Selasa, 29 September 2021
Satria Dharma's Weblog
SIAPA SIH YANG PAHAM COVID-19?


Sampai hari ini tak satu pun orang, lembaga, pusat kesehatan, atau bahkan negara, yang benar-benar memahami tentang virus Covid 19 ini. Virus ini benar-benar membingungkan semua ahli, pakar virus, dan para pemimpin dunia yang berusaha sekuat tenaga mereka untuk mencegah dan menghentikan merebaknya virus mematikan ini.

Apakah daerah atau negara yang paling kaya, paling pintar, paling canggih teknologinya, paling banyak rumah sakit dan alat kedokterannya, paling sehat cara hidup warganya akan lebih terhindar dari wabah ini ketimbang orang, daerah, atau negara yang lebih miskin, terkebelakang, tidak memiliki fasilitas kesehatan yang memadai, dan cara hidupnya kurang sehat? Tidak juga.

Sampai saat ini kita dengan tercengang melihat betapa negara-negara yang kekayaannya berlimpah, yang memiliki dokter dan peralatan kesehatan yang canggih, warga masyarakat yang terdidik, gizi baik, hidup sehat, dlsbnya justru menjadi negara yang paling banyak korbannya. Sebagai contoh, Bali yang jadi pusat pariwisata dunia dengan kunjungan turis China terbesar di Indonesia malah sangat sedikit korbannya. Vietnam yang secara teknologi dan ekonomi jelas tertinggal daripada Amerika Serikat, China, Eropa, dll sampai saat ini bahkan masih nol korbannya. Jika Vietnam memang memiliki jurus jitu untuk mencegah tertular dan mati karena Covid 19 lalu apa susahnya negara lain untuk mengikuti caranya? Toh faktanya tidak ada resep khusus anti-Covid 19 yang ada sampai saat ini. Semuanya hanya protokol-protokol umum yang semua negara bisa lakukan.

Sampai saat ini tidak ada obat khusus, ramuan herbal tertentu, vaksin baru, doa-doa mujarab, ritual-ritual khas, dll yang bisa disebut sebagai pamungkas dalam upaya untuk menghentikan merebaknya virus ini. Kalau mau pakai istilah sederhana maka sebenarnya daerah atau negara yang tidak terserang hebat oleh virus ini bukan karena hebatnya daerah atau negara tersebut tapi hanya karena factor luck alias KEBERUNTUNGAN belaka. Orang Jawa punya istilah khas untuk itu, yaitu BLAI SLAMET.

Bangsa Indonesia termasuk yang katut masuk dalam kategori BLAI SLAMET ini.

Baca juga:  PENTINGNYA BELAJAR BAHASA ASING

Coba bayangkan… Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar ke 4 di dunia (270 juta), ternyata jumlah terinfeksi dan jumlah dengan kematiannya justru berada di peringkat bawah dibandingkan dengan negara-negara maju yang jumlah penduduknya lebih sedikit.. Jumlah korban di Indonesia yang ‘hanya’ 520 itu masih kalah jauh dengan
– Amerika Serikat (jumlah kematian 31.623 orang berdasarkan Worldometer hari ini)
– Spanyol (jumlah kematian 20.002orang)
– Itali (jumlah kematian 22.745 orang)
– Prancis (jumlah kematian 18.681 orang)
– Inggris (jumlah kematian 14.576 orang)
– Turki (jumlah kematian 1.769 orang)
– Belgia (jumlah kematian 5.163 orang. Jumlah penduduk 11,4 juta)
– Belanda (jumlah kematian 3.459. Jumlah penduduk 17,1 juta))
– Swiss (jumlah kematian 1.327. Jumlah penduduk 8,5 juta)
– Swedia (jumlah kematian 1.400 orang. Jumlah penduduk 10 juta lebih)

Anehnya negara-negara yang dikuatirkan oleh dunia seperti India (penduduknya 1,3 milyar orang. Terbesar ke dua di dunia) dan Pakistan (jumlah penduduk : 233.500.636 jiwa. Kelima terbesar di dunia) dan secara fasilitas dan kemampuan masih di bawah Indonesia ternyata juga tidak terlalu besar jumlah korbannya dbandingkan dengan negara-negara kecil yang maju dan kaya seperti di atas. India korbannya ‘hanya’ 486 dan Pakistan malah ‘hanya’ 135. Tolong tidak usah ngegas kalau saya bilang ‘hanya’. Karena itu fakta dan kita bicara tentang angka, dan bukan bicara tentang individu.

Jadi sebenarnya kita ini harus lebih takut tinggal di India, Pakistan, Vietnam, Indonesia dibandingkan dengan negara-negara kaya, hebat, canggih macam Amerika Serikat, Inggris, China, Spanyol, Prancis, Italia sih?

Jika melihat jumlah korban yang bertumbangan semestinya kita lebih takut tinggal di Amerika Serikat ketimbang di Indonesia. Tapi pemerintah AS justru lebih takut jika warganya tinggal di Indonesia. Konsulat AS sangat ketakutan kalau warganya kena Covid 19 di Indonesia dan menyuruh semua warganya untuk pulang ke negaranya. Padahal negaranya adalah negara dengan jumlah kematian tertinggi di dunia karena Covid 19. Ngehek banget kan…!

Baca juga:  Program Literasi untuk Mahasiswa

Tadi pagi seorang teman protes karena masjid ditutup untuk sholat Jum’at. ‘Kenapa pasar yang buka setiap hari sejak pagi sampai sore dengan penjual dan pembeli yang berjubel kok tidak sekalian ditutup?’ Demikian protesnya.

Secara logika dia benar. Dengan konsentrasi orang yang begitu besar dan intens mestinya pasar adalah lokasi penyebaran wabah yang jauh lebih mematikan ketimbang masjid yang hanya menyelenggarakan salat Jum’at yang seminggu sekali. Tapi faktanya ada banyak laporan tentang penyebaran virus ini di masjid termasuk yang jamaahnya tiba-tiba meninggal pada saat salat Jum’at di rakaat kedua tapi tidak di pasar.

Jadi apa yang bisa kita simpulkan dari semua yang kita ketahui tentang wabah Covid 19 ini? Lha wong Mbahnya dunia kesehatan dunia di WHO saja bolak-balik keliru dan merevisi pandangannya tentang virus ini. Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus semula menyatakan bahwa tingkat kematian karena Covid 19 ini adalah 2% tapi tak lama kemudian setelah jumlah korban meningkat akhirnya diralat menjadi 3,4%.. Ini pun bisa berubah jika terjadi lonjakan lebih tinggi. Sebelumnya dikatakan bahwa orang yang tidak sakit tidak perlu pakai masker. Masker hanya untuk yang sakit. Tapi kemudian diubah bahwa semua orang harus memakai masker jika keluar dari rumah mereka. Semula pakar dunia teriak bahwa kita harus lokdon ketat untuk menghentikan penularan ini. Faktanya tidak semua negara yang lokdon ketat berhasil menurunkan jumlah kematian. Negara-negara yang penduduknya mokong dan kalau dilokdon malah mati justru ya gak parah-parah amat. Pokoknya BLAI SLAMETlah…!

Jadi kalau Mbahnya organisasi kesehatan dunia saja bisa keliru soal Covid 19 ini apalagi kalau hanya Ridwan Kamil, Anies Baswedan, Luhut, dr. Terawan, dan Mukidi. Semua mereka mati-matian untuk mencari cara menghentikan wabah ini dan belum juga berhasil. Jadi Mukidi tidak perlu menyalahkan Anies Baswedan kalau ada kebijakannya yang tidak tepat dalam menangani Covid 19 ini. Luhut juga tidak perlu menyalahkan Mukidi walau pun Mukidi memang cuma nyangkem belaka. Intinya gak usah cari-cari kesalahan siapa pun lha wong sampai saat ini seluruh dunia juga masih salah-salah dalam mengenali Cak Kopit Songolas ini.

Baca juga:  JALAN-JALAN KE LAOS

Sudah ngopi belum…?!

Surabaya, 18 April 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *