Seorang bernama Irene Teng Siat Hwa menulis di FB tentang ketidakmampuan penjual cilok dan penjual sabun menghitung uang kembalian tanpa menggunakan kalkulator. Lihat di sini: https://www.facebook.com/share/p/1aDQmm4g9B/
Ia katanya syok lalu menuding ini sebagai kegagalan pendidikan nasional. Saya sampai terbelalak membaca kisahnya. Kok bisanya… 😳
Penulis ini justru menunjukkan bahwa dirinya yang TIDAK BISA BERHITUNG.
Selain itu ia justru menunjukkan bahwa dirinya TIDAK PAHAM dengan apa yang ia bicarakan.
Coba lihat apa hubungannya antara ketidakmampuan penjual pentol aci dan penjual sabun itu menghitung dengan kegagalan pendidikan nasional? Asumsi apa yang digunakan dengan menarik kesimpulan yang cacat itu? Apakah benar bahwa prilaku penjual pentol aci dan penjual sabun dalam menggunakan kalkulator untuk membuat perhitungan sederhana adalah bukti bahwa sistem pendidikan kita gagal? Alangkah gegabahnya si penulis dalam mengambil kesimpulan. Siapa tahu si penjual sabun dan pentol aci itu memang tidak pernah mendapatkan pendidikan formal sama sekali dan mereka memang dilatih untuk berhitung dengan menggunakan kalkulator. Betapa gegabahnya si penulis dalam mengambil kesimpulan bahwa itu adalah bukti kegagalan sistem pendidikan.
Selain gegabah si penulis jelas sekali membuat framing yang jahat. Coba lihat bagaimana ia melompat membuat kesimpulan yang jauh lebih ngawur dan tendensius dengan menyatakan sbb: “Sungguh, dosa terbesar Jkw bukan hanya mengangkat orang-orang yang korup itu, tapi juga karena telah mengangkat seorang menteri pendidikan yang telah merusak satu generasi.” 😒
Ada penjual cilok dan sabun yang tidak bisa menghitung tanpa kalkulator tapi larinya tuduhan adalah Jokowi mengangkat orang yang korup dan mengangkat Menteri Pendidikan yang merusak satu generasi. Sangat asbun dan tendensius…! Si penulis ini paham nggak satu generasi itu berapa tahun? Satu generasi itu antara 15 sampai 20 tahun. Tampaknya si penulis tidak tahu cara berhitung dengan baik. Mari saya tunjukkan.
Jokowi punya tiga Mentri Pendidikan selama menjabat, yaitu Anies Baswedan, Muhajir, dan Nadiem Makarim. Nah siapa kira-kira yang dituduhnya merusak satu generasi? Mungkin Nadiem karena saat ini dia sedang diselidiki kasus Chromebooknya. Nadiem itu mulai bekerja pada akhir 2019. Jika dianggap Nadiem merusak maka mestinya bukan pada saat dia memimpin tapi pada saat akhirnya yaitu di 2024. Nah, mari kita lihat kasus yang diceritakan si penulis tentang penjual cilok dan penjual sabun. Berapa usia mereka? Let’s say 20 tahun. Jadi kalau mereka berjualan cilok dan sabun di usia 20-an itu artinya mereka berada di SD kelas 1, 2, atau 3 itu belasan tahun yang lalu. Jelas bukan di saat Nadiem menjadi mentri Pendidikan. Bukankah anak-anak SD itu diajari operasi tambah dan kurang itu di kelas 1,2, dan 3. Jadi kalau mereka dianggap gagal waktu sekolah itu berarti kegagalan sekolah mereka belasan tahun yang lalu. Lalu bagaimana kesalahan pendidikan di SD-nya penjual cilok dan sabun belasan tahun yang lalu ini ditimpakan pada Nadiem yang baru menjabat pada 2019? Coba lihat siapa yang tidak bisa berhitung sekarang? 😒
Jadi jelas si penulis cerita ini bertujuan untuk mendiskreditkan Jokowi dan Nadiem untuk kasus yang tidak ada hubungannya dengan mereka. Jelas bahwa si penulis ini bertujuan jahat semata. 🙄
Surabaya, 15 Juli 2025
Satria Dharma