Minggu, 16 Desember 2019
Just another WordPress site
KEBIASAAN

“Masing-masing orang bertindak sesuai dengan kebiasaannya.” (QS 17:84)

Peristiwa walk-out-nya Ananda Sukarlan ketika Anies Baswedan berpidato secara mengejutkan, ternyata menimbulkan kemarahan yang menggebu-gebu dari banyak orang, utamanya tentu saja dari umat Islam. Tidak ketinggalan beberapa saudara, sanak famili dan teman-teman dekat saya. Saya sampai benar-benar kesulitan untuk memahaminya terutama ketika seorang saudara saya malah berbalik menanyai saya mengapa saya justru tidak marah dan mengecam perbuatan Ananda tersebut. Yang lebih parah lagi, karena saya mengingatkan bahwa Ananda itu seorang muslim sedangkan mereka tahunya Ananda itu beragama Kristen dari sebuah website, saya malah dituding selalu memuja orang yang memusuhi Islam…! OMG…! Saya antara mau ngakak dan sedih mendapat tudingan seperti ini.

What’s going on actually…?!

Teman-teman dan saudara saya yang berang dengan menggebu-gebu itu bukanlah orang-orang yang bodoh atau tidak berpendidikan. Mereka ada yang bahkan bergelar master dan doktor dan sebenarnya tidak semuanya orang-orang yang fanatik pada agama. Tapi kemarahan mereka semua bersumber pada sentimen keagamaan. Itu jelas. Seorang saudara yang saya tanya mengapa ia begitu berang pada Ananda menjawab bahwa Anies itu representasi muslim. Oleh sebab itu ketika ada kesempatan muslim menjadi pemimpin yang baik mengapa kita tidak dukung agar mereka paham bahwa muslim yang baik itu seperti Anies? Bukankah kita paham Islam itu banyak dituduh negatif, dlsb. Sekarang ada pemimpin muslim yang baik. Di mana posisi kita…?! Demikian jawabnya. Dia bahkan tidak percaya bahwa Ananda itu muslim karena pernyataan bahwa Ananda muslim itu saya ambil dari Kompas.com. Baginya Kompas.com (dan yang berhubungan dengan Kompas) jelas berpihak pada non-muslim. Jadi saya dianggap membela Ananda yang menyerang Anies (yang merupakan representasi pemimpin muslim) sehingga sungguh layak jika disebut sebagai ‘pemuja orang yang memusuhi Islam’.

Baca juga:  DUA KEUNTUNGAN ANIES

Ada beberapa masalah yang timbul di sini menurut saya. Pertama, Anies Baswedan itu dianggap sebagai representasi Islam (dan dalam hal pidato tersebut tampaknya bukan merepresentasikan dirinya sebagai Gubernur DKI yang mestinya mengayomi semua warga dan umat beragama) dan setiap serangan, kecaman, kritik, atau apa pun pernyataan yang tidak simpatik padanya akan dianggap sebagai serangan terhadap Islam. And it’s becoming personal.

Kalau kamu bicara buruk tentang Anies maka itu berarti menghina Islam. Berani menghina Islam berarti harus berhadapan dengan kami. Kami adalah pembela sejati agama Islam. Meski pun Anda seorang muslim tapi kalau tidak berupaya membela Anies atau bahkan tampak berupaya untuk memahami sikap Ananda maka Anda adalah musuh Islam atau minimal munafik. Waks…! Ajur duwik endog…! . Anehnya, Jokowi yang nyata-nyata juga seorang muslim tidak dianggap sebagai representasi seorang pemimpin muslim. Beliau dianggap tidak merepresentasikan ciri-ciri pemimpin muslim yang ada dalam khayalan mereka dan sebagai presiden dianggap gagal. Jadi predikat PEMIMPIN MUSLIM hanya melekat pada Anies Baswedan (Mas Anies, selamat ya! You are the true khilafah for some of us). Gebrakan Anies menutup Alexis sangat dipuji dan menjadi bukti nyata bahwa ia adalah seorang Pemimpin Al-Ikhlas dan bukan Pemimpin Alexis.

Kedua, karena Ananda dianggap Kristen dan panitia acara ini adalah Kolese Kanisius, yang institusi Katolik, maka ini dianggap sebagai sebuah konspirasi dari ‘musuh-musuh Islam’ untuk mempermalukan dan menyerang Islam. Badoken…! Apakah ketika diberitahu bahwa Ananda itu juga muslim mereka berhenti berpikir demikian? Tidak. Pokoknya Islam sudah diserang dan dipermalukan dan harus ada yang bertanggung jawab dalam hal ini. Dan orang atau institusi itu haruslah dijadikan sebagai musuh Islam.

Baca juga:  MENGAPA ANIES BASWEDAN?

Musuh Islam haruslah diserang balik untuk menerima hukuman dari umat Islam yang telah ‘terzalimi’ oleh perbuatan Ananda ini. Itu sebabnya ada ajakan gerakan untuk mendemo Kolese Kanisius. Opo gak ajur duwik peyek nek ngene iki…?! (Untungnya ada pernyataan pembelaan dan pasang badan dari Pangti Kokam Muhammadiyah bagi mereka yang mau coba-coba memprovokasi penyerangan dan demonstrasi terhadap Kolese Kanisius. Salut atas reaksi cepat ini.)

Selain menyerang Ananda, yang juga mereka anggap sebagai tuan rumah acara, mereka juga menyerang Kolese Kanisius sebagai tuan rumah yang mereka anggap merencanakan atau mendukung sikap Ananda. Kurang puas, mereka lalu ramai-ramai memboikot Traveloka karena ada info bahwa salah satu pendirinya yang bernama Derianto Kusuma yang juga alumnus Kanisius ikut walk-out bersama Ananda. Jadi Derianto Kusuma (kalau ini kayaknya asli non-muslim deh) ini jelas memusuhi Islam dan untuk itu perusahaannya harus diboikot oleh umat Islam. Seorang famili yang mengebu-gebu menyatakan bahwa ini adalah balasan atas sikap intoleran dan kebencian mereka yang tidak pantas mereka lakukan (tapi kok sikap intoleran dan kebencian ini pantas saja dilakukan oleh mereka sebagai umat Islam…?!). Ketika saya tanyakan mengapa itu dianggap menyerang Islam tentu saja pertanyaan saya kecemplung got hilang tak berjawab.

Ketika muncul pernyataan dari Traveloka bahwa Derianto Kusuma tidak hadir pada acara tersebut karena sedang berada di Amerika dan artinya tidak mungkin ikut walk-out bersama Ananda, apakah kebencian dan boikot ini mereka hentikan, sesali, dan minta maaf? Mimpi kali ye…!  Aku wis kadung nesu, bleh…! Kami sebagai umat Islam merasa sangat terhina dan terzalimi oleh peristiwa ini dan seseorang atau sebuah perusahaan (yang dimiliki oleh non-muslim) harus membayar akibat perbuatan terhina dan terkutuk tersebut. Kali ini ajur duwik ote-ote.

Terus terang saya masih penasaran dengan begitu reaktifnya kita dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan apa pun yang disimbolkan dengan agama (Islam). Kalau yang bersikap reaktif itu orang-orang yang tidak berpendidikan saya masih bisa memahami. Tapi kalau yang begitu reaktif negatif adalah justru keluarga dan teman yang berpendidikan tinggi dan dari kalangan menengah then it really bothers my mind. Saya sungguh kebingungan dan tidak tahu bagaimana mengurai ini semua menjadi sebuah solusi bagi kedamaian bangsa, agama dan negara. (Halah…! Gayamu sok penting, Jo! Lha wong pensiunan ae kok yo melip men omonganmu).

Baca juga: 

NB : Jangan tanya apa hubungan antara tulisan ini dengan ayat yang saya kutip di atas. Itu adalah salah satu ayat yang saya baca dalam ngaji rutin saya setiap habis sala Subuh. I just want to quote it.
Surabaya, 17 Nopember 2017
Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *