Senin, 10 Desember 2018
Just another WordPress site
POLITIK BENDERA DAN BENDERA POLITIK


Syahdan…

Perang sipil atau perang saudara di antara umat Islam terjadi dua kali di jaman Khalifah Ali r.a, yaitu Perang Jamal dan Perang Shiffin. Penyebabnya adalah terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan yang mengakibatkan kemarahan sebagian muslim. Hal ini kemudian menjadikan retaknya persatuan di antara umat Islam yang telah dirintis oleh Rasulullah. Hal ini membuat Muawiyah, yang merupakan Gubernur Syam waktu itu, tidak mau berbaiat kepada Khalifah Ali dan akhirnya menyebabkan pecahnya Perang Shiffin. Ini adalah pemberontakan terang-terangan pada pemerintah yang sah, yaitu Khalifah Ali, pada waktu itu.

Muawiyah adalah politikus yang sangat licin dan mempunyai ambisi besar. Kata-katanya lemah lembut dan terkenal dermawan. Ini membuatnya menjadi politikus yang disegani dan memiliki banyak sekutu. Muawiyah menolak berbaiat kepada Ali dan menuntut qisas agar para pembunuh Utsman ditumpas atau Ali menyerahkan para pembunuh tersebut lebih dahulu. Jika Ali tidak memenuhi permintaan ini maka Muawiyah dan sekutunya akan memerangi Ali dan menolak berbaiat kepadanya. Pokoknya mereka menuntut untuk menghabisi seluruh pembunuh Utsman tanpa sisa lebih dahulu sedangkan Ali, meski setuju untuk mengusut pembunuhan ini, memprioritaskan persatuan umat Islam lebih dahulu baru menjalankan qisas. Muawiyah menolak. Ini jelas sebuah sikap pembangkangan terang-terangan kepada khalifah yang sah, yaitu Ali bin Abi Thalib.

Khalifah Ali bin Abi Thalib merespon dengan berangkat menuju Syam untuk memerangi para pemberontak tersebut. Kedua kubu saling berhadapan pada Juli 657 di tempat bernama Shiffin, di hulu sungai Eufrat. Ali mencoba untuk bernegosiasi agar tidak perlu terjadi peperangan di antara sesama umat Islam. Ternyata negosiasi buntu dan pertempuran antara keduanya pun tidak dapat dihindarkan. Pada awalnya Ali mengajak Muawiyah untuk bertempur satu lawan satu, supaya tidak perlu terjadi perang. Siapa yang hidup ia adalah yang menang dan menjadi khalifah. Namun, Muawiyah yang cerdik menolak ajakan itu, hanya Amr yang berpihak pada Muawiyah yang mau.

Dalam duel tersebut hampir saja Amr tewas oleh pedang Ali. Pedang Ali berhasil mengenai perutnya sehingga tali celananya dan putus hingga auratnya terlihat. Ali tidak mau melanjutkan pertempuran dan membiarkan Amr menutupi auratnya. Tapi hal ini tidak menghentikan terjadinya peperangan besar di antara sesama umat Islam ini.

Baca juga:  Pendidikan Ilmu Sosial yang Mengkeret

Dalam pertempuran terakhir pada 28 Juli 657 M, pasukan Ali di bawah pimpinan Malik al-Asytar hampir menang ketika Amr ibn al Ash dengan licik melancarkan siasatnya. Ia memerintahkan pasukan Muawiyah untuk melekatkan salinan al-Quran di ujung tombak dan mengangkatnya sambil berteriak “Laa Hukma Illaa Lillah!” yang berarti “Tidak ada hukum selain hukum Allah”. Ini diartikan pasukan Ali sebagai seruan untuk mengakhiri perang dan mengikuti keputusan Alquran. Hal ini membuat pasukan Ali berhenti menyerang. Mereka menganggap meneruskan berperang sama artinya dengan memerangi Alquran yang diusung di ujung tombak pasukan Muawiyah. Ini adalah siasat licik dengan mengatasnamakan Alquran dan hukum Allah untuk mengecoh sesama umat Islam. Pasukan Muawiyah mengecoh pasukan Ali dengan bertamengkan Alquran yang mereka tancapkan di tombak mereka sehingga pasukan Ali menjadi ragu-ragu dalam memerangi mereka.

Ali tentu saja tahu dan sadar dengan kecohan dan pengkhianatan ini. Ia lalu menyerukan pasukannya untuk menyerang lawannya. Ia mengingatkan pasukannya bahwa musuh-musuh mereka bukan ahli Alquran. Alquran hanya mereka pakai sebagai tipuan untuk berlindung dari kejahatan mereka. Tapi pasukannya telah terpengaruh dan mentalnya jatuh. Pasukan Muawiyah terhindar dari kekalahan dan dari sini sejarah Islam berubah drastis.

Peperangan akhirnya dihentikan dan diteruskan dengan perundingan yang benar-benar merugikan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Pada jaman inilah muncul sekte baru yang disebut Khawarij yang akan memusuhi Ali dan akhirnya menyebabkan khalifah terbunuh dalam perjalanannya ke Masjid Kufah, pada 24 Januari 661 M. Khalifah Ali dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam Al Murodi. Alkisah sang pembunuh ini sebenarnya adalah hafal Alqur’an, bertaqwa dan ahli ibadah, dan ketika melakukan aksinya sambil berkata, “Hukum itu milik Allah, wahai Ali. Bukan milikmu dan para sahabatmu.” Saat melakukan aksi bejadnya ini Ibnu Muljam juga tidak berhenti mengulang-ulang ayat 207 surat Al Baqarah yang artinya, “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”

Baca juga:  Rukyat atau Hisab...?!

Setelah terbunuhnya Ali orang-orang Madinah membaiat Hasan bin Ali namun Hasan bin Ali menyerahkan jabatan kekhalifahan ini kepada Mu’awiyah dalam rangka mendamaikan kaum muslimin. Khalifah Ali akhirnya digantikan oleh Muawiyah, pendiri Dinasti Umayyah.

Dari sini kita belajar dari sejarah bahwa siasat memanfaatkan Alquran dan simbol-simbol agama untuk mengecoh umat Islam yang dilakukan oleh sesama umat Islam telah digunakan sejak dahulu. Jadi jangan heran jika teriakan takbir “Allahuakbar…!”, kalimat tauhid, ayat-ayat Alquran, bendera yang dinisbatkan sebagai bendera Rasulullah, sumpah dengan mengatasnamakan Allah dan Rasulnya, atau apa pun yang bisa digunakan untuk mengecoh sesama umat Islam akan digunakan demi kepentingan golongan dan meraih kekuasaan.

Tapi sejarah memang menunjukkan bahwa kita tidak pernah belajar dari sejarah.

Taktik kuno dengan mengatasnamakan agama dan simbol-simbolnya untuk mengecoh umat dan meraih kekuasaan politik masih ampuh saat ini. Saat ini kita terus menerus dibombardir oleh kelompok-kelompok pemberontak mengatasnamakan agama Islam baik yang berskala nasional mau pun internasional dengan menggunakan berbagai idiom dan simbol agama untuk mengecoh umat Islam. Di skala internasional kelompok pemberontak ISIS jelas-jelas menggunakan berbagai idiom, simbol, jubah agama Islam untuk mengecoh umat Islam untuk berontak kepada pemerintahan yang sah di mana mereka berada. Mereka mengibar-ngibarkan bendera yang mereka klaim sebagai bendera Rasulullah agar umat Islam mau ikut berjuang dengan mereka. Di Indonesia kelompok Hizbut Tahrir jelas-jelas telah membangkang terhadap pemerintah Indonesia dan ingin menegakkan kekhilafahan Hizbut Tahrir mereka dengan mengatasnamakan ajaran-ajaran Islam. Jadi jangan heran jika Felix Siauw yang memang pengikut HTI ini membela bendera Hizbut Tahrir yang ia sebut sebagai ‘bendera Rasulullah’. Ia memang ingin agar umat Islam terkecoh dan ikut dengan kelompok HTI untuk mendirikan kekhilafahan bersama kelompoknya. Politik bendera dan bendera politik yang digunakan oleh ISIS ini jugalah yang digunakan oleh HTI dan gerombolannya untuk menipu umat Islam Indonesia untuk berkhianat terhadap bangsa dan negara Indonesia.

Baca juga:  BAGAIMANA MUNGKIN KITA MENGHARAPKAN SISWA YANG MEMBACA JIKA SEKOLAH TAK PUNYA PERPUSTAKAAN YANG MEMADAI...?!

Jadi, waspadalah…waspadalah…!

Surabaya, 11 Desember 2017

Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Satu tanggapan untuk “POLITIK BENDERA DAN BENDERA POLITIK”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *