Sabtu, 09 Agustus 2020
Just another WordPress site
FINLAND IN PRIVATE

Apa perbedaan sistem pendidikan di Indonesia dan di Finlandia?

Anak-anak di Finlandia dipersiapkan sejak dini untuk menghadapi kehidupan nyata atau kehidupan sehari-hari yang akan mereka hadapi nanti. Mereka dilatih untuk menggunakan tangan dan pikirannya dalam bekerja. Anak-anak Finlandia dilatih untuk menjadi trampil dalam hidup. Sistem pendidikan mereka menjadi terbaik bukan karena tidak ada PR atau karena jumlah pelajarannya yang sedikit tapi karena visi dan cara menyiapkan anak-anak mereka menjadi generasi yang sehat, berpikir logis, literat, trampil, dan matang secara sosial dan emosional.

Apa yang saya tulis di atas adalah kutipan dari pengalaman langsung Ibu Rika Rachmita Sujatma, seorang Kepala Sekolah di Subang, yang baru saja mengunjungi Finlandia dalam rangka mengikuti konperensi ASEF ClassNet Conference on Gender Quality: Reprogramming STEM Education pada 27-30 Nopember 2018 di Helsinki dan Espoo Finlandia. Saya sangat beruntung dikirimi bukunya yang berjudul “Finland in Private: Mengungkap Rahasia Sukses Pendidikan Finlandia”. Bukunya sangat menarik mengisahkan bagaimana proses beliau menerima surat undangan, mengurus visa, berangkat sendiri ke Helsinki dengan transit di Istanbul, Turki, mengunjungi sekolah, mengikuti konperensi hari per hari sampai kepulangannya kembali ke tanah air.

Ibu Rika menuliskan kisahnya dengan sangat menarik dan sangat detil sehingga membuat saya benar-benar terpaku membaca kisah-kisahnya. Saya benar-benar kagum pada kemampuannya mengingat setiap detil dan kemudian menuliskannya kembali dengan begitu baik. Saya sendiri tidak akan mampu mengingat-ingat detil dan hal kecil kemudian menuliskannya kembali sebaik beliau. Tidak salah kalau beliau sering menulis artikel di berbagai media massa seperti Kompas, Pikiran Rakyat, dan Pasundan Ekspres. Beliau yang berlatar belakang pendidikan bahasa Inggris ini juga menulis karya ilmiah di jurnal nasional dan internasional seperti Saung Guru, Guneman, Asia Pacific Collaborative Education Journal, Country Report pada acara World Teacher’s Day 2014 Unesco. Beliau juga menjadi juara Seleksi Guru Berprestasi Tingkat Nasional 2014, Peserta Terbaik Penulisan Best Practice Guru serta juara Seleksi kepala Sekolah Berprestasi Tingkat Propinsi Jawa Barat tahun 2018 kemarin.

Baca juga:  Bagaimana Kabarmu Hari ini, Nak…?!

Salah satu pelajaran di tingkat dasar adalah Home Economics. Pelajaran ini membekali siswa dengan ketrampilan hidup dasar seperti bagaimana memilih makanan sehat, memasaknya, mencuci dan menyetrika pakaian, menjahit, pertukangan, dan elektro. Saya membayangkan kalau di Indonesia mungkin agak sedikit berbeda. Kalau di Finlandia siswa perlu diajari untuk MEMILIH makanan sehat kalau di Indonesia mungkin MENCARI makanan untuk bisa dimakan hari itu. Just joking

Pada kelas pertukangan siswa harus membuat sebuah karya dan membuat sebuah portofolio penjelasan tentang karyanya tersebut. Mereka harus mendeskripsikan karyanya tersebut tentang bahan yang digunakan, tujuan dan manfaatnya, cara penggunaannya, dan lain-lain. Kegiatan ini merupakan kombinasi yang baik untuk membentuk kreatifitas dan kemampuan literasi siswa.

Saya jadi ingat pada program Festival Literasi Sekolah yang saya terapkan di SMAN 5 Surabaya. Program ini adalah gabungan antara program Literasi Membaca dan Menulis dengan program entrepreneurship atau Kewirausahaan. Bagaimana proses dan hasilnya sila dibaca di https://satriadharma.com/2017/08/05/festival-literasi-sekolah-2017/

Apa hal lain yang menarik yang dilihat oleh beliau selama kunjungan singkatnya tersebut? Beliau kagum pada bagaimana sekolah di Finlandia mengembangkan ketrampilan sosial siswa-siswanya. Para siswa diajarkan untuk mampu dan selalu mengkspresikan perasaannya dengan selalu berpikir positif terhadap orang lain. Ekspresi ini ditulis dan ditempel didinding kelas agar bisa terbaca oleh teman-temannya.

Pernyataan positif ini kemudian dikomentari oleh yang lain dengan cara yang positif pula. Jika itu tentang sesuatu yang menyedihkan maka teman-temannya akan menunjukkan empatinya dan memotivasi sipenulis untuk bangkit dengan tegar. Karena hal ini dilatihkan pada siswa sejak kecil maka empati, kepedulian, dan atensi mereka pada orang lain secara positif kemudian terbentuk dan matang pada usia remaja mereka. Sungguh iri rasanya saya membaca ini. Bangsa kita saat ini sangat memerlukan pola pikir positif dan empati pada orang lain tanpa melihat suku, agama, dan ras. Dan itu tidak bisa tumbuh dengan sendirinya kecuali kita ajarkan pada anak-anak kita.

Baca juga:  GURU YANG MERDEKA

Saya rasa Ibu Rika perlu mengembangkan kurikulum pembelajaran Ketrampilan Sosial ini agar bisa dipakai di sekolah-sekolah kita. Anak-anak kita sungguh perlu diajari sejak kecil bagaimana berpikir positif dan berempati pada orang lain.

Saya tidak akan menceritakan bagaimana serunya konperensi yang diikuti oleh Ibu Rika ini. Yang jelas sangat menarik dan seru. Jika Anda tertarik pada buku ini sila hubungi beliau sendiri di 0813-2168-5076. Buku ini saya rekomendasikan bagi para guru yang ingin juga mendapat undangan untuk ikut konperensi di Eropa dan bagi mereka yang ingin mendapatkan ide-ide pembelajaran yang terbaik dari negara yang dianggap sebagai negara dengan mutu pendidikan terbaik di dunia. “Who dares to teach must never cease to learn“, kata John Cotton Dana.

Surabaya, 30 Maret 2019

Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *