Selasa, 15 Oktober 2019
Just another WordPress site
KPK vs DPR (Bagian 2): BACALAH SEJARAH…!

Seorang teman dengan wajah kusut bertanya pada saya soal pertarungan KPK vs DPR yang akhirnya meluas dan merembet ke berbagai masalah. “Aku kok bingung, Cak Sat. Sakjane siapa sih sing bener? Aku berusaha untuk mendengar dari kedua belah pihak. Pihak pembela KPK kudengarkan, pembela DPR dan pemerintah kudengarkan, dan bahkan pihak-pihak para pendukung dan penentang mereka kudengarkan. Tapi semakin banyak aku mendengarkan semakin bingung aku.” keluhnya. 🙄

Tentu saja, pikir saya dalam hati. Ini adalah masa-masa fitnah bertebaran dengan panah-panahnya yang datang dari segala penjuru angin. Ini adalah masa kebingungan yang melanda sebagaimana umat Islam dulu di masa Khalifah Ali r..a. yang diperangi oleh para sahabat dan umatnya sendiri. Mari kita menengok kembali sejarah dan benar-benar belajar darinya. Jangan menjadi orang dungu dan bebal yang meski sudah diberi pelajaran melalui sejarah tapi tak mampu melihat dan mendapatkan pelajaran darinya. Pada masa khalifah Ali r.a. sesama umat Islam berperang untuk mempertahankan kebenarannya masing-masing. Semua pihak tentu saja merasa benar dan mereka bersedia berperang dan bahkan jika perlu membunuh pihak yang bertentangan pendapat dengan mereka meski mereka sadar bahwa lawan mereka adalah sesama muslim. Ketika ego sudah memuncak maka nafsu pun menguasai. Ketika nafsu sudah menguasai maka mereka pun tanpa segan mencampakkan nasihat Nabi Muhammad soal bagaimana menyelesaikan sebuah perselisihan di antara sesama muslim.

Seandainya Anda hidup di zaman itu, kemana Anda hendak berpihak? Ke Khalifah Ali r.a. atau Muawiyah? Jangan kuatir. Kedua belah pihak punya alasan kuat masing-masing. Kelompok Muawiyah punya alasan kuat untuk memberontak pada Khalifah Ali karena menganggap Ali tidak mampu menegakkan keadilan atas terjadinya pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan yang keji tersebut. Bukankah Islam sangat menekankan pentingnya menegakkan keadilan? Lantas mengapa Khalifah Ali tidak mau dan tidak mampu menegakkan keadilan? Untuk apa punya khalifah yang tidak bisa menegakkan keadilan? Turun saja engkau wahai Ali…! Melawan Khalifah Ali sama dengan membela dan menegakkan keadilan. Begitu kira-kira argumen dan logika yang mereka tegakkan. (Does it ring you a bell?). 🙄

Baca juga:  CADAR OR NOT (Part 2)

Khalifah Ali r.a memang mewarisi kekacauan yang terjadi saat masa pemerintah Khalifah sebelumnya. Beliau diangkat dalam keadaan genting dan kepercayaan pada kepemerintahan Khalifah Utsman yang sangat rendah. Tuduhannya sama dengan sekarang kok, yaitu soal korupsi dan KKN. Bahkan akhirnya ketidakpercayaan memuncak dan beliau sampai dibunuh dengan keji. Meski akhirnya Ali diangkat menjadi khalifah tapi ketidakpuasan dan kekecewaan umat tidak juga reda. Mereka juga tidak puas dan tidak percaya pada Khalifah Ali. Ketidakpuasan dan ketidak percayaan pada Khalifah Ali akhirnya menimbulkan peperangan antar sesama umat Islam dan sesama sahabat Nabi. Untuk pertama kalinya perang saudara antara umat Muslim terjadi saat masa pemerintahannya. Dalam Pertempuran Basra 20.000 pasukan pimpinan Ali melawan 30.000 pasukan pimpinan Zubair bin Awwam, Talhah bin Ubaidillah, dan Ummul mu’minin Aisyah binti Abu Bakar, istri Rasulullah.. Padahal yang memaksa Ali menjadi khalifah menggantikan Utsman bin Affan yang dibunuh secara keji justru Zubari bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah sendiri. Ali di baiat pertama kali oleh Thalhah bin Ubaidilah, kemudian diikuti oleh Zubair bin Awwam, dan Sa’ad bin Abi Waqqash, dan selanjutnya diikuti oleh orang-orang dari kalangan Anshar dan Muhajirin.. Sebetulnya mereka yang mendorong Ali untuk naik tapi kemudian mereka pula yang mengkhianatinya. Bayangkan betapa rumitnya situasi dan terbelahnya umat Islam saat itu. Sebanyak lebih dari 10.000 umat Islam gugur pada peperangan itu. Mereka para korban adalah umat Islam awal dan juga para sahabat nabi.
Pemberontakan kedua dilakukan oleh Muawiyah, yang menolak Ali sebagai khalifah. Ia bahkan menganggap dirinya setara dengan khalifah walaupun ia hanya seorang gubernur. Akhirnya terjadilah Perang Shiffin yang melibatkan kelompok Muawiyah dengan kelompok Khalifah Ali. Perang ini terjadi di kota Shiffin, yang hampir dimenangkan oleh pasukan Khalifah Ali. Namun berkat kecerdikan pasukan Muawiyah yang dipimpin oleh Amr bin Ash, pasukan Ali gagal mendapatkan kemenangan. Amr bin Ash mengacungkan Al-Quran dan tombaknya, yang memiliki arti meminta perdamaian menggunakan Al-Quran. Khalifah Ali sebenarnya mengetahui bahwa hal itu hanyalah strategi licik yang dilakukan oleh pasukan Muawiyah, namun karena didesak oleh pasukannya, Khalifah Ali menerima tawaran tersebut. Akhirnya dilakukanlah perundingan untuk mencapai perdamaian yang berakhir dengan mengenaskan bagi pihak Ali. 😞
Jadi tolong jangan naif sebagai umat Islam itu. Sejak zamannya Khalifah Ali, penggunaan simbol, lambang dan idiom agama untuk mengecoh dan menipu umat demi memenangkan pertempuran sesama umat Islam sudah dilakukan. Dan yang melakukan juga sesama sahabat Nabi. Jadi kalau sekarang kita melihat ada umat Islam dan para ustad yang kemudian menggunakan bendera tauhid sebagai lambang perlawanan pada pemerintah maka itu sebenarnya cuma pengulangan strategi licik yang dulunya dipakai oleh kelompok Muawiyah. Sila baca kisahnya pada tulisan saya ini. https://satriadharma.com/…/politik-bendera-dan-bendera-pol…/ dan
https://satriadharma.com/…/umat-yang-tidak-belajar-dari-se…/

Baca juga:  Harga Kaget

Strategi licik ini dulu berhasil membuat Khalifah Ali terguling dan belakangan anak-anaknya, yang berarti cucu Nabi Muhammad, dibantai dengan sangat sadis oleh penguasa lawan politiknya. Akhirnya kekhalifahan Islam berubah menjadi kerajaan atau dinasti. Muawiyah berhasil menciptakan Kerajaan atau Dinasti Umayyah yang dengan bangganya kita sebut sebagai Kekhalifahan Umayyah. 😞

Lalu bagaimana kita harus bersikap ketika telah pecah peperangan antar sesama umat Islam sebagaimana pecahnya umat Islam di zaman Khalifah Ali r.a? Ya bersikaplah sebagaimana umat Islam yang mengikuti pesan-pesan Nabi Muhammad sebagai panutan kita. Jangan bersikap sebagai umat Islam yang namanya saja umat Islam tapi tidak mengikuti ajaran-ajaran Nabi. Jangan jadi umat Islam yang hanya mengikuti ego dan nafsu belaka dan lupa bahwa ada ajaran Nabi yang harus diikuti. Tentu saja semua pihak akan MENGAKU bahwa pihaknya yang benar. Apa susahnya membuat alasan. Anda bisa baca tulisan saya di sini. https://satriadharma.com/2017/12/08/semua-bisa-mengaku/

Apa sih pesan-pesan Nabi Muhammad dalam soal kepemimpinan dan ketika terjadi perselisihan?
Bukankah Nabi sudah berpesan agar jika terjadi perselisihan dalam umat Islam maka mereka diminta untuk kembali pada pesan-pesan yang tertulis dalam Alquran dan Hadist? Apa sih yang tertulis dalam Alquran dan Hadist soal bagaimana kita harus bersikap pada pemimpin kita?
Kalau mau tahu sila kunjungi website saya dan baca artikel ini. https://satriadharma.com/…/khulafaur-rasyidin-dan-umatnya-…/

Sekian dulu dan semoga tulisan saya ini membuat Anda menjadi lebih paham, lebih awas, dan lebih waspada. Semoga…! 🙏

Surabaya, 28 September 2019

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *