Senin, 23 Juli 2019
Just another WordPress site
DIALOG KEBUDAYAAN: APAKAH MEMBACA ITU BUDAYA?

Pagi masih gelap gulita ketika saya meluncur ke bandara Sepinggan pagi ini. Tapi saya tidak tergesa-gesa. Jam di dashboard mobil saya masih menunjukkan pukul 04:45 dan saya tahu bahwa lalulintas menuju bandara pada saat itu pasti masih lengang. Jarak dari rumah saya ke bandara cukup dekat dan jika saya mau mengendarai dengan sedikit memicu adrenaline maka saya selalu bisa mencapai bandara dalam waktu sepuluh menit. Saya tidak tergesa-gesa. Bahkan waktu belum menunjukkan saat sholat Subuh.

Pagi itu saya menuju ke Jakarta untuk menghadiri sebuah undangan diskusi di Hotel Sultan. Sebuah undangan yang sulit untuk saya tolak. Pertama, yang mengundang adalah Pak Bagiono. Beliau adalah mantan Atase Pendidikan di Prancis yang telah lama pensiun dari tugasnya. Tapi sampai saat ini beliau masih belum mau pensiun dan bersikeras untuk tetap bekerja membantu Pak Gatot HP di SEAMOLEC. Semangat kerja dan idealismenya seperti obor api abadi yang tak hendak mati. Jika Anda bertemu pertamakali dengannya maka Anda pasti akan terkecoh oleh penampilannya. Suara dan tertawanya yang menggelegar pasti akan membuat Anda mengira dan menduga beliau puluhan tahun lebih muda dari usianya yang sebenarnya. Saya bahkan menduga bahwa beliau pasti masih bisa memesona wanita setengah baya dengan kumis dan senyumnya yang luar biasa itu. Beliau memang tampan dan dandy. Jauh lebih perlente ketimbang Mas Nanang dan Habe. Aroma dan gaya Prancis memang beda dengan aroma dan gaya Ndepok dan LA (Lamongan). Saya sangat menghormati beliau. Undangan khususnya itu adalah sebuah penghargaan bagi saya. Saya tidak tahu mengapa beliau mengundang saya tapi jelas itu bukti bahwa saya adalah manusia yang cukup berbudaya untuk diajak ikut diskusi budaya. You must admit it. 🙂

Kedua, undangan ini atas nama YSNB Yayasan Suluh Nuswantara Bakti sebuah yayasan yang bergerak di bidang kebudayaan yang nampaknya diketuai oleh Pak Daoed Joesoef, mantan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan yang fenomenal tersebut. Saya baru saja memulia karier saya sebagai guru ketika beliau menjadi mentri. Di usianya yang telah lebih dari 80 tahun tersebut beliau masih aktif menulis dan berbicara mengenai budaya. Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti seminarnya di Hotel Santika Premiere dan tercengang mendengarkan ulasannya yang begitu menarik. Sama sekali tidak nampak adanya kemerosotan daya intelektual dari beliau. Tajam dan bernas. Apa yang disampaikannya menjadikan materi yang disampaikan sebelumnya oleh Pak Nuh, Mendikbud, menjadi tak berkesan. Sayangnya Mendikbud pergi meninggalkan acara sebelum mendengarkan paparan beliau.

Kali ini beliau juga akan berbicara dengan topik “Pemerintah Tanpa Budayawan”. Judulnya saja sudah demikian provokatif. 🙂 Diskusi Terbatas ini rencananya diselenggarakan di Hotel Sultan, Jl. Gatot Subroto, Jakarta, dengan tema “Peran Budaya Bangsa pada Pembangunan Nasional”. Diskusi Terbatas ini nampaknya memang terbatas karena tidak dibuka untuk umum dan saya melihat beberapa nama beken di undangan seperti Prof Dr. Radhar Panca Dahana, Prof Dr. Paulus Wirutomo, Prof Harijono A Tjokronegoro, Ir. Hadiwaratama, Pontjo Sutowo, Prof Dr. Komarudin Hidayat, Satria Dharma… . Eh, maaf! Yang terakhir itu nama saya sendiri ding! Pantasan kok familier banget. 🙂

Baca juga:  BERLIBUR KE BALI - BANGKOK -PATTAYA (Bagian 1)

Alasan ketiga mengapa saya mau mengeluarkan dana dan menyisihkan waktu untuk datang ke acara ini adalah karena topik tentang budaya ini memang menarik sekali (dan saya punya waktu luang dan uang berlebih. Ehem…!) Ada hal yang ingin saya diskusikan dengan mereka, tepatnya ingin menanyakannya. Selama ini saya sangat prihatin dengan sangat rendahnya tradisi membaca masyarakat Indonesia dan yakin bahwa itu salah satu penyebab mengapa bangsa kita terus tertinggal dari bangsa-bangsa lain (dan bakal terus tertinggal jika kita tidak serius menanganinya). Saya ingin menanyakan pada mereka apakah membaca itu merupakan budaya atau tidak. Jika ‘ya’ mengapa kita tidak memilikinya dan jika ‘bukan’ mengapa kita tidak menjadikannya sebagai salah satu budaya penting yang perlu kita miliki. Ini tentu akan menjadi sebuah diskusi yang sangat menarik bagi saya. Menjadikan membaca sebagai salah satu budaya bangsa adalah salah satu ‘passion’ terbesar saya dalam hidup. Saya ingin mengerahkan banyak energi saya untuk melakukan hal tersebut dalam hidup saya.

Terus terang saya sangat heran dan prihatin melihat betapa pendidikan kita sampai saat ini tidak memberikan porsi yang besar pada upaya untuk membangun literasi membaca siswa. Bahkan ketika kita ribut-ribut tentang upaya Dikti Kemdikbud untuk memaksa para mahasiswa untuk harus menulis karya ilmiah sebagai persyaratan untuk lulus sarjana, tak ada pembicaraan tentang betapa pentingnya membaca sebagai dasar untuk bisa menulis. Apalagi ini tentang menulis karya ilmiah! Seolah kita bisa melakukan lompatan ajaib menulis karya ilmiah tanpa melewati upaya membangun literasi membaca yang kokoh. Tentu saja Kemdikbud (Dikti) dihajar kiri-kanan dengan usulan tersebut, bukan karena usulan tersebut buruk, bahkan usulan tersebut adalah usulan yang luar biasa, tapi tentu saja kita tidak dapat melakukan itu tanpa melakukan upaya-upaya mendasar sebelumnya. Seorang bayi tidak akan bisa diminta untuk langsung berlari tanpa melalui tahapan merangkak, berdiri, berjalan selangkah dua langkah dan terjatuh, dan seterusnya dan seterusnya. Mahasiswa tidak akan mungkin menulis karya ilmiah tanpa berlatih menulis karya lainnya sebelumnya. Dan mahasiswa tidak akan mungkin menulis karya ilmiah tanpa memiliki ketrampilan dan pengalaman membaca yang memadai. Dan celakanya, kita tidak memiliki budaya membaca dan pemerintah tidak perduli dengan kemampuan dan ketrampilan membaca siswa. Pemerintah seolah mengira bahwa padi itu tumbuh sendiri di sawah tanpa perlu ditanam. Pemerintah mengira bahwa ketrampilan dan pengalaman membaca itu akan tumbuh sendiri tanpa harus dibudayakan atau dilatihkan.

Sekarang coba perhatikan apa yang terjadi di sekolah-sekolah kita. Berapa banyak sekolah yang punya perpustakaan? Dari 250.000 sekolah yang ada di Indonesia mungkin hanya 5 % yang punya perpustakaan yang layak disebut sebagai perpustakaan. Dari yang punya perpustakaan, berapa banyak yang punya buku-buku bacaan selain buku paket? Dari sedikit sekolah yang punya perpustakaan dan buku-buku bacaan, berapa banyak yang punya program rutin membaca di kelas? Yang dimaksud program atau kurikulum membaca adalah dengan memberikan waktu khusus bagi anak untuk membaca. Hampir tidak ada. Ini artinya ANAK-ANAK KITA TIDAK MEMBACA DI SEKOLAH. Lantas bagaimana kita bisa bersaing dengan negara-negara maju dunia jika tidak memiliki budaya membaca?

Baca juga:  “YOUR TENSION, PLEASE…!”

Untuk menjadi bangsa yang ‘literate’ idealnya 1 koran dibaca 10 orang tapi di Indonesia 1 koran dibaca oleh 45 orang. Kita bahkan kalah dengan Srilanka dimana 1 koran dibaca oleh 38 orang dan di Filipina 1 koran dibaca oleh 30 orang.

Sekarang coba perhatikan apa yang terjadi di rumah-rumah kita. Berapa banyak keluarga muslim yang telah menjadikan MEMBACA sebagai kegiatan IBADAH yang sama pentingnya dengan sholat, mengaji, sedekah, puasa, dll.di rumah-rumah mereka? Bukankah ‘Iqra’ atau membaca adalah Perintah Pertama (First Commandment) bagi umat islam dan bangsa Indonesia adalah mayoritas umat Islam?

Sekarang kegiatan utama keluarga muslim di rumah adalah menonton TV, dan bukannya membaca seperti yang diperintahkan oleh Allah. Budaya menonton telah membius keluarga kita. Statistik menunjukkan bahwa jumlah waktu yang dipakai oleh anak-anak Indonesia menonton TV adalah 300 menit/hari. Bandingkan dengan anak-anak di Australia 150 mnt/hari, Amerika 100 mnt/hari, dan Kanada 60 mnt/hari.

Apa akibatnya jika bangsa kita tidak membaca? Kemunduran dan kemerosotan tentu saja. Berdasarkan hasil studi Vincent Greannary yang dikutip oleh World Bank dalam sebuah Laporan Pendidikan “Education in Indonesia From Crisis to Recovery“ tahun 1998, menunjukkan kemampuan membaca siswa kelas VI Sekolah Dasar di Indonesia hanya 51,7. Jauh dibandingkan dengan Hongkong (75,5), Singapura (74,0), Thailand (65,1) dan Filipina (52,6). Hasil studi ini membuktikan kepada kita bahwa membaca belum –kalau tidak mau dikatakan bukan– menjadi program yang integral dengan kurikulum sekolah. Apalagi menjadi budaya.

Hal ini juga bisa dilihat dari berbagai statistik tentang negara kita. Dalam world Competitiveness Scoreboard 2005 Indonesia hanya menduduki peringkat 59 dari 60 negara yang diteliti. Padalah Malaysia sudah berada di perinkat 28 dan India 39. Hal ini juga bisa dilihat dari catatan Human Development Index (HDI) kita yang terus merosot dari peringkat 104 (1995), ke 109 (2000), 110 (2002, dan 112 (2003). Belum cukupkah semua ini membuat kita sadar bahwa ada yang salah dari sistem pendidikan kita yang tidak memberi perhatian besar pada kegiatan membaca yang merupakan inti dari pendidikan?

Finlandia adalah negara dengan mutu pendidikan terbaik di dunia dan mereka sangat memerhatikan tradisi dan budaya membaca.

Finlandia tidak memperoleh hasilnya secara instan melainkan dengan mengadakan kampanye membaca di perpustakaan dengan menggandeng Finnish Newspaper Association dan Finnish Periodical PublisherÂ’s Association untuk mengadakan Reading Weeks setahun sekali dengan target mengasah ketrampilan membaca baik pada kelancaran maupun pada pemahaman siswa. Selama minggu-minggu tersebut koran dan terbitan periodik dibagikan ke sekolah-sekolah sekalian dengan latihan-latihan untuk menguji pemahaman bacaan dan ketrampilan memahami media, umpamanya kemampuan untuk memahami tujuan dan konstruksi dari artikel tertentu, mengapa penulis mengangkat isu yang dtulisnya, dan efek komponen

Baca juga:  JALAN-JALAN KE LAOS PART 2: VIENTIANE

tekstual dan visual yang ditimbulkannya. Para editor mengunjungi sekolah-sekolah dan menjelaskan bagaimana sebuah tulisan dapat diterbitkan setelah melalui berbagai revisi.

Ketrampilan membaca adalah komponen paling penting dalam berbahasa. Semakin tinggi ketrampilan siswa dalam membaca semakin besar kemampuannya untuk berkembang ke bidang-bidang lain. Bahasa adalah ‘thinking skill’ (ketrampilan berpikir) yang paling utama. Tanpa menguasai bahasa maka kita tidak akan mampu meningkatkan ’thinking skill’ kita lainnya. Artinya, jika kita kedodoran dalam berbahasa maka bidang lainnya pasti juga akan kedodoran. Bahasa memang menunjukkan bangsa. Bangsa yang hebat adalah bangsa yang mampu menguasai dan mengembangkan kemampuan berbahasanya ke tingkat bahasa ilmu pengetahuan. Jika kita tidak mampu meningkatkan kemapuan berbahasa anak-anak kita maka jangan bermimpi untuk bisa menjadi bangsa besar.

Menurut para ahli, membaca merupakan salah satu fungsi yang paling penting dalam hidup (itu sebabnya Allah menjadikannya sebagai Perintah Pertama, First Commandment, bagi umat Islam). Semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca. Dengan kemampuan membaca yang membudaya dalam diri setiap anak, maka tingkat keberhasilan di sekolah maupun dalam kehidupan di masyarakat akan membuka peluang kesuksesan hidup yang lebih baik. Farr (1984) menyebutkan “Reading is the heart of education”. Seharusnya dalam Islam membudayakan membaca adalah sebuah ‘fardhu kifayahÂ’ atau ‘social responsibilityÂ’ yang apabila tidak dilakukan akan menjadi dosa bersama.

Berdasarkan penelitian Baldridge (1987), manusia modern dituntut untuk membaca tidak kurang dari 840.000 kata per minggu. Kurang dari itu dianggap belum modern tentunya. Bayangkan jika bangsa Indonesia sama sekali tidak punya kegiatan membaca baik di rumah, di sekolah, maupun di lingkungan.. Bangsa Indonesia (yang mayoritas umat Islam itu) jelas akan menjadi umat yang paling tertinggal dibandingkan bangsa-bangsa (dan umat-umat) lain. Dan itu telah terjadi saat ini. Padahal Tuhan telah memerintahkan mereka untuk MEMBACA sejak pertama kali. Tak heran jika daya saing siswa dan bangsa kita selalu terpuruk karena kerampilan dasar bagi kemajuan intelektual bangsa, yaitu membaca, tidak kita perdulikan.

Jadi untuk hal itulah saya datang jauh-jauh dari Balikpapan sepagi buta ini khusus untuk mendiskusikan (dan mengingatkan kita semua) betapa pentingnya kita memasukkan budaya membaca sebagai prioritas utama pembangunan bangsa. Ia bahkan merupakan tiang penyangga bagi kemajuan intelektual individu dan bangsa yang jika tidak dimiliki maka akan membuat bangsa tersebut tetap terpuruk di bawah. Dan kita telah bertekad untuk menjad bangsa besar yang maju dan berdiri sama tingginya dengan negara lain yang memiliki budaya baca yang tinggi.

Semoga pagi ini saya akan mendapatkan diskusi yang bermanfaat.

Lion Air, 12 Mei 2012
Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *