Saat ini dunia sedang disuguhi oleh sebuah peristiwa langka yang menyedot perhatian dunia, yaitu pemakaman Imam Ali Khamenei yang oleh warga Iran disebut sebagai “pemakaman abad ini”. Iran sedang dalam masa berkabung nasional dengan serangkaian prosesi pemakaman bagi mantan Pemimpin Tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei.
Jenazah mantan Pemimpin Tertinggi tersebut disemayamkan di Mosalla Agung Teheran mulai Jumat (03/07), upacara pemakaman resmi kenegaraan digelar di Teheran pada Sabtu (04/07) dan nantinya dimakamkan di kota kelahirannya, Mashhad, pada Kamis (09/07) besok. Otoritas Iran memperkirakan perhelatan ini akan dihadiri oleh 12 hingga 20 juta pelayat yang juga berdatangan dari seluruh dunia.
Melalui berbagai tayangan dan media kita bisa menyaksikan apa yang bisa kita katakan sebagai pemakaman terbesar dalam sejarah. Jutaan orang memenuhi jalanan untuk mengantarkan kepergian Sayyed Ali Khamenei, pemimpin Iran yang tewas dibunuh bersama sejumlah anggota keluarganya oleh koalisi Amerika Serikat dan Israel.
Sulit menggambarkan apa yang kita lihat melalui media dengan kata-kata. Suasana nyatanya mungkin hanya bisa benar-benar dipahami oleh mereka yang berada di Teheran. Meski pun demikian kita bisa merasakan agung dan magisnya suasana pemakaman tersebut dari berbagai laporan yang kita peroleh. Dari berbagai penjuru dunia, orang-orang datang untuk memberikan penghormatan terakhir—termasuk banyak yang berasal dari negara-negara Barat. Arus manusia seakan tak pernah berhenti. Semakin malam, jumlah pelayat terus bertambah, dan gelombang emosi mereka semakin terasa.

Menurut mereka yang hadir di Mosala, Teheran, udara dipenuhi kesedihan, kemarahan, dan tekad yang membara. Terdengar seruan-seruan yang menuntut pembalasan, doa-doa yang lirih, nyanyian, puisi, serta pekik perlawanan yang bergema di tengah lautan manusia. Hari-hari berkabung ini, tampaknya, akan dikenang sebagai salah satu momen paling bersejarah dalam perjalanan gerakan anti-imperialisme bukan hanya di Iran tapi di seluruh dunia.
Setiap orang di Iran masih meyakini bahwa perang bisa kembali menghampiri Iran sewaktu-waktu. Hampir tidak ada yang menaruh kepercayaan pada nota kesepahaman (MOU) dengan Amerika Serikat setelah gencatan senjata yang berkali-kali gagal. Namun, di balik kecemasan itu, warga Iran menunjukkan keyakinan yang kuat bahwa negara mereka mampu menghadapi serangan apa pun. Mereka percaya, kekuatan terbesar Iran bukan hanya terletak pada militernya, tetapi juga pada rakyatnya yang bersatu dan tekad perlawanan mereka yang semakin menggelora.
Apabila pembunuhan terhadap Khamenei dimaksudkan untuk mengguncang Iran dan memicu perubahan rezim, maka pemandangan di Teheran hari-hari ini justru memperlihatkan hasil yang berlawanan dan bahkan justru bertolak belakang. Lautan manusia yang memenuhi jalan-jalan Teheran menjadi gambaran bahwa tindakan tersebut, justru telah memperkuat tekad masyarakat, bukan mematahkannya. Bahkan, dampaknya mungkin akan jauh melampaui perkiraan para perancangnya.
Apa yang bisa kita saksikan di Iran menunjukkan bahwa Republik Islam Iran dan masyarakat revolusionernya telah mengakar sebagai sebuah realitas politik yang tidak mudah dihapus melalui perang ataupun sanksi ekonomi apa pun. Bagi kawasan ini, momen tersebut bisa menjadi sebuah titik balik yang gaungnya akan terus terdengar hingga generasi mendatang. Apa yang terjadi di Iran jelas juga akan mempengaruhi cara pandang dunia terhadap geopolitik di Timur Tengah dan perubahan tata kelola dunia secara umum.
Surabaya, 8 Juli 2026
Satria Dharma