Seperti biasa saya dan istri olga jalan kaki pagi kemarin. Kami baru saja berjalan sekitar dua puluhan meter ketika tiba-tiba istri saya menarik tangan saya sambil berteriak, “Ulaaar…!” Saya dengan refleks langsung melompat ke belakang. Memang ada ular yang sedang merayap di rerumputan pinggiran jalan tapi jaraknya sekitar 1,5 meter dari kaki saya. Jadi saya tidak perlu melompat sebenarnya. Lha wong ularnya sendiri sampai bengong melihat kami yang reaktif begitu. “Opo ae, bro….!’ mungkin begitu pikir ularnya. 😂 Setelah berhenti sejenak ular itu lalu melanjutkan perjalanannya. Tapi melompat itu kan refleks saya sebagai seorang pendekar silat. Maksud saya sebagai pecinta komik tentang kisah persilatan. Jadi saya banyak menyerap ilmu dari komik yang saya baca.
Sayangnya waktu melompat itu saya lupa menggunakan ginkang atau ilmu meringankan tubuh. Akibatnya ketika kaki saya sampai di tanah posisi kaki saya kurang pas sehingga tumit kaki kiri saya terkilir. Rupanya ilmu ginkang meringankan tubuh saya mulai merosot. Banyak makan enak memang sulit untuk mempraktekkan ginkang. Saya merasakan nyeri. Semula memang tidak terlalu sakit sehingga waktu istri saya menyarankan agar kami membatalkan olga pagi kami dan pulang saja agar sakit di tumit saya tidak semakin parah saya menolak. Cemen amat…! Seorang pendekar silat yang sudah melanglang buana di delapan penjuru angin kok membatalkan olahraga hanya karena terkilir sedikit. “Tidak apa-apa”, kata saya, “nanti juga akan hilang sendiri”. Sungguh jabriyo. 😎
Jadi kami melanjutkan jalan kaki pagi dan dapat sekitar 5 ribuan langkah sebelum akhirnya kami balik ke rumah. Sampai di rumah tumit saya semakin sakit tentu saja. Istri saya mengusulkan agar saya ke rumah sakit untuk rontgen siapa tahu ada tulang yang retak atau apalah. Maklum istri saya selalu cemas dengan kondisi kesehatan saya dan sedikit-sedikit selalu minta saya check uplah, kurangi gulalah, nasi separohlah, atau apalah. Saya menolak. Tumit saya memang menjadi bengkak tapi saya yakin bahwa tidak ada yang serius semacam tulang retak atau semacamnya. Paling juga otot yang terkilir dan bengkak. Kapan hari kan saya juga pernah mengalami tumit bengkak seperti ini. Di kaki kiri juga. Just at the same location. Tapi setelah istirahat beberapa hari akhirnya hilang dengan sendirinya.
Istri saya lalu membelikan Voltaren gel dan tablet untuk mengurangi rasa sakit. Pada malam hari saya meringis kesakitan karena ternyata tumit saya semakin bengkak dan cenut-cenut. Saya berkali-kali terbangun karena bengkaknya tumit saya tersebut terasa sakit menyiksa. Padahal besok sorenya kami harus pulang ke Surabaya. Akhirnya paginya saya mengiyakan usul istri saya untuk pergi ke RS untuk periksa. Di RS Restu Ibu ternyata dokter Ortonya baru praktek jam 3 sore jadi kami meluncur ke RSPB. Di sana kaki saya dirontgen dan alhamdulillah ternyata tidak ada masalah dengan tulang kaki saya dan hanya bengkak karena terkilir saja. “See…?! I told you”, kata saya dalam hati. 😎 Saya lalu diberi obat anti peradangan Medixon 10 butir. Voltarennya tidak perlu karena sudah beli. Untuk rontgen, pemeriksaan dokter, bebat, dan Medixon 10 butir saya harus bayar 700 ribu lebih. Biarlah. Yang penting istri saya sudah tenang bahwa kaki kiri saya memang hanya terkilir saja. Jiwa tetap stabil dan cintaku kepadanya tetap tak tergoyahkan. 😂 Meski demikian saya riwa-riwi ke RS sudah pakai kursi roda yang kebetulan ada di rumah adik saya bekas dipakai almarhum ayah saya dulu.
Sorenya saya dan istri balik ke Surabaya dan pinjam kursi roda bandara. Setelah lapor ke maskapainya saya lalu mendapat pelayanan istimewa akan di dorong pakai kursi roda maskapainya sampai ke pesawat nantinya. Ternyata enak juga dapat pelayanan istimewa seperti itu. Maskapainya menyediakan kursi roda sekaligus staf untuk mendorong kursi rodanya. Saya tidak perlu check in sendiri. Masuk bandara lewat pintu khusus. Saya pikir saya hanya akan diantar sampai pintu pesawat dan nanti saya akan masuk lorong pesawat dengan tertatih tatih sampai ke tempat duduk saya di nomor 20. Ternyata tidak perlu. Kursi roda yang disediakan untuk saya tersebut adalah kursi roda kecil yang bisa dipakai untuk masuk ke lorong pesawat. Jadi saya didorong, eh! ditarik mundur sampai ke kursi saya di nomor 20 C. Sungguh nikmat…! 😁
Lima belas menit sebelum mendarat saya dan istri diminta untuk pindah ke kursi paling depan. Jadi begitu pesawat mendarat dan penumpang boleh turun sebuah kursi roda dan staf telah siap untuk membawa saya turun dari pesawat. Staf maskapai membawa saya sampai di tempat penjemputan dan menunggu sampai anak saya yang menjemput tiba. Sungguh dedikasi yang tinggi pada tugas. 👍
Sebelumnya saya sudah menyampaikan kepada anak saya Tara untuk membelikan saya kruk tongkat untuk berjalan. Saya bayangkan pasti akan sulit bagi saya kalau naik turun di rumah tanpa tongkat. Sampai di rumah saya coba pakai tongkat tersebut ternyata repot juga kalau belum terbiasa. Apalagi kalau dipakai turun naik tangga. Malamnya saya minum obat Medixon dan Voltaren dan tidur pulas. Tidak ada lagi rasa sakit yang menyiksa.
Pagi ini saya bangun tidur dan merasa bahwa bengkak dan sakit di kaki saya sudah banyak berkurang. Saya coba pakai berjalan dan ternyata lebih nyaman ketimbang pakai tongkat. Akhirnya tongkatnya saya istirahatkan dan tidak jadi saya pakai. Alhamdulillah…! Kruk saya istirahatkan total. Saya hanya perlu banyak istirahat dan berhenti olga jalan kaki seperti biasanya. Saya rasa kaki saya akan pulih dalam dua atau tiga hari mendatang. 😁
Surabaya, 1 Agustus 2025
Satria Dharma