Dua hari ini, 1 dan 2 Februari 2025, kami mengadakan Rakernas Yayasan kami di Stikom Group Bali di hotel Four Star Renon, Denpasar. Ini adalah acara rutin tahunan untuk menutup rapat kerja dari masing-masing divisi yang ada. Sebelum ini ada rapat pra-raker untuk evaluasi kinerja pada tahun sebelumnya dan perencanaan untuk tahun berikutnya di 2025. Saya sendiri tidak terlibat dalam rapat pra-raker mereka yang sudah diadakan bulan sebelumnya. Hanya anggota Yayasan yang tinggal di Bali yang terlibat penuh. Saya hanya menghadiri acara Rakernas ini di mana semua pimpinan divisi atau lembaga yang ada menyampaikan hasil rakernya di rakernas ini. Ada lebih dari 70 orang pimpinan divisi yang hadir pada acara ini.
Saya baru sadar bahwa ternyata ada 24 divisi atau lembaga yang ada di bawah Yayasan kami ini. Kami punya sekitar 6.000 lebih siswa dan mahasiswa di Bali. Tapi hanya 20 lembaga yang bisa ikut Rakernas kali ini. Bahkan saya baru sadar bahwa ada 7 SMKTI Bali Global di bawah Yayasan kami (Denpasar, Badung, Karangasem, Klungkung, Singaraja, Jimbaran, Abiansemal). Saya tidak hapal divisi apa saja yang ada di dalam 24 lembaga tersebut. Tentu saja saya juga tidak hapal para pimpinan dan staf yang hadir pada acara ini disamping memang ada staf dan pimpinan yang baru bergabung.
Dari semua divis dan lembaga tersebut tentu saja tidak semua berkinerja bagus. Ada yang bagus dan ada juga yang memble. Ada yang menguntungkan dan ada yang merugikan dan membebani Yayasan secara finansial. Dulu saya mencoba untuk bersikap keras pada lembaga-lembaga yang memble dan tidak menunjukkan kinerja yang baik, apalagi sampai merugikan dan membebani keuangan Yayasan. Saya bahkan bilang pada Dirutnya agar segera menghentikan divisi atau lembaga yang merugikan. Untuk apa memelihara divisi atau usaha yang merugi dan tidak punya masa depan? Saya bahkan mencoba untuk mendatangi mereka dan mencoba untuk melihat apa masalah yang mereka hadapi dan mencoba untuk memberi masukan. Tapi karena saya tidak tinggal di Bali maka upaya saya tersebut tampaknya tidak terlalu efektif. I should have stayed longer here.
Sekarang saya sudah tidak lagi terlalu keras dan mencoba untuk melihat dari perspektif yang berbeda. Bagaimana pun, mereka tentunya telah berupaya semampu mereka dan jika mereka belum berhasil maka itu mungkin bukan kesalahan mereka sepenuhnya. Lagipula saya pikir keberhasilan tidak selalu dalam bentuk materi atau finansial. Kalau Yayasan kami bisa memberi pekerjaan dan penghasilan bagi mereka bukankah itu juga sudah sebuah keberhasilan?
Salah satu lembaga yang dulunya saya bersikap keras adalah lembaga pelatihan dan pengiriman tenaga kerja ke Jepang. Lembaga ini banyak utangnya dan targetnya setiap tahun tidak pernah tercapai. Tahun lalu saja lembaga ini hanya bisa mengirim 64 tenaga kerja ke Jepang. Dan ini jelas tidak memadai dari segi finansial apalagi untuk membayar utangnya ke Yayasan. Tahun ini saya bersikap berbeda. Saya yakin pimpinan dan semua staf telah berupaya keras untuk mencapai tarket mereka tapi mungkin memang belum rejekinya. Persaingan usaha semakin lama memang semakin keras. Saya tidak bisa menghakimi mereka karena saya toh tidak bisa turun tangan membantu sebaik-baiknya. Rasanya tidak adil jika saya hanya melihat kegagalan mereka. Saya mau melihatnya dari perspektif berbeda. Pertama, bagaimana pun Lembaga ini tetap bisa berjalan dan memberi penghasilan dan pekerjaan bagi pimpinan dan staf yang ada di Lembaga tersebut. Jika kami menutup lembaga ini hanya karena pertimbangan finansial maka itu pasti akan sangat menyakitkan bagi mereka yang bekerja di sana karena mereka akan menganggur. Padahal tentunya gaji mereka sangat diharapkan oleh keluarga masing-masing meski pun tidak besar. Satu hal yang juga menjadi pertimbangan saya adalah bahwa keberhasilan Lembaga ini mengirim 64 naker ke Jepang sebenarnya adalah hal yang sangat positif. Bisa bekerja di Jepang dengan gaji yang besar adalah impian banyak naker. Sangat banyak orang yang ingin bisa bekerja di Jepang agar memperoleh gaji yang besar dan lembaga kami ini berhasil mengirim 64 orang. Ada 64 keluarga yang tentunya sangat bersyukur dan bangga bahwa anggota keluarganya bisa bekerja di Jepang. Bukankah ini sebuah sebuah keberhasilan yang patut dibanggakan? Saya berupaya untuk melihat dari sisi ini dan merasa bangga dan bersyukur karenanya. Saya tidak lagi menyalahkan tapi mulai menghargai. Saya pikir mereka lebih membutuhkan empati dan penghargaan ketimbang disalahkan karena buruknya kinerja mereka. Lagipula ternyata sangat banyak prestasi dan penghargaan yang diperoleh oleh siswa-siswa kami selama tahun 2024 ini. Saya sendiri heran dan takjub bahwa dengan fasilitas yang tidak sempurna banyak siswa kami yang bisa menjadi juara lomba dalam level nasional. Saya jadi sangat bangga dan merasa selayaknya saya bersyukur dan berterima kasih pada mereka yang telah berupaya keras untuk mencetak generasi muda Bali yang berprestasi.
Denpasar, 2 Februari 2025
Satria Dharma
















