Selasa, 29 September 2021
Satria Dharma's Weblog
NIKAH BEDA AGAMA

Saya sungguh terharu bahwa posting saya tentang pernikahan Yubi dan Patty ternyata mendapat gelombang pernyataan selamat yang luar biasa dari banyak orang. Ada yang dari teman dan banyak juga dari orang-orang yang tidak kami kenal. It really suprises us…! Rupanya banyak yang terkesan dan terharu dengan pernikahan beda agama Yubi dan Patty. Ada beberapa teman yang dengan tulus menyatakan kagum pada kami orang tuanya yang memiliki toleransi yang besar. Terus terang saya jadi agak malu dan geli. Saya tidak berhak mendapatkan selamat tersebut. You should express it to Yubi and Patty.

Merekalah yang memiliki toleransi (dan cinta) yang besar sehingga mereka berani memutuskan untuk menikah meski berbeda agama (ketika mungkin banyak pasangan lain yang menyerah dan memutuskan berpisah). Kalau kami kan hanya orang tuanya. 😎 Sebagai orang tua kami SANGAT BERBAHAGIA dengan pernikahan mereka. Kami sangat gembira ketika mereka memutuskan untuk menikah dan berhenti dari status pacaran. Kami sebagai orang tua tentu punya kekuatiran melihat mereka runtang-runtung dalam status pacaran. Namanya anak muda tak iya… 😁 Justru ibunyalah yang terus mendorong Yubi untuk segera melamar Pat. “Berhentilah pacaran dan jadikan Pat istrimu”, demikian selalu kata ibunya. Jadi kami tentu sangat gembira ketika mereka bersedia untuk berhenti pacaran dan memutuskan untuk menikah. 😊

Kami sangat menghargai keputusan Yubi dan Patty soal agama dan cara pernikahan mereka. Mereka adalah dua orang dewasa yang lebih paham apa yang terbaik bagi kehidupan mereka berdua. Mereka berdua adalah orang yang beriman dengan cara beribadah pada Tuhan yang berbeda. That’s all… 🙏😊

Tapi ada juga orang yang tidak kami kenal yang mendoakan agar kami bertaubat dan mendoakan agar Yubi bisa menjadikan istrinya mualaf. 😁 Doanya saya kembalikan pada si pendoa saja. Untuk sementara doa semacam itu tidak saya terima. Use it for yourself, please. Kami sangat berbahagia dengan pernikahan mereka dan menganggap ini sebagai berkah dan rahmat dari Tuhan bagi kami semua. Yubi bahkan mendatangi saya di kamar ketika saya beristirahat. Ia datang khusus untuk memeluk saya cukup lama dan menyatakan terima kasihnya karena bersedia memberinya restu menikah dengan Patty. How can I not bless you, Son! What makes you happy will surely make us happy as well. 😍 Kami tidak mungkin akan mementingkan ego atau kepentingan kami di atas pilihan kalian berdua. You are on top of our priorities. 😍

Baca juga:  MENGRITIK PEMERINTAH? YA PERLULAH, BRO!

– Selamat ya Pak. Sudah mantu. Semoga anaknya samawa. Eh, boleh ya Pak menikah lain agama itu?
– Boleh. Kalau menurut hukum agama Islam laki-laki muslim diperbolehkan menikah dengan wanita Ahli Kitab. Sila cek Al-Maidah 5:5. Kalau menurut hukum Indonesia mereka bisa menikah dengan menggunakan fasilitas Catatan Sipil.

– Maaf kepo ya, Pak. Bagaimana perasaan Bapak sebagai orang tua ketika anak minta ijin menikah dengan anak yang lain agama? Maksud saya, saya salut Bapak ini toleran banget.
– Kalau kamu salut pada saya karena menganggap saya toleran maka semestinya kamu harus lebih salut pada anak dan menantu saya. Mereka itu bersedia menikah dengan pasangan yang beda agama. Itu artinya mereka sangat toleran dan sangat siap menghadapi banyak pertanyaan kepo sepertimu. 😁 Lha saya kan cuma orang tuanya.

– Apa Bapak tidak takut pandangan orang lain punya menantu non-muslim?
– Lha emangnya apa pendapat mereka pada saya?

– Bapak sama Ibu kan sama-sama sudah haji tapi kok menantunya malah non-muslim?
– So what gitu lho…! Keren kan…! Gak banyak lho yang seperti kami ini. 😎 Tapi kalau boleh tahu mengapa kalau sudah sama-sama haji maka tidak layak punya menantu non-muslim? Apakah Anda menganggap kami terlalu tinggi dan terlalu suci untuk mendapatkan menantu non-muslim? Terus terang kami sama sekali tidak merasa lebih baik daripada menantu dan besan kami yang non-muslim. MUNGKIN SAJA mereka malah lebih baik daripada kami dalam pandangan Tuhan. We never know. Saya bahkan tidak merasa lebih baik dari seorang agnostic atau atheis sekali pun. Saya memang beruntung mengenal Islam dan mengamalkannya. Tapi soal apakah itu membuat saya lebih baik daripada orang lain yang tidak seberuntung saya dalam hal ini maka itu hal lain. Sungguh tidak ada jaminan bahwa meski saya berusaha menjalankan perintah agama saya sebaik-sebaik yang saya bisa lakukan lalu akan membuat saya lebih baik di mata Tuhan dibandingkan orang lain yang tidak. No guarantee at all. Itu semua rahasia Tuhan yang saya tidak tahu jawabannya. Soal nilai di mata komunitas muslim kami tidak terlalu peduli. Kami tidak beragama demi mereka atau pun untuk mereka. Kami berbahagia dengan apa adanya kami dan kami juga tidak pernah berpikir untuk menyesuaikan diri dengan cara berpikir mereka. You do whatever is best for you and so do we.

– Apakah Bapak atau putra Bapak tidak berupaya untuk mengajak istrinya untuk masuk Islam?
– Tidak. Yubi tahu calon istrinya ini seorang Kristen yang taat. Dan menurutnya itu hal yang baik. Dia tidak berusaha untuk mengajaknya pindah keyakinan karena merasa bahwa soal keyakinan adalah hak individu yang sangat pribadi. Jika anak saya saja tidak ingin mengubah keyakinan istrinya maka apalagi saya sebagai mertuanya. Kok repot sih…! 😁 Saya bukan seorang yang tertarik untuk menjadikan siapa pun menjadi mualaf. Tidak pernah terpikir bagi saya. Lagipula saya sungguh tidak yakin kalau menantu saya masuk Islam maka ia akan menjadi lebih baik di mata Tuhan. Kalau di mata sebagian umat Islam tertentu sih mungkin iya. Tapi di mata Tuhan belum tentu. Kita ini hanya mengira-ngira keinginan Tuhan dan kadang-kadang kita paksa Tuhan mengikuti selera kita. Terus terang saya malah ngeri melihat banyaknya contoh orang-orang yang setelah mualaf malah menjadi pembenci dan penghujat agama asalnya. Mereka bukannya menjadi contoh umat Islam yang baik dengan menyebarkan keberkahan bagi rahmat bagi orang lain malah menjadi contoh penghujat yang sungguh buruk.

Baca juga:  Aku Beriman Maka Aku Bertanya

– Bagaimana nanti kalau mereka punya anak? Anaknya mau ikut ayahnya atau ibunya?
– Ya, Allah. OMG…! Olaopo kamu kok ikut ngurusin bagaimana anak mereka nantinya. Iku ben diurusi sama ayah dan ibunya sendiri saja nanti. Mbok ya urusono dapuranmu sendiri sana. Iku lho meteran listrikmu muni terus njaluk ditop up. 😂

Surabaya, 23 Desember 2020
Satria Dharma

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *