Sabtu, 09 Agustus 2020
Just another WordPress site
ANTARA MASJID DAN PASAR

Mengapa di saat pandemi virus corona ini masjid harus ditutup sedangkan pasar malah dibiarkan terbuka?
Karena Tuhan ingin agar kita tetap hidup dan bisa melanjutkan kehidupan.

Lho, apa hubungannya…?! 😀

Mari saya jelaskan…

Seluruh ulama di seluruh dunia sepakat bahwa dalam saat wabah seperti ini maka mencegah mafsadat dan menjauhi mudharat harus lebih didahulukan daripada mengambil manfaat. Inilah kaidah fikih yang saat ini dilakukan dalam menghadapi kondisi merebaknya virus Corona. Ketika semua masjid ditutup untuk salat berjamaah ini bukan berarti takut kepada virus Corona. Namun justru agar umat Islam menaati perintah Allah yang dalam QS Al-Baqarah: 195 yang artinya: “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

Memang benar bahwa hukum menghadiri shalat berjamaah di masjid adalah wajib bagi laki-laki. Akan tetapi jika terdapat beberapa kondisi ‘udzur syar’i maka kewajiban tersebut menjadi gugur. Yang menggugurkan kewajiban tersebut di antaranya adalah hujan deras, sakit, angin kencang, dan sebagainya. Jadi bahkan ketika ada hujan deras dan angin kencang saja maka kewajiban kita menjadi gugur. Apalagi ketika terjadi pandemi Covid 19 yang membahayakan jiwa maka justru DILARANG.. Terdapat kaidah yang sudah dikenal, “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain, baik sengaja ataupun tidak sengaja.” Manusia diwajibkan untuk menghargai jiwanya dan juga kehidupan orang lain.

Saat ini orang yang telah tertular Covid 19 tidak diketahui gejalanya dan orang seperti ini akan menimbulkan bahaya bagi orang lain jika hadir salat berjamaah di masjid. Kerumunan orang di masjid atau pun majlis agama memang telah terbukti menjadi pusat penularan Covid 19 ini. Separo dari penderita Covid-19 di Malaysia terkait dengan acara majlis Jamaah Tabligh di Kuala Lumpur. Di Kamboja 11 orang penderitanya adalah orang Khmer muslim yang hadir di acara itu. Begitu juga penderita Covid 19 dari Vietnam, Thailand, Filipina dan Brunai. Jamaah Tabligh di Gowa menjadi pusat penularan di seluruh Indonesia. Jamaah Tabligh Masjid Jami Kebon Jeruk saja yang positif corona COVID-19 ada 73 orang. 😞

Baca juga:  BUNGA RAMPAI PENDIDIKAN KARAKTER

Di Inggris komunitas Islam juga lagi jadi sorotan karena 50 persen penderita Covid-19 di sana terjadi di komunitas Islam. Di Korea Selatan yang jadi sorotan adalah komunitas gereja. Komunitas yang berkerumun–agama maupun bukan agama– memang diketahui sebagai pusat penularan yang cepat. Jadi kerumunan massa memang harus dihindari karena dinilai sebagai faktor risiko tinggi terjadinya penularan virus corona.

Tapi mengapa pasar justru dibolehkan untuk buka? Bukankah di pasar juga terjadi kerumunan massa?

Sesungguhnya pasar juga harus ditutup jika kita hanya berpikir tentang potensi penularannya. Tapi ada pertimbangan lain yang menyebabkan pasar dan pusat-pusat perbelanjaan makanan dan minuman tetap dibolehkan dibuka.

Pertimbangannya adalah demi kelangsungan hidup dan ekonomi masyarakat. 🙏

Jika pasar,warung, dan mini market ditutup maka jelas akan membuat masyarakat akan kesulitan untuk berbelanja kebutuhan hidupnya. Sedangkan kehidupan harus tetap berlangsung apa pun resikonya. Seandainya semua kebutuhan hidup bisa dilayani dengan sistem online maka sebenarnya layak saja jika pasar dan mini market ditutup. Tapi faktanya tidak semua orang hidup dengan sistem online (meski telah dimulai sistem penjualan di pasar dengan sistem online via WA)..

Oleh sebab itu maka pasar dan mini market harus tetap dibuka dengan berbagai protokol pencegahan penularan yang bisa dilakukan. Boleh dengan persyaratan. Terms and conditions applied.

Lho kok kita bisa toleran pada pasar sedangkan pada masjid tidak? 😯

Untuk urusan hidup dan mati maka Tuhan bahkan MEMBOLEHKAN kita makan barang yang haram. Ketika tidak ada makanan lain yang bisa dikonsumsi dan itu bisa mengancam kehidupan kita maka daging babi yang diharamkan pun BOLEH DIKONSUMSI. Itu karena Tuhan ingin agar kita tetap hidup dan bisa melanjutkan kehidupan. Jiwa manusia itu lebih penting dan berharga ketimbang melaksanakan hukum agama tentang makanan yang halal dan haram di masa normal. Ada faktor KEDARURATAN.

Baca juga:  HONOR

Jadi Tuhan melarang kita membahayakan diri kita dengan memaksakan diri berjamaah di masjid tapi justru membolehkan yang haram untuk dikonsumsi demi agar kita tetap hidup dan bisa melangsungkan kehidupan kita. Tuhan sangat menghargai jiwa manusia dan tidak ingin manusia membahayakan diri dan kehidupannya, apalagi membahayakan kehidupan orang lain karena kecerobohannya.

Semoga memberi pencerahan…

Surabaya, 26 April 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *