Rabu, 13 Nopember 2019
Just another WordPress site
MENGHIDUPKAN MIMPI KE NEGERI SAKURA

“When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it”
Paulo Coelho

Ketika saya kembali dari Jakarta kemarin saya mendapatkan paket kiriman istimewa. Paket tersebut adalah 100 eksemplar buku berjudul “Menghidupkan Mimpi ke Negeri Sakura” yang merupakan kumpulan kisah para mahasiswa yang mendapatkan kesempatan untuk belajar di Jepang. Seorang teman memborong buku tersebut dan meminta saya untuk membantunya menyebarkan buku-buku tersebut pada anak-anak miskin yang memiliki semangat dan keinginan untuk terus belajar meski terhalang oleh kemiskinannya. Ia berharap agar kisah-kisah dalam buku tersebut bisa melecut semangat dan membakar tekad anak-anak miskin tersebut untuk tidak menyerah pada situasi. Orang-orang yang kisahnya ada dalam buku ini adalah contoh orang-orang yang pantang menyerah dan tidak bersedia dikalahkan oleh kemiskinan dan penderitaan demi mencapai cita-cita untuk kuliah ke luar negeri. Dan ia berharap tekad dan semangat orang-orang ini mampu membakar anak-anak lain yang punya impian tinggi. Bahkan kalau belum punya impian ia berharap buku ini membuat anak-anak tersebut berani bermimpi. “Harapan adalah roti bagi orang miskin”, katanya entah mengutip dari mana. Saya sungguh salut dengan teman yang memborong buku ini karena saya tahu bahwa ia bukanlah orang yang berlebih seperti saya. Ia dulunya juga orang yang miskin dan mengalami kesulitan ekonomi. Sekarang hidupnya jauh lebih baik tapi ia tak pernah hidup berlebihan. Kemiskinan telah mengajarinya untuk tetap rendah hati. Mungkin ini pula alasannya untuk turut menyemangati pelajar-pelajar miskin agar pantang menyerah dan tidak patah karena kesulitan ekonomi.

Mengapa ia minta bantuan saya untuk membagikannya dan bukannya membagikannya sendiri? Ia tahu bahwa saya sering berkeliling ke sekolah-sekolah dan melakukan promosi tentang pentingnya literasi. Ia ingin agar saya menemukan anak-anak miskin berbakat di sekolah-sekolah tersebut dan menghadiahi mereka buku ini. Ia sendiri tidak memiliki waktu dan kesempatan untuk masuk ke sekolah-sekolah seperti saya. Tentu saja saya bersedia untuk membantunya. I’m more than willing.

Jadi kalau Anda punya siswa atau mengenal seorang anak yang menurut Anda perlu disuntik semangatnya untuk berani bermimpi dan mengejar impiannya tersebut, hubungilah saya dan nanti akan saya kirimkan buku tersebut ke alamat Anda atau bisa juga langsung ke alamat siswa tersebut. Mari kita tularkan semanagat perjuangan dan optimisme yang ada dalam kisah di buku ini.

Buku ini sebenarnya tidak asing bagi saya karena saya kenal betul dengan penggagas dan kompilatornya. Namanya Gagus Ketut Sunnardianto. Meski pakai nama Ketut tapi pemuda yang mengagumkan ini bukan orang Bali. Ia lahir dari keluarga sangat sederhana yang tinggal di sebuah desa di perbatasan Nganjuk dan Kediri. Gagus yang berwajah tenang, berkacamata, dan bertubuh kurus ini seorang alumni UNESA (Universitas Negeri Surabaya) jurusan MIPA. Setelah lulus dari Unesa Gagus melanjutkan studinya ke UI dan berhasil menyelesaikan S2-nya hanya dalam 1 tahun. Begitu selesai S-2 ia kemudian mendapat beasiswa lagi ke Jepang. Beasiswanya adalah untuk mendapatkan Master dan Doktor (S2 dan S3) sekaligus. Jadi ia harus mengulangi program masternya di Osaka University. Hebatnya, Gagus yang berotak encer ini kembali berhasil menyelesaikan program masternya di Osaka University juga hanya dalam jangka waktu setahun. Ia baru saja diwisuda untuk program masternya tanpa satu pun anggota keluarganya yang bisa menyaksikannya. Ayahnya telah berpulang dan ibunya tak mungkin untuk bisa menghadiri wisuda putra kebanggaannya di Jepang. Going to Japan is beyond their dream. Saat ini Gagus sedang bersiap untuk mulai lagi kuliah S-3 di universitas yang sama.

Baca juga:  MAKING GLOBALIZATION WORK

Meski pun berasal dari keluarga yang hanya hidup dari berjualan jamu tradisional, Gagus ini memang dianugerahi otak yang cemerlang dan semangat juang yang tinggi. Sejak SMA ia selalu berhasil menjadi siswa terbaik, baik itu di kelasnya mau pun di tingkat paralelnya. Sejak SMA ia sudah ingin bisa berkuliah meski tahu betapa sulit baginya untuk bisa kuliah. Jangankan biaya untuk kuliah dan hidup di kota besar seperti Surabaya, sedangkan untuk makan sehari-hari saja sudah sulit baginya. Tapi ia sadar bahwa ada Tuhan yang Maha Pemurah. Ia sudah di kelas 3 SMA ketika terbersit keinginannya untuk berkuliah. Tapi karena tahu bahwa kemungkinannya untuk kuliah dengan kondisi ekonomi seperti itu adalah sangat kecil maka ia berupaya untuk minta pertolongan. Ia lalu lari ke masjid di SMA-nya untuk sholat dhuha. Di sana ia tumpahkan perasaaannya pada Tuhan. Sambil menangis ia berdoa meminta diberi jalan untuk bisa kuliah. Keluar dari masjid ia tiba-tiba seperti mendapat ilham bahwa ia pasti akan bisa mendapat jalan untuk kuliah. Optimisme menjalar pelan namun kuat di dalam hatinya.
Dengan modal itu ia masuk ke jurusan Fisika MIPA Unesa dan ternyata ia juga mampu menjadi yang terbaik di kelasnya. Bahkan ketika di wisuda ia mendapat penghargaan sebagai wisudawan terbaik. Padahal untuk bisa hidup di Surabaya ia harus hidup mandiri tanpa bantuan finasial dari keluarganya. Untuk hidup ia harus mencari uang sendiri dengan menjadi guru privat dari rumah ke rumah. Hampir setiap hari ia harus pergi ke sana kemari untuk memberikan kursus privat sampai larut malam. Terkadang kewajibannya memberi kursus ini sering membuatnya terpaksa mengabaikan tugas-tugas kuliahnya sehingga baru bisa dikerjakan setelah sholat Subuh. Tapi ia tidak mengeluh. Ia bersyukur telah diberi kesempatan oleh Allah untuk bisa kuliah di sebuah perguruan tinggi yang sangat bergengsi menurutnya. Bisa kuliah di Unesa adalah sebuah kebanggaan yang luar biasa baginya dan keluarganya. Segala macam kesulitan, hambatan, dan tantangan ia terima tanpa mengeluh. Baginya Tuhan telah sangat pengasih dengan memberinya kesempatan untuk bisa kuliah.

Setelah lulus dengan predikat wisudawan terbaik apakah Gagus kemudian segera cari kerja untuk memperoleh penghasilan dan memperbaiki ekonomi keluarganya? Tidak. Ia rupanya telah bertekad bahwa ia harus bisa kuliah sampai S-3. Ada dorongan yang sangat kuat dalam dirinya untuk mengejar impian yang lebih tinggi. Satu tahap dalam hidupnya telah terselesaikan dan ia tahu ada pintu-pintu kesuksesan lain yang bisa ia buka dengan apa yang dimilikinya saat itu. Ia telah mampu mengalahkan sebuah tantangan besar dalam hidupnya dan ia kini memiliki kepercayaan diri untuk mencari tantangan yang lebih besar. Ia adalah seorang pejuang dan seorang pejuang tidak berhenti berjuang hanya karena tantangan telah dilewati. Oleh sebab itu ia kemudian merantau ke Jakarta untuk belajar dan bekerja di suatu lembaga riset. Supervisornya kemudian memberinya semangat untuk melanjutkan S-2 ke UI. Tentu saja Gagus semula kuatir tidak akan bisa membiayai kuliah di UI. Tapi ia akhirnya mendaftar kuliah S-2 di UI dan diterima. Untuk bisa membiayai kuliahnya ia mengikuti program pertukaran pelajar selama setahun di Osaka University dengan beasiswa JASSO (Japan Student Service Organization). Ia kemudian minta cuti dulu untuk ikut program ini. Ia membutuhkan uang saku dari program pertukaran pelajar ini untuk ditabung.
Gagus berangkat ke Jepang dengan dana yang sangat minim sehingga ia melakukan ‘diet monyet’, yaitu hanya makan pisang setiap hari. Alhasil ia jatuh sakit karena ia memang tidak ditakdirkan untuk menjadi monyet. Untunglah ia kemudian ditolong oleh temannya untuk berobat ke dokter.
Dengan uang saku dari pertukaran pelajar inilah Gagus kemudian menyimpan dana sedikit demi sedikit untuk bisa mulai kuliah S-2 di UI Depok. Di Depok ia mulai berjuang lagi untuk bisa kuliah dengan dana tabungan yang hanya sedikit tersebut. Gagus terpaksa kos bertiga di kamar yang sempit agar bisa mengirit. Ia juga berupaya untuk mengeluarkan biaya makan sesedikit mungkin dengan terus menerus berpuasa. Akibatnya tubuhnya tidak tahan dihajar oleh kesibukan yang begitu tinggi tapi dengan asupan gizi yang sangat terbatas. Ia sakit lagi dan cukup parah. Sakitnya ini hampir saja membuatnya menyerah untuk tidak lagi meneruskan kuliah dan ingin kembali saja ke desa. Pada saat ini dukungan dan bantuan datang dari teman-temannya yang mendorongnya untuk tidak menyerah. Gagus akhirnya bertekad untuk meneruskan kuliahnya dan ternyata hanya dalam waktu dua semester ia bisa lulus di UI. Ia memang sudah mencicil thesisnya sejak awal sehingga dengan selesainya perkuliahannya selesai pulalah thesisnya. Sungguh upaya kerja keras yang sangat luar biasa.

Baca juga:  "Muslim Kok Nyebelin"

DAPAT BEASISWA MONBUKAGAKUSHO

Sejak masih kuliah S-2 di UI Gagus sudah mulai mendaftar beasiswa Monbukagakusho (pemerintah Jepang) di Osaka University untuk program lima tahun (S-2 dan S-3). Ia ingin melangkah lebih jauh lagi tapi ia merasa bahwa kuliah tanpa beasiswa sungguh berat. Jadi untuk bisa melanjutkan kuliah ia harus mendapatkan beasiswa.
Setelah melewati berbagai seleksi baik itu administrasi, akademik, dan intervieu akhirnya Gagus dinyatakan lulus dan mendapatkan beasiswa tersebut. Ini adalah sebuah ganjaran atas perjuangan hidup yang keras yang telah ia lalui selama ini. Kali ini ia berangkat ke Jepang tanpa takut lagi kekurangan finansial untuk makan dan tempat tinggal. Hidupnya telah dijamin oleh pemerintah Jepang yang berbaik hati untuk memberinya beasiswa.
Kini ia adalah seorang pelajar di Division of Frontier Materials Science, Department of Materials Engineering Science, Graduate School of Engineering Science, Osaka University. Ia baru saja melewati program masternya. Ia menunjukkan fotonya ketika diwisuda pada saya via BBM. Saya sungguh terharu. Ia sungguh seorang pejuang yang patut dihormati. Ia kini bahkan didapuk menjadi Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Osaka-Nara oleh teman-temannya. Dan ini adalah sebuah bukti lagi betapa Gagus adalah mutiara bermutu tinggi di antara mutiara-mutiara lain.
Berbekal pengalaman hidupnya inilah ia kemudian mengajak 18 orang temannya di PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Osaka-Nara untuk bersama-sama menuliskan kisah hidup masing-masing dalam berjuang memperoleh bea siswa ke Jepang. Ia tahu bahwa selain dirinya banyak pelajar lain yang juga harus menempuh berbagai kesulitan dan tantangan besar untuk mencapai apa yang mereka peroleh saat ini. Upayanya ini disambut baik oleh teman-temannya dan Atase Pendidikan KBRI Tokyo, M. Iqbal Djawad PhD yang meberikan kata pengantar di buku tersebut. Kisah inilah yang kemudian dibukukan dengan judul “Menghidupkan Mimpi ke Negeri Sakura”.
Beberapa kisah lain yang sangat menarik dan inspiratif adalah umpamanya
– I Wasn’t Born to Shine, I Was Born to Outshine.
Ini ditulis oleh Udi Jumhawan yang juga terlahir dari keluarga miskin. Ayahnya hanya lulusan SD yang bekerja sebagai seorang sopir tembak yang tidak tiap hari dapat pekerjaan. Ibunya bahkan lebih mengenaskan karena hanya dua hari mengenyam duduk di kelas 1 SD. Ia berhasil mendapat beasiswa ke Jepang meski sebelumnya ditolak. Kisah perjuangannya juga sangat menarik.

Baca juga:  Rektor Icebreaker (Part 3) : Lebih Bodoh daripada Keledai?

– Perjuangan Demi Perjuangan Meraih Impian ke Negeri Sakura oleh Murni Handayani.
Murni adalah anak ke empat dari keluarga yang bisa dibilang sangat sederhana di Klaten Jateng. Ayahnya hanya lulusan SD tapi ia bermimpi untuk bisa bekerja di LIPI. Ketika pada akhirnya ia bisa diterima menjadi CPNS LIPI ia seolah tidak percaya bahwa impiannya bisa terwujud. Ketika bekerja di LIPI, bersuami dan punya anak satu ia kemudian bermimpi bisa melanjutkan studi ke Jepang. Tapi upaya untuk bisa lanjut studi ke Jepang ternyata tidak mudah. Kiriman emailnya bolak-balik ditolak. Tapi ia tak menyerah dan ia bersurat lebih dari 40 email sehingga suatu kali seorang professor di Jepang bersedia memberi rekomendasi untuknya.

– Mun Keyeng Bakal Pareng oleh Pika Yestia yang asli Sunda ini. Orang tuanya hanyalah guru Sekolah Dasar. Baginya bisa menempuh studi ke Jepang adalah ‘asa ngimpi’ alias seperti bermimpi saja laiknya. Sebelumnya ia mengambil kuliah jurusan Sastra Jepang di Bandung. Dengan logat Sundanya yang kental ia sering kesulitan berbahasa Jepang. Tapi Pika adalah seorang pejuang yang pantang menyerah juga. Ia tidak perduli ketika ditertawakan oleh teman-temannya ketika berbahasa Jepang logat Sunda. Tekadnya untuk menguasai bahasa Jepang mengantarkannya hingga ke Jepang sampai saat ini.

Demikianlah beberapa contoh kisah yang ada dalam buku ini. Sekali lagi, jika Anda seorang guru yang memiliki siswa yang punya potensi untuk menjadi pejuang dan ingin memotivasi siswa Anda tersebut, janganlah ragu-ragu untuk menghubungi saya agar saya bisa melaksanakan amanah teman saya tersebut untuk membagikan buku ini pada para calon-calon pejuang.

Surabaya, 1 April 2014
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *