Rabu, 15 Nopember 2018
Just another WordPress site
SERAHKAN SEMUANYA PADA ALLAH

Serahkan semuanya pada Allah…?!

Lha kalau semua masalah diserahkan pada Allah lantas apa pekerjaanmu sebagai manusia yang mendapatkan begitu banyak potensi dan privileged dari Allah? Mau nganggur saja dan berserah diri agar semuanya dikerjakan dan diselesaikan oleh Allah? Emoji

Sebagai manusia yang beriman dan mengaku (ngaku) bertawakkal, apakah kita memang sengaja tidak berupaya bersungguh-sungguh untuk menjawab semua masalah hidup kita sendiri dan berdalih bahwa semuanya sudah kita serahkan pada Allah? Kita ingin agar Allah yang memberikan jawaban dari semua, atau sebagian besar, masalah kita karena kita adalah manusia yang lemah, dhaif, dan kita sudah tawakkal. Dengan demikian semua masalah sudah kita serahkan jawabannya pada Allah? Keplak ndasmu.

Coba pertimbangkan ini…

Ketika seorang kepala rumah tangga meninggal seringkali ia akan meninggalkan janda dan anak-anak yang biasanya akan menderita karena terhentinya penghasilan yang menopang hidup mereka sebelumnya. Ini adalah masalah besar bagi janda dan keluarga yang ditinggalkan tanpa warisan yang memadai bagi kehidupan mereka selanjutnya. Apalagi kalau si ibu tidak punya pekerjaan dan anak-anaknya masih kecil dan masih sangat bergantung padanya.

Saya mau bertanya. Apakah hal semacam itu tidak terjadi di lingkungan Anda atau Anda tidak pernah mendengar masalah seperti ini di lingkungan Anda? Jika ya, apakah itu kemudian menjadi masalah bagi keluarga yang ditinggalkan saja dan bukan menjadi masalah lingkungan atau komunitas Anda? Bagaimana lingkungan atau komunitas (beriman) Anda menghadapi masalah ini? Apakah lingkungan Anda sebagai komunitas umat beriman berupaya untuk menjawab masalah ini dengan solusi yang tepat, cerdas, berjangka panjang, dan bermartabat? Atau mungkin Anda hanya akan berkata menghibur pada si janda dengan beberapa anak yang ditinggalkan ini, “Tawakkal saja, Mbakyu. Ini adalah cobaan. Serahkan saja semuanya pada Allah. Insya Allah Tuhan punya semua jawaban dari masalah kita.” ?

Baca juga:  BERAPA BUKU YANG TELAH ANDA TULIS?

Saya beri sebuah cerita…

Pada tahun 1744 sekelompok ulama melihat masalah ini pada komunitas mereka. Jika ada ulama yang meninggal maka ia akan meninggalkan janda dan anak-anak yatim yang akan menderita karena ditinggalkan oleh kepala keluarga yang menjadi penopang hidup mereka. Meski pun mereka adalah kelompok umat beriman belaka tapi mereka menganggap ini sebagai masalah yang harus dijawab oleh komunitas mereka. Mereka harus mencari cara agar janda dan yatim yang ditinggalkan akan mendapatkan santunan secara rutin sehingga mereka akan bisa melanjutkan hidup mereka tanpa terlunta-lunta.

Apa yang mereka lakukan? Apakah mereka berdoa kepada Tuhan agar Tuhan yang memberi jawaban atas masalah ini? Mereka serahkan masalah ini pada Allah? Apakah mereka mencari-cari jawaban dalam Kitab Suci mereka atau bertanya pada ulama-ulama fiqih? Tidak.

Mereka ingin menemukan solusi dari permasalahan tersebut dengan tepat dan tidak ingin melemparkannya agar masalah ini diambil alih oleh Tuhan.

Mereka lalu mendirikan lembaga yang akan menyediakan pensiun bagi para janda dan yatim. Untuk itu mereka berharap agar setiap kepala keluarga ini menabung sedikit dari penghasilan mereka yang nantinya akan diinvestasikan oleh lembaga ini. Jika kepala keluarga meninggal, jandanya akan mendapat deviden dari keuntungan lembaga yang akan memungkinkan janda tersebut hidup nyaman sampai akhir hayat.Untuk itu mereka harus tahu perhitungannya dengan tepat dan itu memang tidak ada di Kitab Suci.

Jadi mereka tidak menghubungi Majelis Ulama Komunitas mereka untuk membantu mendapatkan solusi ini. Mereka sadar bahwa masalah ini harus dipecahkan oleh ulama yang tepat, ulama khos yang memiliki pengetahuan yang tinggi untuk memberi jawaban dari masalah duniawi ini. Mereka menghubungi seorang ulama, yang artinya orang yang memiliki pengetahuan yang tinggi, yaitu seorang professor matematika dari University of Edinburgh dan mendiskusikan masalahnya.

Dengan bantuan professor matematika mereka akhirnya bisa mendapatkan perhitungan berapa banyak anggota komunitas mereka yang akan meninggal setiap tahun dan pada usia berapa, berapa yang akan meninggalkan janda dan anak-anak, berapa lama kemungkinan janda tersebut akan meninggal atau menikah lagi, berapa banyak uang yang harus mereka berikan pada para janda, berapa banyak uang yang harus ditabung oleh kepala keluarga setiap bulan, dlsbnya. Kalkulasi yang mereka dapatkan dari ulama khos professor matematika itu begitu akuratnya sehingga perhitungan mereka 20 tahun kemudian modal yang mereka kumpulkan hanya selisih 1 poundsterling dari prediksi! Inilah kehebatan manusia dalam bidang statistika dan probabilitas dengan salah satunya Hukum Angka Besar Jacob Bernouli.

Baca juga:  GUNS, GERMS, & STEEL : Rangkuman Riwayat Masyarakat Manusia

Itulah yang dilakukan oleh komunitas pendeta Presbyterian di Scotlandia, yang digagas oleh dua orang pendeta, Alexander Webster dan Robert Wallace, pada tahun 1744. Apa yang mereka gagas ini kemudian menjadi cikal bakal berdirinya lembaga asuransi jiwa. Kini lembaga dana Webster dan Wallace, yang dikenal dengan sebutan Scottish Widows dan berdiri pada tahun 1815 merupakan salah satu perusahaan pensiun dan asuransi terbesar di dunia. Lembaga asuransi yang berkantor pusat di Edinburgh, Inggris, dengan asset sebesar 100 miliar poundsterling ini sekarang memiliki lebih dari dari 3.500 karyawan yang siap membantu siapa saja yang butuh solusi masalah asuransi dan bukan hanya untuk para janda Skotlandia.

Solusi untuk masalah janda dan anak yatim yang ditinggalkan oleh suaminya yang pendeta telah berhasil dipecahkan oleh Pendeta Webster dan Wallace. Solusi ini menjadi solusi dunia saat ini. Tuhan tersenyum bahwa pada akhirnya umat manusia menggunakan akalnya yang diberikanNya untuk menjawab masalah mereka sendiri. Tuhan gembira bahwa Webster dan Wallace, meski pun pendeta, tidak mencari jawaban dari masalahnya pada Injil dan petuah Majelis Ulama Presbyterian tapi pada professor matematika. Tuhan gembira bahwa mereka tidak sekedar bertawakkal dan menyerahkan saja semua masalah pada Allah.

Saat ini itu para ilmuwan di seluruh dunia telah bekerjasama untuk memecahkan berbagai masalah dunia baik itu masalah kelaparan, kebodohan, penindasan, menjadikan padang pasir sebagai persawahan subur, memanfaatkan solar cell untuk kebutuhan listrik, menemukan obat-obatan bagi berbagai penyakit, makanan yang bergizi tinggi bagi semua orang, menciptakan lingkungan yang lebih sehat, membangun komunitas yang saling menghargai, toleran dan tolong menolong, dll.

Mereka melakukan FASTABIKHUL KHAIRAT, berlomba-lomba dalam kebaikan, sebuah istilah yang dengan bangga selalu kita kunyah-kunyah dan ludahkan setelah puas menikmatinya di mulut. Setelah itu dengan bangga kita katakan bahwa toh pada akhirnya kita yang akan masuk sorga karena kitalah pemilik kapling sorga. Beberapa di antara kita bahkan menolak dan mengharamkan sistem asuransi seperti ini karena dianggap sebagai sebuah sistem yang serupa dengan berjudi. Menurut mereka sakit atau musibah adalah sesuatu yang majhul (kita tidak mengetahuinya), sebab itu merupakan ketentuan Allah. Dan dalam Islam, kita diharamkan bertransaksi tentang sesuatu yang tidak pasti seperti ini. Jadi kalau ada musibah seperti ini ya serahkan saja semuanya pada Allah. Ya, Allah…! Tolong ndas kami jangan dikeplak tapi berilah kami ilmu pengetahuan dari sisimu dan jauhkanlah kami dari kepicikan berpikir seperti ini. Amin!

Baca juga:  SENGATAN KALAJENGKING JOKOWI

Semoga para ulama Islam di seluruh dunia berupaya untuk bekerjasama dan memanfaatkan kepandaian para ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu dalam menjawab permasalahan-permasalahan umat. Janganlah sampai permasalahan umat itu hanya terbatas pada bagaimana menentukan hari lebaran, bagaimana menghapal Alquran sekian juz dengan cepat, bagaimana agar Rina Nose kembali berjilbab, dan semacamnya. Amin!

1 Desember 2017

NB: Kisah tentang Webster dan Wallace bisa dibaca di buku “Sapiens: Sejarah Ringkas Umat Manusia dari Zaman Batu hingga Perkiraan Kepunahannya” karya Yuval Noah Harari.

Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Satu tanggapan untuk “SERAHKAN SEMUANYA PADA ALLAH”

  1. mhn ijin memplagiat tulisan pak Satria…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *