Pernah dengar tentang ‘Efek Mozart’? Selama ini beredar klaim bahwa mendengarkan musik Mozart dapat meningkatkan kecerdasan atau IQ. Bahkan katanya kalau anak sejak kecil (bahkan sejak dalam kandungan) diperdengarkan dengan musik klasik, khususnya music klasiknya Mozart, maka itu akan membuat anak-anak akan menjadi pintar dan meningkat IQ-nya.
Efek Mozart katanya merangsang perkembangan otak, meningkatkan IQ, dan memacu kreativitas pada anak. Memainkan musiknya Mozart untuk bayi bahkan selama kehamilan katanya dapat membantu merangsang pertumbuhan jalur saraf canggih yang membantu otak memproses informasi. Bayi yang mengenal Mozart sejak dini dapat belajar berbicara dan mendengar dengan lebih cepat dan efektif. Bahkan klaimnya semakin lama semakin bombastis. Beberapa dari manfaat Efek Mozart katanya adalah: Meningkatkan nilai ujian, Memotong waktu belajar, Menenangkan anak-anak hiperaktif dan orang dewasa, Mengintegrasikan kedua sisi otak untuk pembelajaran yang lebih efisien, Meningkatkan skor IQ 9 poin, dll
Akibatnya muncullah berbagai bisnis produk untuk mempromosikan Efek Mozart ini. Di antaranya adalah Musik untuk Mozart Effect dalam beberapa seri. https://www.howtolearn.com/products/mozart-effect/
Benarkah klaim ini? Benarkah bahwa mendengarkan komposisi Mozart membuat anak-anak kita menjadi lebih pintar?
Jawabannya adalah TIDAK. Belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa mendengarkan musik Mozart saja dapat memberikan dampak jangka panjang pada kecerdasan atau IQ.
Bahkan, mungkin saja efeknya tidak berhubungan langsung dengan musik. Sebaliknya, fenomena ini mungkin disebabkan oleh emosi kita – peningkatan suasana hati dan tingkat perhatian yang dapat dipicu oleh musik. Musik tertentu dapat membuat kita merasa lebih bahagia dan berenergi, serta dapat meningkatkan kemampuan konsentrasi untuk sementara. Kita menjadi lebih waspada dan terlibat, sehingga kita melakukan tugas visual-spasial dengan lebih baik.
Dukungan terhadap interpretasi ini berasal dari penelitian terhadap lebih dari 8.000 anak sekolah yang tinggal di Inggris (Schellenberg dan Hallam 2005). Saat itu tahun 1996, ketika band rock, Blur, sangat populer di kalangan anak muda Inggris. Jadi peneliti secara acak menugaskan beberapa anak untuk mendengarkan Mozart, dan yang lainnya mendengarkan Blur.
Setelah sesi mendengarkan selama 10 menit, para siswa mengambil tes singkat tentang kemampuan visual-spasial, dan kinerja mereka bergantung pada tugas kelompok: Anak-anak yang baru saja mendengarkan Blur tampil lebih baik daripada anak-anak yang baru saja mendengarkan Mozart.
Jadi efeknya tampaknya bergantung pada jenis musik yang disukai anak-anak, bukan pada mendengarkan musik Mozart secara khusus.
Oleh karena itu kita dapat berargumentasi bahwa efek Mozart tidak didukung oleh bukti. Ini mungkin lebih baik disebut “efek musik yang menyenangkan dan memberi energi.”
Bagaimana dengan bayi? Apakah efek Mozart berhasil pada bayi? Apakah ada efek prenatal? Bisakah bayi mendengar musik di dalam rahim?
Klaim tentang musik Mozart telah memicu industri bisnis produk “bayi pintar” dan mainan perkembangan. Pada tahun 1998, gubernur Georgia Zell Miller begitu antusias sehingga ia meluncurkan program untuk mendistribusikan CD musik klasik kepada setiap bayi baru lahir di negara bagiannya (Holden 1998).
Penelitian lebih lanjut membuktikan bahwa ternyata tidak ada bukti kuat untuk gagasan ini. Namun terapi musik selama kehamilan dapat mengurangi stres pada ibu (Movalled et al 2023). Tampaknya memainkan musik saat melahirkan juga membantu wanita mengatasi kecemasan dan rasa sakit (Hunter et al 2023). Hal ini membuka kemungkinan bahwa bayi dapat memperoleh manfaat secara tidak langsung ketika ibunya mendengarkan musik. Ketika stres ibu berkurang, bayi cenderung menikmati hasil yang lebih baik.
Jadi, apakah efek Mozart itu hanya omong kosong? Kata peneliti lain itu hanya MITOS yang dipercaya oleh para orang tua tanpa dasar ilmiah yang kuat.
Itu tidak berarti bahwa mendengarkan musik tidak dapat merangsang kita untuk lebih fokus, atau meningkatkan mood kita. Jika Anda merasa bosan atau lesu, mendengarkan musik yang menyenangkan dan membangkitkan semangat selama beberapa menit mungkin membuat Anda merasa lebih waspada dan fokus. Jelas ini bukan satu-satunya cara untuk mencapai kondisi tersebut, namun ini bisa menjadi cara yang sangat menyenangkan.
Berdasar pada temuan tersebut, kesimpulan yang bisa ditarik adalah: peningkatan kemampuan otak tak hanya terpaku pada musik Mozart saja. Anda juga bisa merasakan apa yang disebut Mozart Effect dengan mendengarkan musik lain yang benar-benar disukai. Jadi yang sebenarnya diperlukan untuk melakukan suatu tugas yang melibatkan pikiran adalah rangsangan kognitif. Hal tersebut dapat kita peroleh dengan mendengarkan apa pun musik yang disenangi. Bahkan, Anda juga bisa merasakan efek tersebut dengan melakukan aktivitas lain, seperti berolahraga atau meminum secangkir kopi. Jadi kali lain ketika Anda minum kopi dan mendapatkan ransangan kognitif Anda bisa bilang telah mendapatkan Efek Mozart dari kopi. 😁
Lalu apa manfaat musik? Tentu saja mendengarkan musik adalah bagian yang bermakna dan penting dari pengalaman manusia. Musik mengajarkan kita tentang menjadi manusia, tentang emosi manusia, dan tentang budaya yang berbeda. Musik adalah hal luar biasa untuk diperkenalkankan kepada seorang anak. Disiplin, ketekunan, dan kesenangan adalah beberapa di antara banyak hal yang dapat mereka peroleh darinya.
Ini adalah suatu pengalaman yang perlu kita berikan kepada anak-anak kita, apa pun kegunaan praktisnya. Dengan demikian, ada alasan bagi guru untuk memperdengarkan musik di kelas ketika mengajar. Namun kita tidak boleh berharap bahwa sekadar mendengarkan musik akan membuat kita lebih pintar. Tapi kita bisa berharap bahwa suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan dengan memperdengarkan musik akan bisa membuat siswa menjadi rileks dan merangsang kemampuan kognitif siswa kita.
Cobalah di kelas Anda sesekali… 🙏😁
Surabaya, 27 Juni 2024
Satria Dharma