Saat Korporasi Lebih Punya Nurani Ketimbang Politisi
Di tengah genosida dan krisis kemanusiaan yang mencabik-cabik Palestina, dunia bisnis tidak lagi bisa bersembunyi di balik tembok netralitas. Hari ini, Aktivisme Korporasi (Corporate Activism) bukan lagi sekadar tren pemasaran, melainkan sebuah ujian moral. Sekarang perusahaan menggunakan sumber daya, pengaruh, dan mereknya secara terbuka untuk mendukung atau menentang isu sosial, politik, atau lingkungan yang mereka anut. Konsumen global, terutama generasi muda, kini memegang kendali penuh: mereka siap menghadiahi merek yang berpihak pada kemanusiaan, dan menjatuhkan hukuman mati bagi korporasi yang membela penindasan.
Keberanian Nyata: Saat Lush Memilih Kehilangan Miliaran Rupiah Demi Gaza
Ketika banyak raksasa ritel dunia memilih bungkam demi mengamankan keuntungan, perusahaan kosmetik asal Inggris, Lush, mengambil langkah ekstrem yang menggetarkan publik. Pada September 2025, Lush secara serentak menutup seluruh operasional mereka di Inggris—mencakup lebih dari 100 toko fisik, situs belanja online, hingga pabrik-pabrik mereka—selama satu hari penuh.
Toko-toko yang biasanya ramai itu seketika hening, namun jendelanya menyuarakan jeritan yang keras. Poster besar terpampang di kaca toko: “Stop starving Gaza, we are closed in solidarity” (Hentikan kelaparan di Gaza, kami tutup demi solidaritas). Di dunia maya, situs resmi mereka bersalin rupa menjadi warna bendera Palestina. Dalam pernyataan resmi rilis perusahaan Lush, manajemen menyampaikan kepedihan mendalam yang melandasi keputusan nekat ini: “Di seluruh lini bisnis Lush, kami merasakan kepedihan mendalam yang juga dirasakan jutaan orang saat melihat foto-foto warga yang kelaparan di Gaza, Palestina. Sama seperti seluruh dunia, kami kesulitan menemukan cara untuk membantu ketika pemerintah Israel menghalangi bantuan kemanusiaan darurat masuk ke sana. Satu hal yang saat ini bisa dikirimkan oleh Lush ke Gaza adalah cinta dan pesan kuat bahwa kami berdiri dalam solidaritas.”
Langkah ini adalah pertaruhan yang mahal. Lush dengan sadar membakar omzet sebesar £300,000 (sekitar Rp6 miliar) hanya dalam waktu 24 jam. Namun, bagi Lush, nyawa manusia di Gaza jauh lebih berharga daripada angka di laporan keuangan. Mogok massal ini dirancang untuk menekan pemerintah Inggris agar menghentikan pasokan senjata ke Israel dan membuka blokade bantuan. Dengan menghentikan operasi, Lush sengaja memotong setoran pajak mereka hari itu—sebuah pesan politik yang tegas bahwa mereka menolak uang mereka digunakan untuk mendanai peluru.
Keberanian inilah yang menggerakkan hati nurani publik. Di Liverpool, gelombang massa pro-Palestina berbondong-bondong mendatangi toko Lush. Bukan untuk berbelanja, melainkan untuk bersorak, bertepuk tangan, dan menaruh rasa hormat terdalam pada sebuah merek yang menolak menutup mata dari penderitaan.
Dua Kubu Ekstrem: Antara Keberpihakan Moral dan Hukuman Boikot
Krisis Gaza membelah dunia bisnis menjadi dua kubu yang saling bertolak belakang. Di satu sisi adalah mereka yang merawat kemanusiaan, dan di sisi lain adalah mereka yang menuai badai akibat keberpihakan pada penjajahan.
Sisi Kemanusiaan: Lush dan Ben & Jerry’s
Selain aksi penutupan toko oleh Lush—yang juga merilis sabun khusus Watermelon Slice untuk donasi medis ke Gaza—produsen es krim Ben & Jerry’s secara konsisten menyuarakan gencatan senjata permanen. Mereka bahkan berani menolak menjual produk mereka di wilayah pendudukan ilegal Tepi Barat, memilih kehilangan pasar demi mempertahankan prinsip.
Sisi Pendukung Penindasan: McDonald’s, Starbucks, dan Unilever
Pilihan politik yang salah harus dibayar mahal. McDonald’s menderita kejatuhan penjualan masif di seluruh dunia setelah waralaba lokalnya di Israel kedapatan membagikan makanan gratis kepada tentara Zionis. Sementara itu, Starbucks menyaksikan nilai saham dan omzetnya terjun bebas setelah manajemennya menuntut serikat pekerja mereka sendiri yang menyatakan solidaritas untuk Palestina. Raksasa seperti Unilever pun tidak luput dari kehancuran, merasakan hantaman keras dari gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) yang digalang masyarakat global.
Era Baru: Konsumen Menggugat Kompas Moral Korporasi
Dunia telah berubah. Konsumen masa kini, digerakkan oleh nurani generasi muda, tidak lagi bisa disuap dengan produk yang bagus atau diskon yang besar. Mereka menuntut “kompas moral” dari merek yang mereka beli. Lihat saja contoh Adidas yang langsung dihujat karena menampilkan Shalev Biton—seorang mantan tentara Israel IDF yang kehilangan kaki saat bertugas—sebagai model dalam kampanye pemasaran lokal mereka di Israel.
Bagi mereka, sebuah perusahaan tidak boleh lagi berdiri hanya untuk menumpuk kekayaan (profit). Korporasi memiliki tanggung jawab moral untuk menggunakan kekuasaan dan pengaruhnya demi melindungi manusia dan bumi (people & planet). Tulisan di dinding kini terpampang nyata bagi seluruh pemilik modal: berpihaklah pada kemanusiaan, atau bersiaplah digilas oleh hukum pasar yang digerakkan oleh nurani masyarakat dunia.
Surabaya, 9 September 2026
Satria Dharma