Setelah selesai seminar di Tarutung saya dan istri langsung diantar ke Balige oleh sopir Pak Marco Panggabean, Kepala Dinas Perpustakaan Kab. Taput. Perjalanan ke Balige memakan waktu sekitar 1 jam saja. Begitu sampai di hotel saya sangat gembira karena kami dicarikan hotel yang sangat bagus oleh Pak Donny Simamora, Kadisdik Kab. Toba, yaitu hotel Sapadia, yang ternyata adalah sebuah hotel baru yang baru beroperasi sekitar 6 bulan. Pantasan kok hotelnya sangat bagus. Letaknya persis di depan Danau Toba. Jadi kalau kami melihat keluar melalui dinding kamar yang terbuat dari kaca maka kami akan langsung melihat Danau Toba dan Pulau Samosir.
Balige adalah ibu kota Kabupaten yang terletak di pesisir selatan Danau Toba. Ibukota Kabupaten Toba-Samosir ini, 235 km di selatan Medan dan 25 km di utara Siborongborong, berada di kaki Gunung Doloktolong, tepi pantai selatan Danau Toba. Balige adalah satu dari enam belas kecamatan di Kabupaten Toba, Sumatera Utara. Kota ini menyimpan jejak Museum T.B. Silalahi Center dan makam pahlawan nasional asal Batak, Sisingamangaraja XII. Nama Balige berasal dari bahasa Batak yang konon berarti “sumber air” karena wilayahnya kaya akan mata air jernih.
Seminar literasi berjalan dengan sangat lancar. Semua peserta tampak sangat serius mendengarkan presentasi saya dan tak ada yang bergerak. Selesai presentasi pertanyaan terus mengalir. Lagipula saya selalu memberi hadiah buku bagi yang bertanya. Ada yang berkomentar bahwa baru sekali ini dia mengikuti seminar dan benar-benar sangat tertarik dan tidak merasa bosan. Syukurlah kalau begitu. Tapi target saya bukan sekedar membuat mereka paham tentang pentingnya budaya baca tapi agar mereka mulai turut membaca buku dan mulai mengajak semua siswa di sekolahnya untuk membaca. Ini harus menjadi gerakan dan bukan sekedar kegiatan yang setelah selesai tidak ada kelanjutannya.
Saya juga selalu bertanya pada mereka apakah setelah ini mereka mau MULAI MEMBACA BUKU secara rutin. Dan mereka semua serentak menjawab bersedia. Pokoknya seperti saya baiat untuk menjadi pembacalah… Lha kalau gurunya saja tidak membaca lantas bagaimana kita berharap muridnya akan membaca. Kalau gurunya saja tidak paham betapa pentingnya siswa kemampuan membaca yang memadai bagi kehidupan mereka dan memiliki kegiatan membaca secara rutin sehingga menjadi kebiasaan dan budaya maka apa yang bisa kita harapkan dari dunia pendidikan kita? Kita telah mengalami ‘Schooling but no learning’ selama ini dan belum ada upaya sungguh-sungguh untuk mengubahnya.
Selama dua hari presentasi di Tarutung dan di Balige saya selalu ‘diulosi’, atau diberi penghargaan dengan diberi ulos oleh Sekda dan pejabat yang hadir dalam acara seminar ini. Ulos adalah kain tenun tradisional khas suku Batak di Sumatera Utara yang secara harfiah berarti selimut. Ulosnya kemudian menjadi oleh-oleh untuk istri saya. Lumayan tidak perlu beli oleh-oleh… 😁
Saya dan istri memutuskan untuk segera menyeberang ke Samosir setelah selesai seminar nanti. Jadi kami akan menginap di Samosir dan menikmati hari di Samosir. Besok paginya baru check out dari hotel dan menyeberang lagi untuk menuju ke Silangit. Kami sudah beli tiket untuk balik ke Surabaya besok siang.
Atas kebaikan hati Pak Donny Simamora maka kami diantar ke Samosir oleh Pak Naipospos, Kabid PGTK, dan Pak Sihombing. Kami tidak naik feri tapi jalan darat dan menyeberang melalui jembatan yang menghubungkan Sumatra Utara dengan Pulau Samosir di tengahnya.
Pagi ini saya akan kembali ke Surabaya dengan naik kendaraan umum Sampri (Samosir Pribumi) dari Samosir ke Silangit. Perjalanan kira-kira 2,5 – 3 jam. Dari Silangit kami akan terbang ke Cengkareng dan nanti sore dari Cengkareng balik ke Surabaya.
Saya sangat bersyukur bisa datang ke Tarutung dan Balige dengan bonus ke Samosir pula. Semoga ada tawaran untuk seminar lagi di tempat lain. Amin….! 🙏
Samosir, 2 Oktober 2026
Satria Dharma








