Senin, 17 September 2019
Just another WordPress site
National Future Educators Conference (NFEC)

Ilustrasi. Sumber: http://suarajakarta.com

Kemarin saya menghadiri sebuah acara menarik bertajuk National Future Educators Conference (NFEC) yang diadakan oleh mahasiswa Sampoerna School of Education (SSE) atau STKIP Kebangkitan Nasional di kampus mereka di Mulia Bussines Park Jl. Letjen MT Haryono, Jakarta. Salah seorang mahasiswinya menghubungi saya jauh-jauh hari sebelumnya dan meminta saya untuk menjadi seorang keynote speaker pada acara yang diselenggarakan selama dua hari tersebut. Acara ini sendiri bertemakan Reshaping the Nation’s Future through Education, dan katanya akan dihadiri oleh sekitar 100 anak muda berusia 16-25 tahun yang ternyata adalah para mahasiswa dari berbagai daerah dari Sumatra sampai Papua.

Nasional Future Educators Conference (NFEC) ini sendiri menurut mereka adalah sebuah wadah untuk generasi muda yang peduli terhadap pendidikan dengan kegiatan untuk berkumpul, saling berbagi, saling menginspirasi, serta membangun jejaring untuk perubahan Indonesia yang lebih baik (Towards a Better Indonesia). NFEC diselenggarakan oleh mahasiswa-mahasiswi Sampoerna School of Education (SSE) dengan harapan agar setiap pemuda, apapun profesinya, dapat menjadi pendidik untuk membentuk Indonesia yang lebih baik. NFEC 2012 merupakan kegiatan pertama mereka.

Sampoerna School of Education (SSE) sendiri adalah Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) yang didirikan oleh Putera Sampoerna Foundation pada tahun 2009 dan merupakan perwujudan dari cita-cita Pak Putera Sampoerna untuk membantu Indonesia di bidang pendidikan yang bertujuan untuk membangun pendidik generasi baru yang bermutu tinggi dengan membangun sebuah universitas bertaraf internasional di Indonesia. Putera Sampoerna, yang sebelumnya adalah pemilik PT HM Sampoerna, adalah seorang filantropis yang setelah menjual perusahaannya kemudian menyerahkan dana pribadinya sebesar US $150 juta untuk dimasukkan dalam yayasan pendidikan yang didirikannya. Ia berharap dapat membantu peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia dengan yayasan tersebut. Putera Sampoerna Foundation (PSF) sendiri adalah Institusi Bisnis Sosial yang berdedikasi untuk menciptakan calon-calon pemimpin Indonesia yang memiliki integritas moral serta komitmen tinggi terhadap keadilan sosial melalui pendidikan berkualitas di Indonesia. Sejak didirikan pada tahun 2001, PSF telah memberikan lebih dari 34,000 beasiswa kepada siswa pra sejahtera yang memiliki kemampuan terbaik, memberikan pelatihan lebih dari 14.000 guru dan kepala sekolah , “mengadopsi” 17 sekolah negeri dan 5 madrasah. Pada tahun 2009, PSF meluncurkan program sekolah bertaraf internasional berasrama, Sampoerna Academy dan Sampoerna School of Education, institusi pendidikan kelas dunia yang berkomitmen untuk menciptakan guru Indonesia yang berkualitas.

Baca juga:  DAFTAR ORANG GAGAL

Tujuan dari acara ini adalah untuk memberi wawasan kepada para mahasiswa di seluruh Indonesia tentang pendidikan dan mengajak mereka mulai menjadi pendidik. Rupanya para mahasisa SSE yakin bahwa wawasan tentang pendidikan harus dimiliki oleh semua mahasiswa dari jurusan apa pun dan dengan latar belakang apa pun. Mereka hendak mengajak sesama mahasiswa dari seluruh Indonesia untuk menjadi pendidik, meski tidak berarti harus berada di depan kelas menjadi guru. Menurut mereka untuk mendidik masyarakat atau generasi muda tidak harus dengan menjadi guru, tapi bisa melalui apa pun langkah yang bisa mereka kerjakan di masyarakat. Gagasan ini sungguh menarik! Harapannya pada presentasi saya adalah agar saya dapat menginspirasi peserta mengenai pentingnya pendidikan dan meyakinkan mereka bahwa mereka bisa menjadi pendidik dari usia muda melalui berbagai cara.

Sebetulnya saya diminta untuk menjadi keynote speaker pada hari pertama tapi karena saya ada acara lain maka saya mundur ke hari kedua dan hari pertama diisi oleh Mas Nanang (Ahmad Rizali). Saya sungguh kagum melihat ternyata acara ini sepenuhnya dikelola oleh mahasiswa SSE yang paling senior baru semester 6. Padahal mereka mendatangkan teman-teman mahasiswa dari berbagai daerah dan sebagian diinapkan di tempat kost mereka sendiri. Sungguh semangat berbagi yang luar biasa.

Saya pikir para mahasiswa yang datang adalah mahasiswa keguruan semua karena topiknya adalah tentang pendidikan. Tapi ternyata perkiraan saya salah. Yang datang malah sangat beragam. Dari penanya yang menyampaikan asal kampusnya ternyata ada yang dari ITS, Unibraw, UIN, dll. Saya sungguh salut dengan panitia yang mampu menggerakkan mahasiswa non-pendidikan untuk hadir dalam acara tentang pendidikan. Itu baru leadership….!

Baca juga:  AL-QUR’AN, KEGIATAN LITERASI, DAN MASA DEPAN BANGSA

Salah seorang panitianya, Dian Eki Purwanti, adalah seorang pengelola acara yang luar biasa. Ia terus menerus menghubungi saya sejak awal untuk menanyakan kesanggupan saya untuk hadir, memberikan TOR tentang apa materi yang harus saya berikan, meminta materi yang akan diberikan sebelum acara, menunjukkan alamat tempat acara, dan bahkan ancer-ancer untuk menuju ke sana. Sungguh seorang panitia yang bekerja dengan sempurna. Ia juga menyampaikan pada saya bahwa kegiatan mahasiswa SSE ini zero budget, dengan dana kegiatan yang sangat minim sehingga tidak memberikan honor atau pun penggantian biaya tiket namun sekedar untuk transportasi lokal. Bagaimana mungkin saya tega menerima uang mereka? Melihat mereka melakukan kegiatan ini saja rasanya saya sangat gembira dan bahagia dan berharap seandainya saja setiap perguruan tinggi keguruan mau dan mampu melakukan kegiatan yang sangat positif seperti ini. Tentu banyak orang-orang yang bersedia untuk memberi motivasi kepada para mahasiswa tanpa minta imbalan apa pun. Melihat para mahasiswa dari berbagai daerah dengan semangat mereka yang menyala-nyala dan mendengarkan presentasi saya dengan begitu penuh perhatian, den memborbardir saya dengan pertanyaan-pertanyaan cerdas sungguh membuat saya sangat bahagia dan optimis bahwa Indonesia akan aman di tangan mereka. If only you could join me here.

Setelah presentasi umum acara kemudian dilanjutkan dengan acara workshop “How to Start a Movement yang dibagi menjadi 4 sub topic yaitu Social Leadership, Green Economy Education, Art and Culture Education, dan Inclusive Education. Workshopnya sendiri dibawakan oleh Dhitta Puti Sarasvati, salah seorang dosen SSE, dengan sangat menarik sehingga membuat para mahasiswa tersebut enggan untuk meninggalkan tempat acara. Selain menarik, Puti juga membagi-bagikan banyak buku yang dibeli dari koceknya sendiri bagi mahasiswa yang aktif selama workshop tersebut. Buku-buku tersebut bukan buku lama yang diobral tapi buku-buku baru yang mahal. Saya jadi malu pada kedermawanan Puti dalam berbagi padahal jelas penghasilan Puti mengajar jauh lebih kecil daripada saya. Ia memang sengaja membelikan buku-buku yang bermutu untuk dibagi-bagikan pada mahasiswa dengan tujuan untuk mendorong mereka menjadi mahasiswa pembaca. Workshop yang dibawakannya sendiri sangat menarik dan saya berpikir alangkah bagusnya seandainya bisa dibawakan kepada sebanyak mungkin mahasiswa di Indonesia. Jelas sekali bahwa workshop ini akan dapat memberi semangat, inspirasi, dan bekal bagi mahasiswa untuk memulai gerakan sosial pendidikannya sendiri. Banyak mahasiswa yang menyatakan tertarik nantinya untuk mulai mengadakan kegiatan untuk membantu masyarakat di bidang pendidikan dan lingkungan. Beberapa mahasiswa bahkan sudah ada yang memiliki kegiatan community servicenya masing-masing. Sungguh membahagiakan melihat generasi muda seperti ini. Ternyata Indonesia memiliki banyak generasi muda cerdas dan peduli pada bangsa dan negaranya. Mereka itu nampak bercahaya seperti mutiara laiknya di mata saya. Saya yakin tujuan dari acara ini agar para peserta terinspirasi untuk menjadi calon pendidik masa depan generasi penerus bangsa dalam mewujudkan Indonesia yang lebih baik dapat tercapai.

Baca juga:  BISA APA KYAI MA’RUF ITU…?!

Seandainya saja anak-anak saya bisa menjadi bagian dari mereka kelak….!

Jakarta, 10 Juni 2012

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Satu tanggapan untuk “National Future Educators Conference (NFEC)”

  1. Firzie Ravasia berkata:

    Pak, saya Firzie, MC pria NFEC 2012 kemarin. Saya sangat amat tersanjung membaca tulisan Bapak ini. Kami sudah lama menanti-nanti tulisan ini untuk keluar di website bapak karena ada rekan kami yang tergabung dalam milis yang bapak ikuti jadi kami memang sudah membaca tulisan ini lewat email.

    Sungguh, hanya ucapan terima kasih yang dapat saya ucapkan kepada Bapak atas penghargaan bapak dan kesediaan bapak untuk hadir dalam NFEC 2012. Semoga 150 lebih peserta dan panitia yang berkumpul kemarin dapat benar-benar merubah Indonesia ya, pak
    🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *