Jumat, 22 Nopember 2019
Just another WordPress site
JALAN-JALAN KE VIETNAM DAN KAMBOJA (Bagian 2)

Pesawat Tigerair yg kami tumpangi ke Singapore berangkat sedikit terlambat dari jadwal tapi mendarat lima menit lebih awal di Changi. Bandara Changi mulai sepi pada jam 1 malam tapi bandara ini tidak pernah benar-benar sepi. Singapore adalah persimpangan dari banyak penerbangan dunia dan merupakan bandara kelima tersibuk di dunia. Kami akan transit disini selama enam jam.

Kami sendiri baru akan meneruskan perjalanan ke Saigon pada pukul 7:40 pagi jadi kami punya waktu utk tidur sampai Subuh nanti. Oleh sebab itu kami langsung menuju mushala di lantai 2 Terminal 2 dan mojok tidur. Mulanya hanya kami yg tidur di situ tapi tak lama kemudian beberapa orang datang dan tidur di situ juga. Mereka adalah beberapa karyawan Changi yg nampaknya juga butuh tidur malam itu.

Usai sholat Subuh kami segera menuju Transfer E untuk check-in. Petugasnya sudah siap semua sepagi itu dan belum ada antrian penumpang kecuali kami. Semestinya kami melapor tadi malam begitu tiba, kata petugasnya. Tapi no problem. Saya minta tempat duduk yg di depan dan diberi bangku nomor 2E dan 2F.
Selesai urusan check-in kami cari minuman hangat utk sarapan. Saya biasanya telah minum secangkir kopi mix three in one kalau di rumah. McD sudah buka sepagi itu karena resto ini nampaknya buka 24 jam. Penumpang sudah mulai ramai dan mereka semua butuh sarapan.

Pesawat kami TR 2322 berangkat ke Saigon tepat waktu. Cuaca cerah dan kami sampai di bandara Tan Son Nhat , Ho Chi Minh City

VIETNAM
Dengan populasi sekitar 91 juta jiwa, Vietnam adalah negara terpadat nomor 13 di dunia. Populasinya meledak setelah perang saudara usai dan keluarga-keluarga di pedesaan beranak pinak tanpa kontrol. Mungkin itu satu-satunya hiburan setelah perang panjang yg sungguh memilukan. Sekarang mereka dibatasi hanya boleh punya dua anak. Semacam program KB yg lebih ketat nampaknya. Soalnya lebih drpd itu ada sanksi politis.
Vietnam termasuk di dalam grup ekonomi “Next Eleven”. Menurut pemerintah, GDP Vietnam tumbuh sebesar 8.17% pada tahun 2006, negara dengan pertumbuhan tercepat kedua di Asia Timur dan pertama di Asia Tenggara. Pada akhir tahun 2007, menteri keuangan menyatakan pertumbuhan GDP Vietnam diperkirakan mencapai rekor tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir sebesar 8.44%. Ibukota Vietnam adalah Hanoi (dahulu berfungsi sebagai ibukota Vietnam Utara), sedangkan kota terbesar dan terpadat adalah Kota Ho Chi Minh (dahulu dikenal sebagai Saigon).

HO CHI MINH CITY (SAIGON)
Kami tiba di Bandara Tan Son Nhat, Ho Chi Minh City, pukul 8:40. Prosedur imigrasi Vietnam ternyata sangat longgar dan kami tidak perlu mengisi kartu kedatangan seperti biasanya di bandara-bandara lain. Persis kayak bandara domestik saja prosedurnya. Begitu sampai kami segera mencari tempat penukaran uang. Kami menukarkan USD 300 dan dapat 6.225.000 VND (Vietnam Dong). Nilai tukar Dong memang lebih rendah daripada Rupiah. Rasanya langsung kaya raya. Hehehe…!

Keluar dari bandara kami naik bus umum Nomor 152 (mirip bus DAMRI Bandara) untuk ke area Benh Thanh Market di Pham Ngu Lao. Bus ini ada di sebelah kanan di tepi jalan setelah keluar dari pintu bandara. Tarip bis ini murah sekali. Saya tahu soal bis umum ini karena sudah membaca informasinya (itu gunanya suka membaca, guys. Hehehe!)
Kami menginap di Nguyen Khang Hotel, tidak jauh dari Ben Thanh Market. Dari stasiun bis Ben Thanh kami tinggal jalan kaki sekitar 10 menit menuju hotel. Hotelnya cukup murah. Saya bayar USD 64 utk dua malam disini. Mungkin hanya hotel bintang satu tapi dapat sarapan pagi dan wifi gratis.
Sebelum sampai hotel kami mampir di sebuah travel namanya Vinastar untuk pesan tur siang hari dan besok.

Di Ho Chi Minh City, kami dua kali mengikuti tour. Yang pertama, kami ikut tour ke Cu Chi Tunnel pada hari itu juga yg berangkat jam 1 siang hari. Kami dijemput di depan hotel pada jam 1 dan berangkat ke Cu Chi Tunnels yang berjarak 40 Km dari Kota Ho Chi Minh. Sesampainya di Cu Chi, kita diminta mengumpulkan 90.000 VND per orang untuk tiket masuk, karena memang biaya tur belum termasuk tiket masuk Cu Chi.

CU CHI TUNNELS

Terowongan Cu Chi adalah sistem terowongan bawah tanah yang terletak 70 km barat laut Saigon (Kota Ho Chi Minh), Vietnam. Panjang asli dari terowongan ini adalah sekitar 250 km tetapi hanya 120 km yang masih diawetkan sampai sekarang. Itu saja sudah lebih jauh daripada Surabaya-Malang lho! Bayangkan sebuah terowongan bawah tanah sepanjang Surabaya-Jogya yang dikerjakan hanya dengan cangkul sebesar cetok dan tanahnya diangkut dengan keranjang seadanya. Terowongan ini dibuat selama perang Vietnam. Ada rumah sakit, dapur, kamar tidur, ruang pertemuan, gudang senjata dalam terowongan. Perang Vietnam merupakan salah satu perang paling penting dalam sejarah dunia. Selain karena perang tersebut merenggut jutaan jiwa dan kerugian material yang tak terhingga, dalam perang itu pulalah negara adikuasa Amerika Serikat mengalami kekalahan yang menyakitkan dan memalukan. Salah satu penyebab kekalahan Amerika Serikat adalah karena taktik gerilya yang diterapkan oleh pasukan Vietnam Utara atau yang lebih dikenal dengan nama Vietcong melalui terowongan bawah tanah ini. Taktik gerilya di hutan-hutan Vietnam membuat pasukan Amerika kehilangan akal untuk menemukan persembunyian tentara Vietcong.
Terowongan Cu Chi ini amat dibanggakan orang Vietnam. Terowongan bawah tanah ini menjadi simbol kejayaan dan kemenangan mereka atas Perancis, Pemerintah Vietnam Selatan, juga Amerika Serikat. Bahkan ada poster yang menyatakan bahwa Amerika Serikat waktu menyerang Vietnam adalah negara dengan kemampuan perang yang tak tertandingi oleh negara mana pun. Ia bisa menaklukkan tentara mana pun di atas bumi ini. Dan kemudian ditambahinya “Kecuali yang berada di bawah tanah”. Waks..!
Salah satu alasan saya jalan-jalan ke Vietnam sebenarnya juga untuk melihat dengan mata kepala sendiri apa sebenarnya kehebatan orang Vietnam sehingga bisa mengalahkan para Rambo dari AS.
Ternyata tak ada senjata hebat yang dimiliki Vietnam semasa perang. Kunci terbesar kemenangan mereka justru ada pada keteguhan hati, sikap pantang menyerah dan terowongan tersebut. Dan itu ternyata bisa mengalahkan tentara terhebat di dunia dengan segala pesenjataan canggihnya.

Baca juga: 

Cu Chi telah digali orang Vietnam semasa penjajahan Perancis. Perancis sendiri mulai menjajah Vietnam pada 1859. Mereka sempat diusir Jepang. Namun setelah kekalahan Jepang, Perancis kembali lagi. Sementara itu, Viet Minh (gerakan kemerdekaan) pimpinan Ho Chi Minh atau popular dengan panggilan Uncle Ho, menguasai Vietnam Utara dan melakukan perlawanan.

Perang ini berlangsung sampai 1954. Semasa itu, Perancis yang menguasai Vietnam Selatan melakukan kerja paksa pada warga Vietnam. Sebagian besar menolak dan mereka membuat terowongan untuk bersembunyi dari kewajiban tersebut. Setelah perang berakhir pada 1954, Amerika Serikat (AS) yang mendukung Perancis dan Pemerintah Vietnam Selatan yang republik datang. Perang dengan AS tak terelakkan.
Perang semakin hebat dan terowongan itu pun terus diperpanjang sebagai markas dan benteng Vietnam pro-Hanoi (Viet Minh) sampai akhirnya mencapai 250 kilometer. Di dalam terowongan ini bisa hidup sekitar 10.000 orang Vietnam, tentara, dan keluarganya. Bayangkan saudara…!
Terowongan ini tak hanya panjang, tetapi juga dirancang sangat bagus dan strategis. Berpusat di daerah Cu Chi, Hoj Non, sekitar 70 kilometer di luar Kota Ho Chi Minh (Saigon), Cu Chi memiliki tiga saf. Saf pertama bertinggi 3 meter, saf kedua 6 meter, dan saf ketiga 10 meter. Untuk menghubungkannya, dibuat terowongan kecil yang hanya bisa dilewati secara jongkok oleh orang-orang kecil seperti orang Vietnam. Hal ini tentu menyulitkan bagi tentara AS yang berbadan besar dan membawa perlengkapan senjata yang berat tersebut, Saya sendiri yang mencoba untuk masuk melewati terowongan tersebut benar-benar kepayahan padahal hanya beberapa puluh meter saja. Padahal terowongan itu sudah dilebarkan agar para turis bisa masuk. Terowongan itu juga dilengkapi lubang udara yang rapi dan bisa masuk secara menyeluruh. Sebagian lubang udara terdapat di gundukan tanah yang dibuat menyerupai sarang semut. Selain itu, lubang juga ada di bawah pohon-pohon yang tertutup akar. Selain terowongan, tentara Vietnam juga membuat berbagai jenis jebakan (trap) yang dipersiapkan untuk melukai dan membunuh tentara musuh.

Di terowongan ini terdapat rumah sakit untuk merawat yang sakit, dapur, tempat sekolah, juga tempat membuat senjata. Tentara, wanita, dan anak-anak hidup di sini selama perang lawan AS. Tentara AS amat kesulitan mengatasi perlawanan Vietnam. Terowongan itu sering dibuat sampai ke bawah markas AS. Mereka bisa muncul tiba-tiba dari bawah markas dan menghilang begitu saja. Tentara AS benar-benar dibuat bulan-bulanan.

Beberapa kali AS berusaha menemukan dan menghancurkan terowongan ini, tetapi tak pernah berhasil. Padahal, AS sampai mengeluarkan senjata-senjata berat berupa bom-bom besar dan senjata kimia yang disebut Agent Orange. Perang menggunakan senjata kimia ini adalah skandal perang yang sangat keji. Efek senjata kimia ini sangat luar biasa. Sampai perang usai, masih berdampak karena sudah merasuk ke udara, air, dan tanaman. Karena itu, di wilayah Cu Chi akhirnya banyak anak yang lahir dalam keadaan cacat. Ini karena pengaruh sisa-sisa zat kimia dari senjata AS.

Orang-orang Amerika sendiri kini sering berkunjung ke Vietnam untuk berwisata. Mereka kadang mengunjungi orang-orang yang terlahir cacat akibat senjata kimia yang digunakan dulu tersebut. Menurut guide local banyak orang Amerika yang sampai menangis sedih menyaksikan akibat dari serangan mereka pada masa perang. Saya sendiri tidak dapat menahan air mata ketika melihat foto-foto kekejaman perang di War Remnants Museum. Tanpa bisa saya cegah air mata saya mengalir begitu saja karena sedihnya.
Perang Vietnam ini sendiri sebenarnya ditentang oleh rakyat AS meski pun mereka yang menolak untuk dikirim ke medan perang Vietnam mendapat sanksi dipenjara. Mohammad Ali, Sang Petinju legendaris, itu sendiri memilih masuk penjara ketimbang harus berperang ke Vietnam yang tidak jelas tujuannya tersebut.

Baca juga:  HTI YANG DISAYANG DAN YANG DITENDANG (Part 1)

Pada 1975, AS menyerah karena mendapat tentangan yang semakin besar dari rakyat di negaranya. Pasukan AS ditarik dan Vietnam pun merdeka. Vietkong yang hidup di terowongan pun keluar merayakan kemenangan itu. Baru tahun 1975 itu pula Vietkong yang tinggal di bawah tanah keluar secara bebas. Artinya, mereka hidup di bawah tanah sekitar 20 tahun. Sebuah rekor daya tahan yang luar biasa. Ini hanya mungkin karena desain Cu Chi yang sangat bagus dan mengagumkan.

Terowongan Cu Chi ini kini dirawat oleh Pemerintah Vietnam. Sebab, ini menjadi simbol kemenangan mereka atas AS, sumber sekaligus simbol frustrasi dan kekalahan AS. Saat ini, Cu Chi justru menjadi obyek wisata yang menarik.

Keesokan harinya, kami ikut city tour War Remnants Museum, Reunification Palace, Notre Dame Cathedral, dan Central Post Office.

Salah satu pertunjukan yang kami lihat adalah Water Puppet.

Water puppet adalah pertunjukan wayang yang sangat atraktif karena dilakukan di atas air. Pertunjukan ini juga menggunakan beberapa pemain musik tradisional dan dinarasi oleh mereka dan bukan oleh dalang yang menggerakkan wayang tersebut. Uniknya pertunjukan wayang ini dilakukan oleh beberapa dalang tapi bersembunyi di belakang layar.
Saya menjadi tercenung. Lha wong pertunjukan begini saja bisa menarik turis untuk datang sehari dua kali. Kenapa kita tidak bisa menarik turis untuk nonton Srimulat, wayang kulit, atau wayang orang, umpamanya? Lha wong pertunjukan Water Puppet itu dilakukan sepenuhnya dalam bahasa Vietnam dan samasekali tidak ada terjemahannya. Toh orang-orang tetap datang untuk menonton. Apa salah dan dosa Kementrian danDinas Pariwisata kita sehigga tidak mampu melakukan hal yang sama? Ihik..ihik…!

PHNOM PENH

Kami ke Phnom Penh, Kamboja, naik bus Khai Nam. Tiketnya pesan di travel sebelah hotel Nguyen Kang di mana kami menginap. Saya langsung ambil tiket PP HCMC-Phnom Penh- HCMC. Jadwalnya HCMC-PNH jam 13:00 dan PNH-HCMC jam 13:30 esok harinya. Bis berangkat pukul 1:30 dengan pelan dan membawa kami pergi meninggalkan distrik satu. Bus berhenti di perbatasan antara Vietnam dan Kamboja di kantor imigrasi yg sangat sederhana. Kami semua diminta untuk turun dan mengikuti kondektur yang memegangi paspor kami. Selesai distempel paspor dikembalikan dan kami meneruskan perjalanan. Perjalanan melintasi sebuah sungai dengan naik ferry yg juga sederhana.

Kami tiba di Phnom Penh kurang lebih pukul delapan malam. Setiba di pangkalan bis Khai Nam kami diantar naik Tuk-tuk, semacam becak bermotor, ke hotel One Up Cambodia. Hotel ini masih baru nampaknya dan kamarnya sangat menyenangkan. Jauh lebih bagus daripada kamar kami di Nguyen Kang dan Bali Boutique esoknya. Uniknya hotel ini ternyata hotel ‘syariah’ karena melarang sex tourist untuk menginap disana. Ada tulisan besar di pintunya “Sex Tourists Are Not Welcome”. Untung bukan tulisan ‘Turis Kagak Boleh Ngesek’. Lha saya bawa istri je…!

Nama Kamboja atau Kampuchea berasal dari bahasa Sanskerta “Kambuja” yang artinya “Tanah Emas” atau “Tanah Kedamaian dan Kemakmuran”. Kerajaan Kamboja adalah sebuah negara berbentuk monarki konstitusional di Asia Tenggara. Negara ini merupakan penerus Kekaisaran Khmer yang pernah menguasai seluruh Semenanjung Indochina antara abad ke-11 dan 14.

Kamboja berbatasan dengan Thailand di sebelah barat, Laos di utara, Vietnam di timur, dan Teluk Thailand di selatan. Sungai Mekong dan Danau Tonle Sap melintasi negara ini. Menjelang kemerdekaannya, Negara Kesatuan Republik Indonesia banyak membantu negara Kamboja ini. Katanya buku – buku taktik perang karangan perwira militer Indonesia banyak digunakan oleh militer Kamboja. Oleh karenanya, para calon perwira di militer Kamboja, katanya wajib belajar dan dapat berbahasa Indonesia.

Pada tahun 1863, Raja Norodom, yang dilantik oleh Thai, mencari perlindungan kepada Perancis. Pada tahun 1867, Raja Norodom menandatangani perjanjian dengan pihak Perancis yang isinya memberikan hak kontrol provinsi Battambang dan Siem Reap yang menjadi bagian Thai. Akhirnya, kedua daerah ini diberikan pada Kamboja pada tahun 1906 pada perjanjian perbatasan oleh Perancis dan Thai.

Kamboja dijadikan daerah Protektorat oleh Perancis dari tahun 1863 sampai dengan 1953, sebagai daerah dari Koloni Indochina. Setelah penjajahan Jepang pada 1940-an, akhirnya Kamboja meraih kemerdekaannya dari Perancis pada 9 November 1953. Kamboja menjadi sebuah kerajaan konstitusional dibawah kepemimpinan Raja Norodom Sihanouk.

Pada saat Perang Vietnam tahun 1960-an, Kerajaan Kamboja memilih untuk netral. Hal ini tidak dibiarkan oleh petinggi militer, yaitu Jendral Lon Nol dan Pangeran Sirik Matak yang merupakan aliansi pro-AS untuk menyingkirkan Norodom Sihanouk dari kekuasaannya. Dari Beijing, Norodom Sihanouk memutuskan untuk beraliansi dengan gerombolan Khmer Merah, yang bertujuan untuk menguasai kembali tahtanya yang direbut oleh Lon Nol. Hal inilah yang memicu perang saudara timbul di Kamboja.

Baca juga:  WISATA SAHASATA: TEMANGGUNG YANG BERSIH DAN DAMAI

Khmer Merah akhirnya menguasai daerah ini pada tahun 1975, dan mengubah format Kerajaan menjadi sebuah Republik Demokratik Kamboja yang dipimpin oleh Pol Pot. Mereka dengan segera memindahkan masyarakat perkotaan ke wilayah pedesaan untuk dipekerjakan di pertanian kolektif. Pemerintah yang baru ini menginginkan hasil pertanian yang sama dengan yang terjadi pada abad 11. Mereka menolak pengobatan Barat yang berakibat rakyat Kamboja kelaparan dan tidak ada obat sama sekali di Kamboja. Pol Pot yang wajahnya samasekali tidak nampak sangar ini ternyata mampu dengan bengisnya membantai ribuan rakyatnya sendiri. Pol Pot adalah penjahat perang yang sangat bengis dan kisahnya bisa dilihat pada film “Killing Fields” yang sangat memilukan tersebut.

Pada November 1978, Vietnam menyerbu RD Kamboja untuk menghentikan genosida besar-besaran yang terjadi di Kamboja. Akhirnya, pada tahun 1989, perdamaian mulai digencarkan antara kedua pihak yang bertikai ini di Paris. PBB memberi mandat untuk mengadakan gencatan senjata antara pihak Norodom Sihanouk dan Lon Nol.

Sekarang, Kamboja mulai berkembang berkat bantuan dari banyak pihak asing setelah perang, walaupun kestabilan negara ini kembali tergoncang setelah sebuah kudeta yang gagal terjadi pada tahun 1997. Pariwisata di Kamboja adalah salah satu sektor yang paling penting dalam perekonomian Kamboja.
Berikut ini beberapa fakta menarik tentang Kamboja yang saya ambil dari http://id.m.wikipedia.org/wiki/Kamboja dan http://www.voucherhotel.com/travel/fakta-menarik-tentang-kamboja/

– Jumlah populasi Kamboja pada tahun 2013 adalah sekitar 15.205.539 penduduk dengan tingkat kelahiran sekitar 25,4 per 1.000 orang. Kamboja memang memiliki tingkat pertumbuhan penduduk sebesar 1,7%, lebih tinggi dari Thailand, India, dan Korea Selatan.
– Rasio perbandingan antara penduduk pria dan wanita di Kamboja adalah 1:1,6. Jadi perempuannya satu setengah kali lipat laki-lakinya.
– Sekitar 90% penduduk Kamboja merupakan bangsa Khmer, 5% keturunan Vietnam, 1% warga Cina, dan sisanya berasal dari berbagai negara. 95% penduduk Kamboja menganut agama Theravada (ajaran terdekat dengan agama Buddha).
– Sekitar 1/5 penduduk Kamboja terbunuh saat Khmer Rouge (1975 – 1979). Sebagian besar yang terbunuh merupakan kaum intelektual, pendeta, dan biarawan. Akibatnya mayoritas penduduk Kamboja merupakan anak-anak dan remaja. Sekitar 50% populasi Kamboja berusia kurang dari 22 tahun.
– Hanya sekitar 45% anak-anak Kamboja yang lulus SD. Pada tahun 2008, tingkat literasi di Kamboja hanya sekitar 77%.
– Bahasa Khmer adalah bahasa resmi Kamboja. Meski demikian sebagian penduduk usia dewasa di Kamboja juga bisa berbahasa Perancis. Mereka juga lebih pandai berbahasa Inggris ketimbang orang Vietnam.
– Angkor Wat yang terkenal dan tercatat sebagai tempat wisata terpopuler di Kamboja telah berdiri sejak abad ke-12. Tahun 2015, diperkirakan ada 5 juta turis asing yang berkunjung ke Kamboja dan mayoritasnya menuju ke Angkor Wat di Siem Reap.

Di Phnom Penh kami naik Tuktuk menjelajah National Museum, Royal Palace, dan terakhir menuju ke Russian Market untuk berbelanja oleh-oleh. Di Phnom Penh kami mengunjungi Tuol Sleng Genocide Museum dan Killing Fields untuk melihat dokumentasi kejinya rezim Khmer merah. Siangnya kami langsung balik ke Saigon dengan perusahaan bis yang sama.

Kami menginap semalam lagi di Saigon tapi di hotel yang berbeda. Kali ini kami menginap di Hotel Bali Boutique di Bue Vien Street. Bui Vien Street yang letaknya bersebelahan dengan Pam Ngu Lao Street ini ternyata telah menyaingi Pam Ngu Lao Street sebagai pusat turis. Di sini para turis setiap malam duduk nongkrong di trotoar seperti ada kenduri saja laiknya. Saya sampai heran dan mengira ada acara parade yang akan lewat tapi ternyata tidak. Ya mereka cuma senang nongkrong-nongkrong begitu. Orang Vietnam, Saigon khususnya, memang suka nongkrong di depan rumah mereka seperti orang piknik.
Pagi harinya kami kembali ke Surabaya dengan melalui transit Changi lagi. Karena kami transit lebih dari 5 jam di siang hari maka kami sempatkan untuk ikut City Tour gratis yang diselenggarakan oleh pengelola Bandara Changi. Kami keliling-keliling kota Singapura dan berhenti sejenak untuk foto-foto dengan latar belakang Marina Bay Sands, Singapore Flyer and Gardens by the Bay. Mestinya tur ini berlangsung dua jam tapi nampaknya sekarang lebih pendek waktunya, Kami bahkan hanya punya waktu untuk turun dari bis selama 15 menit dan langsung diantar balik ke bandara Changi.
Pukul 19:50 pesawat TIGER AIR TR 2258 terbang membawa kami ke Surabaya dengan membawa kesan dan kenang-kenangan yang indah tentang Vietnam dan Kamboja.

Rasanya pingin segera jalan-jalan lagi… Kemana lagi ya…?! Hehehe…!

Surabaya, 26 Maret 2014

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *