Senin, 02 Juni 2020
Just another WordPress site
IGI SANG PENDOBRAK

Kalau Anda guru atau orang yang bergerak di bidang pendidikan, dan mau benar-benar memperhatikan, maka Anda pasti akan melihat beberapa perubahan fenomenal yang dilakukan oleh IGI di dunia pendidikan. Jelas sekali bahwa IGI telah berhasil menjadikan dirinya sebagai sebuah organisasi guru yang mandiri, independen, percaya diri, dalam upayanya untuk memajukan profesi dan meningkatkan kompetensi para guru. IGI adalah organisasi guru yang benar-benar mampu mendorong anggotanya untuk memanfaatkan teknologi informasi dalam meningkatkan kapasitas pembelajaran mereka. Di saat pandemi di mana tiba-tiba para guru harus memanfaatkan teknologi informasi dan meninggalkan cara lama dengan tatap muka maka jelas para guru IGI telah melesat di depan meninggalkan koleganya yang tidak mau berubah sebelumnya. Hampir di semua propinsi IGI melakukan pelatihan dan webinar dengan berbagai topik yang keren. Sungguh kita tidak kalah dengan guru-guru di negara maju yang sebagian besar juga masih kolot. Dulu saya pikir topik-topik semacam itu hanya bisa dilakukan oleh para professor doktor dan pakar pendidikan. Tapi kini jelas mereka sudah jauh tertinggal oleh para guru IGI. Para professor doktor seusia saya masih saja enggan untuk berubah ke pembelajaran daring dan mengira bahwa pembelajaran tatap muka tradisional akan langgeng seumur hidup mereka. Begitu pandemi terjadi maka kelimpunganlah mereka. Lha wong banyak professor doktor yang bahkan menggunakan teknologi WA saja masih kelagepan. 😀


Satu hal yang harus saya akui dari peran penting dari Ketum IGI saat ini, Ramli Rahim, adalah kemauan kerasnya untuk memberikan kepercayaan penuh pada guru untuk menjadi ‘tuan di bidangnya sendiri’. Semua guru harus menjadi nara sumber dan pembicara di berbagai seminar, konferensi, workshop, diskusi di bidang pendidikan. Ramli Rahim bersikeras untuk menyingkirkan para professor doktor dan pakar-pakar pendidikan yang tidak pernah masuk ke kelas atau sekolah-sekolah untuk berbicara tentang bidang dan materi yang sehari-hari digeluti oleh para guru. Para guru adalah pakar di bidangnya itu sendiri karena mereka yang setiap hari menghadapi siswa. Mereka lebih layak berbicara tentang materi dan topik pendidikan yang mereka kerjakan sehari-hari ketimbang para professor doktor yang hanya bergelut dengan teori dari buku. Jadi dalam setiap seminar dan loka karya IGI para pembicaranya adalah para guru itu sendiri. IGI menyingkirkan para ‘pakar’ dengan harapan menjadikan para guru itu sendiri sebagai pakar. Terus terang saya tercengang melihat keberanian dan kepercayaan dirinya waktu itu. Tapi argumennya memang sangat logis. Mengapa selalu mengajak komentator untuk bicara tentang sepakbola ketimbang para pemain itu sendiri? Jika kita memberi waktu dan kesempatan bagi para guru untuk berbicara dan menuliskan pengalamannya selama mengajar maka mereka akan bisa menjadi komentator yang jauh lebih baik ketimbang komentator yang tidak pernah turun ke lapangan itu sendiri. 👍

Baca juga:  HTI BUKAN ORGANISASI DAKWAH ISLAM

Dan kini dengan takjub saya melihat betapa para guru IGI dan mereka yang bersentuhan dengan pelatihan-pelatihan IGI yang terus menerus tiada hentinya itu menghasilkan lompatan-lompatan dalam menghasilkan model pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Ribuan buku hasil karya para guru telah diterbitkan meski masih baru sedikit yang benar-benar menunjukkan kelas pakar. Jelas sekali bahwa apa yang mereka lakukan lebih hebat daripada apa yang bisa disediakan oleh Ruang Guru. Bedanya hanyalah bahwa apa yang dilakukan oleh Ruang Guru itu dikapitalisasi sedangkan IGI berjalan di relnya sejak awal, yaitu Sharing and Growing Together. Karena dikapitalisasi dengan model bisnis maka mereka jelas menghasilkan banyak kapital. Sedangkan IGI tetap berjalan dengan penuh keikhlasan dan pahalanya disimpan untuk nanti. 😀

Di antara para ‘tetua’ IGI kami sering bergurau dengan bertanya mengapa Kemendikbud tidak pernah mau benar-benar memanfaatkan IGI untuk kemajuan dunia pendidikan. Begitu banyak dana pelatihan guru yang kami anggap hangus begitu saja tanpa hasil karena begitu kunonya cara Kemendikbud memanfaatkannya. Dunia pendidikan sudah demikian cepatnya melesat ke depan sedangkan Kemendikbud masih sering menggunakan pola-pola pelatihan yang benar-benar obsolete dan out of date. 😞 Jawaban saya tentu saja standar, “Sampai IGI dan Kemendikbud mau benar-benar menurunkan ego masing-masing maka mereka berdua tidak akan bisa duduk bersama dan melakukan perubahan bersama. IGI dan Kemendikbud akan tetap saling melihat dengan pandangan mata sebelah seolah mereka adalah para bajak laut.” 😀

Secara pribadi saya sebenarnya berharap bahwa terjadi kerjasama yang baik di antara Kemendikbud dan IGI dengan naiknya Nadiem Karim sebagai Mendikbud. Tapi tampaknya saya masih harus menahan hasrat karena ternyata Ruang Guru lebih berhasil menyodok perhatian pemerintah. IGI belum mampu menunjukkan besarnya kapasitasnya dalam membuat perubahan di dunia pendidikan. Ada faktor diplomasi dan komunikasi yang memang sulit dilakukan dengan gaya ‘take it or leave it’ IGI selama ini.

Baca juga:  MELAMAR PEKERJAAN

Tapi hidup itu mengalir dan IGI sendiri terus bergerak. So who knows….?! 😎
Surabaya, 2 Mei 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *