Minggu, 27 September 2020
Just another WordPress site
SETAHUN SURABAYA KOTA LITERASI

Alangkah cepatnya waktu berlalu…!

Tiba-tiba sekarang sudah 2 Mei 2015 dan itu berarti sudah setahun berlalu sejak Surabaya dicanangkan sebagai Kota Literasi. Rasanya baru kemarin Ibu Risma, Walikota Surabaya, mencanangkan kota Surabaya sebagai Kota Literasi pada peringatan Hari Pendidikan Nasional 2014 di Balai Kota. Saya hadir pada saat itu dan tidak habisnya bersyukur bahwa pada akhirnya ada seorang pemimpin daerah yang mau benar-benar berkomitmen untuk menumbuhkan budaya literasi bagi masyarakatnya. Saya berdoa pada saat itu agar para kepala daerah lainnya juga segera melakukan hal yang sama.

Setahun berlalu dan apa yang telah berubah sejak dicanangkannya program Surabaya Kota Literasi ini? Adakah program ini berjalan dan berkembang seperti yang diharapkan ataukah hanya berhenti pada kegiatan-kegiatan seremonial belaka (seperti yang sangat sering saya lihat di daerah lain)? Adakah program ini membuat semakin banyak orang memahami betapa pentingnya budaya membaca ditanamkan pada anak-anak atau mereka tetap tidak peduli sebagaimana sebelumnya? I will blame and curse myself if it did…

Tentu saja ada banyak perubahan yang terjadi setelah setahun berlalu di Surabaya. Beberapa perubahan dan perkembangan yang terjadi bahkan di luar ekspektasi saya (meski ada juga program yang berjalan di bawah ekspektasi saya). Saya sendiri bahkan terkejut bahwa program literasi di sekolah tertentu bisa berkembang dengan begitu dinamis, menarik, dan menggebu-gebu. Beberapa sekolah telah melangkah dengan ide-ide dan program-program kreatif mereka. SMPN 43 Surabaya, umpamanya, bahkan telah mencanangkan sekolahnya sebagai Sekolah Berbasis Literasi. Sekolah ini bahkan telah mengadakan kerjasama dengan Fakultas Bahasa dan Sastra Indonesia (FBS) Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Mereka telah berhasil mendorong siswa untuk berlatih menulis dan bahkan telah berhasil membukukan karya siswanya. Ada beberapa program ambisius lainnya yang sedang mereka gagas. Dan itu baru permulaan….

Saya yakin akan ada program-program lanjutan yang akan membuat literasi membaca dan menulis menjadi sebuah program yang benar-benar sentral di sekolah. Dan ini perlu dirayakan…

Itulah sebabnya saya dengan cepat menyetujui usulan dari Forum Aktif Menulis (FAM) dari Mas Yudha yang akan mengadakan Diskusi Refleksi 1 Tahun Surabaya Kota Literasi yang akan dilaksanakan di Kampus Unesa Ketintang pada tanggal 3 Mei 2015. Meski sebenarnya malam hari tanggal 2 Mei saya masih ada di Jakarta mengikuti acara Reuni IKPTM dan bahkan ikut Upacara Hari Pendidikan Nasional 2015 di Kemdikbud Senayan Jakarta tapi saya mengiyakan ketika diminta untuk menjadi nara sumber acara ini. Untuk acara ini saya akan berpasangan dengan Mas Emcho M. Khoiri, dosen Unesa.

Diskusi Refleksi Setahun Surabaya Kota Literasi ini menurut saya penting. Ini seperti sebuah ‘a reminder’ bagi saya untuk memacu kembali komitmen saya untuk menjadikan Surabaya sebagai sebuah role model bagi kota-kota lain dalam menyelenggarakan program-program literasi. Ini taruhan penting bagi saya pribadi. Saya sudah bertekad untuk menjadikan Gerakan Literasi Sekolah sebagai program nasional. Kalau Surabaya benar-benar bisa berubah menjadi sebuah Kota Literasi dengan hasil yang meyakinkan maka saya akan dengan penuh percaya diri menawarkan program-programnya pada kota-kota lain di seluruh Indonesia. Ada lebih dari 500 kota dan kabupaten di seluruh Indonesia dan baru Surabaya yang berani dan punya komitmen untuk melangkah menjadi sebuah Kota Literasi. Kota dan kabupaten lain tentu akan tertarik untuk mengikuti jejak Surabaya jika mereka melihat bukti dari keberhasilan kota Surabaya.

Lagipula…
Saya ingin melunasi nadzar saya untuk menyembelih kambing sebagai rasa syukur saya bahwa program Gerakan Literasi Sekolah ini akhirnya bisa dilaksanakan di sekolah-sekolah di Surabaya. *:) happy Acara diskusi dan refleksi ini adalah forum yang tepat untuk mentraktir para hadirin untuk makan gule dan sate kambing.

Jadi begitulah…
Ketika Manny Pacquaio dan Floyd Mayweather saling hajar di ring dan disiarkan di TV saya justru menjadi narasumber untuk acara diskusi di selasar gedung Serba Guna Unesa di Ketintang. Padahal saya ingin sekali menonton Manny Pacquaio menjatuhkan Floyd Mayweather di ring… (But it didn’t happen. Mayweather dinyatakan menang angka padahal katanya sih Mayweather lebih banyak lari-lari di ring)

Baca juga:  SAFARI RAMADHAN

Peserta diskusi hanya sekitar lima puluhan orang dan didominasi mahasiswi dari berbagai kampus tapi mereka adalah orang-orang yang benar-benar memiliki kepedulian pada urusan literasi dan memiliki komitmen. Mereka menyimak dengan sangat serius dan menyodorkan pertanyaan-pertanyaan yang juga tidak kalah seriusnya.
Salah satu dari mereka bertanya apa problem paling besar dari rendahnya budaya literasi pada bangsa kita dan saya harus menarik napas panjang dulu untuk menjawabnya. Ini pertanyaan paling klasik, paling mendasar, paling sering saya jawab, tapi juga paling melibatkan perasaan saya. I always feel emotional when I answer this question. Dan jawaban saya tidak pernah berubah…

Penyebab utama dari rendahnya budaya literasi bangsa kita adalah RENDAHNYA PEMAHAMAN PARA PEMIMPIN KITA AKAN PENTINGNYA BUDAYA MEMBACA. Titik.
Titik…?! Nggak ding. Saya akan jelaskan. *:) happy

Apakah para pemimpin kita (termasuk para mentri-mentri pendidikan yang lalu dan sekarang) tidak paham tentang pentingnya budaya membaca…?! Yang benar azza….! Jangan fitnah lo….! Entahlah. Mungkin mereka mengerti. Tapi paham…?! I don’t think so. Yang jelas TAK ADA SATU PUN DI ANTARA PARA MENTRI PENDIDIKAN DAN KEPALA DAERAH tersebut yang BENAR-BENAR MELAKUKAN KEBIJAKAN PENTING DAN MENDASAR UNTUK MENGATASI RENDAHNYA BUDAYA BACA BANGSA. Titik. Kalau mereka paham dan bukan sekedar mengerti maka tentunya ada kebijakan penting yang benar-benar mereka laksanakan untuk mengatasi rendahnya budaya baca bangsa selama ini. Tapi faktanya selama ini TIDAK ADA… Para kepala daerah (gubernur/walikota/bupati) mungkin menganggap bahwa urusan budaya membaca adalah urusan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dan bukan urusan mereka. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan sendiri mungkin mengira bahwa jika siswa sudah bersekolah maka budaya literasi membaca dan menulis akan dengan sendirinya tumbuh. Padahal mereka tahu benar betapa hasil test PISA (Program for International Student Assessment) nilai siswa kita selalu jeblok dan yang terakhir PISA 2012 posisi kita jatuh pada peringkat 64 dari 65 negara. Pokoknya super memalukan deh! Menurut OECD budaya membaca masyarakat Indonesia menempati peringkat paling rendah di antara 52 negara di Asia Timur (Kompas, 2009). Tapi tidak ada tindakan yang diambil untuk mengatasi masalah tersebut. Saya tidak tahu apakah mereka tidak paham atau tidak peduli.

Jadi ini jelas menunjukkan bahwa PARA PEMIMPIN KITA TIDAK PAHAM AKAN PENTINGNYA BUDAYA MEMBACA BAGI KEMAJUAN BANGSA.

Mungkin mereka mengira bahwa budaya membaca tidak terlalu penting dibandingkan dengan program-program hebat macam Rintisan Sekolah Bertarif, eh, Bertaraf Internasional (RSBI), Unit Kesehatan Sekolah (UKS), Adi Wiyata, Ujian Nasional, perubahan kurikulum, dll. Yang jelas adalah kita TIDAK AKAN MENEMUKAN SATU PUN PROGRAM di Kemdikbud yang bertajuk LITERASI atau BUDAYA MEMBACA. Nothing…!

Sampai sekarang pun jika Anda bertanya ke Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan kira-kira direktorat atau badan apa yang selama ini mengurusi peningkatan budaya membaca (dan menulis) siswa maka Anda tidak akan mendapat jawaban. Saya sudah bertanya sampai ke hulunya di Kemdikbud sana dan memang BELUM ADA program untuk mengatasi masalah rendahnya budaya membaca siswa kita. Ini memang fakta yang menyedihkan dan menyakitkan…

Jadi Anda bisa mengerti mengapa saya sangat menghargai Ibu Risma, Walikota Surabaya, yang sebenarnya tidak punya latar belakang ilmu bahasa atau pun sastra tapi sangat paham betapa pentingnya budaya membaca bagi bangsa dan benar-benar melakukan langkah strategis untuk mengatasi rendahnya budaya baca masyarakatnya. Sementara para the what so called pakar-pakar bahasa dan akademisi hanya bisa berteriak dan mengeluhkan rendahnya kemampuan literasi siswa. Mereka hanya bisa mengeluh dan menulis di media sedangkan Ibu Risma dengan tanpa banyak bicara langsung merekrut 500 lebih sarjana melalui seleksi yang ketat, melatihnya, dan kemudian menjadikannya sebagai PUSTAKAWAN di sekolah-sekolah untuk menumbuhkan budaya baca siswa sejak SD! No one has ever done that in Indonesia… Ini gebrakan yang otentik dan jenius…! Coba cari kepala daerah di seluruh Indonesia yang menganggap perpustakaan itu penting bagi kemajuan kota dan merekrut 500 lebih sarjana untuk dijadikan pustakawan untuk menumbuhkan budaya literasi masyarakatnya.Coba cek berapa anggaran APBD yang dikucurkan daerah Anda untuk urusan budaya membaca melalui Badan Arsip dan Perpustakaannya. kalau tidak ada ya berarti mereka memang tidak paham atau tidak peduli…

Baca juga:  DEKLARASI GERAKAN LITERASI SEKOLAH DI KABUPATEN MADIUN

Ibu Risma memahami benar betapa pentingnya pustakawan dalam upaya menumbuhkan budaya baca masyarakat dan beliau tahu betul bahwa sekolahlah tempat paling tepat untuk menumbuhkan budaya baca secara mendasar. Selama ini sangat sedikit sekolah yang punya perpustakaan yang benar-benar bisa dimanfaatkan untuk menumbuhkan budaya baca siswa. Perpustakaan sekolah selama ini bahkan adalah gudang tempat paling gelap, kotor, dan tidak terurus di sekolah. Bahkan perpustakaan dijadikan sebagai tempat ‘buangan’ bagi guru atau staf sekolah yang dianggap ‘perlu dibina atau dibinasakan’. Perpustakaan telah menjadi tempat yang paling ‘neglected’ dalam sistem pendidikan kita. Tapi di tangan Bu Risma konsep ini diubah.

Dengan adanya ratusan pustakawan yang telah dilatih dan diterjunkan langsung ke sekolah-sekolah untuk menghidupkan kembali marwah perpustakaan dan menjadikan perpustakaan sebagai sebagai tempat belajar paling nyaman dan menyenangkan bagi anak-anak maka terjadilah keajaiban…Ya, keajaiban…!
Anak-anak berbondong-bondong datang ke perpustakaan untuk mengikuti program belajar yang dilaksanakan oleh para pustakawan ini. Para pustakawan ini menjelma menjadi ‘guru kedua’ bagi anak-anak yang sesinya sangat ditunggu karena menarik dan menyenangkan. Mereka sangat menikmati program belajar dan membaca yang dilaksanakan para pustakawan ini dan selalu berebut untuk bisa berada di perpustakaan selama mungkin. Setiap hari saya mendapatkan laporan dan foto-foto bagaimana anak-anak belajar dan memanfaatkan perpustakaan di TBM-TBM. Mereka nampak begitu menikmati kegiatan belajar yang baru ini. This is the kind of miracle I would like to see in my country.

Apalagi program Surabaya Kota Literasinya Bu Risma…?!

Melalui Dinas Pendidikan dikeluarkanlah surat edaran kepada SEMUA KEPALA SEKOLAH di kota Surabaya untuk menyisihkan atau menyelipkan waktu minimal 15 MENIT SETIAP HARI khusus untuk membaca. Ini kebijakan yang sangat penting yang jarang dipahami oleh para stakeholder pendidikan. Membaca dan menulis itu adalah sebuah ketrampilan yang hanya akan bisa dikuasai oleh anak jika mereka berlatih secara terus menerus dengan tekun dan konsisten. Ibarat berenang, Anda tidak akan mungkin bisa berenang tanpa nyemplung ke air dan berlatih berenang sampai bisa. Dengan kegiatan rutin membaca selama 15 menit setiap hari (Sustained Silent Reading) maka siswa akan menjadi terbiasa untuk membaca (it becomes a habit) dan secara otomatis akan meningkatkan pemahaman dan kemampuan membaca siswa karena dilakukan secara rutin. Selama ini siswa kita selalu jeblok dalam ujian nasional mereka jika dihadapkan dengan teks bacaan. Dan ini jelas karena rendahnya kemampuan memahami dan kecepatan baca siswa. Dengan berlatih membaca buku minimal 15 menit sehari maka secara otomatis kecepatan baca dan kemampuan memahami siswa akan meningkat. Hanya latihan membaca setiap hari yang bisa meningkatkan kecepatan baca (speed reading) dan kemampuan memahami siswa (reading comprehension).

Tentu saja program ini tidak langsung bisa berjalan dengan mulus karena awamnya sekolah dalam memahami baik filosofi mau pun implementasi program literasi di kelas. Selama ini BELUM PERNAH ADA program seperti ini dari Pusat sehingga mereka cuma bisa meraba-raba seperti apa pelaksanaannya di kelas. Selain itu memang tidak pernah ada PELATIHAN atau LOKA KARYA tentang bagaimana melaksanakan program literasi di sekolah. Karena mereka hanya meraba-raba dalam gelap maka di mana mereka terantuk maka itulah yang mereka kerjakan. Kita ini memang selalu berpikir bahwa begitu perintah atau anjuran dilempar ke sekolah maka otomatis para kepala sekolah dan guru akan mampu menerjemahkan perintah atau anjuran tersebut dengan sebaik-baiknya. Sayangnya para kepala sekolah dan guru kita belum secanggih itu…

Tapi tentu saja Surat Edaran untuk Membaca Setiap Hari di sekolah ini merupakan terobosan yang luar biasa. Saya belum pernah mengetahui adanya daerah lain yang punya kebijakan ‘political will’ yang luar biasa seperti ini. Bagaimana pun, kebijakan ini mampu membuat siswa di sekolah di Surabaya MEMBACA SETIAP HARI. Perkara bagaimana efektifitasnya di sekolah itu masalah lain yang bisa kita selesaikan belakangan. Perkara apakah buku yang mereka baca benar-benar bermutu atau sekedarnya itu juga masalah lain yang bisa kita selesaikan secara bertahap. Ingat, Surabaya melakukan DUA KEBIJAKAN MENDASAR dalam mewujudkan visinya sebagai Kota Literasi, yaitu MENGHIDUPKAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH DAN MEWAJIBKAN SISWA UNTUK MEMBACA SETIAP HARI. Itu dua kebijakan yang sangat penting dan paling mendasar agar budaya membaca siswa dapat ditumbuhkan. Itu adalah INTI dari GERAKAN LITERASI SEKOLAH yang selama ini saya gadang-gadang.

Baca juga:  TERIMA KASIH SUDAH MENGINGATKAN UNTUK MEMBACA

Hal ini memang sangat perlu saya tekankan karena saya telah terlalu banyak melihat kegagalan dalam upaya menumbuhkan budaya baca bangsa. Selama ini kita hanya bergerak di tataran inisiatif-inisiatif pribadi. Kita mengajak masyarakat dan komunitas yang peduli akan pentingnya literasi untuk mengajak masyarakat membaca. Tapi kegiatan-kegiatan komunitas itu tentu hanya akan bersifat insidental, temporer, tidak berkelanjutan, hangat-hangat tai ayam, dan tidak akan seefektif jika dilakukan melalui sebuah KEBIJAKAN POLITIK seperti yang dilakukan oleh Surabaya. Pemerintah sendiri BELUM PERNAH melakukan sebuah kebijakan yang bersifat NASIONAL untuk menumbuhkan budaya baca bangsa. Selain itu, apa yang kita lakukan hanyalah pada tataran anjuran dan ajakan dan belum sampai pada tataran mewajibkan. Padahal membaca adalah sebuah kewajiban dalam ajaran agama kita.

Saya sering memberi ilustrasi dengan menganalogikan membaca dengan pelajaran yang lain. Siswa kita belajar matematika, IPA, IPS, bahasa Inggris dengan rutin baik mereka suka atau tidak karena kita memang MEWAJIBKAN mereka untuk itu. Pemerintah memasukkan mata pelajaran tersebut sebagai kurikulum wajib yang harus dilaksanakan oleh sekolah. Oleh sebab itu siswa mempelajari mata pelajaran tersebut karena merupakan kurikulum wajib di sekolah. Lantas bagaimana mungkin siswa kita akan membaca jika kurikulum sekolah kita SEJAK DULU SAMAI SEKARANG sama sekali tidak pro-literacy…?! Semestinya MEMBACA juga diperlakukan sama menjadi sebuah kewajiban yang tertuang dalam bentuk KURIKULUM WAJIB BACA.

Jadi ketika seseorang mahasiswa bertanya apa INDIKATOR yang menunjukkan bahwa Surabaya adalah sebuah Kota Literasi maka saya menjawab bahwa harus ada dua komponen, yaitu PROSES DAN PRODUK.

Proses adalah sesuatu kegiatan yang dilakukan secara berkesinambungan, terstruktur, tersistem, dan massif berlaku di semua sekolah di Surabaya. Saat ini terjadi proses ‘reinventing’ dan ‘rebuilding’ perpustakaan sekolah dan Taman Bacaan Masyarakat yang dilakukan oleh ratusan pustakawan yang berada di bawah kendali Badan Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya. Selain itu ada program membaca secara rutin, terstruktur, dan juga masif di semua sekolah di Surabaya berkat adanya Surat Edaran dari Dinas Pendidikan Kota Surabaya tersebut. Melalui program Tantangan Membaca Surabaya 2015 ditargetkan siswa Surabaya akan dapat membaca 1.000.000 (satu juta) buku mulai awal April sampai dengan akhir Desember 2015 nanti. (Berapa juta buku yang akan dibaca oleh siswa di kota Anda…?!)

Lantas apa PRODUK yang dihasilkan dari semua proses dan kegiatan ini? Selain membaca siswa Surabaya juga didorong untuk mulai berlatih menulis baik itu berupa esai atau pun fiksi. Ada kebijakan untuk mendorong setiap sekolah untuk membuat lomba-lomba menulis bagi siswa dan nantinya karya-karya siswa akan diseleksi dan karya terbaik akan dibukukan oleh masng-masing sekolah. Jadi kalau saja ada 200 sekolah yang akan bisa melaksanakan kebijakan Disdik ini maka kita bisa berharap akan muncul 200 buku karya terbaik siswa dari berbagai jenjang SETIAP TAHUN…!

Apakah menurut Anda kota-kota dan kabupaten lain tidak ngiler melihat betapa progresifnya Surabaya dalam membangun budaya literasi bagi siswanya…?! *:) happy

Surabaya, 5 Mei 2015

Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *