Mei 16, 2022

0 thoughts on “DOUBLE UP YOUR SALARY

  1. Jangan berhenti di satu pekerjaan saja. Cari pekerjaan yang bisa memberikan gaji dua kali lipat dari yang Anda punyai sekarang. Kalau bisa mulailah untuk memiliki usaha pribadi yang bisa memberikan kesempatan memiliki penghasilan aktif dan pasif tambahan dari yang ada. Does it sound cliche? 🙂 Intinya adalah tingkatkan kapabilitas Anda ‘double up’ untuk mendapatkan penghasilan dua kali lipat. Ah! ini juga klise…! 🙂

  2. Saya mengalami pelajaran 1 sampai 3 nya Pak Satria,
    Saya mulai dengan jadi guru gaji 95 rb, pindah kerja jadi triple up 300 rib, pindah lagi jadi 1 jt…, 3 jt…9 jt dst….
    alhamdulillah saya nikmati. tapi ada suatu motivasi yang harus saya perbaiki…motivasi itu karena dendam dilecehkan teman-teman kost yang calon dokter, arsitek, ahli kimia, akuntan dll. nasib guru seperti ‘dijengkali’ mereka, nasib guru yang gurem dan madesu. saya buktikan thd diri saya sendiri bahwa saya bisa hidup layak.

    Tapi ada pelajaran 4, yang belum dibuka Pak Satria, punya lembaga pendidikan sendiri …
    saya masih terobsesi untuk punya bisnis sendiri dan tentu saja lembaga pendidikan sendiri, saat ini sedang dirintis…sebagai guru swasta kita gak punya pensiun dan harus menyiapkan mau sebesar apa pensiun yang dicapai nanti..

    Tapi memang banyak waktu yang tersita dan perlu keseimbangan. … dan ternyata materi dan kebendaan yang telah dikejar dahulu tidak membuat kita puas…nafsu itu trus menghantui.. ..saya ingin menjadi guru Kaya, keluarga saya jadi keluarga kaya, sekolah saya jadi sekolah kaya….makanya saya tulis buku sekolah kaya…he he sekalian promosi…

    Saya sepakat dengan Tung Desem Waringin, “Uang bukan segala-galanya, tapi segala-galanya perlu Uang”

    Salam,

    Joko

    Pak Joko, yg nomor 4 tidak berani saya buka sebelum yakin bahwa teman-teman memang ingin punya lembaga pendidikan sendiri.
    Secara pribadi saya salut dengan apa yg Pak Joko raih saat ini. Anda mendapatkannya karena kerja keras dan kerja pintar sementara saya hanya karena beruntung. I really admire what you have done so far.
    Semoga banyak guru yg bisa mengikuti jejak Anda, Pak Joko!

    Salam
    Satria Dharma
    http://satriadharma .com

    Wah saya jadi malu hati,
    membaca Sang Maestro kita merendah….

    Tahun 2004, Pak Satria pernah kasih saya konsep2 usaha bidang pendidikan.
    dan saya terobsesi terus sampai saat ini untuk mewujudkannya. ..
    dan saya yakin bisa mewujudkannya dan perlu belajar banyak dari Pak Satria…

    Salam,

    Joko

    Pak Joko,
    Ketika pertama kali saya ‘nyemplung’ membuka lembaga pendidikan sendiri di pertengahan tahun 80-an saya memulainya dengan membuka bimbingan belajar (yang ternyata sekarang malah semakin merajalela tersebut. hehehe…). Waktu itu saya baru lulus dari IKIP Surabaya dan diajak oleh seorang teman yang masih belum selesai kuliahnya di fakultas kedokteran UNAIR (dan akhirnya memang tidak pernah menjadi dokter dan macet di Drs Med-nya!). Ia mengajak saya karena rupanya ia tidak tahu apa itu kurikulum, evaluasi, metodologi, dll. Ia sepenuhnya menyerahkan soal ‘isi’nya pada saya sedangkan ia bertugas untuk mencarikan siswa. Bagi saya justru itu yang sulit dan baginya apa yang saya lakukan adalah yang tidak bisa ia kerjakan. So we were perfect partners. 🙂

    Dari situ saya sadar bahwa lembaga bimbingan belajar waktu itu justru dibuka dan dimiliki oleh ‘non-IKIPers’ alias mahasiswa yang tidak punya latar belakang fakultas pendidikan. Mostly mereka dari Kedokteran. Mungkin karena mahasiswa kedokteran adalah anak-anak dengan otak terencer, datang dari keluarga kalangan menengah ke atas, dan juga paling percaya diri sehingga mereka merasa kuliah di kedokteran masih kurang ‘menantang’ dalam hidup mereka. 🙂

    Ternyata mahasiswa IKIP memang hanya hebat untuk mengelola dan bukan untuk membuka lembaga pendidikan sendiri. I guess they do not have entrepreneurship spirit. Kalau disuruh menjalankan mah mereka jago. Tapi akibatnya adalah mereka cuma jadi karyawan dan tidak pernah jadi pemilik.
    Saya merasa SANGAT BERUNTUNG bahwa saya diajak oleh teman saya dari fakultas kedokteran tersebut. Seandainya saya tidak pernah diajak untuk terjun langsung mengelola sebuah bimbingan belajar maka saya tidak akan pernah tahu apakah saya bisa mengelola (dan kemudian memulai sendiri) lembaga pendidikan. Saya tidak akan pernah sampai di titik ini.
    Jadi sekarang saya paham betul bahwa KESEMPATAN adalah hal yang perlu kita berikan pada banyak orang agar mereka sadar akan potensinya dan berani mengembil langkah penting dalam hidupnya. Tanpa memiliki kesempatan dalam melakukan sesuatu yang penting dalam karier dan hidup mereka maka segala kecerdasan dan kehebatan yang kita miliki tidak akan ada gunanya. KESEMPATAN itulah yang harus kita berikan dan tawarkan kepada setiap orang di sekitar kita. If they have the chance then they have the future.
    Saya rasa di titik ini saya merasakan pentingnya peran guru dalam mendorong dan memberikan kesemptan pada setiap siswanya untuk mencari keunggulan dalam dirinya. Tidak selalu dalam bidang akademik (saya sering sekali menjumpai orang-orang dengan kemampuan akademik luar biasa tapi sangat payah dalam kehidupan sehari-hari) . Kalau mereka sadar akan kemampuan diri mereka maka mereka akan melesat menjadi bintang dari hidup mereka sendiri.
    Saya menulis artikel ini dengan harapan memberi ‘api’ kepada teman-teman yang punya ‘bara’ dalam hatinya untuk mengambil sikap dan keputusan penting dalam hidupnya. Kekecewaan terbesar adalah ketika kita memiliki kesempatan dan tidak mengambilnya. So never hesitate to grab it. Failure is nothing compared to the joy of fighting for your chances to succeed.

    Salam
    Satria Dharma
    http://satriadharma .com/

  3. Benar. Harta bukan sumber kebahagiaan, kedudukan juga bukan, isteri juga bukan, jika semua itu membuat kita suka melakukan yang bukan-bukan. Kebahagiaan muncul dari dalam diri kita. Syukur adalah pengubah “lucky” menjadi “happy”. Sabar dan interospeksi adalah pengubah kesialan menjadi kebahagiaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.