Minggu, 16 Desember 2019
Just another WordPress site
LEBIH BAIK…?!

Ribut-ribut soal Ananda Sukarlan yang keluar dari ruangan ketika Anies Baswedan pidato yang diikuti oleh berbagai tanggapan dan bahkan diboikotnya Traveloka oleh sebagian umat Islam pendukung Anies tiba-tiba mengingatkan saya akan diskusi saya dengan seorang teman.

Teman saya itu secara tiba-tiba bertanya pada saya, “Apakah benar umat beragama itu lebih baik daripada orang-orang yang tidak beragama?”

Teman saya satu ini memang bisa menjengkelkan. Dalam ngobrol ngalor-ngidul dan guyonan hahahihi dia bisa tiba-tiba menyodok saya dengan pertanyaan yang bukan hanya ‘out of the topic’ tapi sekaligus sulit dijawab. Anehnya dia hanya melakukan itu pada saya dan bukan pada teman lain.

Pertanyaannya yang satu ini adalah pertanyaan sederhana yang jelas tidak bisa dijawab secara sederhana. Saya jelas akan diubernya apa pun jawaban saya. Jadi saya coba dengan satu jawaban ngeles. “Embuh ya. Saya selama ini selalu beragama jadi tidak tahu bagaimana rasanya tidak beragama. Tapi saya memang sering juga lebih mengikuti bisikan setan ketimbang ajaran agama.” Dia tertawa.

“Saya tidak tanya itu. Saya mau kamu menjawab apakah benar umat beragama itu lebih baik daripada orang-orang yang tidak beragama? Beri saya bukti bahwa jika sebuah daerah, kota, atau negara lebih banyak diisi oleh orang-orang beragama maka daerah, kota, atau negara itu akan lebih baik ketimbang daerah, kota, negara yang lebih banyak diisi oleh umat tak beragama atau berhaluan komunis.”

“Apa kriteria ‘lebih baik’ yang kamu maksud?” jawab saya mencoba mencari-cari dalih.

“Terserah menurut kamu,” jawabnya menyodok kembali.

“Umat Islam itu lebih baik karena dia salat, berpuasa, berzakat, tidak makan babi, tidak minum yang memabukkan, tidak berzina, tidak berjudi, dll.”

Baca juga:  MENGAPA ANIES BASWEDAN?

“Dan apa itu baiknya bagi umat beragama lain atau bagi umat yang tidak beragama? Apakah itu akan membuatnya lebih baik, lebih santun, lebih menghargai, lebih perhatian, lebih empatik pada umat beragama lain atau pada orang yang tidak beragama? Apakah keadaan sebuah negara muslim lebih baik ketimbang negara yang mayoritas beragama lain atau bahkan negara komunis? Apakah negara yang berketuhanan menjadi lebih baik ketimbang negara yang tidak berketuhanan? Apakah negara berketuhanan lebih makmur, lebih damai, lebih aman, lebih menyenangkan, lebih ramah, ketimbang negara yang tidak berketuhanan? Beri saya bukti.” Nyerocos dia dengan bersemangat melihat peluang untuk menyudutkan saya. Tapi saya memang jadi tersudut dengan sodokannya tersebut. Saya langsung K.O. dan tidak bisa menjawab. Sepanjang hari itu saya lalu bertanya pada diri saya apakah saya memang lebih baik dari orang-orang yang tidak beragama. Atau bahkan, apakah karena saya menganut agama Islam yang menurut saya agama yang terbaik maka itu membuat saya lebih baik daripada umat beragama lain yang menurut pandangan saya agamanya lebih inferior? Saya mencari-cari bukti bahwa negara yang Pancasila memang lebih baik ketimbang negara yang ateis atau pun komunis.

Sampai hari ini saya masih dihantui oleh pertanyaan tersebut. Dan ribut-ribut Ananda Sukarlan, yang ternyata juga seorang muslim, dengan Anies Baswedan, idola baru umat Islam Indonesia, membuat saya kembali teringat pada pertanyaan tersebut.

Apakah kita sebagai muslim memang terbukti lebih baik ketimbang umat beragama lain? Apakah kita sebagai umat beragama memang terbukti lebih baik ketimbang pengikut komunis, agnostik, atau ateis?

Satu hal yang membuat saya lega adalah bahwa Mas Anies Baswedan menunjukkan sebuah sikap yang menurut saya sangat islami, yaitu tidak membalas sikap Ananda Sukarlan dengan mengecamnya atau yang setimpal dengannya tapi justru dengan sikap dan kata-kata yang simpatik. Anies mengatakan dirinya menghormati adanya perbedaan pandangan.

Baca juga:  SELAMAT UNTUK SEMUA…!

“Saya menghormati pandangan yang berbeda dan saya memberikan hak kepada siapa saja mengungkapkan dengan caranya. Bagian kami adalah menyapa semua, mengayomi semua, jadi itu tanggung jawab saya sebagai gubernur. Jadi, saya akan menyapa semua, mengayomi semua. Kalau ada reaksi negatif yah itu bonus buat saya, biasa aja,” kata Anies di Balai Kota Jakarta, Senin (13/11/2017).

Saya kenal Anies dan saya tahu bahwa sikap dan perkataannya tidak dibuat-buat sekedar untuk pencitraan. Dia seorang yang berhati besar dan pemaaf. Dia juga tidak peduli apakah Ananda seorang muslim atau bukan. Anies seorang muslim dan dia menunjukkan sebuah sikap yang sangat islami, yaitu membalas perbuatan buruk kepadanya dengan kebaikan, yaitu sikap simpatik.

Tapi itu kan tidak menjawab pertanyaan apakah umat beragama memang lebih baik ketimbang umat tidak beragama. Jadi saya lempar saja pertanyaan teman saya tersebut pada Anda. Siapa tahu Anda punya jawabannya.

Surabaya, 16 Nopember 2017

Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *