Apakah kita mungkin mendorong siswa di sebuah kota untuk membaca satu juta buku dalam setahun? Tentu saja bisa… Kota Surabaya telah pernah melakukannya.
Pada tahun 2014 Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mendeklarasikan Kota Surabaya sebagai Kota Literasi. Program Surabaya Kota Literasi adalah sebuah gerakan komprehensif yang dicanangkan untuk mengubah kebiasaan masyarakat dari pasif menjadi antusias dalam membaca dan belajar. Inisiatif ini bertujuan meningkatkan minat baca, mendongkrak kualitas Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dan mencetak pembelajar sepanjang hayat.
Deklarasi Kota Literasi dibacakan sejumlah pelajar SD, SMP, SMA, dan SMK, lalu dilanjutkan dengan penandatanganan prasasti oleh Risma didampingi jajaran Forum Pimpinan Daerah Kota Surabaya pada peringatan Hari Pendidikan di lapangan Balaikota Surabaya. Sejumlah poin deklarasi yang dibacakan pelajar tersebut, di antaranya adalah siap menyukseskan Surabaya sebagai Kota Literasi, siap melakukan kegiatan literasi dengan membaca dan menulis setiap hari di sekolah,
Dinas Pendidikan Kota Surabaya pada saat itu meluncurkan program Gerakan Literasi Sekolah (program ini kemudian menjadi program nasional yang diluncurkan oleh Kemendibud melalui Mendikbud saat itu, Anies Baswedan, melalui Permendikbud 23/2015). Tujuan Gerakan Literasi Sekolah adalah menumbuhkan dan menguatkan karakter peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Penumbuhan budaya literasi dan minat baca di sekolah, salah satunya melalui kegiatan membaca 15 menit sebelum pembelajaran dimulai (Sustained Silent Reading). Jadi Dinas Pendidikian Kota Surabaya mewajibkan semua sekolah untuk menyediakan waktu membaca selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Ini membuat siswa membaca dengan rutin setiap hari di kelas masing-masing. Jadi intinya adalah untuk MEMBIASAKAN ANAK UNTUK MEMBACA SETIAP HARI selama minimal 15 menit setiap pagi sebelum mereka memulai pelajaran. Siswa di sekolah Surabaya saat itu dengan rutin dan tekun membaca buku non-teks selama 15 menit sebelum mereka mulai belajar pelajaran sekolah. Dan kewajiban inilah yang akhirnya dijadikan program nasional di seluruh Indonesia melalui Permendikbud 23/2015.
Jadi jika di kota atau di sekolah Anda ada program Gerakan Literasi Sekolah dengan kewajiban membaca 15 menit sebelum pelajaran maka itu adalah implementasi dari program GLS yang dimulai dari Surabaya.
Selain program Gerakan Literasi Sekolah, Dinas Pendidikan Kota Surabaya juga meluncurkan Program Tantangan Membaca Surabaya (TMS). Program ini dirancang untuk memicu peningkatan minat baca pelajar.
Mekanisme Tantangan: Setiap siswa ditantang untuk membaca sejumlah buku wajib non-teks (seperti buku sastra atau buku pengetahuan umum) dalam jangka waktu tertentu. Di Surabaya jangka waktunya adalah setahun. Buku yang dibaca bisa merupakan buku milik pribadi, buku yang tersedia di perpustakaan kelas, atau dapat dipinjam dari perpustakaan sekolah dan Taman Bacaan Masyarakat. Buku itu bisa dibaca saat program membaca 15 menit di kelas atau bisa dilanjutkan membacanya di rumah. Jadi siswa boleh membawa buku perpustakaan kelas mereka untuk dibaca lebih lanjut di rumah untuk memenuhi tantangan membaca buku ini.
Target Berjenjang dan Gerakan “Satu Juta Buku”
Pada pelaksanaannya (dimulai masif sejak TMS 2015), program ini mengusung misi Membaca Satu Juta Buku. Dinas Pendidikan menetapkan target batas minimal buku non-teks pelajaran yang wajib diselesaikan siswa dalam kurun waktu tertentu berdasarkan jenjang sekolahnya:
- Siswa SD/MI: Wajib membaca minimal 20 buku.
- Siswa SMP/MTs: Wajib membaca minimal 15 buku.
- Siswa SMA/SMK/MA: Wajib membaca minimal 10 buku (tingkat kesulitan buku lebih tinggi).
Digitalisasi Pelaporan (Sistem Online)
Untuk memastikan akurasi dan transparansi, Dinas Pendidikan memanfaatkan teknologi dengan menyediakan menu khusus Tantangan Membaca di situs resmi Dispendik Surabaya. Edarannya bisa dilihat di sini : https://dispendiksurabaya.wordpress.com/…/tantangan…/
Skala Partisipasi Massal Berbasis Sekolah
Setiap sekolah di Surabaya (SD dan SMP) diwajibkan mendaftarkan siswanya secara kolektif ke sistem Dispendik Surabaya. Pihak Dinas Pendidikan menyiapkan sertifikat penghargaan khusus bagi seluruh siswa yang berhasil menembus batas minimum tantangan. Ribuan siswa tercatat memenuhi kuota tantangan tersebut setiap periodenya.
Tercapainya Target “Satu Juta Buku”
Gerakan Tantangan Membaca Surabaya (TMS) berhasil mencapai target besarnya, yaitu menggerakkan pelajar se-kota untuk membaca dan mereview lebih dari 1.000.000 (satu juta) buku secara akumulatif selama masa aktif program. Sebagai info, jumlah siswa Pendidikan dasar dan menengah termasuk di bawah Kemenag adalah sekitar 470.000 siswa. Jika hanya 25% saja siswa yang ikut dan setiap mereka membaca 10 buku maka jumlah satu juta buku dengan mudah terlewati.
Siswa yang sukses menyelesaikan tantangan membaca ini akan dianugerahi Sertifikat “Reading Award” resmi yang ditandatangani langsung oleh Wali Kota Surabaya (Bu Risma) serta mendapatkan apresiasi khusus pada momen hari besar seperti Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Penghargaan ini sekaligus menjadi portofolio prestasi bagi para pelajar di Surabaya pada masa itu.
Program literasi masif yang dirintis oleh Wali Kota Tri Rismaharini telah memberikan dampak jangka panjang yang sangat signifikan dan transformatif bagi ekosistem pendidikan serta kualitas SDM di Surabaya. Fondasi kuat “Surabaya Kota Literasi” yang diletakkan sejak tahun 2014 sukses membentuk kultur masyarakat yang literat, yang efeknya masih dirasakan nyata hingga hari ini.
MENINGKATNYA KEGEMARAN MEMBACA
Kota Surabaya menempati peringkat tertinggi untuk Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) di tingkat kota/kabupaten se-Jawa Timur, dengan skor sempurna yaitu 100,00. Secara nasional, provinsi Jawa Timur secara konsisten menduduki posisi lima besar nasional untuk Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM).
Surabaya konsisten menempati posisi papan atas di tingkat nasional dan menjadi lokomotif literasi utama di wilayah Indonesia Timur. Minat baca warga Surabaya tercatat berada di kategori “Tinggi” hingga “Sangat Tinggi”, secara konsisten melampaui angka rata-rata nasional.
1. Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) Tertinggi se-Jawa Timur
Surabaya sukses meraih skor Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) sebesar 80,3 poin. Angka ini menjadikan Surabaya sebagai satu-satunya kota dengan predikat kategori “Sangat Tinggi” di Jawa Timur. Rata-rata durasi membaca warga Surabaya kini mencapai 3 jam per hari, jauh melampaui rata-rata provinsi yang hanya berkisar 1 hingga 2 jam.
2. Barometer Kota Literasi Nasional dan Indeks Sempurna
Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI menobatkan Surabaya sebagai barometer kota literasi di Indonesia karena dinilai memiliki infrastruktur dan partisipasi publik yang luar biasa. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Surabaya berhasil mencatatkan nilai maksimal 100,00 pada Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM), yang merupakan pencapaian tertinggi di wilayahnya. [1, 2]
TES KEMAMPUAN AKADEMIK SISWA SURABAYA
Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) siswa Kota Surabaya secara umum berada di atas rata-rata nasional dan memimpin di tingkat regional Jawa Timur. Siswa di Surabaya secara konsisten mencatatkan skor rata-rata yang melampaui standar nasional di berbagai jenjang sekolah.
Peringkat 1 Tertinggi di Jawa Timur [1]
Di tingkat regional Jawa Timur, Kota Surabaya menempati posisi pertama sebagai daerah dengan literasi tertinggi. Berdasarkan data resmi Pemerintah Kota Surabaya, Indeks Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) Surabaya berhasil meraih skor 80,3 poin. Capaian tersebut membawa Surabaya menjadi satu-satunya kota di Jawa Timur yang konsisten memenangkan Penghargaan Daerah dengan Nilai TGM Tertinggi dari Gubernur Jawa Timur. [1, 2]
Kemampuan literasi membaca riil siswa sekolah (SD dan SMP) di Surabaya berada jauh melampaui rata-rata nasional. Hal ini menempatkan Surabaya sejajar dengan kota-kota berkinerja pendidikan tinggi seperti Kota Yogyakarta dan Kota Salatiga.
Output Literasi: Dari Membaca Menjadi Karya
Program ini tidak hanya berhenti pada aktivitas membaca pasif, melainkan mendorong siswa produktif menghasilkan karya tulisan. Setiap sekolah di Surabaya diwajibkan mengurasi karya-karya terbaik siswanya untuk dibukukan menjadi satu buku kumpulan karya tulis terbaik sekolah. Karya cerpen terbaik dari sekolah akan dilombakan lagi mulai dari tingkat kecamatan hingga tingkat Kota Surabaya.
Terbitnya Ribuan Buku Karya Siswa
Salah satu bukti konkret banyaknya jumlah siswa yang sukses menyelesaikan tantangan ini adalah kewajiban penerbitan Antologi Karya Sekolah. Karena setiap sekolah diwajibkan mengumpulkan resume/cerpen dari para siswa yang lolos tantangan untuk dibukukan, program ini menghasilkan ribuan judul buku kumpulan karya baru yang ditulis langsung oleh arek-arek Surabaya dan dipajang di perpustakaan sekolah maupun Taman Bacaan Masyarakat (TBM).
Demikianlah cara Surabaya mendorong anak-anaknya untuk memiliki kebiasaan dan ketrampilan membaca yang tinggi.
Apakah Anda tidak ingin agar anak-anak di kota Anda, atau di sekolah Anda, juga memiliki KEBIASAAN DAN KETRAMPILAN MEMBACA yang tinggi yang akan mereka bawa sebagai modal untuk hidup di masa depannya?
Saya bersedia membantu Anda. Jangan ragu-ragu untuk menghubungi saya. Layanan saya sepenuhnya gratis. 🙏😁
Surabaya, 25 Juni 2026
Satria Dharma