Kenapa Masih Ada Warga Indonesia yang Membela?
Bagaimana mungkin ada warga Indonesia yang masih sibuk mencari pembenaran dan membela kejahatan Israel? Logika dan nurani kita patut dipertanyakan ketika Ehud Olmert, orang yang pernah memimpin negara tersebut sebagai Mantan Perdana Menteri Israel, justru berdiri dan mengecam keras kekejaman bangsanya sendiri di Tepi Barat.
Jika arsitek politik Israel saja muak dengan apa yang terjadi, apa dasar moral sebagian dari kita untuk tetap menjadi “pembela” mereka?
Ehud Olmert secara eksplisit melabeli kekerasan sistematis terhadap warga Palestina sebagai “pembersihan etnis” dan “kejahatan terhadap kemanusiaan.” Poin-poin pernyataan Olmert berikut ini seharusnya membuka mata siapa pun yang masih menutup telinga dari kemanusiaan:
Menolak Narasi “Oknum”: Ini Adalah Pembersihan Etnis
Dalam serangkaian wawancara pada September 2026—termasuk di CNN Amanpour & Co. dan Radio Israel 103FM—Olmert menegaskan bahwa kekerasan ini bukan sekadar konflik biasa, melainkan upaya nyata melakukan PEMBERSIHAN ETNIS. Ia tanpa ragu menyebut para pemukim ilegal tersebut sebagai “kelompok teroris kriminal pembunuh” yang bergerak setiap hari untuk mencederai, mencuri, membakar, dan membunuh warga Palestina.
Perampokan Tanah yang Terkoordinasi
Menulis langsung di media Israel Haaretz, Olmert membongkar kedok negaranya. Ia mengklarifikasi bahwa ini bukan ulah kelompok pinggiran, melainkan sebuah “perang pembunuhan yang kejam” yang terorganisasi demi mengusir warga Palestina secara massal dan merampok tanah mereka lewat aneksasi sepihak.
Negara dan Militer Ikut Terlibat
Olmert menuduh pemerintahan Benjamin Netanyahu, polisi, dan militer Israel bertindak sebagai kaki tangan. Mereka aktif memfasilitasi dan melindungi para pemukim ilegal ini. Bagi Olmert, klaim pemerintah bahwa pelakunya hanya “segelintir minoritas” adalah sebuah kebohongan besar karena kejahatan ini telah dilembagakan dan didukung penuh oleh negara.
Meminta ICC Menangkap Pemimpin Israel
Karena hukum di Israel mandul dan menolak mengadili warganya yang membunuh warga sipil Palestina, Olmert mengambil langkah ekstrem. Ia mendesak Mahkamah Pidana Internasional (ICC) di Den Haag untuk turun tangan dan mengeluarkan surat perintah penangkapan. Olmert menyatakan intervensi internasional dibutuhkan segera demi “menyelamatkan warga Palestina dan kami [warga Israel]” dari kegilaan pemukim yang disokong negara.
Sebuah Tamparan Keras untuk Para Pembela Buta
Sangat ironis dan memilukan. Seseorang yang pernah berada di puncak kekuasaan Israel saja berani membongkar borok negaranya, mengakui adanya perampokan tanah, dan mengutuk terorisme pemukim ilegal negaranya.
Lalu, kok ya ada di antara kalian, warga Indonesia yang jauh dari sana, justru bertindak lebih “Israel” daripada mantan Perdana Menteri Israel sendiri? Jika mantan pemimpin mereka saja sudah mengetuk palu bahwa ini adalah kejahatan kemanusiaan, masih tersisakah nurani di dalam dada kalian untuk terus membela kekejaman ini? 🤔
Balikpapan, 15 September 2026
Satria Dharma