Minggu, 25 Juli 2021
Satria Dharma's Weblog
  • Chateu
  • Bareng Pak Anies Baswedan
  • Sabang
  • India
  • NUS, Singapore
  • Merapi, Jogja, Indonesia
  • Kamboja
  • Nusa Dua, Bali, Indonesia
  • Thailand
  • Turki
  • Singapura
  • Puncak, Jawa Barat, Indonesia
  • Korea Selatan
  • Wisuda si Bungsu
ULAMA NIR-ILMU

Beberapa kali saya menerima kiriman video ceramah ustad yang meremehkan bahayanya virus Corona dan mengejek orang yang takut pada virus ini. Menurut mereka virus tidak perlu ditakuti dan hanya Tuhan yang patut ditakuti. Menurut mereka orang yang beriman itu semestinya hanya takut pada Tuhan dan tidak takut pada virus karena virus adalah tentara Tuhan yang tidak akan menyerang orang yang beriman. 😳

Jelas mereka adalah ulama yang nir-ilmu, alias berkata tanpa memiliki ilmu dan asal bicara saja. 🙄

Mengapa demikian? Karena nabi Muhammad sendiri pernah menyatakan, “Larilah dari orang kena penyakit menular seperti engkau lari dari singa” (HR. Bukhari no. 5707). Apa artinya? Artinya kita HARUS TAKUT dan menjauhkan diri dari wabah atau penyakit yang menular seperti Covid 19 ini sebagaimana kita takut pada singa. Kita disuruh lari oleh Rasulullah dan sangat menjaga diri dari wabah.

Jika kita memiliki gejala penyakit menular, maka janganlah membahayakan orang lain dengan menularinya. Rasulullah SAW bersabda: Tidak boleh membahayakan orang lain dan tidak boleh membahayakan diri sendiri (HR. Malik no. 1435).
Selanjutnya…

AKU BENCI SEMBILAN NAGA

Seorang teman terang-terangan bilang bahwa dia benci pada keturunan China karena mereka menguasai perekonomian negara kita.

“90% perekonomian kita dikuasai oleh mereka, utamanya oleh Sembilan Naga.” Katanya dengan sewot sambil sok tahu apa itu Sembilan Naga.

“Kan memang itu yang kita kehendaki?”, jawab saya dengan slow. Tentu saja dia jengkel dengan jawaban saya tersebut.

“Maksudmu…?! ,” tanyanya dengan nada sewot.

“Kan yang lain sudah kita kuasai dan kita tidak memberi kesempatan pada warga keturunan China, kecuali di bidang ekonomi.” jawab saya.

“Semua bidang yang lain itu kita kuasai sepenuhnya, 99.9%. Coba perhatikan dari jutaan orang yang bergerak di bidang politik ada berapa gelintir sih warga keturunan China? Lha wong ada Ahok satu saja yang memusuhi sampai jutaan orang gitu lho! Para kepala daerah dan wakilnya, para ketua DPR, DPRD, dan anggotanya dari Sabang sampai Merauke itu semua orang kita. hampir tidak ada yang keturunan China.

Bidang Militer apa lagi… Dari ratusan ribu orang yang bekerja di Hankam dan TNI, ada nggak yang keturunan China?

Bidang keamanan begitu juga… Dari ratusan ribu orang yang bekerja di Kepolisian, ada berapa sih yang keturunan China? Lha wong ada satu Brigjen Polisi keturunan China aja sudah difitnah anaknya presiden China. Satpam dan Sekuriti juga kita kuasai sepenuhnya. Gak pernah deh saya lihat ada sekuriti sing Cino.

Bidang hukum sami mawon. Siapa yang menguasai Kehakiman dan Kejaksaan? Ada nggak orang keturunan Chinanya? Selanjutnya…

BINTANG EMPAT KLAS KAMBING

Saya kemarin check-in di sebuah hotel bintang empat di Gatsu Denpasar dan kecewa dengan pelayanannya. Saya pesan via aplikasi non-smoking room dan one king-size bed. Begitu di reception katanya pesanan saya tidak bisa dipenuhi karena yang tersisa hanya twin beds atau yang smoking room. Hotel sedang penuh alasannya. Penuh ndasmu peyang…! Lha wong hotel ini sepi nyenyet karena pandemi. 😠 Dia jelas berbohong soal hotel sedang penuh tersebut. Apa saya tampak terlalu bodoh sehingga dibohongi semacam itu? 😠

Tapi saya sedang malas bertengkar dan memutuskan ambil yang twin beds. Soalnya saya tanya apakah yang smoking room tapi king-size bed itu tidak berbau dan dijawab tentu bau rokok. Berarti gak dibersihin dan disemprot pewangi ruangan setelah dipakai dong! Sakjane iki bintang empat atau bintang tujuh bikin ngelu endas sih?! 🙄

Meski saya mengalah tapi saya memutuskan dalam hati tidak akan pernah nginap di hotel ini lagi. Bintangmu empat tapi pelayananmu jauh di bawah bintangmu. 🙄

Apakah saya terlalu rewel dan banyak tuntutan? Lha wong asalmu ndhisek yo kere ae saiki kok sok minta pelayanan klas eksekutif high-class. 😁 Bukan begitu, bro. Selanjutnya…

KE BALI TANPA REKREASI

Biasanya kalau ada undangan acara ke Bali saya sangat antusias. Itu artinya sambil ‘dinas’ sekalian rekreasi. Bali itu selalu menyenangkan untuk dikunjungi. Lagipula kalau ada dinas ke Bali maka saya akan mendapatkan full service. Tiket dibayari, hotel disediakan, transportasi cemepak, dan pulangnya disangoni…! Kurang enak apa coba… 😁 Makanya saya siap saja jika ada undangan acara di Bali. Mau sebulan sekali juga oke. 😎

Tapi sejak pandemi ini saya selalu menolak undangan rapat atau pun acara wisuda. Bahkan RUPS yang setahun sekali juga saya lewatkan dan saya minta ikut via zoom saja. Sudah 1,5 tahun ini kami tidak ke Bali karena pandemi. 😒

Besok ada undangan RUPS lagi dan saya jadi bimbang, berangkat atau tidak ya? 🤔 Berhari-hari saya bimbang dan tidak segera saya putuskan. Istri yang saya ajak juga tampak ogah-ogahan karena dia juga baru vaksinasi sekali. Biasanya mah dia yang lebih antusias daripada saya kalau ada acara di Bali. 😁
Selanjutnya…

JURUS SUKSES WALK ANOTHER MILE

Ada anak muda peserta seminar yang bertanya apa resep sukses dalam hidup saya. Saya agak bingung ditanya demikian karena saya tidak merasa sukses sebagai mana dalam benaknya. 😁 Saya hanya merasa ‘survive’ alias bisa bertahan dengan lumayan baik. Faktanya saya bisa bertahan dengan satu istri lho…! Lebih dari itu aku iso babak belur…. 🤣

Tapi karena anak ini mendesak minta sebuah nasihat untuk sukses ya terpaksa saya keluarkan sebuah jurus tua saya. Pakai jurus ini, kata saya. Kalau kamu tidak bisa sukses as you wish ya sepurane sing katah, kata saya dalam hati.

Apa jurusnya? Walk another mile. 😎
Selanjutnya…

SIAPA LEBIH BAIK…?! 🤔

Seorang teman pernah bertanya pada saya, “Apakah benar umat beragama itu lebih baik daripada orang-orang yang tidak beragama?”

Teman saya satu ini memang bisa menjengkelkan. Dalam ngobrol ngalor-ngidul dan guyonan hahahihi dia bisa tiba-tiba menyodok saya dengan pertanyaan yang bukan hanya ‘out of the topic’ tapi sekaligus sulit dijawab. Anehnya dia hanya melakukan itu pada saya dan bukan pada teman lain. 🙄

Pertanyaannya yang satu ini adalah pertanyaan sederhana yang jelas tidak bisa dijawab secara sederhana. Saya jelas akan diubernya apa pun jawaban saya. Jadi saya coba dengan satu jawaban ngeles. “Embuh ya. Saya selama ini selalu beragama jadi tidak tahu bagaimana rasanya tidak beragama. Tapi saya memang sering juga lebih mengikuti bisikan setan ketimbang ajaran agama.” Dia tertawa.

“Saya tidak tanya itu. Saya mau kamu menjawab apakah benar umat beragama itu lebih baik daripada orang-orang yang tidak beragama? Beri saya bukti bahwa jika sebuah daerah, kota, atau negara lebih banyak diisi oleh orang-orang beragama maka daerah, kota, atau negara itu akan lebih baik ketimbang daerah, kota, negara yang lebih banyak diisi oleh umat tak beragama atau berhaluan komunis.”

“Apa kriteria ‘lebih baik’ yang kamu maksud?” jawab saya mencoba mencari-cari dalih. Selanjutnya…

DIKIRA BURUH KAPAL

Seperti yang saya duga buku “Mengejar Mimpi” Cak Manto ini benar-benar maknyus. Begitu saya baca sulit untuk melepaskannya. Untungnya saya ini pensiunan tak ada kerjaan sehingga punya banyak waktu luang. Malah terlalu luang sebenarnya. 😁

Begitu saya baca buku “Mengejar Mimpi” ini sak dodokan langsung habis. One book one sitting kalau pakai istilahnya dosen saya Prof Budi Darma. 😁

Ada satu ceritanya yang bikin saya ngakak, yaitu ketika Cak Manto naik pesawat dari Singapore ke Semarang barengan dengan para TKW yang sedang mudik. Ketika dua TKW yang duduk disebelahnya ngobrol pakai bahasa campur-campur bahasa Indonesia/Melayu dan Inggris dia ikut nimbrung dan bertanya, “Maaf, Mbak di Singapura kerja atau hanya jalan-jalan liburan saja?”

“Ya kerjalah. Orang Indo tuh kalau di Singapura rata-rata kerjalah.” jawabnya. Mereka mengaku bekerja sebagai helper dan betah bekerja di Singapura.

“Kalau Mas sudah lama di Singapore?” tanya mereka balik

“Baru, Mbak. Baru tiga mingguan.” jawab Kang Manto.

“Sudah tahu tempat ngumpul kalau weekend untuk orang-orang Indo di Singapura belum?” tanya mereka lagi.

“Belum Mbak,”
Selanjutnya…

MENGEJAR MIMPINYA CAK MANTO

Kemarin pesanan bukunya Cak Manto alias Prof. Sumanto Al-Qurtuby, dosen di Arab Saudi, tiba di rumah saya. Pagi ini mulai saya baca. Tentu saja saya baca yang ringan dulu, yaitu “Mengejar Mimpi”. Satunya, “Agama Politik dan Politik Agama” jelas akan butuh adrenalin lebih untuk membacanya. 😁 Tapi saya yakin tulisan Cak Manto ini pasti sangat menarik. Saya memang penggemar tulisan Cak Manto atau Kang Manto dan selalu mengikutinya di FB-nya.

Buku “Mengejar Mimpi” ini sungguh sangat menarik. Rugi pol kalau sampeyan tidak membacanya. Mengapa menarik? Karena buku ini akan memberi Anda perspektif baru tentang bagaimana seseorang yang benar-benar ndeso kesa keso dan mlarat gak ilok tapi dengan semangat dan tekad luar biasa yang entah darimana ia peroleh berhasil bersekolah hingga S-3 di Boston Amerika (saya jadi ingat keponakan saya, Azarine Aqila Arinta, yang lulusan Boston juga. Tapi Rinta hanya ambil S-2 yang ia selesaikan hanya setahun). Cak Manto sejak 2015 s/d sekarang menjadi dosen Cultural Anthropology di King Fahd University of Petroleum and Minerals.

Setelah membaca bukunya ini saya baru paham mengapa Cak Manto itu begitu slengekan dan seolah kebal dengan segala caci maki dan hujatan. Dia bahkan seolah menikmati segala macam hujatan, ancaman, dan tudingan dari siapa pun yang tidak setuju dengan pendapatnya. 😁 Rahasianya adalah karena dia itu memang sudah kebal dengan segala macam penderitaan. Nothing can hurt him anymore.
Selanjutnya…

MENDOAKAN VIRUS

Seorang teman mengirim video dan berita tentang 11 ribu mahasiswa di Wuhan yang mengikuti upacara wisuda akbar pada Minggu 13 Juni 2021 kemarin tanpa menggunakan masker dan menjaga jarak sosial. Wuhan adalah kota asal virus Corona yang menjadi pandemi dunia tapi kini mereka benar-benar telah bebas dari virus tersebut. Mereka berhasil mengalahkan pandemi ini. Bravo…! 👍

Tak lama kemudian seorang teman mengirim berita 90 warga RT 02 dan 03 RW 11, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang, terkonfirmasi positif Covid-19. Klaster ini diduga muncul akibat warga melakukan perjalanan setelah larangan mudik dicabut. Mereka tampaknya meremehkan ganasnya virus ini dan mengira kalau larangan mudik sudah dicabut maka virusnya yang mudik entah ke mana. 🙄

Sementara itu di WAG lain seorang teman mengirim doa untuk mengusir Corona. Doanya sangat khidmat dan teman saya minta agar doa tersebut disebarluaskan. Perasaan saya seperti nano-nano, bermacam-macam rasanya. 😔

Saya merasa bahwa kita memang tidak pernah belajar apa yang disebut dengan sunnatullah.

Saya jadi ingat sebuah cerita dalam bukunya Ustad Jonih Rahmat “Buku tentang Kebaikan” Judulnya “Gempa Bumi dan Tsunami: Bencana Alam atau Azab Tuhan?”

Menurut para ahli geologi, siapa pun yg tinggal di sepanjang pantai Barat Sumatra, pantai Selatan Jawa, Nusa Tenggara, Maluku, Filipina, Jepang akan berpotensi mengalami gempa. Jadi meski pun yg tinggal disana adalah orang-orang beriman belaka maka tetap saja daerah tersebut akan kena gempa.

Beda dengan Kalimantan. Meski pun penduduknya tidak kenal agama, tidak pernah shalat, dll mereka akan aman dari gempa. Lha wong Kalimantan bukan daerah gempa…!

Lha kalau gempa itu berhubungan dengan dosa dan kemaksiatan maka mestinya Dolly dan Las Vegas sudah diratakan dengan tanah sejak dulu. Nggih nopo mboten…?!

“Bisakah gempa dicegah?” Tanya seorang hadirin pada ustad Jonih dalam ceramahnya.

“Tidak bisa,” jawab Ustad Jonih. Selanjutnya…

MEMAKSAKAN AGAMA


Bisakah negara memaksakan syariat Islam kepada orang-orang mengaku beragama Islam? Bisakah para ulama menyuruh cambuk orang-orang yang tidak berpuasa atau yang tidak melaksanakan sholat Jum’at (seperti dalam undang-undang di Negeri Pahang, Malaysia)? Benarkah tindakan polisi syariat ISIS yang menyalib dan membunuh warga muslim yang ketahuan sengaja tidak berpuasa di Suriah sana?

Tentu saja TIDAK. Jangankan kita atau polisi syariah, sedangkan Nabi Muhammad (dan para nabi yang lain) pun TIDAK DIMINTA untuk menghukum mereka yang ingkar. Berulangkali Tuhan menyampakian pesan dan wanti-wantinya sbb :

Al- Maidah[5:92] Dan ta’atlah kamu kepada Allah dan ta’atlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.

Al- An’am [6:48] Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberikan kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan474, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.

Al-A’raaf [7:188] Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfa’atan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”.

Saba [34:28] Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.

Selanjutnya…