung, apalagi pakai gamis, cadar, dan memainkan musik rebana. Itu artinya kalian telah berusaha untuk mengacau agamaku. Stay away… 😡
Selanjutnya…

INKONSISTENSI SIKAP: ANTARA MALAM TAHUN BARU DAN VALENTINE DAY

Posting saya tentang perayaan Valentine Day mendapat banyak pro dan kontra. Saya senang. Artinya topik ini menarik. Sayangnya sebagian besar yang berkomentar BELUM MAMPU berargumen dengan baik, yaitu logis dan diikuti dengan analisis. Kebanyakan cuma memaki-maki dan melontarkan sumpah serapah. Kalau hal tersebut diterus-teruskan maka kalian akan saya tendang keluar dari grup ini. Grup ini adalah grup untuk para guru yang diharapkan mampu menunjukkan kualitas dan kapasitas berpikir dan argumennya. Bukan kemampuan memaki-makinya.

Bagi Anda yang bilang bahwa VD harus dan wajib dilarang karena itu adalah BUDAYA ASING maka coba dipahami bahwa hampir semua yang Anda tonton di TV Anda itu adalah budaya asing. Islam sendiri sebagai agama TIDAK PUNYA BUDAYA. Yang punya budaya itu masyarakat. Jadi kalau Anda lihat majlis dzikir, tahlilan, festival rebana, pakai sarung, baju koko, songkok, dll maka itu BUKAN BUDAYA ISLAM tapi budaya umat Islam Indonesia, khususnya umat Islam NU. Setahu saya orang Muhammadiyah tidak pernah bikin tahlilan atau acara 100 Hari Wafatnya seseorang.

Jadi kalau Anda menolak VD dengan alasan itu adalah budaya asing coba berikan argumen yang lebih masuk akal karena pakai gamis dan cadar itu budaya asing. Anda mau tolak karena ia budaya asing? Selanjutnya…