Jumat, 17 September 2021
Satria Dharma's Weblog
MINDSET

Ini adalah buku yang sangat bagus. Begitu bagusnya sehingga saya tidak ingin menghabiskannya seketika. Saya ingin mengunyahnya pelan-pelan dan menikmati setiap kalimat dan paragraph yang ada di dalamnya. Saya ingin berlama-lama menikmatinya. Buku ini sungguh sangat maknyus…!

Buku ini berbicara tentang ‘mindset’atau pola pikir manusia. Dalam buku ini manusia dibagi menjadi dua jenis, yang berpola pikir tetap (fixed mindset) dan yang berpola pikir berkembang (growth mindset). Pada intinya buku ini menulis tentang kelebihan orang-orang yang memiliki mindset yang tumbuh dan bahayanya memiliki mindset yang tetap.

Apakah Anda percaya bahwa apa yang kita yakini tentang diri kita memengaruhi kesuksesan atau kegagalan kita? Menurut psikolog Stanford Carol Dweck, penulis buku ini, keyakinan kita tentang diri kita memainkan peran penting dalam apa yang kita inginkan dan apakah kita bisa mencapainya atau tidak. Dweck menjelaskan bahwa pola pikir kitalah yang memainkan peran penting dalam menentukan pencapaian dan kesuksesan dalam hidup kita. Mindset atau Pola Pikir adalah seperangkat keyakinan yang membentuk cara kita memahami dunia dan diri kita sendiri. Ini memengaruhi cara kita berpikir, merasa, dan berperilaku dalam situasi apa pun.

Menurut Dweck, jika kita memiliki mindset tetap, kita percaya bahwa kemampuan kita adalah sifat yang tetap dan karena itu tidak dapat diubah. Kita mungkin juga percaya bahwa bakat dan kecerdasan kita sendiri yang mengarah pada kesuksesan, dan usaha tidak diperlukan. Sebaliknya, jika kita memiliki mindset berkembang, kita percaya bahwa bakat dan kemampuan kita dapat dikembangkan dari waktu ke waktu melalui usaha dan ketekunan. Orang dengan pola pikir ini tidak serta merta percaya bahwa setiap orang bisa menjadi Habibi atau Diego Maradona hanya karena mereka terus mencoba. Namun, mereka percaya bahwa setiap orang bisa menjadi lebih pintar atau lebih berbakat jika mereka terus mengerjakannya.

Pola pikir kita memainkan peran penting dalam cara kita mengatasi tantangan hidup.

Dalam menghadapi kesulitan dan kegagalan orang dengan mindset berkembang melihatnya sebagai kesempatan untuk belajar dan tumbuh. Di sisi lain, mereka yang memiliki pola pikir tetap lebih cenderung menyerah dalam menghadapi situasi yang menantang atau yang memberikannya kemungkinan gagal mengerjakannya. Mereka hanya mau mencoba jika yakin mereka akan berhasil. Jika tantangan semakin sulit mereka akan memilih untuk tidak melanjutkan karena takut gagal.

Baca juga:  TRAGEDI NOL BUKU: TRAGEDI DI DUNIA PENDIDIKAN INDONESIA

Saya punya dua orang teman yang mungkin bisa menggambarkan apa itu ‘fixed mindset’ dan ‘growth mindset’. Dua teman saya ini adalah orang-orang yang sama-sama cerdas.

Dua teman saya ini mencapai karier yang sangat bagus pada usia 30-an. Yang satu berhasil menjadi seorang perwira di TNI AU dan tampaknya kariernya sudah jelas akan terus menanjak. Ia juga mendapatkan fasilitas perumahan perwira di kompleks di mana ia ditempatkan. Everything seems right. Teman yang satu lagi juga demikian. Ia berhasil diterima di sebuah perusahaan multi nasional dengan gaji tinggi dan fasilitas yang sangat menggiurkan. Masa depan mereka berdua sudah jelas cemerlang dan kehidupan mereka akan nyaman.

Tapi tiba-tiba mereka berdua memutuskan untuk keluar dari pekerjaan mereka pada saat yang berbeda. Si perwira tidak jelas mengapa keluar. Rumor mengatakan bahwa ia tidak sepakat dengan kebijakan atasan atau instansinya dan ia memilih keluar. Egonya mendorongnya untuk memenangkan harga dirinya dan keluar dari pekerjaannya. Satunya, Si Nekad, memilih keluar karena ingin mencari tantangan baru dalam hidupnya. Sebuah alasan yang mungkin tidak masuk akal bagi orang lain. Mengapa mencari tantangan baru ketika kita sudah berada dalam sebuah lingkungan dan sistem pekerjaan yang begitu nyaman dan menjanjikan kejayaan? Apalagi yang mau dicari? You look stupid, you know.

Apa yang terjadi setelah mereka keluar? Si Perwira tidak pernah lagi mendapatkan pekerjaan atau mencapai posisi seperti yang ia dapatkan semula. Bahkan ia berhenti untuk berupaya mencari pekerjaan lain karena merasa apa pun yang akan ia kejar tidak akan mungkin bisa menggantikan apa yang telah ia tinggalkan. Ringkasnya, ia takut gagal dan memilih untuk tidak mencoba lagi. Kemungkinan bahwa ia akan gagal mencapai sebuah posisi dan karier sebaik yang ia tinggalkan membuatnya takut untuk mencoba apa pun. Ia memilih untuk tidak mencoba dan tidak melakukan apa-apa. Ia memang tidak mencapai apa pun bukan karena ia tidak bisa atau gagal tapi karena ia tidak mencoba. Setidaknya ia senang karena merasa tidak gagal dalam berusaha. Ia memilih tidak pernah gagal karena tidak pernah mencoba lagi. Kariernya sebagai perwira adalah puncak dari keberhasilan hidupnya dan ia tidak ingin mencoreng prestasinya tersebut dengan mencoba bekerja lain-lain yang mungkin tidak akan pernah sebagus atau sehebat menjadi seorang perwira TNI.

Baca juga:  SINGAPURA RIWAYATMU KINI

Si Nekad memilih keluar dari pekerjaan kerennya justru ketika berada di usia hampir 40 tahun. Ia bahkan memilih untuk mulai bekerja dari nol lagi. Benar-benar dari nol. Tapi kali ini ia tidak lagi bekerja pada siapa pun atau pada perusahaan apa pun. Ia mendirikan usahanya sendiri. Justru karena ia mulai dari nol lagi maka ia sangat bersemangat untuk mengejar apa yang telah ia tinggalkan sebelumnya. Ia tidak merasa bahwa apa yang telah dicapainya sebelumnya tersebut adalah puncak dari kariernya. Ia selalu merasa yakin bahwa masih banyak peluang lain yang terbuka jika ia ingin bekerja keras. Ia selalu yakin dengan dirinya bahwa ia akan meraih kesuksesan sepanjang ia mau berusaha keras untuk itu. Dan ia berhasil membuktikan dirinya. Apa yang diperolehnya saat ini jauh lebih baik daripada apa yang mungkin ia peroleh jika ia bertahan di perusahaan multi nasional tersebut.

Teman saya Si Perwira ini contoh orang yang memiliki ‘fixed mindset’ sedangkan Si Nekad memiliki ‘growth mindset’. Meski mereka berdua adalah orang-orang yang sama cerdasnya tapi pola pikir mereka terhadap tantangan dan keberhasilan hidup mempengaruhi apa pandangan mereka tentang kesuksesan dan bagaimana menghadapi tantangan hidup. Si Perwira takut mengalami kegagalan dan memilih untuk tidak mencoba menghadapi tantangan baru. Akhirnya hari-harinya diisinya dengan tidak melakukan apa-apa atau mencoba hal baru. Ia tidak mampu keluar dari bayang-bayang ketakutannya akan gagal dalam mencoba hal baru. Sebaliknya, Si Nekad justru senang menghadapi tantangan baru dan menikmati setiap kesulitan yang ia hadapi dalam pekerjaan barunya. Ia justru merasa bergairah jika menghadapi hal-hal baru dan tantangan baru dengan jenis kesulitan baru yang harus ia atasi. Baginya tidak ada puncak kesuksesan. Ia hanya menikmati setiap tantangan dan kesulitan dan tidak pernah merasa bahwa menyelesaikan masalah adalah kesuksesan. Baginya itu hanya konsekuensi dari upayanya untuk menyelesaikan masalah dalam pekerjaannya. Ia tidak terlalu peduli dengan konsep kesuksesan.

Nah, apakah kita termasuk manusia dengan tipe ‘fixed mindset’ atau ‘growth mindset’? Apakah kita termasuk golongan orang yang takut menghadapi kegagalan dan kesulitan atau orang yang bergairah menerima kesulitan baru dalam hidup? Pernah baca kisah tentang Pangeran yang membunuh naga dan kemudian memperistri putri Raja? Apakah kita termasuk orang yang mendambakan kisah menjadi Pangeran yang berhasil membunuh naga dan memperistri putri Raja? Kemudian kita berharap hidup bahagia selama-lamanya di istana? Bagaimana jika ternyata masih ada naga-naga lain yang harus dihadapi oleh pangeran tersebut? Apakah Anda masih ingin menjadi Sang Pangeran dengan resiko harus terus menerus keluar dari istana Anda yang nyaman untuk kembali bertempur melawan naga-naga yang juga terus menerus keluar dari berbagai goa? Bagaimana kalau kali ini kita yang dihajar habis-habisan oleh naga? Kok naga ini gak ada habisnya sih? Gak capek apa mengganggu istana terus menerus?

Baca juga:  POLISI ALERGI ISLAM

Jika kita merasa capek harus terus menerus melawan naga dan akhirnya memilih jadi petani saja yang tidak perlu memikirkan bagaimana membunuh naga lain maka kita termasuk manusia dengan ‘fixed mindset’. Dengan menjadi petani kita tidak perlu menghadapi naga dengan kemungkin terpanggang oleh semburan apinya alias gagal. Tapi jika kita mau menerima fakta bahwa naga yang harus dibunuh agar kita bisa hidup berbahagia bukan hanya satu dan bahkan kita tidak tahu berapa banyak naga lain yang ada, dan masih tetap bersedia menjadi Pangeran Pembunuh Naga, maka kita termasuk manusia dengan ‘growth mindset’. Kita tidak takut dengan kegagalan menghadapi naga-naga yang terus datang mengganggu istana kita. Berhasil membunuh satu naga bukanlah puncak atau akhir dari kisah kita karena masih banyak naga-naga lain yang akan keluar dari goanya suatu saat nanti. Kagak peduli. Kapan pun naganya mau datang akan kuhadapi. Pedang harus tetap diasah dan baju perang harus tetap diminyaki agar tidak berkarat. Memang begitu resikonya jadi Pangeran di kerajaan ini. Kecuali kalau ente ingin hidup sederhana seperti petani.

Jadi kira-kira Anda mau pilih peran yang mana?

Atau barangkali Anda mau mengubah kisahnya dan berpikir untuk menjadi naganya saja. Tinggalnya di goa dan kalau lagi iseng keluar untuk mengobrak-abrik istana. Kayaknya kok menyenangkan juga.

Tapi itu tidak dibahas di buku ini. Silakan baca komiknya HC Andersen.

Surabaya, 15 Agustus 2021

Satria Dharma

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *