Dunia sinema internasional baru saja diguncang oleh sebuah karya dokumenter radikal yang meruntuhkan dinding propaganda: film NAZA. Disutradarai oleh sineas berani Israel, Yuval Abraham, film ini mendobrak tabu terbesar dalam sejarah modern Israel dengan menghadirkan rekaman eksklusif berupa testimoni, pengakuan, dan kesaksian langsung dari para tentara aktif Israel. Mereka yang diwawancarai bukanlah pengamat jarak jauh, melainkan para operator lapangan—para algojo yang terlibat langsung dalam menggerakkan sistem kecerdasan buatan (AI), menarik pelatuk, dan menjalankan metode sistematis di balik pembunuhan massal warga sipil di Gaza.
Film NAZA hadir bukan sebagai pengamatan dari luar, melainkan sebagai rekaman mengerikan yang berisi pengakuan langsung dari para pelaku kejahatan—tentara Israel yang menarik pelatuk, mengoperasikan drone, dan mengontrol sistem di balik pembunuhan massal warga sipil di Gaza. Dokumenter berani ini telah menyentuh titik paling sensitif, memicu gelombang kemarahan, tuduhan pengkhianatan, hingga intimidasi fisik dari masyarakat yang bahkan belum pernah menontonnya sekilas pun.
Kemarahan ini meledak di tengah atmosfer sosial Israel yang pekat oleh dehumanisasi. Sejak tragedi pembantaian 7 Oktober, sebuah narasi absolut meresap kuat dalam ruang publik mereka: “Tidak ada orang tak berdosa di Gaza.” Doktrin inilah yang melanggengkan kekerasan sistematis di Gaza dan Tepi Barat. Ketika sebuah karya film datang dan menelanjangi mekanika pembunuhan justru lewat testimoni para algojonya sendiri, reaksi yang muncul adalah perpaduan instingtif antara penyangkalan, trauma yang belum sembuh, pembenaran moral, dan kepanikan untuk membela negara di tengah isolasi global.
Di tengah badai itulah, sebuah dialog krusial terjadi. Sutradara Yuval Abraham hadir di televisi nasional Israel, berhadapan dengan jurnalis senior Raviv Drucker—satu dari sedikit orang yang benar-benar telah menonton film tersebut. Dialog mereka membedah skeptisisme masyarakat. Tuduhan bahwa film ini sengaja menghapus memori kelam 7 Oktober atau kekejaman Hamas langsung terbantahkan, meski Drucker menilai porsi untuk tragedi tersebut kurang proporsional. Mereka berdebat sengit tentang metodologi jurnalistik, verifikasi data, hingga keputusan untuk menyamarkan identitas para tentara yang bersaksi.
Namun, esensi terdalam dari pertemuan itu baru terkuak di penghujung wawancara. Yuval melontarkan pertanyaan tajam yang menghujam jantung jurnalisme arus utama Israel: Bagaimana bisa, selama tiga tahun terakhir, tidak ada satu pun investigasi televisi Israel—termasuk oleh Drucker sendiri—yang berani membedah metode pembunuhan di Gaza? Mengapa jurnalis lokal bungkam atas penggunaan AI dalam penargetan dan skala kematian warga sipil yang masif? Yuval menambahkan sebuah fakta pilu: di luar sana, banyak tentara Israel yang sebenarnya mengantre, menunggu dengan gelisah untuk membongkar kebenaran ini dari sudut pandang mereka sebagai pelaku. Mereka juga dikejar-kejar oleh rasa bersalah mereka atas kejahatan yang telah mereka lakukan pada warga Gaza. Banyak tentara IDF yang tidak hanya mengalami gangguan stres pasca-trauma (PTSD) biasa, melainkan moral injury, yaitu konflik batin hebat, kedukaan, atau kehancuran jiwa setelah melakukan atau menyaksikan tindakan yang melanggar nilai-nilai kemanusiaan dasar mereka sendiri. Sebanyak 76 tentara IDF telah melakukan bunuh diri karena tidak tahan dengan trauma pembunuhan di Gaza tersebut.
Di sisi lain, film ini bukan tanpa kritik. Suara-suara pro-Palestina memandang sinis fokus narasi yang lagi-lagi berpusat pada perspektif penembak (Yahudi Israel), alih-alih sang korban (warga Palestina). Namun, mencari kebenaran yang utuh di lapangan saat ini adalah kemustahilan yang dirancang. Gaza telah diisolasi total; pers asing dilarang masuk, dan sekitar 200 jurnalis Palestina telah tewas sejak perang berkecamuk. Informasi sengaja digelapkan agar dunia tidak melihat kesaksian dari kedua belah pihak.
Apa yang berhasil lolos dari sensor seharusnya meremukkan hati siapa saja yang masih memercayai kesucian martabat manusia. Penderitaan tak bertepi dan kematian anak-anak yang terjadi hampir setiap hari adalah alarm darurat bagi kemanusiaan kita.
Namun, sebuah pertanyaan besar tetap menggantung di udara: Di ruang sinema yang dipenuhi air mata untuk korban Israel itu, seberapa banyak penderitaan rakyat Gaza yang ikut diselipkan? Apakah ada ruang untuk mengakui dosa para algojo mereka? Cukupkah waktunya? Atau, apakah mereka dianggap sama sekali tidak ada?
JANGAN MENUTUP MATA HATI DAN NURANI
Pada akhirnya, gelombang amarah terhadap film NAZA membuktikan satu hal: ketakutan terbesar masyarakat Israel saat ini bukanlah kebohongan, melainkan kebenaran yang telanjang. Ketika penembak dan algojo mereka sendiri mulai bicara dan mengaku, narasi pertahanan diri yang selama ini dibangun sebagai tameng moral runtuh seketika. Selama media internal Israel terus menutup mata, selama pers asing dibungkam, dan selama penderitaan massal di Gaza dianggap “tidak ada”, maka perdamaian hanyalah sebuah ilusi kosong. Menangisi korban di satu sisi sambil membenarkan pembantaian di sisi lain adalah kebangkrutan moral yang nyata. Jika dunia dan masyarakat Israel sendiri terus memalingkan wajah dari genosida yang mekanismenya kini telah dibongkar oleh para pelakunya sendiri, kita tidak hanya sedang menyaksikan kematian warga Gaza—kita sedang merayakan matinya nurani kemanusiaan global.
Balikpapan, 17 September 2026
Satria Dharma