Minggu, 28 September 2020
Just another WordPress site
Kampanye Gerakan Literasi Di Pare-pare

Seperti para pemimpin politik, saat ini saya juga sedang safari utk kampanye. Saya memang sedang berkeliling utk kampanye kemana-mana. Tapi saya berkeliling utk kampanye Gerakan Literasi Sekolah. Saya ingin agar masyarakat mendukung sekolah yang melaksanakan pendidikan yg bermutu dg program membaca dan menulis secara rutin. “Pilihlah Gerakan Literasi Membaca dan Menulis…!”. Itu kampanye saya. Lebih daripada itu saya ingin mendorong setiap orang utk membaca setiap hari sebagai kewajiban seorang muslim dan keharusan bagi kehidupan modern. “Wajibkanlah Diri Anda utk Membaca dan Menulis Setiap Hari”. Itu yg hendak saya sampaikan pd mereka sebagai materi kampanye saya. Saya merasa inilah panggilan jihad saya sekarang sebagai seorang pensiunan yg sehat walafiat, sejahtera dan berbahagia. Saya memiliki semua yg dibutuhkan utk memenuhi panggilan jihad tersebut dan saya memenuhinya dengan senang hati.

Kalau minggu sebelumnya saya ke Tulungagung dan Jombang kali ini saya dapat undangan manggung di Pare-pare, Sulsel. Sy diundang oleh Pak Syukur Salman utk mempromosikan Gerakan Literasi Sekolah di daerahnya. Rupanya kampanye saya utk mengundang tanpa perlu mengeluarkan biaya apa pun cukup berhasil. Mereka menjadi tidak segan utk mengundang karena tidak perlu mengeluarkan dana utk transportasi, akomodasi, apalagi honor bagi saya. Kalau sekedar mengumpulkan kepala sekolah di sebuah gedung dan camilan sekedarnya tentu mudah bagi beberapa orang yg punya koneksi dg Kadisdik lokal. Bagi saya sendiri ini sebenarnya juga kesempatan dan alasan utk jalan-jalan sama istri sambil bagi ilmu. Ini lebih baik ketimbang jalan-jalan melulu. Hehehe…!

Acaranya dilaksanakan pada hari Minggu, 6 April 2014 pagi ini. Jadi saya berangkat Sabtu ke Makassar dan menyewa mobil utk langsung ke Pare-pare. Saya sdh mengatur tiket pp dan akomodasinya sekalian. Saya menginap di hotel Bugis, hotel yg sama dimana acara akan diadakan. Kamar hotelnya besar tapi tata ruangnya buruk. Nampaknya hotel ini dibangun tanpa konsultan perhotelan. 🙂

Baca juga:  Bagaimana Membuat Anak Suka Membaca?

Kota Pare-pare sekarang berjarak kurang dari 3 jam perjalanan dr Makassar. Kota ini sudah berubah banyak sejak terakhir kali saya datang beberapa tahun yg lalu. Perubahannya cukup besar. Jalanan dari Makassar ke Pare-pare dari betonan sudah jadi dan ini membuat perjalanan menjadi mulus dan menyenangkan. Jalanan di sepanjang pantai Pare-pare juga sudah jadi dan mulus. Sungguh segar melihat lautan dan teluk di sepanjang perjalanan. Beginilah seharusnya pantai dilindungi. Ia harus dijadikan pemandangan dan tidak ditumbuhi bangunan dan gedung-gedung di tepinya. Saya jadi ingat Balikpapan yg juga punya pantai tapi tenggelam di balik rumah-rumah dan gedung-gedung. Sungguh sangat disayangkan.

Acara Gerakan Literasi Sekolah di Pare-pare terselenggara atas inisiatif Pak Syukur Salman. Beliau adalah seorang kepala sekolah SDN 71 Pare-pare. Selain menjabat sebagai kepala sekolah laki-laki bertubuh tegap dan berwajah tenang ini adalah ketua Jurnal Pendidikan Cendekia Kreatifitas Guru Pare-pare. Ia membaca tawaran saya di milis dan merasa tawaran tsb sesuai dg keinginannya utk mempromosikan lembaganya pada para guru agar mereka mau mulai belajar menulis. Ia berhasil menggerakkan teman-temannya sesama kepala sekolah utk melaksanakan acara ini tanpa sponsor sama sekali. Jelas mereka masih harus mengeluarkan dana utk sewa gedung, makan siang peserta, bikin spanduk, transport, dll utk menyelenggarakan acara ini. Dan ini jelas sebuah pengorbanan utk sebuah misi menggerakkan budaya literasi di kota Pare-pare. Saya selalu kagum pada pemuda atau guru yg mau melangkah lebih daripada tupoksinya. Orang-orang seperti ini berani keluar dari zona nyamannya utk menggapai sesuatu yg lebih tinggi dari sekedar tuntutan pekerjaannya. They are real leaders.

Ketika saya tanya mengapa ia tertarik utk mengundang saya dan menggerakkan teman-temannya utk menyelenggarakan seminar Gerakan Literasi Sekolah tanpa sponsor dan bantuan dr pemda samasekali, Pak Syukur menjawab bahwa ia tertarik pada gagasan saya karena sering membaca tulisan dan komentar saya di milis. Ia tertarik utk mendengarkan secara langsung apa gagasan saya soal Gerakan Literasi Sekolah ini. Sepak terjang saya di dunia pendidikan menarik baginya dan ini kesempatan utk mengundang saya.

Baca juga:  KISAH KEHIDUPAN ICHA HARIANI SUSANTI 2014

Saya juga bertanya apa yg ia harapkan dari kedatangan saya ke Pare-pare dan dijawab bahwa ia ingin agar saya dapat memotivasi dan memberi pencerahan pada para guru di sana. Setelah presentasi dan tanya jawab sepanjang hampir 3 jam ia berpendapat bhw presentasi saya mampu menggugah sekitar 120-an peserta utk mulai memahami betapa pentingnya literasi membaca dan menulis bagi dunia pendidikan. Ia berharap dapat menindaklanjuti semangat perubahan yg telah muncul pada para peserta menuju ke tindakan nyata di lapangan nanti. Ia bahkan berjanji akan terus mendorong budaya baca tulis. Ia bahkan sudah berencana menulis ttg gagasan Parepare sbg kota literasi.

Saya merasa puas dan gembira bisa menularkan semangat membaca dan menulis pada para peserta seminar di Pare-pare dan berharap dapat menularkannya ke daerah-daerah lain di seluruh nusantara.

Makassar, 6 April 2014

Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *