Selasa, 12 Nopember 2019
Just another WordPress site
REKAM JEJAK ANAK TIGA ZAMAN

“Yang tercela bukanlah berbeda pendapat tapi ketidakmampuan mengelola perbedaan secara beradab.” (Daoed Joesoef)

Daoed Joesoef adalah seorang tokoh yang komplit. Ia hidup pada tiga zaman, yaitu pada zaman Penjajahan Belanda, Penjajahan Jepang, dan Kemerdekaan. Pada jaman Kemerdekaan beliau juga hidup pada tiga sub-zaman, yaitu Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi. Sampai hari ini beliau masih hidup dan produktif dengan menulis dan memberi seminar-seminar di usianya yang 92 tahun.

Buku “Rekam Jejak Anak Tiga Zaman” ini adalah buku biografi beliau (yang disebutnya sebagai monografi) mengisahkan perjalanan hidupnya sejak masih kanak-kanak sampai saat ini. Kisah hidupnya begitu menarik sehingga membuat saya tidak mampu melepaskan diri dari membacanya sampai habis. Setelah selesai membacanya saya tiba pada kesimpulan bahwa kisah perjalanan hidup beliau ini patut menjadi referensi bagi para siswa yang hidup di zaman now agar memahami seperti apa kehidupan di zaman penjajahan Belanda, Jepang, Kemerdekaan, dan kehidupan setelah itu. Buku ini ditulis sendiri oleh pelaku sejarah yang terlibat penuh dalam semua kehidupan di zaman tersebut. Buku ini sangat otentik untuk dijadikan sebagai referensi.

Daoed Joesoef sangat dipengaruhi oleh sikap dan pandangan hidup ibunya (yang beliau panggil sebagai “Emak”). Meski tidak bersekolah tapi emaknya sangat terinspirasi oleh ayat Iqra sehingga beliau berpegang pada pedoman Iqra dan menekankan betapa pentingnya membaca dalam menuntut ilmu. Emaknya selalu mendorongnya untuk mencapai kehidupan yang dilandasi oleh kebiasaan membaca dan belajar. Itulah sebabnya maka Daoed Joesoef telah menjadi da’i cilik di kampungnya dan juga berrkeliling ke kampong-kampung lain sejak ia masih kelas 3 SD. Ia mampu menghapal ayat-ayat dan teks khotbah dengan penuh penghayatan ketika menyampaikannya pada acara-acara pengajian sehingga orang-orang kampung sangat mengaguminya. Ia sering diberi honor dari undangan-undangan ‘berceramah’ sejak SD. Hal ini membuatnya juga mampu menjadi seorang story teller atau pencerita yang mampu mengumpulkan banyak anak-anak dan orang dewasan untuk mendengarkannya bercerita yang kisah-kisahnya ia ambil dari buku-buku cerita yang ia baca atau bahkan ia karang sendiri. Petuah-petuah emaknya sangat berkesan pada beliau sehingga beliau masih juga membaca Surat Yasin jika mendapatkan kesulitan hidup. “Jangan ragu-ragu menempuh jalan yang jarang ditempuh orang banyak. Puaskan hati nuranimu danjangan jadi penjilat.” Demikian pesan emaknya yang dibawanya sampai tua.

Baca juga:  BUKU APA YANG ANDA BACA HARI INI…?!

Selain bercerita, Daoed Josoef juga sangat berbakat dalam melukis foto dan bahkan telah menjadi illustrator novel sejak ia berusia 13 tahun. Jadi ia telah mampu mensejajarkan dirinya dengan para pelukis-pelukis senior di usianya yang masih sangat muda. Beliau adalah seorang seniman sejak muda dan bahkan bergaul dengan para seniman, baik itu pelukis seperti Affandi, Soedjojono, Nasyah, dan Teroeboes. Meski demikian bersekolah adalah cita-citanya tertinggi dan ini membuat beliau akhirnya merantau ke Jogya dengan segala perjuangan karena tekanan Belanda.

Zaman Penjajahan Belanda membuat beliau ikut berjuang untuk melawan dan megusir mereka. Beliau menjadi laskar PETA dan lulusan sekolah Kadet Militer berpangkat Letnan Muda. Jadi sejak muda beliau adalah pejuang kemerdekaan . Hal ini membuat beliau menjadi seorang mahasiswa, seniman, dan militer sekaligus ketika masih berusia sangat muda

Perjalanan hidup beliau sangat berliku dan beliau sangat teguh memegang sikap. Hal ini membuatnya dianggap sebagai orang yang kaku dan tanpa kompromi pada hal-hal yang dianggapnya prinsip. Beliau tidak pernah segan menyampaikan sikapnya yang berbeda meski pada Soeharto yang mengangkatnya menjadi Mentri Pendidikan dan Kebudayaan pada Kabinet Pembangunan III pada 29 Maret 1978. Hal ini membuatnya disebut tidak ‘njawani’ dan akhirnya ditendang dan tidak dilibatkan pada Kabinet Pembangunan IV. Sejak awal, Doktor lulusan Universitas Sorbonne, Prancis, ini tidak setuju dengan pola pembangunan ekonomi yang dikuasai oleh Mafia Berkeley dan menurutnya salah sejak filosofinya. Mestinya bukan hanya ekonomi yang dibangun tapi bangsa yang ia sebut dengan Pembangunan Nasional. Butuh 26 tahun untuk membuktikan kegagalan pembangunan ekonomi yang ia tentang tersebut. Konsep yang dijalankan oleh para ekonom Mafia Berkeley tersebut membuat Indonesia masuk dalam perangkap utang.

Baca juga:  GERAKAN LITERASI KOK PAKAI DEKLARASI?

Sikap keras dan frontalnya terhadap setiap hal yang ia anggap tidak benar membuatnya banyak tidak disukai oleh orang-orang disekitarnya. Beliau adalah salah satu orang yang ikut membangun Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tapi beliau dimusuhi oleh orang-orang FEUI pada jaman itu. Keinginannya untuk kuliah di Sorbonne meski telah mendapat beasiswa tidak mendapat restu dari pimpinan fakultas pada jaman tersebut, yaitu Prof. Dr. Widjojo Nitisastro.. Tapi berkat bantuan Mendikbud pada jaman itu, Dr. Sjarief Thayeb, akhirnya ia bisa berangkat juga. Ketika Prof Dr. Widjojo Nitisastro datang ke rumahnya dihadapinya dengan menunjukkan kemarahannya dengan tidak mempersilakannya masuk ke rumahnya. Benar-benar tanpa basa-basi. J

Sikap frontal dan tanpa basa-basi ini juga dilakukannya ketika ia menjabat sebagai Mendikbud. Ketika Dekan FEUI datang menghadap kepada beliau untuk membawakan surat keputusan FEUI untuk mengangkat beliau sebagai guru besar surat itu langsung dirobek-robeknya. “Ini suatu penjilatan,” katanya pada Dekan FEUI yang membawa surat itu. “Katakan pada gang mafia, teman-temanmu yang sedang memimpin fakultas bahwa saya tidak suka. Kalian tahu persis bahwa jauh sebelum ini kumulasi kredit akademisku sudah memenuhi untuk diangkat menjadi professor tapi mengapa baru sekarang?”

Sebagai Mentri Pendidikan beliau menerbitkan NKK (Normalisasi Kehidupan Kampus) yang mendorong mahasiswa untuk lebih fokus pada kegiatan ilmiah dan tidak berpolitik di kampus. Hal ini membuatnya didemo terus menerus oleh mahasiswa. Menurutnya para mahasiswa ini memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat tentang apa yang disebut ‘kampus’, “ilmiah”, dan lain-lain. Karena ketidaktahuan itu maka masyarakat mengira bahwa semua yang dilakukan oleh ‘orang-orang kampus’ adalah ilmiah, jadi bersih dari unsur-unsur politik. Padahal faktanya mereka memanfaatkan status mereka untuk melakukan kegiatan-kegiatan politik yang sama sekali tidak berhubungan dengan dunia pendidikan.

Baca juga:  "Muslim Kok Nyebelin"

Sikap tanpa kompromi ini membuatnya banyak berseberangan dengan berbagai pihak. Dengan MUI pun beliau tidak segan-segan menyampaikan pendapat berbeda. Beliau tidak mengucapkan “Assalamu alaikum wr wb” dalam membuka acara tapi “Selamat Pagi/Siang/Malam” dengan alasan bahwa yang dihadapi dan ditemuinya bukan semua umat Islam sehingga ucapan “Selamat Pagi/Siang/Malam” lebih netral ketimbang “Assalamu alaikum wr wb” yang khas Islam. Beliau memang sangat benci pada diskriminasi agama. Beliau bahkan Mentri pertama di Kemendikbud yang mengadakan acara Natalan di kantor Kemendikbud.

Buku “Rekam Jejak Anak Tiga Zaman” yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas setebal 300 halaman ini sangat menarik dan menurut saya perlu untuk dijadikan buku rekomendasi untuk dibaca oleh anak SMA/SMK.

Surabaya, 5 Desember 2017

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *