Jumat, 17 September 2021
Satria Dharma's Weblog
RAKYAT SEPERTIMU…

Suatu hari, Ubaidah As-Salman mendatangi Khalifah Ali bin Abu Thalib seraya bertanya sekaligus protes, “Wahai Amirul Mukminin, di masa Abu Bakar dan Umar, tidak banyak terjadi kegaduhan; di masa engkau dan Ustman jadi khalifah, terjadi banyak kegaduhan politik. Mengapa?

Ali bin Abi Thalib menjawab, “Di masa Abu Bakar dan Umar jadi khalifah, rakyatnya adalah orang-orang seperti Utsman dan aku sedangkan di masa Utsman dan aku, yang jadi rakyat adalah orang-orang sepertimu.

Seorang aktivis mantan pejabat marah melihat cara pemerintahan Indonesia menangani wabah Covid 19 ini. Dia menyanjung-nyanjung negara Vietnam yang mampu mengatasi wabah ini dengan nol kematian dan memaki-maki Luhut. Ada dua kesalahan yang tampaknya memang sengaja disampaikannya. Pertama ia bilang Vietnam penduduknya 100 juta jiwa padahal tidak sampai sekian. Kecuali kalau Vietnam digabung dengan Singapura. Yang kedua adalah ketika ia menyatakan bahwa Pemerintah Vietnam itu Pancasilais sejati. Saya sampai tersedak membacanya. Hampir saja saya misuh sambil ngakak. Rupanya kalau sedang ada maunya pemerintah komunis pun bisa disebut Pancasilais sejati sedangkan presiden negara Pancasila bisa dituduh komunis. Dengan mudahnya Vietnam bisa disebut ber-Ketuhanan yang Maha Esa karena negaranya nol korban Covid 19. (Makanya saya berusaha untuk tidak ngomong sama sekali kalau sedang marah pada istri saya). 😎

Sekarang ini Vietnam memang sedang disanjung-sanjung karena kemampuannya mengatasi pandemi sehingga tak satu pun dari 270 warganya yang positif mati karena Covid 19. Ini memang mengherankan seluruh dunia meski sebenarnya tidak ada resep rahasia dari apa yang dilakukan oleh Vietnam. Semua negara juga melakukan tindakan preventif yang dilakukan oleh Vietnam dengan variasi sesuai dengan negara masing-masing. Tapi toh negara-negara maju yang memiliki sistem kesehatan yang jauh lebih baik dari Vietnam tidak mampu membendung Covid 19 ini.

Baca juga:  Aku Beriman Maka Aku Bertanya

Meski demikian memang ada satu resep yang bukan rahasia yang membuat Vietnam mampu mencegah merebaknya Covid 19 ini, yaitu KEPATUHAN DAN KEDISIPLINAN warganya.. Warga Vietnam memang warga yang sangat patuh pada pemerintahnya. Duta Besar Republik Indonesia untuk Vietnam, Ibnu Hadi menyampaikan bahwa sistem pemerintahan di Vietnam amat sentralistis, sehingga pusat bisa cepat mengambil keputusan. Kebijakan pemerintah melawan Virus Corona dengan cepat bisa dilaksanakan tanpa perdebatan. Pemerintahan Vietnam itu sentralistis sehingga apa yang diputuskan pimpinan langsung bergerak ke tingkat paling bawah tanpa diskusi atau argumentasi. Jadi begitu diputuskan semua langsung bergerak dengan cepat di lapangan. Penegakan hukum di Vietnam sangat kuat karena Vietnam adalah negara komunis sosialis. Sehingga negara di atas segala-galanya dan rakyatnya patuh. Tak ada protes tentang HAM segala macam seperti di negara demokrasi.

Cirinya negara sosialis komunis itu law enforcement-nya kuat, rakyat patuh, dan memang takut kepada aparat sehingga itu olahraga pagi saja begitu, didekati (oleh petugas) mereka langsung bubar saya lihat sendiri jadi patuh. Dan tidak banyak ada yang berbantah, semuanya mengikuti,” jelas sang dubes.

Bandingkan dengan negara India yang warganya harus diuber-uber dan dipukul pantatnya dengan rotan agar patuh. Bandingkan dengan warga Makassar yang warganya… Ah, tidak usahlah. Lha wong warganya aja bisa kirim video keramaian di pasar dengan komentar, “Indahnya BERBAGI CORONA di bulan Ramadhan”. Asem tenan kok…! Memang tidak baik membandingkan negara dengan dasar demokrasi dengan negara sosialis komunis. Jangankan pemerintah, sedangkan fatwa ulama yang paling top pun tidak didengar oleh umat yang rindu berjamaah. Kalau perlu masjid yang digembok pun dilompati pagarnya demi bisa salat tarawih berjamaah di masjid. Kalau di Vietnam kan mereka tidak bertarawih, tidak berpuasa, dan jelas tidak perlu mudik lebaran. Jadi tidak usah mi dibandingkang… Terlalu njomplan… 😂
Seorang teman FB yang tinggal di Australia menulis di FB-nya bahwa sementara satu negeri masih sibuk membuat pembatasan, atau bahkan masih berdebat tentang perlu-tidaknya pembatasan, Australia malah sudah bersiap melonggarkan aturannya. Kita memang masih berdebat soal apakah PSBB ini perlu diterapkan pada banyak daerah atau tidak sementara negara lain sudah mulai melonggarkannya. Kita baru mulai yang lain sudah mau selesai. Negara Bagian Victoria di mana ia tinggal rakyatnya memang patuh. Ragam budaya di sana ternyata bukan halangan bagi masyarakatnya untuk mematuhi perintah otoritas kesehatan maupun politik. Para pemimpin informal, termasuk dari pihak religi maupun kelompok migran, ikut aktif bersama pemimpin formal mengkampanyekan pembatasan sosial. Victoria mungkin sebentar lagi akan dapat berhasil melalui masa krisis dan mulai menapak perlahan menuju normal.
Membaca statusnya tersebut saya langsung berkomentar, “Kalau dilihat demikian maka sebenarnya permasalahan Covid 19 di Australia itu jauh lebih sederhana dibandingkan di Indonesia. Sekarang kita paham betapa beratnya menjadi pemimpin di Indonesia…” 😏
Sama seperti sulitnya Khalifah Ali bin Abi Thalib menghadapi umat macam Ubaidah As-Salman…. 😞
Surabaya, 28 April 2020
Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com

Baca juga:  MBOK YAO TRAVELING GITU LHO…! 😎

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *