Sabtu, 28 Oktober 2021
Satria Dharma's Weblog
BUKU HARIAN

Buku Harian saya ketemu…! 😀 It’s Anno 1990. Jadi ini adalah diary saya tiga puluh tahun yang lalu…! 😊

Saya memang suka menulis Diary atau Buku Harian. Eto-etokke kayak Soe Hok Gie dan Ahmad Wahib. Tapi tentu saja saya tidak menuliskan pergolakan pemikiran-pemikiran atau idealisme pemuda pemberontak macam mereka. Kemelipen bagi saya yang hanya a common teacher… Saya hanya menuliskan apa yang saya lakukan sehari-hari. Tinimbang gak blas…! 😀

Karena sering pindah maka buku-buku harian saya entah terselip di mana. Mungkin ada di gudang buku-buku dan tumpukan dokumen yang satu kamar penuh yang melihatnya saja saya sudah mau muntah.
Tapi waktu saya ke Balikpapan saya menemukan beberapa di antaranya. Salah satunya adalah buku harian ketika saya masuk bekerja pertama kali di Bontang International School, PT Badak NGL Co, Bontang, Kalimantan Timur.

Prolog :
– Tahun 1986 saya kena skors karena tidak mau masuk Golkar dan dinon-edukatifkan. Dilempar ke kantor Depdikbudcam Rungkut tanpa job dan posisi. Tapi juga tidak dipecat sebagai PNS. Saya sudah mengajar delapan tahun di SMP dan SMA dengan golongan II/b. Sudah sarjana sejak 1984 tapi belum sempat penyesuaian ke III/a. Empat tahun saya jadi PNS tanpa tugas dan posisi. Gaji sebagai PNS selalu saya kembalikan ke kantor walau pun awalnya saya terima dan sedekahkan pada teman yang membutuhkan.

– Tahun 1990 saya melamar ke Bontang International School PT Badak NGL Co lewat tes di Jakarta dan diterima. Saat itu saya sudah punya Bimbingan Belajar sendiri bernama Airlangga Student Group (ASG) di Surabaya dan punya cabang di 4 kota di Jawa Timur. Tapi saya bosan dan ingin merasakan kehidupan yang lain sama sekali. Jadi diterima bekerja sebagai guru sekolah internasional mengajar anak-anak ekspatriat di Bontang yang terletak di tengah belantara Kalimantan Timur really sounds exotic. 😊

Berikut ini kisah awalnya…

28 April 1990, Sabtu

Berangkat ke Bontang…
Berangkat menuju suatu dunia yang jauh berbeda dengan dunia yang selama ini kujalani.
Sejak kemarin saya sudah mempersiapkan diri. Pakaian, buku-buku, ijazah, dan lain-lain sudah masuk koper. Saya ingin betul-betul siap bekerja dan hidup di sana. Persiapan mental sudah jauh-jauh hari ku persiapkan. Tahun 1978 dahulu saya juga pergi dari rumah ke Caruban untuk mengajar. Kalau dulu saya merasa kurang pas untuk berangkat. Ada semacam kecemasan-kecemasan yang mengikuti. Lagipula di Caruban saya bisa pulang setiap minggu. Kalau perlu pulang balik pada hari yang sama. Tapi kali ini lain… Saya tidak bisa pulang meski sebulan sekali atau tiga bulan sekali. Untuk ke Surabaya saya harus naik pesawat 2 kali (Surabaya – Balikpapan lalu Balikpapan – Bontang). Tapi toh saya tidak merasa cemas bahkan ada rasa ‘eagerness’ untuk segera berangkat dan mengalami hidup di sana. Bontang seolah-olah merupakan daya tarik tersendiri. Something interesting to explore.

Hari ini saya tiba di Balikpapan. Tiba di Sepinggan saya langsung melapor ke perwakilan PT Badak di bandara untuk booking pesawat esoknya. Ternyata diminta untuk segera ke kantor PT Badak di Balikpapan. Setiba di sana ternyata kantor sudah tutup padahal waktu belum menunjukkan pukul 12.

Setiba di rumah Tante Bahriah saya segera menelpon ke Bontang ke Pak Mulyani Marto. Ternyata telpon ke Bontang tidak perlu interlokal. Langsung saya putar nomornya. Oleh Pak Mul langsung diberitahu bahwa nama saya sudah ada di manifest jadi saya bisa berangkat langsung besoknya.
Keterangan :

– Pak Mulyani Marto adalah guru bahasa Indonesia yang saya gantikan posisinya. Dia pindah ke bagian Human Resources dan posisinya kosong. Dia yang akan menjelaskan dan mengajari saya akan tugas-tugas di BIS.

29 April 1990 Minggu

Ketika saya check-in untuk berangkat ternyata nama saya tidak tertulis dalam manifest. Untung saja ada Mustika yang punya banyak kawan di bandara sehingga akhirnya saya dapat berangkat juga. Pesawat penuh dan ternyata saya satu-satunya penumpang yang pakai sandal di pesawat…! Saya segera tertidur…

Baca juga:  DUNIA PENDIDIKAN KITA DI TENGAH PANDEMI COVID-19

Rasanya baru saja pesawat berangkat tiba-tiba pesawat sudah mendarat. Pak Mulyani menjemput saya di airport. Segera setelah saya mengatur barang-barang saya di kamar SSB 05 saya lantas mandi air hangat. Fasilitas kamar mess saya ada air hangatnya… Wow…! Bukan main rasanya…! Mandi air hangat di kamar mandi pribadi adalah salah satu hal yang menarik dari Bontang.

Malamnya keluar bersama Pak Mulyani Marto ke supermarket beli minuman untuk persiapan tinggal di mess PT Badak (sebetulnya tidak perlu karena segalanya sudah disediakan oleh perusahaan).

Keterangan :
– Saya punya beberapa famili di Balikpapan. Tante Bahriah adalah adik Ibu saya. Dia jadi dosen di Unmul dan Om Wahab, suaminya, adalah Notaris pertama di Balikpapan. Selain itu adik saya, Tammy, dan kakak saya, Oky, sudah ikut dengan beliau. Mustika adalah adik ipar saya yang bekerja di Bandara Sepinggan.)

30 April 1990 Senin

Hari kedua di Bontang…

Pagi mengurus kelengkapan surat-surat. Ternyata ada yang kurang dan justru yang paling sulit ditembus, yaitu SK keluar dari pegawai negeri. Terpaksa saya langsung buat surat pengunduran diri dadi pegawai negeri. Besok saya kirim. Tampaknya banyak yang harus saya lakukan di sini. Ada tiga tugas pokok saya yaitu mengajar bahasa Indonesia, mengajar Indonesia dan kebudayaannya, dan sebagai liaison antara karyawan asing dengan perusahaan PT Badak. Untuk yang 2 pertama sudah ada gambaran, sedang yang ketiga belum tahu. Untuk mengajar saya harus banyak menggunakan flash cards dan gambar-gambar lain. Bahan-bahan dan fasilitas tampaknya cukup tersedia. Tidak ada yang perlu dicemaskan. Satu hal yang masih jadi ganjalan adalah sulitnya saya berkomunikasi dengan guru-guru lainnya. Bergaul dengan orang asing/bule boleh dikata belum pernah saya alami benar-benar. Selama ini saya hanya berkenalan begitu saja dengan beberapa orang asing tapi sekarang harus hidup di lingkungan dan budaya mereka. I will need time to get along with them.

Mengajar anak bule juga gampang-gampang susah. Mereka cenderung reluctant dengan apa yang kita berikan. Tapi saya rasanya bisa menyelesaikannya.

Sorenya Tohar datang dari Jakarta. Untung saja ia cepat datang. Coba tidak saya bisa bengong semalaman di kamar. Selesai makan kami jalan-jalan cari rumahnya Makmur Kadir. Ngobrol lama dengan istrinya. Malam baru Makmur Kadir datang.

Di sini ternyata cukup banyak tantangannya. Di sini orang juga bisa baik juga bisa jelek. Rasa kesepian justru sebagai penyulut dan penyebab dari timbulnya berbagai macam keinginan buruk. Gaji yang rata-rata tinggi disini juga mengakibatkan dampak lain. Sifat konsumtif dan jor-joran lantas muncul. Tidak aneh kalau di sini orang-orang pada punya mobil semua. Mulai Kijang ataupun Carry pikap sampai dengan Volvo yang 70 juta ada. Mau dipakai ke mana sih? Untung saja jalan Bontang – Samarinda sudah dibuka. Coba tidak mobil tersebut cuma dipakai di sekitar sini saja.

Keterangan :
– Tohar adalah karyawan baru seangkatan saya yang diterima di PT Badak. Tapi belakangan ia keluar lebih dahulu daripada saya dan balik ke Jakarta.
– Makmur Kadir (alm) adalah karyawan PT Badak pertama yang saya datangi. Dia adalah kawan baik kakak ipar saya, Eddy Subrata, yang juga bekerja di PT Badak NGL Co Jakarta.

1 Mei 1990 Selasa

Hari ketiga di Bontang…
Setelah kemarin hanya mengajar 2 kelompok siswa hari ini saya mulai mengajar 4 kelompok atau seluruh kelompok siswa. Di sini saya mulai melihat kesulitan yaitu merangkaikan antara materi pelajaran dengan bahan bahan pembantu peragaannya. Masalahnya saya belum menentukan materi untuk masing-masing kelompok berdasarkan apa yang telah mereka pelajari sebelumnya. Lagi pula saya belum tahu semua isi bahan pembantu yang telah dibuat Pak Mul. Jadinya sempat terjadi ‘dead air’ ketika saya mengajar. Saya bermaksud hendak memberikan percakapan dengan boneka pada kelas Preschool tapi ternyata masih sangat sulit bagi mereka. Terpaksa saya banting setir mengulangi pelajaran angka-angka yang dasar. Matthew ternyata jauh tertinggal dari lainnya. Karena saya nggak rencanakan waktu cari Flash Card nya lama juga. Begitu juga dengan Kelly. Maksud saya ingin perkenalkan Indonesia through postcard tapi karena tanpa persiapan jadi tersendat-sendat. Rasanya besok harus masuk ke materi dasar lagi. Tadi saya sudah mulai buat planning untuk sisa semester ini dan telah saya bagi berapa jam bahasa dan berapa jam Indonesian Culture. Tapi masih draft dan perlu dibenahi dan dibuat detil dan aktivitasnya.

Baca juga:  MEREKA PENJAHAT, BUKAN PAHLAWAN

Sorenya makan makan dengan guru-guru international school sekalian menjamu tamu. I barely spoke anything to them. I just listened to them. Barry mencoba untuk beramah-tamah tapi tampaknya saya salah tangkap. Maka terjadilah miscommunication…

Dengar-dengar Mr. Marriot akan keluar dan digantikan Barry. Moga-moga benar karena ini akan baik bagi saya. Paling tidak saya tidak akan terlalu sungkan kalau dengan Barry yang lebih muda daripada saya.
Keterangan :
– Mr. Marriott adalah kepala sekolah di BIS di mana saya mengajar pertama kali. Barry Benger adalah guru seperti saya. Tak lama kemudian dia habis kontrak dan digantikan oleh Barry Benger sebagai kasek BIS.

2 Mei 1990 Rabu

Hari ke-4 di Bontang…

Hari ini betul-betul melelahkan. Apa yang semula saya duga mudah ternyata meleset. Mengajar anak-anak bule ini ternyata cukup sulit. Kecuali Kelly yang sudah kelas 8 dan sudah belajar bahasa Indonesia cukup lama. Bagaimana mungkin kita menyusun silabus jika mereka belum bisa menulis? Membaca dalam bahasa Inggris saja belum lancar. Momong anak kecil juga ternyata tidak mudah terutama perbedaan bahasa dan kebiasaan. Saya harus bisa mengikuti cara mereka berkomunikasi dan berekspresi. Yang juga sangat penting adalah bagaimana memancing minat mereka untuk belajar Bahasa Infonesia. Rasanya belajar dengan menggunakan games adalah yang paling tepat. Tapi games apa yang spesifik Indonesia dan bisa digunakan untuk mengajarkan bahasa Indonesia, maksudnya ada hubungannya dengan pelajaran bahasa Indonesia? Komentar mereka kalau pelajaran yang saya sampaikan tidak cocok dengan suasana hati mereka adalah “It’s no fun…!” Oh, my God…! Apa yang harus saya berikan pada mereka…?! Buku-buku dan materi yang saya beli di Surabaya tidak ada gunanya sama sekali. Materinya terlalu tinggi untuk mereka. Jadi terpaksa tiap hari harus membuat planning dan berpikir keras apa yang harus saya ajarkan dan bagaimana mengajarkannya pada kelompok usia dan kelas yang berbeda. Bahan-bahan yang dipunyai Pak Mul sebetulnya cukup banyak tapi belum saya periksa semua. Seharian saya menginventarisirnya dan hanya dapat sedikit. Capeknya naudzubillah rasanya. It’s mentally tiring. It’s really a hard day today…
Keterangan :
– Siswa saya mulai dari Pre-Kindergarten sampai G-8. Mereka dibagi menjadi empat kelompok umur, Pre-K dan Kindergarten, Grade1-3, Grade 4-6, Grade7-8.

Kita lompat-lompat saja ya… Saya potong juga sebagian agar tidak terlalu panjang.

Senin, 7 Mei 1990

Hari ke-9 di Bontang…
Dan saya belum juga tahu apa tujuan Allah meletakkan saya di Bontang. Seharian ini saya sibuk mengerjakan materi yang akan saya berikan pada anak-anak. Permainan Bingo tampaknya tidak bisa bertahan lama sebab itu saya harus cepat mengganti dengan materi baru. Susahnya yang Preschool belum bisa membaca sehingga hanya mengandalkan hafalan. Berapa banyak yang bisa mereka hafalkan dalam sebulan? Tampaknya saya mengerjakan sesuatu yang bersifat ‘trial and error’ saja tapi apa mau dikata? I can’t use most of the materials provided.. Untuk tahun ini pelajaran hanya tersisa satu setengah bulan. Setelah itu libur kenaikan kelas selama hampir 3 bulan. Tapi tampaknya saya nggak bisa ikut libur. Saya kan bekerja untuk perusahaan.

Lompat lagi…

Rabu, 30 Mei 1990

Sebulan persis saya berada di Bontang dan saya belum bisa mengatakan betah di Bontang. My heart is still in Surabaya though I know I have nothing to struggle for there anymore.

Baca juga:  Rektor Icebreaker (Part 2) : Tinggalkan Blok-blokan dan Mari Bersatu

Akhir-akhir ini saya kehilangan gairah untuk menulis. Seperti biasa disiplin diri saya kurang kuat dan akhirnya kemauan saya rontok di tengah jalan.
Pekerjaan saya bukan lagi big problem. Saya sudah melewati kesulitannya. Yang tinggal adalah bagaimana to maintain it in the future.

Talking about the future, saya rasanya belum tahu juga what, why, and hownya saya berada disini. Tapi mungkin Bontang adalah tempat bagi saya untuk mempelajari dan menemukan kelemahan-kelemahan pribadi saya. Dalam beberapa Minggu ini saja kelemahan-kelemahan pribadi saya sudah jelas nyata. Tugas saya adalah memperbaikinya. Jika keberadaan saya di sini tidak memperbaiki pribadi saya maka sungguh saya adalah orang yang merugi. Naudzu billahi minzalik

Lompat jauh…

Minggu, 7 Oktober 1990

Setelah 5 bulan berada di Bontang saya masih tetap belum rasa ‘home’. Memang kadang-kadang saya merasa tenang dan senang berada di sini tapi saya tetap merasakan gejolak dalam hati saya. I can feel that this is not the last harbour I have to visit. Justru dari hari ke hari saya semakin yakin bahwa waktu saya disini tidak bakal lama. This is only a usual visit as the other harbours. Kayaknya di sini saya harus segera menyerap sebanyak-banyaknya sebelum saya meninggalkan pelabuhan ini. Konyolnya saya justru masih sama sekali tak ada bayangan kemana saya harus pergi keluar dari sini. Kembali ke ASG jelas tak mungkin. Not the same place again.

Rupanya disinilah ujian Allah terhadap ku. Diuji nya aku dengan kecemasan-kecemasan dan ketakutan-ketakutan pada ketakpastian. Aku tahu bahwa kunci dari segalanya adalah kepasrahan dan penyerahan diri seutuhnya tapi sungguh tak mudah menjalankannya. Ada sesuatu dalam diri kita yang melawan untuk pasrah. Saya tak tahu apakah itu semangat atau naluri untuk survive. Kalau itu muncul maka akan terjadi peperangan dalam jiwa kita manapun yang menang kesakitan yang kita peroleh Karena pada dasarnya kedua sifat itu ada dalam satu jiwa. Saya menginginkan harmonisasi di antara keduanya. Jika terjadi harmonisasi antara kepasrahan dan semangat maka jiwa kita akan tenang tanpa kita akan kehilangan semangat untuk hidup. Perang ini cukup lama telah berlangsung dalam jiwa saya. Keduanya saling kalah mengalahkan saling hancur menghancurkan atau seringkali keduanya menjadi lemas kepayahan. Kalau itu terjadi maka jiwa saya akan menderita karena kesakitan. Segala puja dan puji bagi Allah yang selalu mengembalikan saya pada posisi semula Terus terang saya merasa lelah begini dengan ini semua. Tapi tentu saja saya tak ingin menyerah. Saya ingin memenangkan pertarungan ini sampai saat saya harus kembali kepadanya Saya yakin akan menang karena Allah selalu melindungi dan menyayangiku.

Lompat lagi…

2 Januari 1991

…..cut…
Berada di Bontang selama 7 bulan juga belum mampu membuat saya menyerah akan kenyataan yang ada pada diri saya. Jiwa saya masih menggelegak dan bergelora untuk petualangan petualangan baru. I don’t want to ‘die’ yet. I still want to do something. Something important and worth doing. Saya belum mau punya istri karena itu akan membuat saya tak bebas untuk menentukan langkah dan pilihan. Jika saya bujang saya kan lebih berani untuk menanggung resiko dan menempuh ketidakpastian. Jika saya punya istri rasanya tidak mungkin kalau tiba-tiba saya banting setir ke pekerjaan lain yang nggak jelas masa depannya. Kasihan keluarga yang diajak bertualang pada ketidakpastian.

Anyhow, there is something I have done during 1990. Sesuatu yang selama ini menguasai saya dan menjadikan saya sebagai budaknya lalu saya lawan mati-matian. Sekarang saya tidak merokok lagi.

Sekian sekilas kisah saya pertama kali mengajar di Bontang. Kalau saya baca lagi kisah ini saya seolah masih merasakan masa-masa ketika berada di sana. Ini untungnya punya Buku Harian. Punyakah Anda buku harian…?!

Surabaya, 9 April 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *