Ketika Sejarawan Israel Bungkam Narasi Pro-Tel Aviv dengan Tiga Kata
DIAM. DITOLAK. SILAKAN DUDUK.
Tiga patah kata dingin dan tanpa kompromi itu menggema, memotong arogansi interupsi di ruang sidang Oxford Union Society—mimbar debat mahasiswa paling elitis dan berpengaruh di dunia. Kalimat telak tersebut tidak lahir dari palu hakim sidang, melainkan dari lisan Ilan Pappé, seorang sejarawan pemberani yang lahir dan besar di Israel.
Malam itu, Pappé tidak sekadar berdebat. Ia datang untuk menelanjangi sebuah mitos besar. Melalui pidato luar biasa berdurasi dua belas menit, ia membuktikan mengapa dirinya menjadi sosok yang sangat dicintai oleh para pencari kebenaran, sekaligus menjadi figur yang paling ditakuti oleh para loyalis ideologi Zionisme.
Momentum Historis di Bulan Juni 2026
Peristiwa yang mengguncang panggung akademik internasional ini terjadi pada Kamis, 18 Juni 2026. Perdebatan tersebut digelar atas inisiatif Oxford Union, perkumpulan debat mahasiswa Universitas Oxford yang saat itu dipimpin oleh komite mahasiswa di bawah kepresidenan Arwa Elrayess—mahasiswa keturunan Gaza pertama yang berhasil menduduki posisi kepemimpinan tertinggi di lembaga prestisius berusia dua abad tersebut.
Di bawah inisiatif kepengurusan tersebut, Oxford Union berani mengangkat mosi yang sangat sensitif dan membakar atmosfer ruangan: “This House Believes Israel Never Truly Wanted Peace with Palestine” (Sidang Ini Percaya Bahwa Israel Tidak Pernah Sungguh-Sungguh Menghendaki Perdamaian dengan Palestina).
Di kubu oposisi yang menolak mosi, berdiri barisan tameng propaganda pro-Israel, termasuk politisi Einat Wilf, jurnalis Emily Schrader, dan penulis Hen Mazzig. Mereka mencoba memainkan narasi klasik yang usang: memosisikan Israel sebagai korban sejarah yang hak-haknya coba dirampas.
Namun, Pappé menolak tunduk pada aturan main itu. Sebagai ilmuwan yang menghabiskan separuh hidupnya membedah dokumen rahasia negaranya sendiri, ia menolak berlindung di balik bahasa diplomatik yang aman. Secara brutal dan lugas, ia menusuk langsung ke jantung masalah. Pappé menegaskan bahwa Zionisme bukanlah gerakan pembebasan, melainkan sebuah proyek kolonialisme-pemukim (settler-colonial project). Ia melabeli Israel secara terang-terangan sebagai negara apartheid dan menunjuk hidung Inggris sebagai pihak yang memegang tanggung jawab historis atas pembiaran perampasan tanah bangsa Palestina.
Ketika Tameng Propaganda Runtuh
Ketegangan mencapai puncaknya saat Hen Mazzig berulang kali mencoba memotong paparan fakta historis yang dilontarkan Pappé. Di sinilah mentalitas baja sang sejarawan memukau audiens. Tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari catatannya, dengan nada suara yang tenang namun mematikan, Pappé meruntuhkan interupsi tersebut: “Denied. Sit down.”
Saat Mazzig nekat mencoba memotong untuk kedua kalinya, Pappé menghantamnya dengan ketegasan yang lebih tajam: “Anda terus menginterupsi saya, dan saya tidak menyukai apa yang Anda sampaikan.” Itu membuatnya tidak berkutik.
Ketegasan Pappé mengirimkan pesan yang sangat kuat: ia menolak memberikan panggung bagi retorika pengalihan isu yang biasa digunakan untuk mengaburkan kekejaman di lapangan. Baginya, tidak ada lagi ruang untuk ritual formalitas menghormati “proses perdamaian” yang nyatanya palsu dan manipulatif. Menguji keabsahan sebuah negara tidak bisa dilakukan dengan memercayai mitologi politik yang sengaja dikonstruksikan, melainkan dengan melihat rekam jejak empiris dari derita pengusiran warga Palestina.
Menyeret Nurani ke Sisi Sejarah yang Benar
Pappé menutup argumennya dengan sebuah manuver retorika yang jenius. Ia menyeret ingatan audiens ke masa-masa kelam apartheid di Afrika Selatan. Langkah ini berhasil merampas “kemewahan jarak sejarah” yang kerap dijadikan tameng oleh masyarakat Barat untuk bersikap netral. Ia melemparkan gugatan moral yang menghujam langsung ke nurani para mahasiswa: Jika Anda hidup di masa apartheid Afrika Selatan dulu, di sisi mana Anda akan berdiri? Dan apa yang dicerminkan oleh pilihan suara Anda malam itu tentang kualitas moral Anda saat ini?
Seketika, atmosfer Oxford Union berubah. Pemungutan suara malam itu bukan lagi sekadar latihan akademis, debat retoris pengisi waktu luang, atau ajang adu kecerdasan kata-kata. Itu telah bertransformasi menjadi sebuah pilihan eksistensial: apakah para intelektual muda ini memilih untuk tetap menjadi bagian dari sekongkol pembiaran, atau berani berdiri di sisi sejarah yang benar?
Mosi yang diinisiasi oleh para mahasiswa Oxford ini pada akhirnya lolos dengan kemenangan mutlak bagi kubu pro-Palestina (proposisi), yang berhasil mengantongi 208 suara berbanding 129 suara dari kubu oposisi. Namun, signifikansi terbesar dari malam itu bukanlah sekadar angka di papan skor debat. Esensi sejatinya adalah sebuah sindiran keras bagi dunia. Andai saja para pemimpin politik global hari ini memiliki setidaknya satu fraksi kecil dari keberanian intelektual dan keteguhan prinsip seorang Ilan Pappé, panggung dunia tidak akan dipenuhi oleh para pengecut yang membiarkan tragedi kemanusiaan terus berlangsung. 😬
Surabaya, 3 September 2026
Satria Dharma