Sabtu, 22 Februari 2020
Just another WordPress site
HONOR

Kadang-kadang saya diberi honor jika memberi presentasi tentang literasi. Sebenarnya itu tidak perlu. Saya benar-benar menikmati berpresentasi atau berpromosi tentang pentingnya membaca dan bagaimana menggerakan budaya literasi di sekolah. Itu sudah semacam hobi yang bahkan saya bersedia untuk membayar agar bisa melakukan hobi tersebut. Kadang-kadang saya sebut ‘jihad’ agar terdengar heroik dan sekaligus relijius. Tapi sebetulnya tidak sespiritual itu kok! It’s something I really enjoy sedangkan jihad itu semestinya harus berat, rumit, dan mengorbankan begitu banyak hal (malah termasuk jiwa lho katanya!). Lha wong yang saya kerjakan ini cumak nggedabrus di podium gak lebih dari dua jam kok. Saya bahkan lebih berkeringat kalau makan ketimbang berpresentasi. Semakin banyak dan penting audiensnya semakin bersemangat saya untuk datang. Jika diberi honor kadang saya terima tapi seringkali juga saya tolak. Ketika di Pasuruan saya menolak tapi ketika di Barpus kemarin saya menerima. Saya tidak bisa menerima honor dari sekolah berbasis agama macam di Pasuruan tersebut tapi mesti menerima honor dari Barpus ini.

“Ini ada anggarannya, Pak. Ini memang program pemerintah yang ada anggarannya. Jadi mohon jangan ditolak.” demikian kata mereka.

Ketika saya tandatangan saya terkejut.

Untuk presentasi yang berdurasi dua jam tersebut saya menerima honor 2 juta lebih. Bukan sekali ini saya terima honor dari Barpus tapi ini honor yang terbesar (tentu saja ini bukan honor terbesar yang pernah saya terima sebagai seorang lelaki panggilan. Saya sering menerima honor berlipat-lipat dari angka tersebut)

“Kok besar honornya…?!” seru saya. “Ada apa…?!

“Iya, Pak. Biasanya Pak Satria kan selalu membantu kami secara sosial. Jadi sesekali kami memberi honor yang agak pantas,” kata mereka sambil tersenyum. Saya tertawa dan mereka juga turut tertawa.

Baca juga:  BAGAIMANA MUNGKIN KITA MENGHARAPKAN SISWA YANG MEMBACA JIKA SEKOLAH TAK PUNYA PERPUSTAKAAN YANG MEMADAI...?!

Ah, senangnya dapat duit…! Kadang-kadang orang di sekitar saya ciprati honor tersebut dan mereka juga senang kecipratan uang honor tersebut. Itu baru kecipratan. Bayangkan kalau sering kegrojokan kayak saya…! 😀

Meski pun saya tidak butuh uang saya membayangkan betapa besarnya arti uang ini bagi orang-orang tertentu. Dengan uang sebesar ini mereka bisa memenuhi kebutuhan yang sudah tertahan lama, membayar utang yang sudah jatuh tempo, membayar kewajiban yang mesti ditunaikan. Ada beberapa orang teman yang sering minta uang pada saya sekedar untuk keperluan sehari-harinya yang tidak lebih dari seratus atau dua ratus ribu. Dan ketika saya beri mereka merasa seolah bumi yang sempit ini jadi lapang kembali. Ada yang mesti bayar uang kuliah tapi kurang sekian ratus dan ketika saya beri ia merasa seolah gelar dan ijasah sudah menunggu. Jadi dua juta adalah uang yang bernilai besar. Ada teman akrab yang jika perlu pinjam uang pada saya sebesar itu maka ia harus menebalkan mukanya beberapa senti dan membuat kisah yang cukup memilukan agar saya jatuh simpati padanya. Siapa yang tidak ingin dapat duit seperti saya? Ngacapruk tentang materi yang sudah berulang-ulang saya sampaikan (sehingga sudah seperti kaset yang disetel ulang rasanya) tidak lebih dari dua jam dan dapat honor dua juta. Ini uang yang besar. Sungguh…!

Dalam keadaan begini saya sering takjub dengan mekanisme yang dilakukan oleh Tuhan dalam melimpahkan rejeki, berkah dan rahmatNya. Meski tahu bahwa uang honor tersebut tidak saya perlukan tapi tetap saja uang itu dititipkan pada saya untuk digunakan terserah saya. Tuhan ingin membebani saya dengan tugas yang menyenangkan agar saya mau tetap bersyukur padaNya. Mungkin ini berkat doa saya yang dikabulkan. Saya tidak berdoa, “Ya Tuhan berilah saya kekuatan dalam menerima cobaanMu.” tapi berdoa, “Ya Tuhan, masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.” Kalau saya berdoa diberi kekuatan insya Allah akan diberi kekuatan. Tapi ya itu…saya akan diberi cobaan terus juga supaya kuat. 😀 Tapi kalau saya berdoa agar masuk dalam golongan yang bersyukur maka tentulah saya akan diberi limpahan berkah, rahmat, dan karuniaNya terus menerus agar bisa saya syukuri. Ya seperti sekarang ini contohnya. 🙂

Baca juga:  HARI-HARI KAMPANYE LITERASI

Surabaya, 17 Pebruari 2016
Salam,

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *