Senin, 16 Desember 2019
Just another WordPress site
PRESENTASI LITERASI DI SMAN 3 SEMARANG

Kemarin adalah hari pernikahan saya dan istri yang ke 24 dan kami merayakannya di Semarang. Kenapa Semarang? Karena pagi ini saya ada jadwal presentasi di SMAN 3 Semarang di hadapan para guru, staf, dan perwakilan siswa beserta beberapa kepala sekolah yang diundang oleh SMAN 3 Semarang sebagai sekolah rujukan nasional. Jadi ini semacam campuran antara tugas dan cinta atau kisah cinta dalam tugas. Hehehe…! 😃

Kami merayakan ultah perkawinan kami dengan nonton, jalan-jalan, dan makan-makan hanya berdua seperti pasangan pengantin baru. Maklumlah karena kami dulu tidak sempat pacaran dan istri saya ini saya lamar dari jarak jauh. Tapi berhubung saya seorang sniper hebat maka tembakan saya kena juga pas di hatinya.

Balik ke soal presentasi literasi….

Saya datang ke SMAN 3 Semarang karena rekomendasi dari Mas Mampuono, Sekum IGI, pada Ibu Emmy, guru bahasa Inggris SMAN 3 Semarang. Saya senang bisa diundang ke sekolah ini karena sebenarnya setahun yg lalu saya pernah diajak oleh Bu Dr. Wid, Kepala RSJ Semarang yg kebetulan teman di IKPTM, utk presentasi di sekolah ini. Dua orang anaknya yang kini sudah jadi dokter semua juga adalah alumni sekolah ini.

SMAN 3 Semarang memang hebat dan paling favorit di Semarang. Sekolah ini saat ini punya dua alumni yang menjadi mentri, yaitu Sri Mulyani dan Retno Marsudi. Sekolah ini juga keren karena menggunakan gedung peninggalan Belanda yang masih terawat baik dengan lantai marmer kuno yang masih terawat baik. SMAN 3 Semarang adalah sekolah besar dengan jumlah siswa sebanyak 1400 anak. Karena mereka adalah anak-anak pilihan maka ketika acara presentasi mereka juga nampak antusias dan selalu ingin bertanya lebih lanjut. Ketika saya tantang apakah bisa membaca 10 buku dalam setahun maka tanpa ragu-ragu mereka langsung menyatakan kesanggupannya. Mereka rupanya tertantang oleh kisah tentang siswa SMAN 5 Surabaya yang mampu membaca 1851 buku hanya dalam waktu 2 bulan saja.

Baca juga:  MENGAPA SISWA KITA TIDAK DIWAJIBKAN MEMBACA KARYA SASTRA?

Hal yang paling menyenangkan dari presentasi saya kali ini adalah justru melihat antusiasme guru dalam menyambut tantangan saya. Saya memang menekankan betapa pentingnya guru dalam menjadi model atau contoh dalam hal membaca bagi siswanya. Jadi mereka saya tantang juga apakah bisa membaca 10 buah buku dalam setahun dan mereka juga dengan antusias menjawab bersedia. Ah, alangkah menyenangkannya bisa mendorong guru utk mulai membaca dan menjadi model bagi siswanya kelak…!

Saya sungguh berharap bahwa percikan semangat dan keinginan untuk mulai membaca secara rutin ini benar-benar ditindaklanjuti secara terstruktur dan sistematis oleh manajemen sekolah. SMAN 3 Semarang ini adalah sekolah rujukan yang nantinya akan dijadikan model dan contoh oleh sekolah-sekolah lain di Jawa Tengah dan Semarang khususnya. Mereka akan berupaya agar bisa mengikuti contoh dan model sekolah yang dirujuknya. Semoga!

Semarang, 29 Nopember 2016

Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *