Sabtu, 18 September 2021
Satria Dharma's Weblog
YUBI DAN HARAPAN UNTUKNYA

Punya anak pertama itu senangnya luar biasa. Rasanya WOW banget…! Begitu juga saya ketika Yubi, anak pertama saya, lahir. Rasanya hidup itu langsung komplit ketika kita punya anak. Harapan kita padanya langsung melambung tinggi. Tentu saja kita berharap agar anak-anak kita jauh lebih baik daripada kita, dalam segala hal. Yang jelas begitu lahir saya langsung tahu bahwa Yubi ini pasti nantinya akan lebih ganteng daripada bapaknya. Kalau bapaknya aja sudah seganteng ini maka anaknya jelas lebih advanced lah…!

Sebetulnya saya agak malu menyampaikannya dan maju mundur untuk menuliskannya di sini. Tapi saya memang menggagas dan menuliskan harapan-harapan saya pada Yubi ketika ia lahir. Saya bikin daftar harapan saya untuk Yubi. Saya bikin daftar tentang apa yang saya ingin ia capai dalam hidupnya kelak. Tapi setelah lama saya pikirkan, saya merasa malu sendiri. Daftar ini kok seperti ‘wish-list’ yang sebenarnya saya harapkan dan tuntut pada diri saya tapi tidak pernah bisa saya capai. Karena tidak bisa saya capai lalu ingin saya jatuhkan bebannya pada Yubi anak saya. Setiap kali saya membaca ‘wish-list’ ini saya lalu merasa malu sendiri. Kok bisa-bisanya saya bikin daftar harapan yang begitu panjang untuk anak saya…! Kok kayak bikin daftar belanjaan di supermarket aja. Barangnya sudah ada dan tinggal ambil. Kon dewe iku lho gak iso, Bro. Ojok nggatheli opo’o….! (Aku diclathu karo awakku dewe).
Tentu saja saya tidak pernah menyampaikan hal ini pada Yubi. Saya rasanya bisa mengira bagaimana reaksinya jika daftar panjang ini saya berikan padanya.

“Whaaat…?! Are you serious, Dad…?! Don’t you think it’s too much for me…?!” dengan pandangan bola mata ke atas dan mulut ternganga.

Tapi harapan ini memang sudah terlanjur saya tulis dalam Buku Harian saya pada hari Jum’at 8 April 1994, enam bulan setelah Yubi lahir.

Apa daftar harapan yang saya susun untuk Yubi waktu itu? Berikut ini daftarnya.
Saya ingin anak saya:
1. selalu mensyukuri nikmat Allah yang diberikan padanya
2. tumbuh menjadi anak yang penuh percaya diri
3. menjadi pembela dan penegak kebenaran di manapun ia berada dengan gagah berani.
4. hidup dan bahagia dalam kesederhanaan
5. menjadi sahabat bagi orang-orang miskin dan terlantar
6. hidup dengan penuh optimisme dan gerak hidup yang menyala-nyala
7. cinta kepada ilmu pengetahuan dan selalu belajar dalam hidupnya
8. mampu mengaplikasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-harinya
9. jujur lurus dan konsisten dalam kehidupannya
10. sabar dalam menghadapi penderitaan maupun kesenangan
11. mampu mengendalikan amarahnya dan pemaaf terhadap orang lain.
12. peka terhadap lingkungan dan selalu bersedia untuk menolong orang yang membutuhkan.
13. selalu berkata benar dan jujur dan tidak takut menghadapi resiko nya.
14. hanya meminta kepada Allah dan tidak kepada makhlukNya.
15. suka bekerja keras dan selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik.
16. menghindari hal-hal yang tidak berguna dan selalu mencari kebaikan dalam hidupnya.
17. rendah hati, tawaddu’, dan tidak suka bangga diri.
18. haus akan kebenaran dan akan selalu mencarinya dalam hidup.
19. selalu berusaha untuk menjadikan dirinya berguna dan bermanfaat bagi lingkungannya.
20. halus tutur katanya manis ucapannya dan murah senyum nya pada setiap orang.
21. kasih dan sayang terhadap sesama makhluk baik itu manusia binatang maupun tumbuhan.
22. selalu bertanggung jawab atas tindakannya dan dapat dipercayai dalam memegang amanah.
23. mencintai Allah dan rasulnya melebihi apapun lainnya
24. rajin bekerja dan tidak suka berdiam diri.
25. pantang menyerah dan tidak takut menghadapi kesulitan.

Baca juga:  JIWA PEMIMPIN

Oke, saya akui bahwa saya berlebihan dan memang ora umum. Ini daftar yang disusun oleh bapak anyaran yang terlalu banyak nguntal buku ‘Kumpulan Khutbah Jum’at’ cetakan pertama sampai versi revisi. Makanya setelah saya tulis beberapa waktu kemudian, setelah saya baca-baca lagi, akhirnya saya putuskan dan sampaikan pada diri saya, “Badoken dewe aelah, Bro…!”

Saya akhirnya memutuskan untuk menjadi orang tua yang sewajarnya saja, sak baene wong tuwo nang anake. Namanya orang tua itu ya memberi dan bukan menuntut. Akhirnya saya putuskan bahwa saya tidak akan menuntutnya jadi kyai, ustad, ilmuwan, akademisi, penemu vaksin, pahlawan bangsa, selebriti, pujaan hati para ibu-ibu, wiraswasta sukses, Si Doel Anak Betawi, Ali Topan Anak Jalanan, Dilan yang menanggung rindu saja berat, dll.. Saya putuskan bahwa Yubi anak saya boleh jadi apa dan siapa saja yang ia inginkan. Dia yang akan menjalani hidupnya sendiri. Kami sebagai orang tuanya hanya bisa memfasilitasinya untuk mencapai keinginan hidupnya.

Kalau Yubi mau ndablek yo wis ben (dan pancen jadi pemberontak). Ketika menginjak remaja ia jadi suka memberontak dan melawan hampir semua aturan yg ditetapkan orang tuanya untuknya. Ia seolah hidup di dunia lain bersama teman-teman sebayanya dan hanya numpang tidur di rumah. Makan pun ia jarang di rumah. Meski berkali-kali kami tegur ia seolah telah imun. Sehari dua hari ia menurut dan hari berikutnya ia ulangi lagi. Bolos sekolah belum juga berhenti meski ia pernah tinggal kelas gara-gara kebanyakan bolos. Belum jera juga ia dengan perbuatannya tersebut.. Meski emaknya telah memintanya utk berhenti merokok ia belum juga mau mematuhinya. Secara sembunyi-sembunyi ia masih juga merokok di luar rumah. Jika ibunya tahu ia kembali mengingatkannya. Ia kembali mengiyakan tapi akan diulanginya lagi. Sekarang mah sudah terang-terangan merokok di kamarnya. Soalnya kami juga sudah waleh nuturi.

Baca juga:  DUNIA TIDAK BUTUH KESALEHANMU

Lalu bagaimana dong kami sebagai orang tua…?! Dulu kami hanya bisa berharap dan menunggu suatu saat ketika semua kenakalannya selesai dan hanyut atau menguap dan suatu hari ia bangun menjadi Yubi yg dewasa dan bertanggung jawab. Kami percaya saat itu akan datang entah kapan. Kami percaya suatu hari ia akan bermetamorfosis menjadi seorang anak yg membanggakan kami sebagai orang tuanya. Ia memiliki begitu banyak kebaikan dalam dirinya yg masih disimpannya utk dibuka suatu hari nanti. Ia hanya ingin menguji kesabaran kami sebagai orang tuanya. Dan ternyata saat ini ia sudah betul-betul banyak berubah. Banyak hal dari daftar yang saya tulis telah dimilikinya saat ini tanpa harus saya sampaikan padanya. Yubi adalah pemuda yang halus tutur katanya manis ucapannya dan murah senyum nya pada setiap orang. Ia juga kasih dan sayang terhadap sesama makhluk baik itu manusia binatang maupun tumbuhan. Yubi selalu saja ingin mengadopsi anjing dan kucing yang ia temui di jalanan (dan selalu saya larang). Yubi memiliki rasa kasih dan sayang yang langsung terpancar dari wajahnya yang ganteng dan menyenangkan itu. Saya yakin kalau emaknya menawar-nawarkan anaknya ini ke teman-temannya maka akan banyak yang berebut ingin menjadi calmernya.
Kami memang tidak perlu menuntut. Yang perlu kami lakukan sebenarnya hanyalah cukup memberi, memberi rasa cinta sebanyak-banyaknya. Seperti yang pernah saya tulis dulu. Ini janji kami padanya yang tidak perlu kami sampaikan padanya. Apa pun yang ia lakukan rasa cinta kami padanya tak pernah berkurang. Begitulah cinta orang tua pada anaknya. Cinta yg tak berhubungan dengan rasio dan logika. Unconditioned love. Cinta yg melawan prinsip ekonomi dan untung rugi. Cinta yg dalam seperti sumur yang tak berdasar dan luas seperti horizon yg tak bertepi. Cinta yg sekonyong-konyong koder, kata seorang penyanyi lokal yg saya lupa namanya. Cinta yg membela mati-matian no matter what. Seperti induk ayam yg berani mati menghadapi siapa saja yg mencoba mengganggu anak-anaknya. Kami mencintainya seperti lautan yg menerima limpahan segala macam air dari sungai-sungai yg mengalir kepadanya.

Baca juga:  DAY 2 : YANGON KAUM SARUNGAN YANG SOLEH

Jadi apa dong gunanya saya menulis daftar harapan tersebut jika kemudian saya campakkan begitu saja? Yang jelas harapan tersebut sudah muncul dalam hati saya, sudah saya tulis dengan hati yang penuh harap, dan mudah-mudahan sudah dibaca oleh malaikat. Kan katanya banyak malaikat yang bersliweran di sekitar kita tapi kita tidak melihatnya. Saya yakin tulisan saya cukup jelas dan bisa dibaca oleh para malaikat. Kalau malaikat yang membaca kemudian merasa geli dan memanggil teman-temannya untuk tertawa bersama-sama, yo ben. Sing penting tetap ditulis oleh malaikat dan disampaikan pada Tuhan.

Apa yang hendak saya sampaikan adalah betapa saya merasa sangat bersyukur dikaruniai anak seperti Yubi. Ia bisa menyenangkan hati orang tuanya dengan cara sederhana seperti yang ia lakukan sejak dulu hingga saat ini. Ia jelas telah menghadirkan cinta yg luar biasa besar bagi kami orang tuanya. Dan cinta itu sendiri adalah anugrah yg luar biasa bagi kami sebagai orang tua.

Surabaya, 17 April 2020

Satu tanggapan untuk “YUBI DAN HARAPAN UNTUKNYA”

  1. an berkata:

    cerita yang cukup menarik, sbg contoh sudut pandang ortu thd anak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *