Sabtu, 22 Februari 2020
Just another WordPress site
“A Life Less Ordinary”

“Siapa pun bisa jadi hebat, sebab setiap orang bisa mengabdi” Martin Luther King

Ini judul buku yg kubaca pagi ini. Kuambil begitu saja dr tumpukan buku murah yg kubeli dari beberapa toko buku. Di rumah memang ada bertumpuk-tumpuk buku yg saya beli dari obralan. Saya memang senang ke toko buku dan langsung ke bagian obralnya. Buku yg diobral bukan karena buku itu buruk dan tidak berharga. Buku itu diobral oleh penerbitnya karena ada buku-buku baru lainnya yg butuh tempat. Buku lama mesti mengalah meski seringkali isinya jauh lebih bagus. Ada masa edar yg dipatuhi bersama oleh para penerbit dan toko buku. Saya memang suka memborong buku utk saya bagi-bagikan. Saya anggap ini sebagai bentuk sedekah yg canggih. 🙂

Melihat judulnya saya merasa bahwa ini sebuah buku yg menarik. “A Life Less Ordinary” kehidupan orang-orang biasa yg luar biasa? Kisah ini tentu akan menjadi kisah luar biasa apalagi jika ditulis oleh seorang penulis yg hebat. Penulisnya adalah Wong Kim Hoh, wartawan veteran Singapura, yg bercerita ttg gambaran warna-warni dari segelintir warga Singapura. Kisah-kisah yg ditulis sesungguhnya kehidupan yg ‘extra-ordinary’ dari orang-orang yg ‘less-fortunate’. Wong Kim Hoh pernah menyabet penghargaan keunggulan di bidang jurnalistik di Singapore Press Holdings Annual Awards di tahun 2004.

Saya memang tidak segera membaca bukunya pada waktu membelinya karena masih ada beberapa buku lain yg belum saya selesaikan membacanya sampai pagi ini. Pagi ini saya butuh sebuah buku utk saya baca di pesawat.
Siang ini saya ada acara presentasi di Rakornya IKAPI dan sy diminta utk berbicara ttg upaya peningkatan kemampuan literasi. Adalah Pak Dharma Hutauruk yg merekomendasikan saya pd panitia rakor. Tentu saja sy gembira diundang utk bicara di depan para perwakilan penerbit buku di Indonesia. Apalagi nanti katanya sy akan tandem dengan Kabalitbang. Sejak selesainya jabatan Pak Mansyur Ramli sbg Kabalitbang Kemdikbud saya tidak tahu lagi siapa yg menjabat menggantikannya. Tentu akan menyenangkan bisa menyampaikan sesuatu yg saya anggap penting pd pejabat tinggi di Kemdikbud.

Begitu masuk lounge di Juanda saya segera mulai membaca buku “A Life Less Ordinary” ini dan langsung tersedot olehnya. Pada hampir setiap kisah saya harus berhenti utk menahan emosi saya yg bergemuruh. Beberapa kisahnya membuat saya menahan napas karena begitu membetot emosi saya. Saya lalu berpikir alangkah bagusnya jika buku ini dibaca oleh orang-orang yg merasa tidak tahu harus berbuat apa dalam hidupnya. Banyak org yg merasa bhw hidupnya tidak berharga tapi orang-orang yg berkisah dlm buku ini mampu membuat kita tersadar bhw setiap hidup dan kehidupan itu berharga dan layak dibuat berharga. Tak ada alasan utk berpikir bahwa hidup kita tidak berharga dan tidak bisa dijadikan lebih berharga lagi.
Buku yg masuk kategori ‘motivational reading’ ini sangat menarik karena bercerita ttg kisah orang-orang biasa yg luar biasa. Mereka bukan para pesohor atau orang-orang yg hebat sejak lahir tapi orang-orang biasa yg kemudian menjadi luar biasa karena melakukan hal-hal yg luar biasa. Ini adalah kisah perjuangan hidup orang-orang Singapura kebanyakan yg dilakukan dg cara yg luar biasa. Semacam kisah ‘from zero to hero’ bahkan ‘from minus to many…many plusses’ yg ditulis dg sangat menarik. Banyak kisah yg membuat saya merasa sungguh kecil dibandingkan para tokoh dalam kisah tsb. Kisah-kisahnya membuat saya merasa belum melakukan apa-apa atau tidak melakukan yg terbaik dan optimal dalam kapasitas saya. Some of these people, in spite of their shortcomings and weaknesses, could do such great jobs only giants could compete.

Baca juga:  TEACH LIKE FINLAND

Mari kita lihat satu tokoh yg ditampilkan. Namanya Ho, Venerable (gelar bikshu Budha) Ho Yuen Hoe. Usia wanita ini sekarang 97 tahun dan giginya sudah habis semua. Kisah hidupnya sangat tragis. Berasal dari keluarga sangat miskin di Guang Zhoe, ia dijual orang tuanya ketika masih berusia 5 tahun. Ia kemudian dijual lagi dua tahun kemudian. Menjelang remaja ia ditipu oleh Snakehead (geng trafficking China) dan dikirim utk dijual ke Singapura.
Lepas dari jeratan perbudakan Ho kemudian menikah di usia 21 tahun dan sempat mencari kehidupan di Hongkong bersama suaminya. Tapi ia kemudian balik ke Singapura dan bercerai.
Pada usia 28 th Ho buka toko berbekal sisir, bangku dan lampu minyak tanah. Ia menawarkan pelayanan menyisir rambut, menjalin kepangan dan sanggul bagi pembantu rumah tangga dan imigran di Singapura.
Pada usia 40 tahun ia berhasil membeli ruko dan dari sini bisnisnya berkembang menjadi penginapan, menyewakan kamar-kamar dan bisnis pembuatan peti mati. Meski demikian ia tetap buta huruf.
Ia mulai mengadopsi anak-anak miskin di usia 50 tahun dan pada usia 61 tahun membuka rumah jompo. Akhir th 1960 ia membeli rumah di Richards Avenue di Serangoon dan menjadikannya Man Fut Tong Old Folks Home bagi para fakir miskin dan menampung 232 orang sakit dan lanjut usia.
Nenek Ho ini adalah contoh manusia yg mengagumkan. Meski lahir dalam lingkungan yg buruk, mengalami kehidupan yg sangat mengenaskan (pernah membayangkan menjadi budak yg tidak punya kehidupan pribadi?), berhasil lepas dari kehidupan yg memilukan, memiliki harta utk dinikmati, tapi kemudian memilih utk menjadi bhiksu melayani kemanusiaan. Ia tidak memilih utk bersenang-senang sbg kompensasi masa lampaunya yg sangat kekurangan. Sebaliknya ia tetap hidup dalam kesederhanaan dan menggunakan kekayaannya utk membantu orang-orang yg senasib dengannya dulu. Nenek Ho tidak menjadi getir dg pengalaman hidupnya yg sungguh getir itu. Justru cintanya pada mereka yg memiliki nasib buruk tumbuh dan ia bahkan memutuskan utk mengabdikan hidup dan kekayaannya utk mereka. Sungguh tidak mudah utk meniru laku Nenek Ho ini. Saya rasanya ingin mencium tangan Nenek Ho sebagai penghormatan atas keteladanannya.

Baca juga:  MAKING GLOBALIZATION WORK

Masih banyak kisah-kisah hebat lainnya dalam buku ini. Tapi sebaiknya Anda membeli dan membaca bukunya sendiri. Datanglah ke toko buku terdekat dan cari buku ini di bagian obral. Saya sendiri berniat utk memborong semua kalau masih ada dan membagi-bagikannya pada teman-teman agar bisa menikmati hikmah yg ada pada kisah-kisah hebat di buku ini.

Jakarta, 29 Maret 2014

Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *