Rabu, 15 Nopember 2018
Just another WordPress site

Artikel

Profil

dsc00187a.JPG

Satria pertamakali masuk IKIP Negeri Surabaya tahun 1977, pada program pendidikan guru Diploma 1 jurusan Bhs Inggris di PGSLPYD (Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama Yang Disempurnakan). Setelah lulus, dia langsung ditempatkan di SMPN 1 Caruban, mengajar selama 2 tahun. Pada tahun 1980, dia kembali masuk IKIP pada program S1 jurusan yang sama, sambil mengajar sebagai PNS di SMPN 2 Surabaya.

Di IKIP, Satria pernah menjadi ketua HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) Bahasa Inggris meski waktunya terbatas, karena dia juga harus mengajar siang harinya. Karena prestasinya yang bagus, dia terus menerus mendapatkan beasiswa peningkatan prestasi. Lulus pada tahun 1984, dia kemudian pindah mengajar di SMAN 12, dan pindah lagi ke SMAN 13. Karirnya sebagai PNS mengalami ’kecelakaan’ ketika dia menolak untuk menjadi anggota Golkar. Pada saat itu, semua PNS memang ’dipaksa’ untuk masuk Golkar. Satria menolak untuk mejadi anggota Golkar karena dia berprinsip bahwa seorang guru sebenarnya adalah sosok ’pinandito’, tak boleh bersikap partisan dengan mengikuti golongan atau partai politik tertentu. Sikapnya itu membut dia diskors bertahun-tahun dan dikeluarkan dari tempatnya mengajar.

Lelaki berperawakan sedang dan berambut keriting ini tidak patah hati dengan kondisi tersebut, dan justru menggunakan kesempatan tersebut untuk membuka bimbingan belajar bersama dua orang temannya di Surabaya. Bimbingan tersebut mereka beri nama Airlangga Student Group (ASG) yang mampu menjadi bimbingan belajar terbesar untuk siswa SMP pada saat itu. Bimbingan belajar tersebut bahkan sempat memiliki beberapa cabang di kota-kota di Jawa Timur seperti di Mojokerto, Madiun, Kediri, Gersik, Jember dan Pamekasan,

Tahun 1990, Satria merasa jenuh dengan apa yang dikerjakannya dan melompat jauh ke pedalaman Kalimantan, mengajar di Bontang International School di Kalimantan Timur. Di sini dia mengajar Indonesian Studies pada siswa-siswa asing. Setelah enam tahun mengajar di sekolah internasional inilah Satria mulai menyadari betapa tertinggalnya kualitas pendidikan nasional kita dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh sekolah-sekolah internasional. Menyadari hal itu, dia bertekad untuk keluar dari sekolah internasional itu dan mendirikan sekolah sendiri.

Tahun 1996, keinginannya keluar dari Bontang International School terlaksana. Dia lalu mendirikan Yayasan Pendidikan Airlangga di Balikpapan. Dengan wadah yayasan ini, dia berhasil mendirikan beberapa lembaga pendidikan, di antaranya SMP Airlangga, SMK Airlangga, SMKTI Airlangga, Bimbingan Belajar Airlangga, Airlangga College, ASMI Airlangga, dan STMIK STIKOM Balikpapan di dua kota yaitu Balikpapan dan Samarinda.

s3700061medium.jpg

Tidak puas dengan apa yang dia lakukan di Kalimantan Timur, dia kemudian mengajak beberapa rekannya untuk mendirikan STIKOM Bali di Denpasar, yang sekarang berkembang dengan SMKTI dan juga sebuah sekolah tinggi di Bandung.

Tidak berhenti disitu, Satria kemudian menjajagi profesi lain sebagai konsultan pendidikan di beberapa lembaga yaitu di Sampoerna Foundation, Provisi Education dan CBE. Profesinya sebagai konsultan inilah yang membuatnya sering harus berkeliling ke berbagai daerah di Indonesia.

Satria pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Pendidikan Kota Balikpapan pada tahun 2003 s/d 2006 dan menjadi pelopor program Sekolah Gratis di Balikpapan maupun di Kalimantan Timur. Tulisannya tentang Sekolah Gratis menghiasi koran-koran lokal dan mailing list-mailing list pendidikan. Sikapnya ini membuatnya sempat ’dimusuhi’ oleh para petinggi di Balikpapan, tapi pada akhirnya usulannya mendapat dukungan penuh dari masyarakat. Sekolah Gratis menjadi wacana paling populer di masyarakat pada waktu itu dan saat ini hampir semua kota dan kabupaten di Kalimantan Timur telah mengadopsinya.

dsc00036medium.jpg

Satria yang punya hobi membaca ini masih menyimpan beberapa obsesi di bidang pendidikan. Di antaranya adalah menjadikan masyarakat memiliki budaya membaca dengan programnya ”A Reading Nation”. Dia juga ingin memiliki lembaga pelatihan guru yang benar-benar berkualitas. Salah satu proyek yang sedang dikerjakannya adalah membesarkan ”Indonesian Teachers Club” yang dibentuknya di Jakarta beberapa waktu lalu, di bawah bendera CBE. Satria adalah salah satu pemrakarsa ”Konferensi Guru Indonesia 2006” yang diselenggarakan oleh Sampoerna Foundation dan Provisi Education pada bulan November 2006 lalu. Mendiknas Dr. Bambang Sudibyo yang membuka dan sekaligus menjadi Keynote Speaker pada acara tersebut sangat terkesan dengan KGI 2006 ini, dan berharap agar kegiatan ini menjadi kegiatan rutin tahunan.

Satria menikah dengan Ika Padmasari, bekas siswanya ketika mengajar di Surabaya, dan mendapatkan tiga anak yaitu : Muhammad Ayyub Dharma (Yubi) 13 tahun, Muhammad Yusuf Dharma (Yufi) 9 tahun, dan Tara Nuramalia (Tara) 4 tahun.

Kontak: satriadharma2002@yahoo.com