Agustus 16, 2022

0 thoughts on “Mitos tentang Akidah

  1. Berikut ini petikan tanggapan dari milis Sabili

    Waalaikumusalam wr wb, Mas Darma,
    1. Saya tidak tahu apakah ada moderasi di Sabili – silahkan di klarifikasi saja dengan moderator. Tapi melihat ini hari sabtu, rata-rata memang jarang ada email masuk di hari sabtu-minggu. Tapi entahlah sy tdk mau spekulasi.
    2. Terima kasih atas klarifikasi mas darma tentang pandangan anda thd ucapa Selamat Natal kepada kaum Nasrani, dan kami jadi tahu dimana posisi anda sekarang.
    3. Sebagai insan Muslim, sudah seharusnya kita saling belajar, yaitu melihat ilmu itu ibarat air yang akan mengalir ke arah bawah, oleh itu mari rendahkan hati kita, emosi kita, dan mencoba mendengar dari pihak lain, sehingga relung2 itu terisi air ilmu yang sangat luar biasa. Namun jika kita mengangkat diri kita, (menyombongkan diri), maka air tadi tidak akan masuk dalam diri kita, dan kita menjadi kufur karenanya.
    4. Pandangan Saya (saya sudah baca bgm pandangan mas Darma) – dalam islam ini ada perintah dimana kita hrs Sa’amikna wa’athokna, yaitu mendengar, tunduk dan patuh kepada Pemimpin. Perintah itu jelas dan semua umat Islam harus tahu. Dalam Akidah Islam, maka kita wajib tunduk dan patuh kepada pemimpin, siapa itu ?? kalau jaman Rasul yha tentu rasul pimpinan kita, setelah Rasul tidak ada maka para tabi’it – ta’biin dan kemudian para Ulama. Jadi sepeninggal Rasul dan sahabat, maka kita wajib mengakui pemimpin Islam adalah para Ulama. Itu di seluruh dunia mas. Masalahnya ulama yang mana ?? yah tentu ulama bukan secara individual, namun forum ulama, spt di Arab, Yaman, Mesir dll – mereka punya wadah ulama. Forum ulama ini tentu dikendalikan oleh beberapa ulama yang mahzabnya tentu beda-beda – untuk itu perlu pandangan yang sama dan satu. Di Indonesia ini, wadah ulama hanya di MUI, maka apapun produk MUI (saya pikir) sudah melalui proses pengkajian dengan dalil-dalil yang kuat, sehingga keluarlah produk MUI yang namanya FATWA. Siapa lagi yang tunduk dan patuh pada ulama kita kalau kalau bukan umat islam ???????? – ini pemikiran orang bodoh dan orang kampung spt saya ya mas. (ma’af) – Nah – padahal dalam produk MUI ini jelas ada fatwa yang mengharamkan mengucapkan Natal kepada Kaum Nasrani. Maka sbg umat, saya tunduk dan patuh – disamping krn kedangkalan ilmu saya dan juga karena ada perintah agama kita harus tunduk kepada orang yang ngerti (ulama). Jadi produk Ulama ini jangan lalu ditafsirkan sendiri-sendiri, spt orang jadi rikuh/sungkan kalau tidak mengucapkan selamat natal, enggak enak hati – krn waktu lebaran mereka memberi selamat kpd kita, dsb. Namun karena ini prinsip akidah, maka saya tidak akan mengucapkan sampai kapanpun – sebab dng pengetahuan dan perintah ulama, saya tidak diperkenankan untuk itu. (sekali lagi pandangan ini adalah pandangan saya). Munculnya golong liberal, itu karena pada awalnya yha spt ini mas, mereka bebas memiliki pendapat, bebas menafsirkan Quran (heurmetika), bebas berpendapat, pingin bebas bertindak dll – sehingga apa akibatnya kalau seluruh umat ini boleh menafsirkan akidah secara sendiri-sendiri. Saya tidak menafikkan kemampuan anda membaca buku, kemampuan anda menafsirkan dan kemampuan anda mengerti dan kemampun melaksanakan secara muamalah – namun belajar tanpa pembimbing itu sungguh sangat bahaya mas, yang dibimbing saja bisa keblinger, apalagi yang tidak. Kita tidak boleh sombong bahwa kita bisa memperlajari sendiri, namun hasilnya tentu akan lain.
    5. Secara panjang lebar teman-teman terdahulu sudah menjelaskan bhw Natal itu adalah “Akidah”: kristen, bukan Mitos. Kalau Mitos tentu orang kristem mau tidak usah merayakan natal, tapi apa mau mereka tidak merayakan itu. Meskipun dari beberapa referensi buku kita tahu, bahwa apa benar Isa lahir tgl 25 – itu masih menjadi pertanyaan besar bahkan di kalangan kristen sendiri belum sepakat ttg hal ini. Jadi karena ini akidah, maka mengucapkan selamat, yha sama saja meng AMIN kan akidah mereka, padahal akidah Islam tidak sama dengan mereka terutama asas Trinitas mereka. Kalau kita mengaminkan, maka kita mengakui eksistensi akidah mereka yang menurut islam sudah salah kaprah. jadi menolak ucapan itu adalah bentuk resistensi Islam bahwa islam tidak mengakui adanya natal, yang diakui Islam adalah Isa sebagai utusan yang membawa Injil …..titik !! jadi tidak ada yang lain. Perkara lalu diperingati oleh umatnya pada saat natal – itu khan umatnya yang mengada-adakan itu, dan itu bukan perintah Isa apalagi perintah Tuhan. Mengerjakan sesuatu tanpa dasar, dalam Islam dilarang, sehingga rel kita kembali lagi harus memakai Qur’an dan Hadis. ………………. sekali lagi mhn ma’af ini pandangan saya. Dan kalau mengucapkan natal ini boleh dilakukan, mengapa anda hanya mengucapkan untuk kaum kristen saat natal. Mengapa tidak juga dilakukan kepada Kaum Budha, Hindu, Konghucu, dll pada saat mereka merayakan hari kelahiran dewanya. Apakah kita bisa torelanse thd agama yang menyembah PATUNG – dengan mengatakan, “Selamat Hari …………… yha” …………. ini khan sungguh artinya kita tidak bisa mendudukan persoalan akidah pada posisi yang tepat. Toleransi boleh, namun harus ditempatkan pada yang Haq. Jadi saya hanya ingin mengajak mas Dharma bisa mengerti bgmana pandangan ulama dan pandangan rekan2 terdahulu (termasuk saya) – mengharamkan mengucapkan selamat natal kpd kaum kristen. Sebab kami telah mempelajari itu – dan tadinya sebelum kami tahu, yah kami sama dengan anda itu, ikut arus, rasa enggak enak, rasa sungkan , merasa kok enggak toleranse, dsb. namun setelah kami tahu, oohh iya ….berarti selama ini saya salah ……….. maka sebagai manusia, saya tentu harus memperbaiki kesalahan saya. Saya tidak berharap mas darma mengaminkan tulisan saya ini, namun cuma tolong renungkan apa yang telah kita diskusikan ……………….. rendahkan hati, dan jangan tinggikan hati, agar diskusi keilmuan ini bisa masuk dalam diri kita. Sy berdoa agar saya dan anda mendapat hidayah dan ditunjukkan kepada jalan yang lurus …………. terima kasih.
    Wassalam
    Baz
    NB : Kalau anda di Jakarta, dan ingin belajar Islam secara kaffah, silahkan hub saya, nanti saya ajak ke madrasah dimana kami belajar hanya di hari Sabtu atau Minggu (pilihan) sebab di sela-sela kesibukan ini, kadang kita tidak sempat belajar apalagi membaca sendiri. Jadi dengan ikut Dirozah, maka kita bisa tambah ilmu dan tambah sahabat. Gurunya 50% lulusan Arab, yaman, pakistan, dll dan 50% (LC) darai LIPIA – Jakarta. Masuk Jam : 08:00 – 12.00 setiap sabtu/minggu. Kelasnya boleh pilih, Quran, Bahasa atau Dirozah (Akidah, siroh, Hadits, dll) – Inilah pentingnya kita punya pembimbing dalam mempelajari sesuatu ……….. karena disitu tempat kumpulnya para ahli ………..

  2. Berikut ini petikan tanggapan dari milis Sabili

    Waalaikumusalam wr wb, Mas Darma,
    1. Saya tidak tahu apakah ada moderasi di Sabili – silahkan di klarifikasi saja dengan moderator. Tapi melihat ini hari sabtu, rata-rata memang jarang ada email masuk di hari sabtu-minggu. Tapi entahlah sy tdk mau spekulasi.
    2. Terima kasih atas klarifikasi mas darma tentang pandangan anda thd ucapa Selamat Natal kepada kaum Nasrani, dan kami jadi tahu dimana posisi anda sekarang.
    3. Sebagai insan Muslim, sudah seharusnya kita saling belajar, yaitu melihat ilmu itu ibarat air yang akan mengalir ke arah bawah, oleh itu mari rendahkan hati kita, emosi kita, dan mencoba mendengar dari pihak lain, sehingga relung2 itu terisi air ilmu yang sangat luar biasa. Namun jika kita mengangkat diri kita, (menyombongkan diri), maka air tadi tidak akan masuk dalam diri kita, dan kita menjadi kufur karenanya.
    4. Pandangan Saya (saya sudah baca bgm pandangan mas Darma) – dalam islam ini ada perintah dimana kita hrs Sa’amikna wa’athokna, yaitu mendengar, tunduk dan patuh kepada Pemimpin. Perintah itu jelas dan semua umat Islam harus tahu. Dalam Akidah Islam, maka kita wajib tunduk dan patuh kepada pemimpin, siapa itu ?? kalau jaman Rasul yha tentu rasul pimpinan kita, setelah Rasul tidak ada maka para tabi’it – ta’biin dan kemudian para Ulama. Jadi sepeninggal Rasul dan sahabat, maka kita wajib mengakui pemimpin Islam adalah para Ulama. Itu di seluruh dunia mas. Masalahnya ulama yang mana ?? yah tentu ulama bukan secara individual, namun forum ulama, spt di Arab, Yaman, Mesir dll – mereka punya wadah ulama. Forum ulama ini tentu dikendalikan oleh beberapa ulama yang mahzabnya tentu beda-beda – untuk itu perlu pandangan yang sama dan satu. Di Indonesia ini, wadah ulama hanya di MUI, maka apapun produk MUI (saya pikir) sudah melalui proses pengkajian dengan dalil-dalil yang kuat, sehingga keluarlah produk MUI yang namanya FATWA. Siapa lagi yang tunduk dan patuh pada ulama kita kalau kalau bukan umat islam ???????? – ini pemikiran orang bodoh dan orang kampung spt saya ya mas. (ma’af) – Nah – padahal dalam produk MUI ini jelas ada fatwa yang mengharamkan mengucapkan Natal kepada Kaum Nasrani. Maka sbg umat, saya tunduk dan patuh – disamping krn kedangkalan ilmu saya dan juga karena ada perintah agama kita harus tunduk kepada orang yang ngerti (ulama). Jadi produk Ulama ini jangan lalu ditafsirkan sendiri-sendiri, spt orang jadi rikuh/sungkan kalau tidak mengucapkan selamat natal, enggak enak hati – krn waktu lebaran mereka memberi selamat kpd kita, dsb. Namun karena ini prinsip akidah, maka saya tidak akan mengucapkan sampai kapanpun – sebab dng pengetahuan dan perintah ulama, saya tidak diperkenankan untuk itu. (sekali lagi pandangan ini adalah pandangan saya). Munculnya golong liberal, itu karena pada awalnya yha spt ini mas, mereka bebas memiliki pendapat, bebas menafsirkan Quran (heurmetika), bebas berpendapat, pingin bebas bertindak dll – sehingga apa akibatnya kalau seluruh umat ini boleh menafsirkan akidah secara sendiri-sendiri. Saya tidak menafikkan kemampuan anda membaca buku, kemampuan anda menafsirkan dan kemampuan anda mengerti dan kemampun melaksanakan secara muamalah – namun belajar tanpa pembimbing itu sungguh sangat bahaya mas, yang dibimbing saja bisa keblinger, apalagi yang tidak. Kita tidak boleh sombong bahwa kita bisa memperlajari sendiri, namun hasilnya tentu akan lain.
    5. Secara panjang lebar teman-teman terdahulu sudah menjelaskan bhw Natal itu adalah “Akidah”: kristen, bukan Mitos. Kalau Mitos tentu orang kristem mau tidak usah merayakan natal, tapi apa mau mereka tidak merayakan itu. Meskipun dari beberapa referensi buku kita tahu, bahwa apa benar Isa lahir tgl 25 – itu masih menjadi pertanyaan besar bahkan di kalangan kristen sendiri belum sepakat ttg hal ini. Jadi karena ini akidah, maka mengucapkan selamat, yha sama saja meng AMIN kan akidah mereka, padahal akidah Islam tidak sama dengan mereka terutama asas Trinitas mereka. Kalau kita mengaminkan, maka kita mengakui eksistensi akidah mereka yang menurut islam sudah salah kaprah. jadi menolak ucapan itu adalah bentuk resistensi Islam bahwa islam tidak mengakui adanya natal, yang diakui Islam adalah Isa sebagai utusan yang membawa Injil …..titik !! jadi tidak ada yang lain. Perkara lalu diperingati oleh umatnya pada saat natal – itu khan umatnya yang mengada-adakan itu, dan itu bukan perintah Isa apalagi perintah Tuhan. Mengerjakan sesuatu tanpa dasar, dalam Islam dilarang, sehingga rel kita kembali lagi harus memakai Qur’an dan Hadis. ………………. sekali lagi mhn ma’af ini pandangan saya. Dan kalau mengucapkan natal ini boleh dilakukan, mengapa anda hanya mengucapkan untuk kaum kristen saat natal. Mengapa tidak juga dilakukan kepada Kaum Budha, Hindu, Konghucu, dll pada saat mereka merayakan hari kelahiran dewanya. Apakah kita bisa torelanse thd agama yang menyembah PATUNG – dengan mengatakan, “Selamat Hari …………… yha” …………. ini khan sungguh artinya kita tidak bisa mendudukan persoalan akidah pada posisi yang tepat. Toleransi boleh, namun harus ditempatkan pada yang Haq. Jadi saya hanya ingin mengajak mas Dharma bisa mengerti bgmana pandangan ulama dan pandangan rekan2 terdahulu (termasuk saya) – mengharamkan mengucapkan selamat natal kpd kaum kristen. Sebab kami telah mempelajari itu – dan tadinya sebelum kami tahu, yah kami sama dengan anda itu, ikut arus, rasa enggak enak, rasa sungkan , merasa kok enggak toleranse, dsb. namun setelah kami tahu, oohh iya ….berarti selama ini saya salah ……….. maka sebagai manusia, saya tentu harus memperbaiki kesalahan saya. Saya tidak berharap mas darma mengaminkan tulisan saya ini, namun cuma tolong renungkan apa yang telah kita diskusikan ……………….. rendahkan hati, dan jangan tinggikan hati, agar diskusi keilmuan ini bisa masuk dalam diri kita. Sy berdoa agar saya dan anda mendapat hidayah dan ditunjukkan kepada jalan yang lurus …………. terima kasih.
    Wassalam
    Baz
    NB : Kalau anda di Jakarta, dan ingin belajar Islam secara kaffah, silahkan hub saya, nanti saya ajak ke madrasah dimana kami belajar hanya di hari Sabtu atau Minggu (pilihan) sebab di sela-sela kesibukan ini, kadang kita tidak sempat belajar apalagi membaca sendiri. Jadi dengan ikut Dirozah, maka kita bisa tambah ilmu dan tambah sahabat. Gurunya 50% lulusan Arab, yaman, pakistan, dll dan 50% (LC) darai LIPIA – Jakarta. Masuk Jam : 08:00 – 12.00 setiap sabtu/minggu. Kelasnya boleh pilih, Quran, Bahasa atau Dirozah (Akidah, siroh, Hadits, dll) – Inilah pentingnya kita punya pembimbing dalam mempelajari sesuatu ……….. karena disitu tempat kumpulnya para ahli ………..

    Assalamu alaikum wr. wb.
    Mas Bazoki,
    Sungguh senang membaca nada dari balasan Anda. Tenang dan tidak emosional. Itu tandanya orang yang memiliki ilmu dan kepercayaan diri yang tinggi.
    Baiklah Mas, mari kita bahas pendapat Anda.
    1. Saya sengaja masuk Sabili karena saya tahu bahwa majalah Sabili termasuk majalah Islam yang banyak dibaca umat Islam mainstream. Saya tahu bahwa orang seperti saya ini sangat minoritas. Orang yang berani berpendapat sendiri (apalagi jika bertentangan dengan kebanyakan ulama) bisa dimusuhi dan dicaci-maki. Tapi saya sadar resikonya. Saya melihat bahwa umat Islam sekarang ini malas berpikir dan semua masalah mau diserahkan kepada ulama sehingga mereka tidak mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan. “Serahkan saja kepada para ulama. Kan mereka orang yang pintar dan tahu benar soal agama. Kita ini apa sih, kok berani-beraninya berpikir bahwa kita juga mampu berpikir seperti para ulama?. Dst…dst…”
    Saking malasnya kita berpikir sehingga semua hal kita tanyakan kepada ulama. Mulai hal yang remeh sampai hal yang tidak masuk akal. Padahal semua itu adalah masalah-masalah duniawi dan kehidupan sehari-hari kita belaka yang mungkin para ulama sendiri tidak terlalu tahu masalahnya terlalu dalam. Pada umumnya para ulama kita itu hanya mempelajari Al-QurÂ’an dan Hadist dan segala hal yang berhubungan dengan praktek-praktek yang terjadi pada jaman Nabi dan para sahabat. Mereka pada umumnya tidak begitu paham dengan ilmu pengetahuan yang terus berkembang secara pesat. Apa yang terjadi kemudian? Karena terus didesak dengan pertanyaan-pertanyaan yang berkenaan dengan kehidupan sehari-hari sedangkan ilmu yang dkuasainya adalah penafsiran tentang masalah-masalah fikih dari para ulama terdahulu yang menafsirkan berdasarkan kehidupan pada jamannya, maka terkadang jawaban yang diberikannya menjadi tidak mengena dan terlalu dipaksakan.
    Coba bayangkan, bagaimana kalau para ulama kita ditanyai seperti ini,: Kyai, bagaimana hukumnya kalau kita mengikuti tatacara orang-orang kafir?” Jawabnya tentu, :”Haram! Itu sudah jelas. Baca Al-Baqarah 120. Al-Maidah. Rasulullah melarang kita untuk mengikuti tatacara mereka. Sedikit demi sedikit kita akan masuk ke lubang biawak. Dst..dst..”.
    “Maksud saya, Kyai, kalau kita berpakaian seperti orang kafir, menggunakan produk-produk orang kafir, makan bersama orang-orang kafir, bekerja pada orang kafir, sehari-hari bergaul dengan orang kafir, dll.”
    “Hmmm… Yang penting akidah kita harus terjaga.”
    “Tapi ini kan bukan masalah akidah, Kyai!. Lha gimana, Kyai, saya mesti pakai dasi dan jas di kantor yang milik orang kafir. Ngirim berita pakai internet. Sering makan di KFC, McDonald, pakai mobil bikinan orang kafir, di rumah juga hampir semua barang adalah produk orang kafir, pemilihan umum juga tatacara kafir, nonton TV, pakai handphone … dll semua hasil produk orang kafir. kita dikepung oleh segala hal yang “berbau kafir”, Kyai!”
    “Hmmm…”
    DstÂ…dstÂ….
    Silakan bikin sendiri dialognya sesuai dengan kenyataan sehari-hari. Saya berpikir alangkah sulitnya hidup jika hal-hal yang semacam ini kita mesti tanya kepada ulama yang tentu saja tidak bisa bersikap ‘moderat’ dan harus selalu ‘berlandaskan kepada Al-Qur’an dan Hadist”. Saya tidak menyalahkan para ulama yang ‘terpaksa’ menjawab semampunya karena mereka tidak menemukan argumentasi yang memadai berdasarkan kitab-kitab yang mereka miliki. Adalah kesalahan kita yang terlalu memaksakan diri untuk menanyakan segala hal kepada ulama, yang kita pikir memiliki semua jawaban dari permasalahan dunia dan akhirat. Padahal mereka juga manusia biasa seperti kita yang memiliki keterbatasan-keterbatasan. Mereka bukanlah nabi yang kata-katanya pasti benar belaka. Bahkan Rasulullah pun tidak selalu benar dan menyerahkan masalah-masalah sehari-hari kepada kita untuk menjawabnya. Ada riwayat tentang itu dimana Rasulullah menjawab, :”Engkau lebih tahu mengenai masalah itu.” Rasulullah memang tidak diutus untuk hal-hal remeh dan mesti menjawab semua permasalahan umat.
    Di milis Sabili saya ingin berbagai pemikiran dan mulai sedikit demi sedikit mengajak saudara-saudaraku untuk berani mengemukakan pendapat dan tidak selalu harus ikut apa katanya “kyai” di Sabili, atau di manapun. Tidaklah mungkin saya mengajak sesama muslim untuk kafir ataupun sesat. Kita tidaklah ‘sebodoh’ seperti yang kita kira. Kita telah belajar cukup banyak dan jika kita tidak pernah berani berpendapat bertentangan dengan ‘ulama’ maka Islam tidak akan pernah berkembang. Pemikiran akan jumud dan kita akan selalu tertinggal dibandingkan umat-umat lain. Sekarang ini pun sudah kita alami.
    2. Saya bukan hanya mengucapkan “Selamat Natal” tapi juga selamat hari raya kepada umat lain, bahkan mengucapkan “Gong Xi Fat Choi” kepada teman-teman yang merayakan. Saya mengucapkan ini bukan karena ada perasaan tidak enak kepada teman yang beragama lain kalau tidak mengucapkannya atau seabgai basa-basi. Saya tidak perduli dengan basa-bas, apalagi merasa tidak enak. Kalau bagi saya baik ya saya lakukan dan kalau tidak ya saya tinggalkan dan tidak terlalu perduli apa kata orang. Saya memutuskan sendiri hal-hal ‘remeh’ macam begini dan tidak bergantung pada pendapat orang lain.
    Mengapa saya menugucapkan semua itu? Karena saya ingin melakukan hubungan baik dengan sesama manusia, meski berlainan agama. Dan ini adalah ajaran agama Islam. (“Bukankah kita bisa tetap berhubungan baik tanpa mengucapkan selamat natal, dll?”) Bagi saya, mengucapkan selamat natal sama maknanya dengan mengucapkan “selamat atas kelahiran anak Anda, selamat atas promosi yang Anda peroleh, selamat ulang tahun, dll”
    3. SamiÂ’na wa atoÂ’na. Ini istilah yang paling banyak disalah artikan. Seolah-olah semua yang disampaikan oleh para ulama atau kyai harus diikuti semua pendapatnya. Pendapat ulama bukanlah hukum yang wajib dipatuhi sebagaimana kita patuh pada perintah Tuhan. Ulama hanyalah menginterpretasikan hukum dan aturan Tuhan seperti yang termaktub dalam Al-QurÂ’an dan Hadist. Mereka dianggap lebih otoritatif karena mereka memiliki ilmu yang lebih tingi daripada kebanyakan orang dalam hal penafsiran Al-QurÂ’an dan Hadist. Tapi itu tidak berarti bahwa apapun yang mereka tafsirkan dijamin benar.
    Perlu dipahami oleh umat islam bahwa tidak dalam segala hal para sahabat “Sami’na wa ato’na” meski kepada Rasulullah. Para sahabat adalah orang-orang yang juga kritis dan tidak sekedar “Sami’na wa ato’na”. Ada riwayat tentang itu. Suatu ketika dalam sebuah perjalanan yang dipimpin sendiri oleh Rasulullah diputuskan untuk berhenti dan mendirikan kemah. Rasulullah kemudian memerintahkan rombongannya untuk berhenti di suatu tempat.
    Mengetahui hal tersebut para sahabat bertanya apakah pemilihan tempat tersebut berdasarkan wahyu dari Tuhan atau sekedar pendapat Rasulullah sendiri? Dijawab oleh Rasulullah bahwa itu pendapat pribadinya dan tidak ada wahyu tentang hal tersebut. Mengetahui hal tersebut para sahabat kemudian mengusulkan agar perkemahan dibuka di lokasi lain yang dekat dengan mata air. Rasulullah kemudian setuju dan tempat perkemahan didirikan sesuai dengan anjuran para sahabat.
    Dari sini kita tahu bahwa tidak semua perintah Rasulullah diikuti begitu saja oleh para sahabat. Ini juga berarti bahwa tidak semua hal yang diputuskan oleh Rasulullah adalah berdasarkan wahyu. Ini juga berarti bahwa tidak semua keputusan Rasulullah yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari adalah yang terbaik, meskipun untuk kondisi saat itu.
    Nah! Kembali ke masa kini, bagaimana mungkin kita akan “sami’na wa ato’na” terhadap apapun yang difatwakan MUI lha wong dalam penetapan Iedhul Fitri dan Iedul Adha saja mereka ‘tidak berdaya’? Kasus berbedanya hari lebaran sebetulnya harus membuka mata kita bahwa kita tidak bisa menyerahkan bulat-bulat segala hal kepada MUI lha wong hal yang ‘remeh’ aja mereka nggak bisa sepakat.
    4. Pendapat Anda “Natal itu adalah “Akidah”: kristen, bukan Mitos” mengandung kesalahan. Jelas sekali bahwa tanggal 25 Desember yang mereka anggap sebagai hari lahir Yesus ternyata memang mitos dan tidak benar. Sekarang ini hampir semua orang Kristen sudah sadar bahwa Yesus tidak mungkin lahir pada tanggal 25 Desember waktu itu. Jadi ini sudah pendapat umum. Ini adalah mitos yang terbukti salah. Lho! Kan Anda sendiri tidak percya bahwa tanggal 25 Desember adalah hari lahir Yesus?
    Pendapat Anda lainnya “Jadi karena ini akidah, maka mengucapkan selamat, yha sama saja meng AMIN kan akidah mereka” dengan sendirinya GUGUR. Ada dua kesalahan logika disini. Pertama, pada frasa “karena ini akidah” sudah salah karena ini bukan akidah. Bagi umat Nasrani sekarang ini (apalagi mayoritas orang-orang Barat) merayakan natal tidak lagi berhubungan dengan keyakinan bahwa Yesus itu Tuhan. Silakan tanya kepada hampir semua orang Barat yang merayakan natal maka And akan temui jawaban bahwa natal hanyalah tradisi. Jadi sama dengan tumpengan, syukuran, Sekatenan, dll perayaan lainnya. Kedua, “mengucapkan selamat sama dengan mengAMIN kan akidah mereka” jelas tidak punya pijakan logika lagi. Ucapan tersebut sama dengan ucapana selamat ulang tahu, selamat naik pangkat, turut berduka cita atas kematian keluarga Anda, dlsb. Dan tidak ada hubungannya dengan akidah. Inilah yang saya maksud sebagai MITOS. Kira mempercayai bahwa mengucapkan selamat natal adalah merusak akidah, padahal tidakada hubungannya dengan akidah, baik akidah mereka maupun akidah kita. No correlation at all.
    5. Saya mengucapkan terima kasih atas ajakannya untuk belajar pada para guru yang Anda anggap memiliki ilmu yang tinggi tersebut. Saya senang sekali bisa belajar pada orang-orang yang hebat. Tapi saya tidak bisa ‘sami’na wa ato’na’ pada mereka begitu saja sebagaimana yang lain. Saya ingin guru yang bisa diajak berdiskusi dan mau menerima kebenaran dari siapapun dan bukan hanya membenarkan pendapatnya sendiri. Kebanyakan guru yang saya temui, utamanya kalau sudah disebut ‘ulama’ atau ‘kyai’, hanya membenarkan pendapatnya sendiri dan tidak bisa menerima pendapat orang yang dianggapnya ‘santri’nya. Saya terutama juga sering ‘sebel’ pada pemuka agama yang hantam kromo dengan ayat-ayat dan hadist. Pokoknya kalau sudah mengeluarkan ayat dan hadist maka sudah tentu benar meski sebenarnya tidak ada hubungannya.
    Nah! Apakah para guru Anda bersedia jika sewaktu-waktu saya bantah dan saya tanyai “apakah itu wahyu atau pendapat pribadi?” sebagaimana para sahabat terhadap Rasulullah?
    6. Last but not least, mohon agar sikap saya ini tidak dianggap sebagai “kesombongan” dan tidak bersedia menerima kebenaran karena “Kebenaran yang hakiki hanyalah dari Allah” dan manusia (apakah itu kyai, ulama, imam, dan hatta itu Rasulullah) bisa salah.

    Sekian dan terima kasih atas tanggapannya
    Wassalam
    Satria

    Mas Bazoki,
    Ternyata apa yang saya sampaikan justru membuat Anda emosional. Saya sungguh tidak berharap demikian. Melalui forum ini saya mohon maaf jika apa yang saya sampaikan membuat Anda marah.
    Perlu Anda ketahui, Mas. Meski Anda nampak membela mati-matian Islam dan Rasulullah tapi belum tentu kecintaan Anda kepada Rasulullah lebih besar daripada saya. Belum tentu juga keimanan Anda lebih besar daripada saya. Meski And apunya banyak guru dari Yaman, Persi, Saudi, dll. juga belum tentu pengetahuan agama Anda lebih tinggi daripada saya. Itu cuma asumsi kita masing-masing. Jadi janganlah kita saling

    🙂 hehehhehehehehheheh eh…

    Udah lah pa satria kayanya ngga perlu di perpanjang masalah ini…kalo pa satria memang merasa yakin dengan padangannya jalanin aja dan ngga perlu maksain ke yg lain toh rekan rekan yg lain ngga maksa pa stria untuk tidak mengucapkan itu…dan lagi kalo seseorang mengucapkan selamat ulang tahun atau mengucapkan turut berduka cita ke temannya walau beda agama itu berarti ucapannya memang di arahkan ke temannya…. .dan jelas jelas itu ngga ada hubungannya dengan agama…bukannya agama itu berarti keyakinan dan beriman ke tuhannya…. .dan kalo mengucapkan selamat natal atau selamat merayakan yg berhubungan dengan agama…berarti bukannya ungkapan itu sama dengan selamat anda menjalankan ajaran agamanya dengan benar….dan sedangkan jelas jelas di agama kita menjelaskan kalo Islam itu agama yg di ridoi olleh ALLOH…..dan bukannya kalo kita menganggap agama lain itu bener berarti bukan islam aja agama yg di ridoi ALLOH…..dan boleh dong kalo rekan rekan kita merasa meyakini dan sangat beriman ke pada ALLOH dan menganggap islam lah yg paling benar dan dengan tidak mengucapkan selamat kepada pemeluk agama lain dengan maksud menjunjung tinggi agamanya karena cintanya ke pada ALLOH dan Rosululloh.. ….dan lagi kalo boleh tau ada ngga sih dalil yg menjelaskan kalo kita ngga ngucapin selamat yg berhubungan dengan ajaran agamanya menjadikan keimanan kita berkurang atau keimanan kita hilang ?…. kalo memang ada pastinya atas kecintaan kepada ALLOH dan Rosululloh, rekan rekan pasti akan mengikutin dalil itu. dan ngga perlu menunggu iklan yg panjang lebar dari pak satria….jadi udah lah pak satria ngga usah di perpanjang lagi…Dan kalo boleh ngungkapin kata kata bapak di setiap tulisan bapak sepertinya bapak beraliran JIL atau Ahmadiah…yang suka menuliskan kata kata (mainstream) ……

    —– Original Message —–
    From: Satria Dharma
    To: sabili@yahoogroups. com
    Sent: Tuesday, January 02, 2007 1:33 PM
    Subject: Re: [Sabili] Mitos Kerusakan Akidah
    Assalamu alaikum wr. wb.
    Mas Bazoki,
    Sungguh senang membaca nada dari balasan Anda. Tenang dan tidak emosional. Itu tandanya orang yang memiliki ilmu dan kepercayaan diri yang tinggi.
    Baiklah Mas, mari kita bahas pendapat Anda.
    1. Saya sengaja masuk Sabili karena saya tahu bahwa majalah Sabili termasuk majalah Islam yang banyak dibaca umat Islam mainstream. Saya tahu bahwa orang seperti saya ini sangat minoritas. Orang yang berani berpendapat sendiri (apalagi jika bertentangan dengan kebanyakan ulama) bisa dimusuhi dan dicaci-maki. Tapi saya sadar resikonya. Saya melihat bahwa umat Islam sekarang ini malas berpikir dan semua masalah mau diserahkan kepada ulama sehingga mereka tidak mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan. “Serahkan saja kepada para ulama. Kan mereka orang yang pintar dan tahu benar soal agama. Kita ini apa sih, kok berani-beraninya berpikir bahwa kita juga mampu berpikir seperti para ulama?. Dst…dst…”
    Saking malasnya kita berpikir sehingga semua hal kita tanyakan kepada ulama. Mulai hal yang remeh sampai hal yang tidak masuk akal. Padahal semua itu adalah masalah-masalah duniawi dan kehidupan sehari-hari kita belaka yang mungkin para ulama sendiri tidak terlalu tahu masalahnya terlalu dalam. Pada umumnya para ulama kita itu hanya mempelajari Al-QurÂ’an dan Hadist dan segala hal yang berhubungan dengan praktek-praktek yang terjadi pada jaman Nabi dan para sahabat. Mereka pada umumnya tidak begitu paham dengan ilmu pengetahuan yang terus berkembang secara pesat. Apa yang terjadi kemudian? Karena terus didesak dengan pertanyaan-pertanyaan yang berkenaan dengan kehidupan sehari-hari sedangkan ilmu yang dkuasainya adalah penafsiran tentang masalah-masalah fikih dari para ulama terdahulu yang menafsirkan berdasarkan kehidupan pada jamannya, maka terkadang jawaban yang diberikannya menjadi tidak mengena dan terlalu dipaksakan.
    Coba bayangkan, bagaimana kalau para ulama kita ditanyai seperti ini,: Kyai, bagaimana hukumnya kalau kita mengikuti tatacara orang-orang kafir?” Jawabnya tentu, :”Haram! Itu sudah jelas. Baca Al-Baqarah 120. Al-Maidah. Rasulullah melarang kita untuk mengikuti tatacara mereka. Sedikit demi sedikit kita akan masuk ke lubang biawak. Dst..dst..”.
    “Maksud saya, Kyai, kalau kita berpakaian seperti orang kafir, menggunakan produk-produk orang kafir, makan bersama orang-orang kafir, bekerja pada orang kafir, sehari-hari bergaul dengan orang kafir, dll.”
    “Hmmm… Yang penting akidah kita harus terjaga.”
    “Tapi ini kan bukan masalah akidah, Kyai!. Lha gimana, Kyai, saya mesti pakai dasi dan jas di kantor yang milik orang kafir. Ngirim berita pakai internet. Sering makan di KFC, McDonald, pakai mobil bikinan orang kafir, di rumah juga hampir semua barang adalah produk orang kafir, pemilihan umum juga tatacara kafir, nonton TV, pakai handphone … dll semua hasil produk orang kafir. kita dikepung oleh segala hal yang “berbau kafir”, Kyai!”
    “Hmmm…”
    DstÂ…dstÂ….
    Silakan bikin sendiri dialognya sesuai dengan kenyataan sehari-hari. Saya berpikir alangkah sulitnya hidup jika hal-hal yang semacam ini kita mesti tanya kepada ulama yang tentu saja tidak bisa bersikap ‘moderat’ dan harus selalu ‘berlandaskan kepada Al-Qur’an dan Hadist”. Saya tidak menyalahkan para ulama yang ‘terpaksa’ menjawab semampunya karena mereka tidak menemukan argumentasi yang memadai berdasarkan kitab-kitab yang mereka miliki. Adalah kesalahan kita yang terlalu memaksakan diri untuk menanyakan segala hal kepada ulama, yang kita pikir memiliki semua jawaban dari permasalahan dunia dan akhirat. Padahal mereka juga manusia biasa seperti kita yang memiliki keterbatasan-keterbatasan. Mereka bukanlah nabi yang kata-katanya pasti benar belaka. Bahkan Rasulullah pun tidak selalu benar dan menyerahkan masalah-masalah sehari-hari kepada kita untuk menjawabnya. Ada riwayat tentang itu dimana Rasulullah menjawab, :”Engkau lebih tahu mengenai masalah itu.” Rasulullah memang tidak diutus untuk hal-hal remeh dan mesti menjawab semua permasalahan umat.
    Di milis Sabili saya ingin berbagai pemikiran dan mulai sedikit demi sedikit mengajak saudara-saudaraku untuk berani mengemukakan pendapat dan tidak selalu harus ikut apa katanya “kyai” di Sabili, atau di manapun. Tidaklah mungkin saya mengajak sesama muslim untuk kafir ataupun sesat. Kita tidaklah ‘sebodoh’ seperti yang kita kira. Kita telah belajar cukup banyak dan jika kita tidak pernah berani berpendapat bertentangan dengan ‘ulama’ maka Islam tidak akan pernah berkembang. Pemikiran akan jumud dan kita akan selalu tertinggal dibandingkan umat-umat lain. Sekarang ini pun sudah kita alami.
    2. Saya bukan hanya mengucapkan “Selamat Natal” tapi juga selamat hari raya kepada umat lain, bahkan mengucapkan “Gong Xi Fat Choi” kepada teman-teman yang merayakan. Saya mengucapkan ini bukan karena ada perasaan tidak enak kepada teman yang beragama lain kalau tidak mengucapkannya atau seabgai basa-basi. Saya tidak perduli dengan basa-bas, apalagi merasa tidak enak. Kalau bagi saya baik ya saya lakukan dan kalau tidak ya saya tinggalkan dan tidak terlalu perduli apa kata orang. Saya memutuskan sendiri hal-hal ‘remeh’ macam begini dan tidak bergantung pada pendapat orang lain.
    Mengapa saya menugucapkan semua itu? Karena saya ingin melakukan hubungan baik dengan sesama manusia, meski berlainan agama. Dan ini adalah ajaran agama Islam. (“Bukankah kita bisa tetap berhubungan baik tanpa mengucapkan selamat natal, dll?”) Bagi saya, mengucapkan selamat natal sama maknanya dengan mengucapkan “selamat atas kelahiran anak Anda, selamat atas promosi yang Anda peroleh, selamat ulang tahun, dll”
    3. SamiÂ’na wa atoÂ’na. Ini istilah yang paling banyak disalah artikan. Seolah-olah semua yang disampaikan oleh para ulama atau kyai harus diikuti semua pendapatnya. Pendapat ulama bukanlah hukum yang wajib dipatuhi sebagaimana kita patuh pada perintah Tuhan. Ulama hanyalah menginterpretasikan hukum dan aturan Tuhan seperti yang termaktub dalam Al-QurÂ’an dan Hadist. Mereka dianggap lebih otoritatif karena mereka memiliki ilmu yang lebih tingi daripada kebanyakan orang dalam hal penafsiran Al-QurÂ’an dan Hadist. Tapi itu tidak berarti bahwa apapun yang mereka tafsirkan dijamin benar.
    Perlu dipahami oleh umat islam bahwa tidak dalam segala hal para sahabat “Sami’na wa ato’na” meski kepada Rasulullah. Para sahabat adalah orang-orang yang juga kritis dan tidak sekedar “Sami’na wa ato’na”. Ada riwayat tentang itu. Suatu ketika dalam sebuah perjalanan yang dipimpin sendiri oleh Rasulullah diputuskan untuk berhenti dan mendirikan kemah. Rasulullah kemudian memerintahkan rombongannya untuk berhenti di suatu tempat.
    Mengetahui hal tersebut para sahabat bertanya apakah pemilihan tempat tersebut berdasarkan wahyu dari Tuhan atau sekedar pendapat Rasulullah sendiri? Dijawab oleh Rasulullah bahwa itu pendapat pribadinya dan tidak ada wahyu tentang hal tersebut. Mengetahui hal tersebut para sahabat kemudian mengusulkan agar perkemahan dibuka di lokasi lain yang dekat dengan mata air. Rasulullah kemudian setuju dan tempat perkemahan didirikan sesuai dengan anjuran para sahabat.
    Dari sini kita tahu bahwa tidak semua perintah Rasulullah diikuti begitu saja oleh para sahabat. Ini juga berarti bahwa tidak semua hal yang diputuskan oleh Rasulullah adalah berdasarkan wahyu. Ini juga berarti bahwa tidak semua keputusan Rasulullah yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari adalah yang terbaik, meskipun untuk kondisi saat itu.
    Nah! Kembali ke masa kini, bagaimana mungkin kita akan “sami’na wa ato’na” terhadap apapun yang difatwakan MUI lha wong dalam penetapan Iedhul Fitri dan Iedul Adha saja mereka ‘tidak berdaya’? Kasus berbedanya hari lebaran sebetulnya harus membuka mata kita bahwa kita tidak bisa menyerahkan bulat-bulat segala hal kepada MUI lha wong hal yang ‘remeh’ aja mereka nggak bisa sepakat.
    4. Pendapat Anda “Natal itu adalah “Akidah”: kristen, bukan Mitos” mengandung kesalahan. Jelas sekali bahwa tanggal 25 Desember yang mereka anggap sebagai hari lahir Yesus ternyata memang mitos dan tidak benar. Sekarang ini hampir semua orang Kristen sudah sadar bahwa Yesus tidak mungkin lahir pada tanggal 25 Desember waktu itu. Jadi ini sudah pendapat umum. Ini adalah mitos yang terbukti salah. Lho! Kan Anda sendiri tidak percya bahwa tanggal 25 Desember adalah hari lahir Yesus?
    Pendapat Anda lainnya “Jadi karena ini akidah, maka mengucapkan selamat, yha sama saja meng AMIN kan akidah mereka” dengan sendirinya GUGUR. Ada dua kesalahan logika disini. Pertama, pada frasa “karena ini akidah” sudah salah karena ini bukan akidah. Bagi umat Nasrani sekarang ini (apalagi mayoritas orang-orang Barat) merayakan natal tidak lagi berhubungan dengan keyakinan bahwa Yesus itu Tuhan. Silakan tanya kepada hampir semua orang Barat yang merayakan natal maka And akan temui jawaban bahwa natal hanyalah tradisi. Jadi sama dengan tumpengan, syukuran, Sekatenan, dll perayaan lainnya. Kedua, “mengucapkan selamat sama dengan mengAMIN kan akidah mereka” jelas tidak punya pijakan logika lagi. Ucapan tersebut sama dengan ucapana selamat ulang tahu, selamat naik pangkat, turut berduka cita atas kematian keluarga Anda, dlsb. Dan tidak ada hubungannya dengan akidah. Inilah yang saya maksud sebagai MITOS. Kira mempercayai bahwa mengucapkan selamat natal adalah merusak akidah, padahal tidakada hubungannya dengan akidah, baik akidah mereka maupun akidah kita. No correlation at all.
    5. Saya mengucapkan terima kasih atas ajakannya untuk belajar pada para guru yang Anda anggap memiliki ilmu yang tinggi tersebut. Saya senang sekali bisa belajar pada orang-orang yang hebat. Tapi saya tidak bisa ‘sami’na wa ato’na’ pada mereka begitu saja sebagaimana yang lain. Saya ingin guru yang bisa diajak berdiskusi dan mau menerima kebenaran dari siapapun dan bukan hanya membenarkan pendapatnya sendiri. Kebanyakan guru yang saya temui, utamanya kalau sudah disebut ‘ulama’ atau ‘kyai’, hanya membenarkan pendapatnya sendiri dan tidak bisa menerima pendapat orang yang dianggapnya ‘santri’nya. Saya terutama juga sering ‘sebel’ pada pemuka agama yang hantam kromo dengan ayat-ayat dan hadist. Pokoknya kalau sudah mengeluarkan ayat dan hadist maka sudah tentu benar meski sebenarnya tidak ada hubungannya.
    Nah! Apakah para guru Anda bersedia jika sewaktu-waktu saya bantah dan saya tanyai “apakah itu wahyu atau pendapat pribadi?” sebagaimana para sahabat terhadap Rasulullah?
    6. Last but not least, mohon agar sikap saya ini tidak dianggap sebagai “kesombongan” dan tidak bersedia menerima kebenaran karena “Kebenaran yang hakiki hanyalah dari Allah” dan manusia (apakah itu kyai, ulama, imam, dan hatta itu Rasulullah) bisa salah.

    Sekian dan terima kasih atas tanggapannya
    Wassalam
    Satria

  3. Cak Satria, sejak kapan sampean dadi kiai ngene iki? Lhadalah, sampean iki praktisi pendidikan. Hengkang teko Dewan Pendidikan Kota Balikpapan jebule saiki ndalil ngene iki.

    Aku ogah nanggapi tulisan peno cak, wedi kualat, abot je. Cuma satu hal yang saya sepakat, agama itu ibarat dinding yang membatasi nalar, cara berpikir kita yang kadang nakal. Karena kalau tak ada pembatasan pikiran, saya khawatir malah jadi fasis. (Byuh, adoh temen iki nyimpange rek).

    Yo wis, cak kapan ketemu, ngopi nang warung, diskusi sing enteng-enteng ae, terutama soal carut-marut dunia pendidikan di Kota Balikpapan.

    Matur nuwun, cuma sekadar guyonan.

  4. Mas Ari, terima kasih atas kunjungannya ke web saya. Untuk bisa ngomong begini gak perlu jadi kiai kok. 🙂 Masio praktisi pendidikan yo iso angger gelem moco lan mikir.
    Kegiatan berpikir itu kegiatan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Islam yang tidak berpikir justru bukan Islam.
    Takterusno nek ketemu nang warung kopi ae yo Cak! 🙂
    Salam
    Satria

  5. kalian terlalu ribut membicarakan masalah agama.
    kayak memperebutkan masi sepiring aja. saya orng yang tidak berpendidikan seperti bapak bapak sekalian yg pintar membahas ttng agama yang bapak bapak amut dan yg bapak bapak akui. sakeng pinternya. sampai agama orang pun tak luput dari pembahasan kalian. menurut saya yang bodoh ini ya pak ya. dan guru SD sy juga prnah mengatakan, orang itu hendaknya seperti padi. semakin berisi semakin menunduk. tapi saya gak tau gurunya bapak bapak sekalian.
    saran saya :
    – SEBAIKNYA ANDA DIAM SAJA. ITU LEBIH BAIK DARI PADA ANDA BANYAK BACOT. NGOMONGIN AGAMA ORANG WALAUPUN ITU KATA USTAD ATAU KATA MUI ATAU APALAH ITU. INGAT SEMUA ITU MANUSIA BKN ALLOH ATAU ALLAH ATAU TUHAN ATAU APA SAJA SEBUTAN KALIAN. SAYA BUKAN ORNG YG BERIMAN SAYA BUKAN SALAH SATU DARI AGAMA YG KALIAN PERBINCANGKAN, YANG SAYA MAU BAHAS ADALAH APAKAH KALIAN SEMUA SUDAH TDAK PRNAH BERBUAT DOSA>>
    APAKAH KALIAN DENGAN MENGGUNJINGKAN AGAMA ORANG TIDAK TERMASUK DOSA. TLNG DIPIKIRKAN. SAYA RASA KALIAN TIDAK JAUH BERBEDA DARI SAYA. SAYA, kalau anda sudah seperti saya ya sapi mawon to mas. sama sama buruk saya sdh 6 kali manili anak orng. tp tdk ada yang saya nikahi.
    saya rasa anda sama kayak saya. ngaku ajalah. sama kan?? cuma bedanya anda menghamili agama orang.
    – sepertinya anda begitu meyakina agama anda. dan terlalu. sakeng yakinnya anda sehingga apa yg agama yg lain punya anda seperti orang yg sirik gtu. kayak orang yang tidak mau disaingi. padahal saya yakin anda tdk prnah tau wujud tuhan yg anda yakini itu sebagai yg maha segalanya. iya kan??
    anda hanya ikut ikutan,
    seandainya saya tanya kepada anda. mengapa anda masuk islam. tentu saja salah satu dari jawaban anda karena org tua anda islam. itu berarti anda beragama islam suatu kebetulan saja mas, karena kebetulan org tua anda islam. makanya anda belajar agama islam. seandainya anda dilahirkan istri seorang pastur atau pendeta. tentu anda akan beragama kristen. betul tidak mas. anda lupa ttng hal itu kan?? setelah anda dilahirkan dari keluarga yg beragama kristen apa mas setelah besar akan merubah sendiri agama nya mas??
    mustahil mas. pasti mas mas yg ganteng ini akan sujud digreja bukan dimasjid. maaf mas mas yg ganteng. saya tdk sengaja membaca coretan coretan anda diatas. saya yg bikan beragama islam maupun kristen aja tdk setuju dgn coretan2 itu.
    okeeeeeey………………!!!
    silahkan lanjuuuuuuuuuuuuut…………!!
    wekwekwekwekekekekekekek

  6. omongan aku ngawur ya??
    ya saya bisanya cuma begitu doang lho mas
    sukur2 bisa ngetik sdh salah salah lg tulisannya. maklum tulisan orang kampungan. tdk setaran dgn pola pikir mas mas sekalian.,

    wah sudah ah malah aku yg cerewet.
    mending cari cwek cantik
    dari pada bahas agama kagak ada habisnya
    kayak org beriman aja,
    ujung2nya ketemu dineraka nanti kita semua.
    okey mas mas. sampai ketemu dineraka yach………. !!
    daaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

  7. kalo menurut gw yg org awam nie, gw simpulkan dr tulisan pak darma, kta tuh justru jgn cma ikut2 an aja. sok2 ekstrem, padahal ga ngerti apa2..

    sebenarnya bukan masalah ucapan natalnya, tpi skap fanatik sempit yg d miliki umat beragama yg lugu2 ini

    inget ga semua kristen yg merayakan natal..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.