Selasa, 11 Agustus 2020
Just another WordPress site
KAMPANYE LITERASI DI KALTENG

Ditengah hiruk-pikuk kampanye pilpres antara Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta saya juga sibuk berkampanye literasi. Untunglah saya tidak perlu berkoalisi dengan partai (atau eceran) mana pun. Saya juga tidak perlu mengeluarkan mahar apa pun karena saya tidak sedang menyunting gadis mana pun. Kampanye literasi saya kini sampai ke Kalimantan Tengah. Anda benar. Ibukota Kalimantan Tengah adalah Palangkaraya yg digadang-gadang (atau dijadikan rumor?) utk menjadi pengganti Jakarta sebagai ibukota negara Indonesia.

Kedatangan saya ke Kalteng, khususnya Palangkaraya, ini adalah yg ke sekian kalinya dan saya selalu terkesan dengan kebersihan, kerapian, dan ketertiban kota Palangkaraya. Jalan-jalannya lebar, boulevardnya juga lebar, trotoarnya terpisah oleh jajaran pepohonan sehingga jalanan terasa sangat longgar dan menyenangkan. Kota ini juga bersih dari penjaja kaki lima. Sayang sekali kota yg indah ini tidak memiliki toko buku yg besar macam Gramedia, Togamas, atau Uranus spt di Surabaya. Saya yakin bahwa Kalteng tidak memiliki penerbit buku. Ini juga menandakan bhw Kalteng masih tertinggal dalam soal literasi. Dan itu membuat saya semakin bergairah utk berkampanye literasi di sini.
Selain di Palangkaraya saya juga akan berkampanye di Kabupaten Seruyan, tepatnya di perkebunan sawit Indo Mas. Sekedar diketahui, Kalteng adalah sentra perkebunan sawit raksasa. Indo Mas sendiri kabarnya memiliki perkebunan sawit seluas 25.000 hektar. Padahal satu hektar itu luasnya 10.000 m2. Cukup untuk membangun 100 buah rumah. Perlu diingat bahwa Indo Mas itu hanya salah satu perkebunan sawit yg entah berapa banyak jumlahnya di Kalteng. Itu belum di Kalbar lho ya!

Perjalanan saya sampai ke Kalimantan Tengah adalah berkat undangan dari Pak Panji Irfan yg bekerja sebagai Kepala Sekolah SMP Tunas Agro yg didirikan oleh perusahan perkebunan sawit Agro Indo Mas yg dimilik oleh orang Srilanka-Malaysia. Kabarnya pemiliknya adalah orang terkaya di Srilanka. Jadi memiliki satu perkebunan sawit raksasa di Kalteng saja bisa membuat seseorang jadi orang terkaya di Srilanka lho!

PALANGKARAYA

Presentasi literasi pertama saya adalah di SMKN 3 Palangkaraya di hadapan para guru dan kepala sekolah SD Palangkaraya. Saya perkirakan kurang dari seratus peserta yg hadir dan mereka semua sangat antusias mendengar presentasi saya. They listened to my presentation like they never heard it before. Saya mengerahkan semua kemampuan saya utk meyakinkan mereka mengapa literasi membaca dan menulis itu penting, sangat penting, amat sangat penting, sehingga harus ada alokasi waktu khusus bagi siswa di sekolah utk berlatih membaca dan menulis SETIAP HARI.

Tanggapan mereka sangat baik. They were excited by my presentation. Tapi saya tahu dibutuhkan dorongan lebih kuat bagi mereka utk membuat perubahan di sekolah. Jika Anda bukan pengambil keputusan di sekolah maka kesadaran yg muncul utk melakukan perubahan di sekolah hanya akan tinggal di kepala tanpa akan terwujud menjadi sebuah program nyata. I know it very well. Tapi minimal saya berhasil meyakinkan mereka utk melakukan perubahan pd diri mereka dan keluarga mereka. Mulailah membaca di rumah setiap hari selama 10 s/d 30 menit dan ajak keluarga Anda utk juga melakukannya secara rutin. Make a change in your life and make yourself a reader for life. Saya berharap presentasi saya berhasil mendorong mereka secara pribadi.
Hal yg menyenangkan adalah seminar ini dihadiri dan dibuka langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Propinsi, Pak Damber Liwan. Beliau adalah seorang pejabat yg sangat rendah hati, lurus, dan memiliki komitmen yg tinggi dalam tugasnya. Kami ngobrol banyak soal pendidikan di Kalteng dan saya berharap ada kerjasama lebih lanjut antara IGI dan Prop. Kalteng setelah ini.

Baca juga:  SMAN 5 SURABAYA : MENJADI SEKOLAH TERBAIK DI INDONESIA (Part 4)

KABUPATEN SERUYAN

Presentasi saya berikutnya adalah di perkebunan sawit Indo Mas, Kab. Seruyan. Untuk sampai ke tempat presentasi tersebut saya harus menempuh perjalanan darat dari Palangkaraya selama enam jam. Empat jam dari Palangkaraya ke Sampit dan dua jam dari Sampit ke lokasi perkebunan sawit Indo Mas. Meski posisinya ada di kab. Seruyan tapi lokasi perkebunan ini arahnya ke Pangkalan Bun dan dari jalan raya masuk lagi ke dalam hutan sawit sejauh 20 km. Kalau tidak bertanya berkali-kali kami pasti tersesat di perkebunan tersebut. Apalagi kami tiba di malam hari dan tidak ada penerangan jalan menuju lokasi.

Kami tiba pada malam hari di Training Centre Indo Mas yg memilik fasilitas akomodasi bagi para tamu dan peserta training yg harus menginap di tengah hutan kalau ada pelatihan. Sekedar diketahui bahwa lokasi tempat tinggal peserta training memang tersebar cukup jauh dengan transportasi yg sulit. Letak TC-nya saja 20 kilo masuk ke perkebunan sawit dari jalan raya dengan jalan tanah tak beraspal. Meski kompleksnya cukup besar tapi kelasnya hanya maksimal utk 30 peserta. Seminar yg akan saya lakukan hanyalah bg 30 peserta yg berdatangan dari berbagai daerah yg jauh sehingga mereka harus menginap di TC Indo Mas ini.

Saya tiba Kamis malam dan acara pembukaan baru Jum’at sore. Jadi Jum’at paginya saya kosong. Oleh sebab itu saya minta kepada Pak Panji agar bisa mengunjungi sekolahnya dan juga memberi presentasi pd para guru dan siswa ttg pentingnya literasi. Dengan segera Pak Panji menghubungi sekolah agar saya bisa berbicara di hadapan siswa-siswanya pagi itu. Tak lama kemudian kami pun sudah sampai di SMP Tunas Agro.

Baca juga:  KISAH TENTANG LITERASI

PRESENTASI DI SMP TUNAS AGRO

SMP Tunas Agro didirikan secara mandiri oleh Yayasan Agro Harapan. Sekolah berlokasi di Jalan Jendral Sudirman km 75 Sampit-Pangkalan Bun, Seruyan-Kalimantan Tengah tapi kantor yayasannya ada di Menara Global Jl. Gatot Subroto, Jakarta.

Berikut ini informasi ttg sekolah yg saya peroleh dari internet.
SMP Tunas Agro cukup representatif dengan kapasitas siswa sebanyak 9 kelas atau sekitar 260-an siswa. Lingkungan kerjanya menyenangkan terutama karena para gurunya terdiri dari para guru muda berusia sekitar 30 tahunan yg nampak cerdas, antusias, ramah, dan penuh semangat. Hampir semua guru berasal dari Jawa dg mayoritas lulusan UPI (ada satu guru olahraga dari FPOK Unesa). Sebagai perantau mereka merasa sbg keluarga besar. Sekolah diberi kebebasan mendesain kegiatan dan programnya sendiri dengan bimbingan dari konsultan pendidikan Dr. Ari Widodo, dosen biologi dari UPI.

Siswa mereka 70% merupakan anak karyawan dan 30% masyarakat setempat. Bahasa Banjar adalah bahasa mayoritas pergaulan anak sehari-hari baru diikuti oleh bahasa Jawa dan Dayak.

Sebagai kepala sekolah Pak Panji pernah meraih prestasi “Kepala SMP berprestasi se-Kalteng” th 2010 dan di tahun 2011 blognya “panjiirfan.wordpress.com” dinobatkan sebagai “blog guru terbaik se-Kalteng. Akreditasi sekolah ini adalah A, dan merupakan sekolah dengan sistem terbaik se-Kabupaten Seruyan. Setiap tahun sekolah selalu meraih prestasi di tingkat Kabupaten dan Provinsi, dari mapel seni, olahraga, IPS, IPA, dan bahasa Indonesia secara bergantian.

Begitulah…
Akhirnya saya pun menyampaikan presentasi pada siswa klas 1 dan 2 SMP Tunas Agro yg sangat antusias. Siswa kelas 3 sdh tidak ada krn UN telah usai. Meski tdk punya ruang pertemuan kami melaksanakan acara di hall gang sekolah dengan lesehan. Begitu melihat ekspresi wajah dan sinar mata mereka saya langsung yakin mereka adalah anak-anak cerdas yg tidak kalah dg siswa mana pun di kota-kota besar di Jawa. Mereka akan bisa meraih mimpi apa pun kelak di masa depan mereka.
Karena saya menjanjikan memberi buku bacaan pada setiap siswa yg bisa menjawab pertanyaan dan mau bertanya, maka jawaban dan pertanyaan dr siswa mengalir tanpa henti. Untungnya saya membawa 2 box buku bacaan seberat 25 kilo dr Surabaya utk sy sumbangkan ke perpustakaan sekolah.
Ketika saya tanyakan apakah siswa Tunas Agro bersedia membaca buku bacaan setiap hari dan 250 siswa SMP Tunas Agro mampu membaca 1000 buku dalam setahun tanpa ragu-ragu mereka menjawab “Ya…! Sanggup…!”. Sebuah perasaan bahagia yg luar biasa langsung mengalir ke seluruh tubuh saya. A happy feeling which I cannot explain. Saya tahu bahwa perasaan bahagia semacam inilah yg saya cari dengan kampanye literasi saya selama ini. Semua lelah langsung terbayar lunas oleh teriakan ceria anak-anak ini. Ketika mereka menyatakan terima kasih karena saya telah bersedia datang dan memberi semangat pada mereka saya katakan, “No. Actually, I thank you…!. Sayalah yg berbahagia dan sayalah yg harus berterima kasih pada kalian.”

Baca juga:  BUKU PANDUAN GERAKAN LITERASI SEKOLAH

PRESENTASI DI TC AGRO INDO MAS

Presentasi ketiga adalah pagi ini di TC Agro Indo Mas pada 30 orang yg terdiri dari kepala sekolah, petugas perpustakaan dan guru sekolah yg mayoritas wanita. Presentasi saya bagi dua, “Urgensi Budaya Literasi” dan “Strategi Mengembangkan Literasi di Sekolah”
Sebelum presentasi saya ada presentasi dari Pak Astono, Kepala Perpustakaan Kab. Seruyan, yg memaparkan statistik, tujuan, dan fungsi perpustakaan Kab. Seruyan. Dengan anggaran hampir 2 M setahun nampaknya tidak banyak yg dilakukan oleh kantor perpustakaan kab. Seruyan ini.

Presentasi saya berlangsung dengan baik dan peserta nampak sangat terkesan. Saya menekankan pentingnya mereka benar-benar melakukan sebuah komitmen utk mulai melakukan kegiatan membaca setiap hari meski hanya 10 menit setiap hari. Saya juga sampaikan bahwa membaca utk ‘enjoyment’ itu perlu dan tidak selalu harus utk mencari informasi atau utk mendapatkan ilmu pengetahuan.
Di akhir sesi saya minta mereka utk membuat sebuah tulisan tentang apa kesan mereka ttg seminar ini, apa yg akan mereka rencanakan utk memulai program membaca baik bagi diri sendiri, keluarga, mau pun utk sekolah mereka. Saya minta mereka untuk merencanakan sebuah program membaca bagi sekolah mereka dan juga berupaya utk menghasilkan sebuah buku hasil karya tulis siswa-siswa mereka. Saya tunjukkan buku-buku mungil karya siswa SMP di Gersik dan saya bacakan beberapa tulisan mereka yg sangat sederhana. Mereka merasa bahwa siswa mereka juga sanggup utk menulis atau berkarya seperti itu.

Pukul empat acara selesai dan sertifikat dibagikan. Saya mendapat kenang-kenangan lukisan diri saya duduk di atas tumpukan buku dari siswa SMPT Tunas Agro. Sungguh sebuah kejutan yg manis. Pukul setengah lima saya sdh duduk di kendaraan Bu Rusnanie, Ketua IGI Kalteng, yg menemani saya bersama Bu Retno sampai ke Indo Mas ini. Kami siap menuju Sampit dan besok saya terbang kembali ke Surabaya membawa kenangan indah ttg Kalimantan Tengah…

Seruyan, 25 Mei 2014

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *