Sabtu, 23 Februari 2020
Just another WordPress site
SAFARI LITERASI ACEH PART 2

Pagi ini saya mendarat di Sultan Iskandar Muda International Airport Banda Aceh utk melakukan Safari Literasi yang Kedua. Tepat dua tahun yg lalu saya melakukan Safari Literasi di lima kabupaten di Prop. Aceh dan kisahnya bisa dibaca di sini dan sini

Kali ini saya akan kembali diundang oleh Pak Imran, Ketua IGI Propinsi Aceh, utk melakukan Safari Literasi Part 2 ke lima kabupaten lagi.

Siang ini kami akan memulai perjalanan ke Aceh Utara sebagai destinasi pertama yang berjarak sekitar 5 jam perjalanan. Besok setelah presentasi kami akan ke Lhok Seumawe. Dari Lhok Seumawe kami akan balik menuju ke Banda Aceh. Dari Banda Aceh menuju ke Kab. Aceh Barat dan terakhir pada hari Sabtu ke Aceh Barat Daya.

Saya yakin perjalanan ini akan sangat menyenangkan karena kami dapat pinjaman mobil dinas, ditemani oleh tambahan driver yaitu Faiz anaknya Pak Imran, dan yang terpenting ditemani oleh istri saya.

21 Nop 2016

DAY 1

Presentasi pertama saya pada Safari Literasi Aceh Kedua ini adalah di Lhok Sukon, Aceh Utara. Acara ini dihadiri oleh lebih dari 250 peserta yg sebagian besar adalah para kepala sekolah di Aceh Utara.

Sorenya mengisi workshop di SMAN Tanah Jambu Aye pada para guru SD, SMP, dan SMA.

Ada satu pertanyaan menarik dari salah seorang penanya. Pertanyaannya begini : Jika pemerintah atau Kemendikbud benar-benar menginginkan agar sekolah bisa melaksanakan dan membangun budaya baca pada siswa lantas mengapa Kemendikbud tidak mengirimkan buku-buku bacaan bagi siswa ke sekolah?

Ini pertanyaan yg benar-benar menohok dan tidak terduga.

Iya, ya…! Kalau pemerintah benar-benar ingin agar siswa membaca di sekolah lantas mengapa pemerintah tidak mengirim buku bacaan ke sekolah dan mengharap agar sekolah mencari sendiri buku-bukunya?

Ada yg bisa bantu saya utk menjawabnya atau sebaiknya kita kirim pertanyaan ini ke Mendikbud dan para pejabatnya? 😊

DAY 2. KOTA LHOK SEUMAWE

Presentasi hari kedua pada Safari Literasi Aceh Kedua saya adalah di Kota Lhok Seumawe, sebuah kota yg pernah gemerlap oleh petro dollar dari dua perusahaan besar PT Arun dan Pupuk Iskandar Muda. Meski demikian kota ini tetaplah kota yg lebih ramai daripada kota-kota lain di sekitarnya.

Presentasi kedua saya kali ini hanya utk kepala sekolah dan guru SD dan SMP. Tak ada guru atau kasek jenjang SMA yang hadir. Yang hadir 90% adalah guru wanita dan semuanya antusias mendengarkan presentasi saya.

Kadis Dikpora hadir utk membuka acara saja tapi seorang anggota DPRK dari Komisi D menyempatkan diri mendengarkan presentasi saya dengan penuh perhatian.
Sekarang menuju ke Banda Aceh…

DAY 3 BANDA ACEH

Presentasi saya hari ini adalah di kota Banda Aceh di depan para guru dan siswa SMAN 8 Banda Aceh.

Baca juga:  TERPURUKNYA PERINGKAT LITERASI KITA. SO WHAT...?!

Seperti biasa antusiasme audiens sangat tinggi dan begitu presentasi selesai pertanyaan demi pertanyaan terus berdatangan.
Ada satu pertanyaan yg unik dari seorang guru asal Pidie. “Mengapa Pak Satria begitu bersemangat dan tekun mempromosikan gerakan literasi di seluruh Indonesia?” Iya, mengapa ya…?!

Guru ini rupanya sudah pernah mendengar presentasi saya dua tahun yg lalu di Pidie ketika program ini belum diadopsi oleh Kemendikbud.

Jadi saya bercerita bahwa keprihatinan saya akan rendahnya budaya baca bangsa sudah muncul ketika saya mulai mengajar di Bontang International School pada tahun 1990. Ketika mengajar di sekolah internasional inilah saya menyadari mengapa mutu pendidikan kita kalah jauh dengan pendidikan negara lain. Selain mutu guru kita yg rendah kurikulum pendidikan kita juga samasekali tidak memedulikan pentingnya kemampuan dan ketrampilan membaca siswa. Lembaga Pearson pernah menyatakan bahwa mutu pendidikan Indonesia itu terendah di dunia karena Indonesia adalah negara yg tidak mewajibkan siswanya membaca. Karya sastra sudah tidak lagi dibaca dan diajarkan di sekolah padahal semua negara lain mewajibkan siswanya utk membaca sejumlah tertentu karya sastra. Hal ini membuat saya gelisah dan bertekad utk melakukan sesuatu. Ini membuat saya keluar dari sekolah internasional dan bertekad membuat sekolah sendiri.

Bertahun-tahun kemudian saya kemudian membuat konsep Gerakan Indonesia Membaca (GIM) yg kemudian kami diskusikan berempat, yaitu Ahmad Rizali, Sudirman Said, Anies Baswedan, dan saya sendiri. Saya dan Ahmad Rizali sdh jadi konsultan Sampoerna Foundation waktu itu dan program Sustained Silent Reading sdh kami terapkan di beberapa sekolah mitra. Sayang sekali bahwa Anies Baswedan lebih memilih program Indonesia Mengajar yg waktu itu sdh ada sponsornya. Maka Anies Baswedan berjalan dengan program Indonesia Mengajarnya dan GIM saya promosikan sendiri dengan biaya pribadi.

Ketika Anies Baswedan menjadi Mendikbud saya mendatanginya kembali dan mengingatkan program yg pernah kami diskusikan dulu. Alhamdulillah beliau bersedia menjalankan program Gerakan Literasi Sekolah ini secara nasional melalui Permendikbud 23/2015.

Jadi saya sangat tertolong dengan naiknya Anies Baswedan menjadi Mendikbud waktu itu. Sekarang program ini menjadi program nasional. Kalau tidak maka program Gerakan Literasi Sekolah ini hanya akan jadi inisiatif pribadi dan organisasi IGI.
😃

Jadi kalau saya ditanya mengapa saya begitu getol mempromosikan Gerakan Literasi Sekolah maka saya akan jawab bahwa itu panggilan jiwa saya utk berbakti pada bangsa dan negara. Tentu saja itu jawaban nggedabrusnya supaya kelihatan keren.
😃 Kalau jawaban sebenarnya ya saya tidak begitu yakin. I just like doing it. That’s all. 😄

Lagipula bisa berkeliling Indonesia with a mission adalah sebuah kesenangan yg luar biasa.

Baca juga:  SURABAYA KOTA LITERASI

24 Nop 2016

DAY 4 MEULABOH

Meulaboh adalah ibukota dari Kabupaten Aceh Barat. Kota ini terletak di pantai barat propinsi Aceh dan pada waktu Tsunami benar-benar porak poranda dihantam banjir dari laut yg setinggi pohon kelapa.

Tapi kini Meulaboh telah menjadi sebuah kota yang cantik dan bekas-bekas Tsunami telah tak nampak lagi. Sungguh senang melihat Meulaboh yg indah, tenang, dan damai ini.

Karena pagi ini ada acara Hari Guru Nasional sekaligus ultah PGRI maka presentasi saya diletakkan setelah sholat Jum’at. Saya ikut menemani Pak Nanda (panggilan dari Pak Rifki, Bupati Meulaboh) pada upacara dan pameran kegiatan sekolah yg meriah ini. Acara ini dihadiri oleh para pejabat daerah seperti Komanda Kodim, Korem, Kapolres, Kejaksasn, dll. Menurut Pak Zulkarnaini, Kadisdik Meulaboh, ini acara pameran pertama yg dilakukan dan beliau kagum dengan antusiasme berbagai sekolah pada acara pameran ini.

Pak Nanda menyatakan sangat ingin agar kabupaten Meulaboh bisa menjadi Kabupaten Literasi dan mengundang saya agar bisa hadir dalam pendeklarasiannya bersamaan dengan ultah Universitas Teuku Umar pada bulan Februari tahun depan. Tentu saja saya sanggupi. Antusiasme seorang kepala daerah semacam inilah yg selalu saya harap-harapkan.

Hal yang lebih menggembirakan adalah pada waktu presentasi saya yang baru dimulai pada jam 15:30. Meski dilakukan setelah adzan Ashar presentasi saya diikuti dengan penuh perhatian oleh Pak Zulkarnaini, Kadisdik Meulaboh. Beliau nampak sangat tertarik pada paparan saya dan berharap agar budaya literasi yg saya sampaikan benar-benar bisa terwujud di kabupatennya.
Saya sungguh bersyukur bahwa kedatangan saya di Meulaboh benar-benar bisa membuka cakrawala pemahaman para pengambil keputusan pendidikan di kota ini. You can expect much with this in the future

Kami meninggalkan Meulaboh sekitar jam 18:30. Setelah sholat Maghrib dan Isya dijamak qashar saya segera ambil alih kemudi utk menuju ke Blangpidie Aceh Barat Daya. Pak Imran Lahore dan Pak Amran adalah tipe pengemudi yang ‘slowly but sure’, yang artinya bisa-bisa kami sampai di Blangpidie tengah malam. Jadi kemudi saya ambil alih agar terjadi sebuah akselerasi. Alhamdulillah di tengah guyuran hujan deras sepanjang perjalanan kami bisa sampai di Blangpidie pada pukul 21:30.

DAY 5 BLANGPIDIE ACEH BARAT DAYA

Blangpidie, Abdya (Aceh Barat Daya) adalah kota terakhir dari kunjungan Safari Literasi Aceh Part 2 saya. Berarti lengkap 5 kota/kabupaten yg sudah saya kunjungi pada safari saya kali ini. Dua tahun yg lalu saya juga mengunjungi 5 kota/kabupaten dan kali ini 5 kota/kabupaten lagi. Artinya saya sudah mengunjungi 10 kota/kabupaten di Propinsi Aceh. Masih banyak kota/kabupaten di Propinsi Aceh yg belum saya kunjungi yang artinya mungkin setelah ini akan ada Safari Literasi Aceh Part 3.

Baca juga:  SAFARI LITERASI 1330 KM

Kab Abdya letaknya sekitar 2,5 jam perjalanan dari Meulaboh. Kabupaten ini sebetulnya sudah mendeklarasikan diri sebagai Kabupaten Literasi beberapa waktu yg lalu dengan bantuan dari USAID. Abdya memang salah satu mitra dari USAID sehingga semestinya program literasi sdh berjalan lebih baik daripada kabupaten lain. Sayang sekali Kadisdiknya tidak bisa hadir pada acara ini sehingga saya tidak bisa mendapatkan informasi lebih lengkap ttg pelaksanaan GLS di Abdya.

Alhamdulillah seminar berjalan dengan lancar dengan jumlah peserta sekitar 150-an guru dan kepala sekolah SD dan SMP yang mendengarkan pemaparan materi saya dengan antusias. SMA dan SMK tidak diundang karena menurut Sekertaris Disdik mereka skrg sdh menjadi wewenang propinsi.

Sayang sekali kami tidak bisa berlama-lama di Abdya karena kami harus kembali ke Banda Aceh yg perjalanan daratnya bisa memakan 8 jam lebih. Kalau kami terlambat berangkat alamat kami akan masih berada di jalanan pada waktu malam sudah turun. Saya sungguh tidak ingin perjalanan malam pulang ke Banda Aceh ini. Apalagi ada 3 jalur jalan yang melalui pebukitan yg berkelok-kelok turun naik dan sangat sempit. Kalau malam tiba dan kami terjebak di jalanan tersebut sungguh berabe.

Jalanan tersebut sungguh sempit apalagi jika di belokan dan kita berpapasan dengan truk besar. Ini jalan satu-satunya jadi semua truk besar juga harus melalui jalan berkelok-kelok naik turun pebukitan tersebut. Saya heran melihat betapa truk besar dan panjang bisa melalui jalanan yg berkelok dan sempit tsb. Waktu berangkat kami sedikit terhambat karena ada truk panjang yg berpapasan dan terpaksa tidak bisa lewat sehingga perlu dipandu oleh polisi pelan-pelan dan jalanan dihentikan dari dua arah.

Karena tidak ingin kemalaman di jalan maka selesai makan siang kemudi saya ambil alih dan saya tancap gas. Pak Amran bilang bahwa selama ini ia mengendarai mobilnya hampir tidak pernah masuk gigi 5 tapi saya hampir selalu pakai gigi 5. Jalanan sebetulnya cukup bagus dan lebar. Hanya ada sedikit jalanan yang sempit tapi ada 3 jalan perbukitan yg terjal di mana sisi kirinya jurang dan sisi kanannya gunung berbatu. Alhamdulillah waktu kami lewat semuanya lancar. Tidak ada truk besar yg lewat dan jam 18:00 kami sudah masuk Banda Aceh.

Kami bersyukur bahwa kami sudah melewati perbukitan ketika iring-iringan truk panjang membawa paku atau pasak bumi baru mau lewat dipandu polisi. Saya tidak bisa membayangkan perjalanan kami pasti akan terhenti cukup lama utk memberi mereka waktu utk melewati jalan pebukitan yg berkelok turun dan naik tsb. Alhamdulillah…!

26/11/2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *