Senin, 23 Juli 2019
Just another WordPress site
DAY 3: MANDALAY


Bis malam JJ Express yang kami naiki tiba di Mandalay tepat pukul 6. Kami lalu ditransfer naik minibus utk diantar masuk kota ke hotel kami, Moonlight Hotel. Di sebuah jalan semua penumpang turun dan kami naik ojek ke Moonlight. Kami terpaksa pakai dua ojek dan bayar K1000 per ojek.

Hotel Moonlight jauh lebih bagus daripada New Golden Forward di Yangon. Ini hotel baru jadi semuanya serba baru, modern, dan lengkap meski lebih kecil kamarnya. Tapi karena saya booking hotel ini untuk kemarin maka kami tetap harus checkout pada jam 12 siang nanti. Untungnya tarif hotel ini lebih murah ketimbang NGF di Yangon. Rencananya kami akan tidur-tiduran dan beristirahat saja sampai jam 12 waktu check-out dan setelah itu sewa mobil untuk jalan-jalan selama sekitar 6 jam sampai kami harus kembali ke terminal bis malam Mandalay di Kywe Se Kan highway bus station.

Di luar hotel saya langsung ditawari sewa mobil oleh seseorang makelar car rental bernama Win Win. Untuk sewa mobil keliling-keliling selama sekitar 7 jam termasuk sopir dan bensin ia mengenakan tarif 33.000 Kyats. Itu sudah termasuk mengantarkan ke Kywe Se Kan bus station. Ini termasuk murah karena kemarin saya kena charge tambahan 3 jam x 6.000 Kyats + ongkos mengantar ke Aung Mingalar Bus Station sebesar 6.000 Kyats juga. Artinya saya dikerjain oleh U Thein. 😄

Sopir kami kali ini namanya Mo Mo. Tapi ketika saya tunjukkan tulisan namanya di HP dia bilang bukan begitu tulisannya. Dia lalu saya minta untuk menulis sendiri namanya dan ditulisnya “MgMg”. Whaaat…?! Gimana bisa bunyi kalau semua adalah konsonan tanpa vokal? Tapi karena dia yang punya nama ya saya tidak bisa protes. Yang penting saya memanggilnya “Mo Mo”. 😄

Berikut ini jadwal saya seharian ini dengan MgMg.
1. Ke Money Changer utk tukar Kyat. Rate di sini ternyata lebih baik daripada di bandara Yangon kemarin. Sayang uang kami tinggal 100 USD. Di sini kami dapat 13.260 Kyats.
Waktu tukar uang itulah saya baru sadar bahwa passport kami masih ada di hotel. Terpaksa kami balik lagi mengambil passport.

2. ‎Waktunya salat dulu. Jadi kami menuju ke Joon Mosque yang dekat saja dengan hotel. Beda masjid di sini dan di Indonesia adalah bahwa perempuan di sini tidak boleh salat di masjid. Untungnya istri saya sedang berhalangan sehingga tidak perlu eh, tidak boleh salat.

Baca juga:  LAMPU SEIN KE KIRI TAPI BELOK KE KANAN

Empat tahun yang lalu terjadi bentrokan di Mandalay antara kelompok Budhist dan muslim sehingga menyebabkan meninggalnya seorang muslim dan seorang Budhist. Polisi terpaksa mengerahkan pasukannya untuk menghentikan bentrokan tersebut. Meski demikian tak ada sedikit pun sentimen tersisa dari bentrokan tersebut. Mandalay sangat aman buat muslim dan bahkan tak seorang pun yang memandang kami dengan curiga atau semacamnya. Mereka bahkan sangat ramah dan selalu bertanya, “Where are you from?”

Sekedar dipahami, agama Islam punya jejak yang panjang dan jelas di Mandalay ini karena mereka telah menjadi pasukan dan tentara King Mindon, Raja Mandalay di jaman dulu. King Mindon bahkan memberi ijin dan tempat untuk membangun masjid. Itu sebabnya ada beberapa masjid besar di Mandalay termasuk di komplek istana Mandalay. Masjid Joon ini saja saya perkirakan bisa menampung lebih dari 500 jamaah dengan mudah.

3. ‎Tujuan pertama setelah salat di Masjid Joon adalah menuju Golden Palace, atau sisa-sisa Kerajaan Mandalay. Kerajaan yang megah ini dulu terbakar habis waktu jaman PD II dan baru selesai direstorasi pada tahun 1990. Kompleksnya sangat luas dan dikelilingi oleh tembok seperti benteng tapi tidak semua tempat bisa dimasuki. Kalau mau mengelilingi istana ini ya gempor kaki kita. 😊

Di dalam istana ada Menara Mandalay. Ada tangga melingkar disisi luar bagi pengunjung untuk menaikinya. Dari atas kita bisa melihat pemandangan ke luar. Sampai tempat teratas, pemandangan dataran Mandalay yang jauh terbentang dapat disaksikan 360 derajat. Tapi kami tidak naik karena mau menghemat tenaga.

4. Kami lalu melanjutkan perjalanan ke Mandalay Hill, yang katanya merupakan salah satu tempat ziarah paling penting di Myanmar sejak Raja Mindon (Raja Burma tahun 1853-1878) menginjakkan kakinya di Mandalay pada abad ke 19. Bukit ini berdiri di atas ketinggian 240 m di atas kota Mandalay.

Di atas bukit ada pagoda Su Taung Pyai di puncaknya. Kita harus naik eskalator utk sampai ke atas. Tapi kami harus melepaskan alas kaki di tempat ibadah penting bagi umat Budha ini.
Dari atas kita bisa melihat pemandangan indah, bangunan pagoda yang menyerupai istana dengan warna keemasan serta pemandangan kota Mandalay dari ketinggian.

Baca juga:  Seminar Pendidikan Karakter di Bintuni Part 3 : Dogs rule the street

Satu hal yang menarik dari Pagoda ini adalah banyaknya uang sedekah yang dikumpulkan dari para jamaah yang berdatangan. Minimal ada 10 kotak besar-besar di setiap sudut dan semuanya penuh. Padahal ada 4 sudut semuanya. Saya membayangkan berapa lama mereka butuh waktu untuk menghitungnya. 😄

Jelas sekali bahwa umat Budha yang datang sangat royal dengan sedekah utk tempat ibadah mereka. Padahal kalau saya lihat mereka bukanlah orang yang kaya-kaya amat. 😊

– Setelah turun dari Mandalaya Hill kami mengunjungi Kuthodaw Paya (Paya artinya Pagoda), Atumashi Kyaungdawgyi dan Swenandaw Kyaung Golden Palace Monastry yang semua letaknya di dekat Mandalay Hill.

5. Waktunya makan siang (sudah menjelang sore sih). Kami minta diantar ke salah satu mall dan diantar ke Diamond Mall Center, atau semacamnya. Mall ini besar tapi sepi. Kami naik ke lantai 4 dan menemukan resto yang jual berbagai macam menu nasi. Kami coba nasi dengan lauk udangnya dan ternyata enak. Lagipula kami bawa bekal rendang dari RM pagi Sore Jakarta untuk jaga-jaga kalau makanannya tidak masuk selera kami. Ternyata no problem. Masakan Myanmar ini masuk dalam selera kami baik yang di Yangon mau pun yang di Mandalay.

6. Jadwal terakhir kami adalah Mahamuni Paya. Untuk memasuki lokasi kita harus melewati barisan penjual suvenir di kiri dan kanannya. Tampaknya di Mahamuni Paya area ini adalah tempat berkumoulnya para pengrajin patung dan pernak-pernik peribadahan umat Budha. Patung Budha dari marmer dalam segala ukuran ada dijual di sini. Mungkin di sinilah pusat kerajinan patung Budha untuk peribadahan dihasilkan. Di sini pengunjung yang ingin bersembahyang sangat ramai. Di Mahamuni Pagoda ini terdapat patung Budha dari perunggu berlapis emas (entah emas asli atau kuningan) setinggi 4 meter dan berat 6,5 ton. Patung ini memakai mahkota berhiaskan berlian, ruby dan safir. Disini wanita tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruangan dimana patung Budha berada. Tapi mereka bisa melihatnya dari layar TV yang memperlihatkan ruangan tersebut.

Baca juga:  MENGAPA HTI ITU BERBAHAYA BAGI BANGSA, NEGARA, DAN AGAMA?

7. ‎Semestinya dari Mahamuni Paya kami akan langsung ke Kywe Se Kan bus station. Tapi hari masih terlalu sore sedangkan bis kami baru akan berangkat jam 9 malam. Akhirnya oleh MgMg kami ditawari menuju ke U Bein Bridge. Tentu saja saya senang bisa pergi ke sana. Sebetulnya U Bein Bridge ini termasuk yang ingin saya kunjungi tapi jaraknya lumayan jauh jadi saya coret. Oleh MgMg saya ditawari kesana dengan tambahan 7.000 Kyats. No problem. Berarti saya bayar dia pas 40.000 Kyats nantinya.

U Bein Bridge sangatlah ramai di sore hari itu. Kami berdesak-desakan di atas jembatan kayu yang membentang di Danau Taungthaman dekat Amarapura di Myanmar. Jembatan ini panjangnya 1,2 kilometer dan dibangun sekitar tahun 1850. Jembatan ini diyakini sebagai jembatan kayu jati tertua dan terpanjang di dunia. Konstruksinya dimulai ketika ibukota Kerajaan Ava pindah ke Amarapura, dan jembatan ini dinamai sesuai dengan nama walikota yang membangunnya. Jembatan ini digunakan sebagai jalur penting bagi perlintasan masyarakat setempat dan juga menjadi objek wisata. Oleh sebab itu jembatan ini merupakan sumber pendapatan yang signifikan bagi penjual souvenir.

Kemarin ada yang tanya soal Rohingya. Kalau saya lihat di sini mah semuanya adem ayem saja. Tempat etnis Rohingya muslim yang di usir dan dibunuh secara massif oleh tentara Myanmar letaknya di Propinsi Rakhine di sebelah Barat Myanmar berbatasan dengan Bangladesh.
Hal ini kemudian menjadikan adanya ketegangan antara umat Islam dan Budha di berbagai tempat. Hal ini membuat ada muslim yang merasa takut untuk melancong keMyanmar. Padahal di sini suasananya adem ayem dan tidak ada ketegangan antar agama. Sumprit…!

Saat ini saya sudah berada di poolnya JJ Express menunggu waktu untuk berangkat balik ke Yangon jam 9 nanti. Kalau sesuai jadwal kami akan tiba jam 7 pagi di Aung Mingalar Bus Station Yangon.

Sampai jumpa besok lagi. 🙏😊

Mandalay, 14 Maret 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *