Sabtu, 09 Agustus 2020
Just another WordPress site
PARA KHALIFAH: SIAPA BERI MANDAT…?!


Ada yang bilang bahwa ajaran Islam itu begitu lengkapnya sehingga urusan kencing, tidur, makan-minum, masuk rumah, utang piutang, nikah-cerai, waris, bahkan bersendawa pun diatur…

Pertanyaannya, lantas mengapa urusan siapa PENGGANTI Rasul sebagai pemimpin, yang begitu penting dan menyangkut nasib umat setelah beliau wafat justru TIDAK PERNAH DIBAHAS? 🤔

Mengapa tidak ada satu pun wasiat atau pun amanat dari Rasulullah tentang siapa khalifah yang ditunjuk untuk menggantikan beliau setelah wafat?

Karena tidak ada wasiat, amanat, atau pun mandat soal ini maka para sahabat benar-benar tidak siap ditinggalkan oleh Nabi dan tidak tahu siapa yang harus menjadi pemimpin umat sebagai pengganti Nabi (khalifah). Bahkan pada saat beliau sakit dan merasa akan meninggal pun beliau tidak beramanat atau pun berwasiat soal pengganti beliau.

Apakah Rasulullah tidak tahu bahwa umatnya akan berebut kekuasaan sepeninggal beliau? Apakah Rasulullah tidak tahu bahwa perebutan kekuasaan di antara umatnya ini akan menyebabkan saling bunuh di antara mereka (dan bahkan cucu beliau pun ikut dibantai)? Yang Syiah berpendapat mestinya Ali ra yang naik menjadi khalifah. Mereka berpatokan pada hadist “Ghadir Khum” sedangkan yang Sunni menolaknya. (Yang mau tahu lebih banyak soal Ghadir Khum sila baca ini.)

Mengapa yang Sunni menolak penafsiran Syiah? Katanya kalau benar bahwa Ali ra mendapat mandat dari Rasulullah maka mestinya semua sahabat mengetahui amanah tersebut dan tentunya mereka akan patuh untuk menjalankan amanah tsb. Faktanya kan tidak ada yang ingat atau mengingatkan umat soal amanat menjadikan Ali sebagai khalifah penerus Nabi ketika Nabi wafat. Umat Islam malah kebingungan dan berebut kepemimpinan dan tak satu pun kaum Anshar dan Muhajirin yang mengusulkan Ali sebagai khalifah penerus Nabi. Ali sendiri juga tidak tampil untuk mengklaim mandat kekhalifahan dari Nabi begitu Nabi wafat. Dengan dasar itu kaum Sunni berargumen bahwa memang tidak ada sahabat yang mendapat mandat untuk menjadi penerus Nabi.

Baca juga:  ULAMA KOK JADI UMARO’…?!

Saya yakin Nabi Muhammad tahu kemungkinan konflik ini karena beliau adalah seorang nabi yang sangat waskita dan bahkan bisa meramal hal-hal yang akan terjadi jauh di masa depan.

Pertanyaannya adalah mengapa beliau tidak menata dan mengatur segala hal yang berhubungan dengan perpindahan kekuasaan ini sebelum beliau wafat dengan sebaik-baiknya dan sejelas-jelasnya? Lha wong soal kencing aja ada aturannya dalam agama…

Mengapa beliau tidak memanggil semua sahabatnya dan memberikan briefing jelas dan tegas soal siapa yang harus menggantikan beliau dan apa yang harus dilakukan setelah beliau berpulang agar tidak terjadi perselisihan soal pengganti beliau kelak? Bukankah hal ini mudah saja bagi Nabi untuk melakukannya dan pasti para sahabat akan patuh dan taat pada perintah beliau ini?
Tapi itu tidak dilakukan oleh Nabi dan umat Islam akhirnya berselisih pendapat dan terpecah belah. 😒

Mengapa Rasulullah tidak melakukannya…?! Ini pertanyaan yang perlu kita tanyakan pada para ulama dan bahan diskusi kita lebih lanjut nanti. 🙏

Tapi bukan sekarang…

Saat ini bukan itu yang mau saya bahas…

Apa yang terjadi pada waktu itu…?!

Begitu Nabi Muhammad wafat umat Islam gempar. Umar tidak bisa menerima bahwa beliau telah wafat dan bahkan mengancam siapa saja yang mengatakan bahwa Nabi telah meninggal akan dipotong tangan dan kakinya. Tapi Abu Bakar menenangkannya dan mengutip ayat Ali Imran [3:144] “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” Umar pun akhirnya bisa menerima fakta menyakitkan bahwa Nabi memang telah berpulang ke rahmatullah. 😭

Baca juga:  Cocacola dan Yahudi

Karena mereka merasa tidak ada amanah dan wasiat soal pergantian pemimpin ini maka mereka pun bertikai soal siapa yang harus menjadi pemimpin umat Islam sepeninggal Nabi. Karena tidak ada yang mendapat mandat soal khalifah ini maka kaum Anshar dan kaum Muhajirin berebut untuk mendapatkan kekuasaan atas umat Islam sepeninggal Nabi. Pertikaian tersebut berlarut-larut bahkan sampai jazad Nabi belum dimandikan dan dikuburkan selama dua hari. 😢 Musyawarah antara kaum Anshar dan Muhajirin ini akhirnya menyepakati Abu Bakar sebagai khalifah atau penerus kepemimpinan Nabi atas umat Islam. Dan bergulirlah kekhilafan Islam setelah itu… Kisahnya bisa dibaca di https://tarbawiyah.com/2018/01/23/pengangkatan-abu-bakar-as-shidiq-menjadi-khalifah/

Jadi…

Di sini kita ketahui bahwa naiknya Abu Bakar sebagai khalifah adalah sekadar KESEPAKATAN yang merupakan ijtihad dari para sahabat untuk meneruskan kepemimpinan umat. Dan itu sama sekali BUKAN mandat, amanat, kehendak, atau pun keinginan Nabi. Itu sepenuhnya merupakan kesepakatan umat belaka. Rasulullah has nothing to do with it. 🙏

Saya ulangi lagi…

Naiknya Abu Bakar sebagai khalifah setelah Nabi wafat, yang kemudian digantikan oleh Umar, Usman, Ali, dstnya, BUKAN atas dasar amanat, wasiat, atau dapat mandat dari Nabi untuk itu. Tidak sama sekali… Agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad sama sekali TIDAK PERNAH mengajarkan atau mengamanahkan soal kekhalifahan ini. Di Alquran juga tidak ada satu ayat pun disebutkan soal mandat ini. Ini sepenuhnya menjadi kewenangan manusia mengaturnya. Para khalifah tersebut naik menjadi pemimpin karena mendapat MANDAT DARI KAUMNYA dan bukan mandat dari Nabi. Para khalifah tersebut naik menjadi pemimpin bukan sama sekali karena dapat wahyu atau mendapat persetujuan dari Nabi. Jika kita menganggap Teokrasi artinya “pemerintahan oleh wakil tuhan”, maka naiknya Khalifah Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali adalah sepenuhnya DEMOKRASI dan bukan TEOKRASI. 🙏

Baca juga:  BUKAN ISLAMOPHOBIA TAPI CADARPHOBIA

Jadi kalau ada ulama yang bilang bahwa “Khilafah adalah ajaran Islam” itu dasarnya apa…?! 😊 Jika kesepakatan bersama di antara umat adalah ajaran Islam maka semestinya para ulama itu juga menyatakan bahwa demokrasi adalah ajaran Islam dong. 😄

Selanjutnya…

Jika para sahabat Nabi saja tidak ada yang mendapat amanah dari Rasul untuk menegakkan khilafah, lantas apa dasar atau landasan syariat dari para pendukung khilafahisme seperti HTI, ISIS, NII, Taliban, AlQaeda, dll untuk menegakkan khilafah di mana pun? Siapa yang memberi mereka ide atau gagasan untuk mendirikan negara Islam dengan melakukan berbagai pengkhianatan dan pembrontakan? Yang jelas Nabi Muhammad TIDAK PERNAH mengamanahkan soal penegakan khilafah ini kepada siapa pun sahabatnya. Jika Nabi Muhammad saja tidak mengamanahkan hal ini lalu ajaran Nabi siapakah yang digunakan oleh HTI, NII, ISIS, Taliban, dan AlQaeda sebagai dasar dari agenda khilafahisme sesat yang mereka usung?

Apakah mereka ini sebenarnya sedang berilusi atau tertipu oleh khayalan sesat mereka sendiri? 🤔

Madigondo, 4 Juli 2020
Satria Dharma

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *