Senin, 02 Juni 2020
Just another WordPress site
SINOPHOBIA DAN KETIDAKPAHAMAN SEJARAH

Kebencian pada China tampaknya mulai dihembus-hembuskan lagi di medsos. Beberapa tokoh dengan terang-terangan mengecam investasi China di Indonesia di TV. Tentu saja mereka punya agenda politis di balik penolakan mereka pada investasi dan adanya TKA China di Indonesia.

Bagi saya apa yang mereka lakukan itu mengerikan sekaligus menyedihkan. 😞

Ketakutan pada segala yang asing atau Xenophobia itu penyakit yang dengan cepat akan berkembang menjadi rasisme. Kebencian pada segala yang berbau asing ini adalah penyakit menular dan harus dibasmi. Tuhan sendiri sudah mewanti-wanti umat Islam agar tidak xenophobic dan rasis dengan ayatnya yang sangat terkenal di Surah Al Hujurat ayat 13, disitu Allah berfirman: “Wahai manusia, sesungguhnya Aku menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal….” Jadi jelas tujuan Tuhan untuk menciptakan manusia dalam berbagai ras dan suku itu adalah agar kita SALING MENGENAL dan bukan untuk saling mencurigai dan memusuhi. Keberagaman adalah Sunnatullah dan kebencian pada keberagaman adalah penyakit jiwa yang harus dibrantas. Sebagai umat beragama sudah selayaknya kita menyembuhkan dari dari xenophobic dan rasisme dengan terus menerima adanya perbedaan yang memang merupakan ketentuan dari Allah ini. 🙏

Xenophobia ini sangat penting untuk dihilangkan, karena mereka yang menderita xenophobic akan sangat sulit hidup di masa sekarang. Dunia saat ini benar-benar sudah mengglobal dan tidak mungkin bagi kita untuk menghindari interaksi dengan orang-orang yang berbeda dari kita. Ketakutan ini dapat menghambat kemajuan individu, kelompok dan bahkan negara. Lha wong bal-balan tanpa pemain asing saja sungguh sepo kayak bal-balan tarkam aja. 😀

Tapi saya tidak akan membahas itu. Pagi ini saya kaget karena di WAG saya muncul sebuah komentar “Sepertinya Indonesia ini sudah dikuasai China. Sampai di desa pun ada China, dst…dst…” Ini sudah menjadi Sinophobic… 🙄
Meski penulisnya adalah pensiunan guru tapi tampaknya beliau ini benar-benar tidak paham sejarah. Beliau ini tidak tahu bahwa orang Tionghoa itu memang sudah ada di Nusantara jauh sebelum Indonesia terbentuk. Orang-orang China itu memang sudah menjadi bagian dari Nusantara jauh sebelum Soekarno dan Hatta memproklamasikan Indonesia. Orang-orang keturunan Tionghoa ini memang sudah menjadi bagian dari bumi Nusantara yang kemudian kita proklamirkan menjadi Indonesia ini. Ini harus benar-benar dipahami oleh rakyat Indonesia agar kita tidak buta sejarah.

Baca juga:  LOGIKA BENGKOK HOTMA

Catatan pertama kedatangan orang Tionghoa ke Nusantara sudah muncul pada abad ke-5. Berdasarkan penelitian sejarah kerajaan dari Jawa datang ke kerajaan di Tiongkok pertama kali muncul dalam catatan Hou Han Shu bab ke-6 dan bab ke-116. Dokumen Tiongkok klasik ini disusun sejarawan istana masa Dinasta Han (206 SM-220 M). Sementara catatan pertama Seorang biksu bernama Faxian melakukan perjalanan darat dari Tiongkok ke India pada 400 M. Dalam perjalanan pulang lewat laut, dia mengunjungi Jawa pada 414 M.

Secara resmi bangsa Tionghoa pertama datang ke Nusantara baru pada abad ke-7 M pada masa Dinasti Tang. Ketika itu letak geografis Nusantara, khususnya Jawa, sudah tercatat.

Pada masa berikutnya, Dinasti Sung (960-1279 M), rute perjalanan ke Nusantara sudah dijabarkan lebih lengkap. Dalam Catatan Sejarah Dinasti Song, Jawa disebut terletak di Samudra Selatan. Sila baca ini jika ingin lebih detil.
Jadi keturunan Tionghoa ini sudah menjadi warga Nusantara jauh sebelum Belanda datang dan menjajah kerajaan-kerajaan di Nusantara. 🙏

Cak Nun pernah berkata “Kenapa dunia begitu ketakutan kepada Khilafah? Yang salah visi Khilafahnya ataukah yang menyampaikan Khilafah kepada dunia? Sejak 2-3 abad yang lalu para pemimpin dunia bersepakat untuk memastikan jangan pernah Kaum Muslimin dibiarkan bersatu, agar dunia tidak dikuasai oleh Khilafah.”
Pernyataan Cak Nun ini saya bahas dalam artikel saya

Dalam tulisan saya tersebut saya tunjukkan fakta-fakta sejarah bahwa TIDAK PERNAH ADA kesepakatan pemimpin dunia agar dunia tidak dikuasai khilafah. Sila baca kalau tertarik.

Di sini saya hendak mengungkit lagi apa yang terjadi di Nusantara pada Abad 18.. Berikut ini daftar kejadian di Jawa yang mungkin menarik diketahui pada abad tersebut.

Baca juga:  APAPUN KURIKULUMNYA, MUTU GURU KUNCINYA

JAWA ABAD 18

1740 – Terdapat 2.500 rumah orang Tionghoa di dalam tembok Batavia sedangkan jumlah orang Tionghoa di kota dan daerah sekitarnya diperkirakan 15.000 jiwa. Jumlah ini setidak-tidaknya merupakan 17% dari keseluruhan penduduk di daerah tersebut (Berapa jumlah penduduk Batavia alias Jakarta 280 tahun yang lalu?). Ada kemungkinan bahwa orang-orang Tionghoa sebenarnya merupakan unsur penduduk yang lebih besar jumlahnya. Ada pula orang-orang Tionghoa di kota-kota pelabuhan Jawa dan Kartasura walaupun jumlahnya hanya sedikit.

4 Februari 1740 – Segerombolan orang Tionghoa melakukan pemberontakan dan penyerbuan pos penjagaan untuk membebaskan bangsanya yang ditahan oleh VOC.

Oktober 1740 – Berdasarkan bukti yang didapatkan VOC menarik kesimpulan bahwa orang-orang Tionghoa sedang merencanakan sebuah pemberontakan.

Juli 1741 – Pos VOC di Rembang dihancurkan oleh orang-orang Tionghoa yang membantai seluruh personel VOC.

November 1741 – Pakubuwana II mengirim pasukan artileri ke Semarang. Pasukan prajurit-prajurit tersebut bersatu dengan orang Tionghoa melakukan pengepungan terhadap pos VOC. Pos VOC di Semarang ini dikepung oleh kira-kira 20.000 orang Jawa dan 3.500 orang Tionghoa dengan 30 pucuk meriam. Orang Jawa dan Tionghoa bersatu melawan kompeni Belanda.

13 Februari 1755 – VOC menandatangani Perjanjian Giyanti. Isinya VOC mengakui Mangkubumi sebagai Sultan Hamengkubuwana I, penguasa separuh wilayah Jawa Tengah.

5 Agustus 1771 – 11 Oktober 1772 – Perang Bayu atau Perang Puputan Bayu (ada yang menyebut Pemberontakan Jagapati) adalah salah satu perlawanan yang dilakukan oleh para pejuang Blambangan yang dipimpin Mas Rempeg atau Pangeran Jagapati (Perang Bayu I) dan Bapa Endha (Perang Bayu II) melawan Pasukan VOC yang dibantu oleh laskar-laskar pribumi dari Madura dan daerah Jawa Timur lainnya.

Baca juga:  BERSAMA IGI MENUJU PROFESIONALISME GURU

1 Januari 1800 – VOC secara resmi dibubarkan, didirikan Dewan untuk urusan jajahan Asia. Belanda kalah perang dan dikuasai Prancis. Wilayah-wilayah yang dimiliki Belanda menjadi milik Prancis.

Kalau tertarik melihat lebih banyak sila dilihat di https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Nusantara_(1602%E2%80%931800)

Apa yang menarik dari yang saya tunjukkan di atas? Ternyata orang-orang Tionghoa yang tinggal di Batavia sejak awal abad 18 jumlahnya sudah lebih dari 17%. Berapa persen orang Makassar atau Batak yang tinggal di Batavia pada zaman tersebut? Sejarah bahkan tidak mencatatnya. Yang menarik lagi adalah bahwa ternyata orang Jawa dan Tionghoa bersatu melawan kompeni Belanda.. Pasukan Pakubuwana di tahun 1741 bersatu dengan orang Tionghoa melakukan pengepungan terhadap pos VOC. Pos VOC di Semarang ini dikepung oleh kira-kira 20.000 orang Jawa dan 3.500 orang Tionghoa dengan 30 pucuk meriam. Jadi orang-orang yang kita sebut sebagai ‘aseng’ ini ternyata 278 tahun yang lalu adalah para pejuang yang bertempur bahu membahu bersama pasukan Pakubuwana melawan penjajahan VOC.

Jadi kalau Anda merasa heran mengapa orang China ada di mana-mana di Indonesia ini maka mungkin yang perlu Anda lakukan hanyalah membaca sejarah agar paham bahwa mereka memang sudah menjadi bagian dari warga Nusantara jauh sebelum kita sendiri paham apa itu Indonesia. Mereka adalah komponen penting dalam sejarah kebangkitan Indonesia itu sendiri. 🙏

Surabaya, 1 Mei 2020

Satria Dharma

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *